
Kini Raja Ramadhana telah berusia lebih dari 135 tahun. Namun, wajahnya masih sama seperti jin yang berusia 50 tahun, masih sama dengan wajahnya saat dikaruniai putra pertamanya, yakni Bemius. Ia membuka jendela kamarnya. Terlihat beberapa daun gugur mengotori lantai yang ada di depan jendelanya itu.
Raja Ramadhana suka menghabiskan waktu dengan berdiri di balik jendela kayu dengan ornamen bunga itu. Ya, sejak menderita luka pada tangannya, sang raja dianjurkan untuk lebih banyak beristirahat. Dan di tempat itu, sambil mencium aroma wangi yang khas dari Cendana, terlintas berbagai ingatan di masa silam.
Raja Ramadhana masih ingat betul menyoal keinginannya untuk mengakhiri hidup Bemius muncul sebanyak tiga kali. Pertama saat Bemius baru dilahirkan. Kedua saat Bemius kecil menaburkan serbuk racun ke tubuh Philemon. Dan yang ketiga, niatan itu muncul kembali ketika Bemius berusia 18 tahun.
Hal itu karena Bemius remaja dengan sengaja mencoba untuk membunuh Philemon lagi. Ia melakukan ritual di kamarnya untuk mengirim teluh pada adiknya sendiri.
Sang raja tak menyangka kalau anaknya menguasai ilmu hitam itu. Ia menghancurkan semua perlengkapan sihir, seperti kemenyan, darah segar, patung, dan lain-lain. Semuanya berhamburan dan mengundang bunyi-bunyian. Tri Laksmini berlari menuju sumber suara gaduh disusul Philemon yang ikut di belakangnya.
Tampak kemarahan di wajah Raja Ramadhana. Sedangkan Bemius hanya diam dan terduduk.
"Apa yang kau lakukan? Kau mau membunuh saudaramu sendiri?"
Bemius yang sudah tertangkap basah hanya diam tak menjawab, tanpa mengalihkan tatapan dari ayahnya. Ya, Bemius sama sekali tak takut melihat ayahnya murka.
"Ada apa ini paduka raja?" tanya sang ratu yang terkejut melihat perlengkapan teluh berserakan di kamar Bemius.
"Lihatlah, anak kebanggaan kita ini mau membunuh adiknya sendiri dengan cara yang menjijikkan. Cara iblis." Raja Ramadhana tidak pernah berkata sekasar itu bahkan pada musuhnya sekalipun.
"Ayah, mungkin ini hanya salah paham." kata Philemon mencoba membela kakaknya.
"Ayo katakan siapa yang mengajarimu ilmu hitam ini?"
Bemius masih diam dan menatap tajam ayahnya. Tri Laksmini turut duduk di samping Bemius dan memintanya untuk menjawab pertanyaan ayahnya dengan jujur.
"Aku belajar sendiri dari buku sesat yang kau ambil dari para jin hitam." kata Bemius semata-mata demi menuruti perintah ibunya.
"Kau memang pantas untuk dilenyapkan!" seketika itu juga Tri Laksmini merangkul Bemius dan memohon pada suaminya untuk mengampuni kesalahan anaknya.
"Biarkan ibu. Dia bahkan sudah ingin membunuhku saat ibu baru saja melahirkanku di malam purnama ketujuh."
"Nak, apa yang kau katakan? Cepat minta maaf dan mohon ampun pada paduka raja."
"Waktu itu aku mungkin masih bayi. Tapi aku mengerti semuanya. Ketika ibu pingsan usai melahirkanku, dia menggendongku dan ingin melemparku ke dalam sumur tua."
"Apa itu benar paduka?" tanya Tri Laksmini membuat Raja Ramadhana turut duduk dan mencoba menjelaskan alasannya.
Cerita Raja Ramadhana tentang mimpinya membuat Tri Laksmini dan Philemon terkejut. Mereka tak menyangka bahwa sebuah mimpi hampir membuat sang raja menghabisi anaknya sendiri.
