
Kharon melepaskan pelukannya. Wajahnya berubah, dahinya mengernyit. Itu adalah salah satu tanda bahwa siluman harimau putih itu sedang cemas. Pram sudah hafal dengan hal itu.
"Sekarang apa yang membuatmu gelisah?"
"Pram, malam ini Dante sedang tertidur pulas di gubuk kita. Apa yang akan terjadi besok?"
"Dante mengatakan padaku bahwa ia datang untuk menjemputku agar kembali ke Anastasia Cato."
"Ya, itu maksudku. Apa kau akan mengikuti kata-katanya?"
"Mungkin di sana telah banyak anak buah Bemius yang menungguku. Aku tahu aku belum cukup ilmu. Tapi Ron, kedatangan Dante kemari menjelaskan bahwa kemana pun kita pergi, Bemius selalu mengikuti. Apa kau tidak lelah terus-terusan berlari menghindar?"
Kharon diam. Pikirannya mulai kusut lagi jika memikirkan soal Bemius. Semua yang dikatakan Pram memang benar, dan terus terang, ia sudah lelah bersembunyi. Tapi di sisi lain, ia dan Pram tak cukup kuat untuk mengahadapi Bemius dan para pengikutnya. Jika mereka bisa membumihanguskan kerajaan Shaman dengan mudah, tentu akan sangat mudah menghabisi nyawa Pram dan dirinya, benak Kharon.
"Apa kau punya rencana?"
"Bagaimana jika aku ikut saja? Kita lihat apa yang akan Bemius lakukan. Kita sampaikan hal ini pada Raja Ramadhana dan tuan Philemon juga, agar mereka membantu kita."
"Tapi, Pram...."
"Kau kan ada bersamaku. Semua akan baik-baik saja. Aku juga ingin macaron Dewi Thalassa." Pram berkata dengan mata berkedip-kedip memohon.
"Aku kan sudah bisa berteleportasi. Kita bisa kabur kapan saja kalau kita dalam posisi berbahaya." Pram menambahkan agar Kharon tak menolaknya.
"Aku yakin kalau kita tidak ikut Dante ke Cato, mereka akan menyerang kita dengan terang-terangan. Dan itu akan lebih menyulitkan, kita tidak memiliki celah untuk menyelamatkan diri. Kalau Bemius masih bermain halus seperti ini, setidaknya kita masih punya kesempatan untuk selamat."
Kharon mengangguk-angguk. Apa yang dikatakan Pram memang benar, jika Bemius masih sembunyi-sembunyi dalam penyerangan ini, tentu akan memperkecil resiko kontak fisik. Namun bila Bemius sudah menyerang dengan terbuka seperti yang dilakukannya pada kerajaan Shaman, sudah tidak ada yang tersisa.
"Baiklah Pram. Semoga ini keputusan terbaik."
Kharon bergegas menuju gubuk. Pram menunggu di tempat yang sama. Saat tiba di gubuk, Dante masih pulas. Begitu juga dengan Raja Ramadhana dan Philemon. Kharon lantas memantra-mantrai Dante agar lebih pulas dan tak lekas bangun.
"Paduka, tuan Philemon." Kharon membangunkan dengan berbisik sambil menepuk pelan pundak kedua orang tersebut bergantian.
"Ada apa, Ron?" Raja Ramadhana bangun dan langsung duduk.
Diikuti Philemon yang mengucek kedua matanya untuk mengusir sisa-sisa kantuk.
"Kita menerima tamu tak diundang. Mari keluar dan berbincang tentang beberapa hal." Kharon memandang ke arah Dante. Membuat sang raja dan Philemon juga melihat petugas kematian yang sedang tidur itu.
"Di mana Pram?" tanya Philemon sambil berbisik.
"Ada. Dia sudah menunggu kita di luar."
Kharon, Raja Ramadhana, dan Philemon keluar gubuk dengan perlahan tanpa meninggalkan suara. Kharon menceritakan pada kedua lelaki itu bahwa Dante bisa jadi akan bangun lebih cepat karena mantra yang ia bacakan bisa saja tidak berpengaruh. Seperti yang dulu pernah terjadi.
"Jadi mengapa kita harus berbisik di malam buta begini?" kata Raja Ramadhana dengan senyum.
"Sebelumnya, maafkan hamba paduka, tuan Philemon, telah mengganggu waktu istirahat kalian. Kedua, hamba juga minta maaf karena telah memberikan berita bohong. Tapi sungguh itu semua karena hamba sendiri meyakininya sebagai kebenaran."
Philemon dan Raja Ramadhana saling memandang, tak mengerti maksud perkataan Kharon. Philemon bahkan menggaruk kepalanya yang tidak gantal.
"Aku tak mengerti."
Kharon menunduk malu dan menarik nafas panjang.
"Ini soal Dante, dia bukan kekasih Pram." suara Kharon lirih.
"Apa?" Raja Ramadhana dan Philemon kompak bertanya dengan wajah sumringah. Mereka tentu sudah mendengar perkataan Kharon meski ia mengatakannya dengan sangat lirih.
"Huuuft, Dante bukan kekasih Pram. Sebaliknya dia datang untuk membawa Pram pergi dan bisa jadi diserahkan ke Bemius."
"Apa?" Raja Ramadhana dan Philemon mengajukan pertanyaan yang sama lagi karena terkejut. Membuat Pram cekikikan.
"Bemius selalu mengejar kami. Kemana pun kami pergi, anak buahnya selalu cepat mengetahuinya. Terakhir hingga kami diserang dan hamba terluka parah saat di Gyan Bhandar. Syukurlah tuan Philemon menolong hamba waktu itu. Jika tidak, kami tak tahu apa yang akan terjadi."
