After Death

After Death
Bab 142: Permintaan Raja Ramadhana



Pagi yang sudah tidak pagi lagi itu Pram tidak seperti biasanya. Selesai mandi dan sarapan ia tidak keluar rumah. Pram hanya duduk bersila dengan kedua tangan di letakkan di atas lutut, dengan posisi jari telunjuk dan ibu jari bertemu di ujungnya. Pram juga memejamkan mata.


Kharon menyimpan semua pertanyaan yang ada di kepalanya menyoal sikap Pram kepada Philemon. Ia curiga bahwa perubahan itu karena Pram mendengar semua curahan hatinya ketika ia mengira Pram masih tertidur tempo hari. Tapi Kharon tak cukup berani untuk menanyakannya. Semua kecurigaannya itu semakin kuat sebab sikap Pram kepadanya sama sekali tidak berubah, atau justru berubah menjadi lebih manja? Kharon tak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Kharon hanya diam di depan Pram yang tengah memejamkan mata. Ia memandang lekat lekat wajah perempuan yang sungguh sangat ia cintai itu. Sebelum bersemedi, Pram tidak menceritakan banyak hal, ia hanya mengatakan bahwa ia ingin menyeimbangkan kembali cakra dalam tubuhnya yang akhir-akhir ini tidak seimbang. Dan dengan buru-buru Pram duduk di belakang rumah di atas batu kali besar berwarna hitam yang tepat ada di tengah kolam ikan.


Di belakang tempat tinggal Pram dan Kharon memang terdapat semacam taman mungil yang di dalam taman itu terdapat kolam ikan koi. Kolamnya tidak terlalu lebar hanya berukuran sekitar 2,5 x 2,5 meter dan tepat di tengah kolam itu terdapat sebuah batu berdiameter sekitar 50 cm. Pram duduk di atas batu tersebut tanpa bergerak sedikit pun.


***


Hari telah siang menjelang sore, tapi Pram belum juga menyudahi semedinya. Wajahnya masih tampak serius. Kharon mulai gelisah. Ia tidak terbiasa melewati hari sendirian. Maka entah bagaimana ia bisa seperti seekor cacing kepanasan, berguling ke kanan kadang juga ke kiri di depan Pram. Ia sesekali juga memasukkan tangan kanannya yang berisi banyak pakan ikan ke dalam kolam. Membuat tangannya itu dikerumuni oleh para ikan.


Kharon tak mengira bahwa ocehan Pram selama ini ternyata membuat hidupnya menjadi begitu berwarna. Kini belum juga satu hari Pram hanya diam, Kharon sudah sangat merindukan ocehan dan omelan gadis itu.


Kharon menunggui Pram hingga ia tertidur. Tepat di atas tikar di samping dirinya ada dua gelas jus alpukat coklat yang masih utuh. Hanya beberapa titik embun terlihat pada gelas yang berasal dari es batu yang mencair. Juga ada dua mangkuk mie goreng pedas manis yang tidak berkurang sedikit pun sejak pertama kali matang. Ya, Kharon berharap Pram lekas bangun dari semedinya dan mereka bisa makan bersama  setelahnya. Tapi hingga hari hampir malam, Pram masih betah duduk di atas batu itu dengan posisi yang sama.


‘Tok...tok...tok...” pintu rumah diketuk.


Kharon tak juga menyahut sebab jaraknya memang cukup jauh. Pintu itu berada jauh di depan, sedangkan dirinya dan juga Pram berada tepat di ujung belakang.


“Ron, Pram? Apa kalian ada di dalam?” sebuah suara dari Raja Ramadhana membuat Kharon terperajat dan seketika itu pula langsung terbangun. Kharon duduk sebentar. Bangun dari tidur secara tiba-tiba karena terkejut membuat kepalanya terasa pening dan seperti berputar-putar.


“Tunggu sebentar paduka.” teriak Kharon yang tampaknya di dengar oleh Raja Ramadhana.


Kharon merasa perlu untuk mencuci muka, mengingat hingga hari telah gelap ia belum sempat mandi karena terlalu tak punya tenaga atau lebih tepatnya kehilangan semangat untuk sekadar bangun. Ia kemudian berlari menuju pintu yang diketuk itu.


“Silakan paduka, mohon maaf jika membuat paduka menunggu terlalu lama.” kata Kharon lirih sambil menunduk. Ia sedikit cemas kalau kalau bau badannya tidak sedap dan menganggu penciuman sang raja.


Raja Ramadhana tersenyum dan mengelus kepala Kharon. Ia kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Sang raja memandangi hampir seluruh sudut ruangan yang tampak di matanya. Ia seperti sedang mencari sesuatu.


Ruangan di tempat tinggal Pram memangvhampir tak ada sekat. Tempat makan, tempat untuk tamu, kamar tidur, juga dapur terlihat dalam satu ruangan luas tanpa ada dinding pembatas. Hanya kamar mandi saja yang letaknya di pojokan dan terhalang oleh dinding dinding.


“Paduka, apakah paduka sedang mencari sesuatu? Jika iya, biarkan hamba membantu.” Kharon menawari sang raja. Namun, Raja Ramadhana masih terus mencari, seperti tidak mendengar tawaran dari Kharon untuk membantunya.


“Paduka, apa paduka sedang mencari sesuatu?” Kharon mengulangi pertanyaannya.


“Oh, iya Ron. Dimana Pram? Aku tidak melihatnya di seluruh ruangan ini. Apa dia sedang berada di kamar mandi?” kata Raja Ramadhana sambil duduk di atas kursi yang baru saja disiapkan Kharon.