"Dia mau membunuhku lagi saat aku berusia kurang dari empat tahun. Di kamar ini. Dalam dekapannya."
"Itu semua karena anak durjana ini menaburkan bubuk racun ke tubuh Philemon hingga dia sesak dan hampir mati."
"Apa ibu kira aku akan tega melakukannya?"
"Laksmini, kau dulu pernah menanyakan tentang apa yang terjadi pada bayi Philemon sehingga ia harus menerima perawatan dari tabib 'kan. Juga mengapa anak keji ini harus diruwat. Philemon hampir mati karena Bemius menaburkan serbuk racun di tubuh Philemon. Aku kira semua karena adanya pengaruh jin hitam, tapi ternyata anakku sendirilah jin hitam itu."
Tri Laksmini bingung harus percaya pada anak atau suaminya. Ia hanya diam dan menangis saja. Sedangkan Philemon juga tak bersuara. Ia berada tepat di samping ibunya untuk menguatkan.
"Jika memang yang dikatakan lelaki ini benar, tentu dia akan mengatakannya kepada ibu saat itu juga. Untuk apa waktu itu dia harus berbohong?" lanjut Bemius. Ia tahu bahwa dengan kekuatan yang dimiliki ayahnya, mustahil baginya untuk menang. Sehingga ia menggunakan ibunya untuk mendapat dukungan.
"Kebohongan macam apa ini paduka? Paduka tega memfitnah putra paduka sendiri. Penerus tahta kerajaan ini." air mata Tri Laksmini semakin mengucur.
"Dia bukan pewaris tahta. Aku tak sudi anak iblis ini menjadi raja Shaman." emosi Raja Ramadhana mencuat kembali.
Hal itu karena sudah beberapa bulan ini ia menyelidiki Bemius yang sering keluar malam meninggalkan kerajaan. Kali pertama ia melihat anaknya tengah berkumpul dengan para petinggi jin hitam, ia sangat terkejut dan ingin membunuh Bemius saat itu juga. Tapi semua ia tahan karena dengan banyaknya jin hitam yang berilmu tinggi, tentu ia akan kalah.
Dan Raja Ramadhana juga menyimpan apa yang ia lihat malam itu dari semua orang, termasuk dari Tri Laksmini. Ia yakin bahwa istrinya tak akan percaya begitu saja. Maka, saat Bemius tertangkap tangan tengah mempraktikkan ilmu hitam di kamarnya merupakan sebuah bukti kuat agar istrinya percaya. Raja Ramadhana tak menyangka jika anaknya sangat licik. Bemius mampu membuat seolah sang rajalah yang bersalah.
"Paduka harus berhati-hati, Bemius adalah putra kita. Darah daging paduka. Tak semestinya paduka berkata demikian kasar. Mungkin dia memang melakukan kekhilafan. Tapi bukan berarti paduka berhak menghinanya dengan kata-kata tak patut itu."
"Sekarang coba kau jelaskan pada ibumu, untuk apa semua perlengkapan sihir ini?"
"Aku memang akan meneluhmu, Philemon." ucapan Bemius jelas membuat wajah saudara laki-lakinya itu menjadi pucat.
"Aku sudah bilang padamu Laksmini, dia mau membunuh adiknya sendiri."
"Coba katakan dengan lebih jelas, nak. Buat ibu mengerti mengapa kau melakukan ini."
"Tentu saja karena dia ingin menjadi pewaris satu-satunya. Dia tahu kalau aku menginginkan adiknya untuk menjadi raja menggantikanku."
"Setidaknya berikan kesempatan pada anakmu untuk menjelaskan semuanya."
Suasana hening sesaat. Baik ratu, raja, ataupun Philemon mencoba menguasai diri masing-masing. Sedangkan Bemius, ia nampak tetap tenang meski berada dalam tekanan.