"Di Anastasia Cato, Dante hanya seorang petugas kematian biasa. Dia sama sekali tak memiliki ilmu, sihir, jurus, dan sebagainya. Dia menjalani hidup layaknya manusia biasa. Jadi mustahil dia bisa tahu keberadaanku, bahkan sampai menyusulku kemari." kata Pram serius. Membuat Raja Ramadhana dan Philemon mengangguk tanda mengerti.
"Tunggu apa lagi? Kita harus pergi sekarang." kata Philemon panik. Ia masih belum lupa pada apa yang dilakukan Bemius ke seluruh penduduk Shaman.
"Kami khawatir Bemius akan menyerang kita secara terbuka seperti yang dilakukan di Shaman. Jika Shaman yang luas dengan perlindungan kuat bisa dibobol dan dibumihanguskan, bagaimana dengan kita? Kami tidak mau mengambil resiko itu, tuan." kata Kharon menjelaskan. Ia segera menutup mulutnya karena mengatakan hal yang menjadi rahasia.
"Sebentar, Bemius membumihanguskan Shaman? Apa maksudmu, Ron?" suara Raja Ramadhana langsung meninggi tanpa diikuti senyum seperti biasanya.
Philemon berkeringat. Wajahnya langsung pucat. Sementara Kharon, menelan ludah. Ia keceplosan mengatakan keadaan Shaman yang sebenarnya.
"Soal itu, hamba, hamba...."
"Aku berbohong pada ayah. Shaman tidak sedang baik-baik saja, ayah. Ayah bahkan tidak akan mengenali Shaman saat melihatnya. Tidak ada lagi yang tersisa ayah. Tidak ada." Philemon menunduk sedih sekaligus menyesal.
"Apa maksudmu, nak? Bukankah kau bilang semua baik-baik saja?" sang raja terdengar menahan amarah dan menyabar-nyabarkan suaranya.
"Tidak ayah. Shaman sedang tidak baik-baik saja. Shaman telah hancur. Telah menjadi negeri lain. Para penduduk dipenjara dan rumah mereka dihuni para jin hitam dan siluman. Mayat-mayat terkapar dimana-mana, tidak dimakamkan sebagaimana harusnya. Shaman sudah musnah, ayah." kata Philemon sambil beberapa kali mengusap pipinya.
Plaaak!!
Raja Ramadhana mendaratkan sebuah tamparan keras ke pipi Philemon hingga meninggalkan bekas merah. Pram dan Kharon hanya diam tak berani berkata apapun.
"Sebagai anak yang sangat aku harapkan, kau ternyata sama saja dengan kakakmu. Pembohong!"
"Tenangkan diri paduka, tuan Philemon melakukannya untuk melindungi paduka."
"Apapun alasannya, bohong tetap salah. Betapa jahatnya aku sebagai raja. Di sini aku bersenang-senang, sedangkan rakyatku mati dan menderita dalam penjara."
Raja Ramadhana mengatur nafasnya yang berkejaran. Sementara Philemon masih menunduk penuh sesal.
"Raja, aku tahu Anda sangat menyayangi rakyat Shaman hingga tidak peduli pada keselamatan sendiri. Tapi raja harus mengerti, bahwa tuan Philemon juga sangat menyayangi Anda, hingga tak peduli pada kemurkaan Anda jika tahu yang sebenarnya. Raja harus mencoba paham, bahwa setelah kehilangan ibu, tuan Philemon tentu tidak mau kehilangan ayahnya juga."
Raja Ramadhana diam. Ia mencermati perkataan Pram. Apa yang dikatakan gadis itu memang benar. Tapi sang raja belum bisa memaafkan putranya.
"Maafkan aku, ayah." Philemon mencium tangan Raja Ramadhana.
"Aku akan memaafkanmu asal kau antarkan aku ke kerajaan Shaman sekarang juga."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Halo kakak-kakak readers, mohon izin untuk promosi novel author di sini ya… Skip aja kalau kurang berkenan hehe,
Well selain di akun Banin SN, author juga punya akun lain yaitu Hashirama Senju. Nah berikut novel-novel author yang barangkali kakak-kakak berminat juga untuk membacanya:
1. Pendekar Pedang Naga, novel ini ada di akun Hashirama Senju. Novel genre pendekar/wuxia yang pertama saya tulis.
2. After Death, novel yang sedang kalian baca ini hehe.
3. Kumpulan Cerpen Menang Lomba, tulisan ini ada di akun Hashirama Senju. Bukan jenis novel tetapi kumpulan cerpen. Di sana saya memposting kumpulan cerpen saya yang pernah memenangkan lomba baik skala lokal maupun Nasional, ada juga beberapa cerpen yang pernah dimuat di media. Silakan baca-baca untuk sekadar menambah referensi kakak-kakak sekalian.
4. Menikah karena Taruhan, novel ini ada di akun Banin SN. Ini adalah novel bergenre Adult Romance yang pertama saya buat, meskipun bergenre Adult Romance, saya berencana memberikan konflik-konflik rumit atau informasi-informasi yang bermanfaat yang saya rangkum di dalam sana.
5. Pacar Kecilku, novel ini ada di akun Banin SN. Sementara novel ini Hiatus dulu karena butuh banyak bacaan untuk melanjutkannya. Seperti sebagaimana yang saya tulis di Bulrb, novel ini mengangkat tema tentang Mental illness dan beberapa pengetahuan tentang ilmu psikologi lainnya, jadi saya butuh banyak bacaan lagi untuk melanjutkannya (dan sekarang belum ada waktu hehe)
Well, itu dia tulisan-tulisan saya yang ada di platform Noveltoon/Mangatoon. Mohon maaf sekali karena promosi panjang lebar di sini^^