“Pram? O, dia ada di belakang, paduka. Paduka raja ingin hamba buatkan minum apa?” tanya Kharon mencoba melayani sang raja dengan sebaik mungkin.


“Tidak perlu, Ron. Aku hanya ingin bertemu dengan Pram dan membicarakan tentang jurus Pemanggil Roh Dewi Pencabut Nyawa. Dia sangat kesulitan tempo hari. Waktu itu aku sangat ingin membantu, tapi aku sendiri tak mengerti bagaimana caranya. Namun, setelah melakukan semedi, aku seperti mendapat petunjuk untuk itu. Pram terlihat sangat putus asa waktu itu. Sudah berulang kali mencoba tapi belum berhasil juga. Jadi, bisakah kau panggilkan Pram untukku? Dia pasti akan sangat senang mendengar kabar baik dariku.” kata paduka raja dengan mata yang terus memandangi sekitar.


“Itu paduka, Pram sejak tadi pagi juga melakukan semedi di belakang rumah. Dan sampai sekarang Pram masih belum bangun dari semedinya. Hamba menungguinya seharian, sebab hamba khawatir kalau kalau Pram akan tertidur dalam semedi dan kemudian terjatuh di kolam ikan yang ada di bawahnya.”


“Iya, paduka.” jawab Kharon lirih.


“Hahaha gadis itu memang tahu mana yang terbaik. Kolam ikan di belakang adalah tempat paling bagus untuk bersemedi. Suara gemericik air membuat seseorang menjadi lebih relaks. Dan rasa relaks sangat dibutuhkan dalam bersemedi.” Raja Ramadhana memungut sebuah coklat berisi remahan kacang mete yang ada di dalam toples kecil di depannya.


“O, benarkah? Hamba bahkan tidak mengerti tentang hal itu.” Kharon tersenyum.


“Ya, itulah. Pram memang sangat istimewa. Ia tahu mana yang buruk dan mana yang terbaik. Hahahaha, makanya aku sangat yakin kalau dia akan memilih Philemon sebagai suaminya.”


Kharon tersedak oleh ludahnya sendiri. Dan cepet-cepat meminta izin untuk mengambil air minum di dapur. Padahal di depannya di atas meja terdapat sebuah teko bening dari kaca yang berisi penuh air. Ia tidak menggubris perkataan sang raja soal air minum yang ada di meja. Kharon setengah berlari sambil terus terbatuk. Ia sebenarnya pergi ke dapur bukan hanya untuk minum, melainkan untuk mencegah kalau-kalau dari mulutnya itu menyembul kata-kata yang tidak pantas ia ucapkan, kata kata yang bisa menyakiti sag raja.


Raja Ramadhana kemudian berjalan-jalan ke belakang rumah untuk menengok gadis pujaan hati anaknya itu. Benar, sang raja mendapati Pram tengah fokus bersemedi di atas batu hitam. Ia memandangi Pram dengan tatapan terkagum-kagum. Gadis itu mengingatkannya pada istrinya  Tri Laksmini yang sangat cemerlang.


“Paman,” sahut Pram memanggil sang raja yang tengah melihat sebuah bunga kesayangan istrinya, bunga mawar biru yang berada cukup jauh dari kolam. Hanya ada setangkai mawar biru di sana.


Mendengar teriakan dari Pram, Raja Ramadhana tersenyum dan langsung berjalan menghampiri Pram. Entah mengapa sang raja merasa perlu membuka kedua lengan tangannya ke kiri dan ke kanan sehingga terlihat seperti tengah menunggu sebuah pelukan.


 


Pram pun langsung memeluk sang raja. Kedua orang tersebut memang sudah seperti sepasang ayah dan anaknya. Rasa sayang Raja Ramadhana sangat besar terhadap Pram. Dan sehari saja tidak bertemu telah membuat ia merasa sudah setahun lamanya, hingga ia sangat rindu.


"Apa yang membuat paman datang ke sini?" tanya Pram dengan suara yang sangat ceria.


Keduanya jalan beriringan memasuki rumah.


"Kau. Aku sangat rindu padamu, nak. Tidak bertemu denganmu sehari saja rasanya tidak ada hal yang bisa membuatku tertawa, hahahaha..." ucap sang raja sangat senang.


Pram dan Raja Ramadhana telah ada di dalam rumah, duduk di tempat makan. Pram melihat sekeliling dan tak mendapati batang hidung Kharon. Dasar orang itu, selalu saja pergi seenaknya tanpa pernah merasa wajib untuk berpamitan, gerutu Pram dalam hati.


"Apa paman sedari tadi hanya sendiri saja di sini?" tanya Pram sambil terus menyisiri seisi ruangan.


"Apa kau mencari Philemon? Hahaha, dia sedang tidak enak badan. Jadi ya katanya dia ingin beristirahat dulu saat aku mengajaknya berkunjung ke sini."


Pram menjadi pucat mendengar nama itu. Juga semakin pucat sebab tahu bahwa Philemon sedang sakit. Ia khawatir sakit yang dialami Philemon adalah karena terkejut menerima perlakuan kasarnya yang sangat mendadak dan terkesan tanpa sebab. Pram menjadi menyesal telah berlaku tidak baik pada orang yang selalu baik padanya itu.


"Kalau kau ada waktu, jenguklah dia Pram, pasti dia akan sangat senang." kata Raja Ramadhana sambil mengenggam tangan kanan Pram.