
Pram dan ketiga lelaki, yakni Kharon, Philemon, dan Raja Ramadhana kini duduk melingkar. Mereka berdiskusi tentang strategi yang akan digunakan dalam penyerangan atau lebih tepatnya misi penyelamatan rakyat Shaman yang masih hidup. Kesemuanya tampak sangat tegang.
“Kita sudah kalah jumlah. Jumlah kita hanya secuil dibandingkan dengan pasukan Bemius yang memenuhi Shaman. Belum lagi jika ditambah dengan pasukan lainnya yang bertugas di kerajaan Anathemus. Oleh sebab itu, sangat sangat kecil kemungkinan kita bisa menang.” kata Philemon memberikan pertimbangan kelemahan pihaknya.
“Tapi, masih ada kesempatan untuk menang. Asalkan kita memilih strategi perang yang sesuai.” ucap Raja Ramadhana memberi semangat.
“Benar kata Tuan Philemon. Jika diihat dari jumlah, kita kalah telak. Dan dsri segi kemampuan pun, pasukan apalagi panglima Bemius memiliki kekuatan yang tidak bisa diabaikan. Jadi, kita memang memerlukan bantuan.” usul Kharon.
“Bantuan? Bantuan dari siapa, Ron?” tanya Pram sambil mengernyitkan dahi.
Philemon dan Raja Ramadhana saling memandang. Mereka sama sekali tidak memiliki gambaran orang yang akan menolong.
“Aku tidak yakin apakah dia akan bersedia membantu atau tidak, tapi kita bisa mencoba meminta bantuan kepada Dewi Thallasa di Lembah Namea. Setidaknya meminta nasihat.” kata Kharon mengingat Dewi sakti yang mampu melihat masa depan dan mengetahui banyak hal.
Pram mengangguk mendengar saran Kharon. Khodamnya itu memang benar, setidaknya wejangan dari Dewi Thallasa akan membantu mereka dalam mengambil tindakan yang tepat, meski sebenarnya Pram sangat berharap sang dewi bersedia turun tangan melawan Bemius.
“Dewi Thallasa? Apa yang kau maksud adalah seorang dewi yang melarikan diri dan bersembunyi dari kelompoknya karena terjadi perpecahan dan pertempuran di dalam kelompok tersebut?” tanya Raja Ramadhana merasa tidak asing dengan nama dewi yang disebut Kharon.
“Iya, paduka.” jawab Kharon sambil menganggukkan kepala.
“Apa dia adalah seseorang yang berbaju putih berambut emas yang memiliki kemampuan untuk melihat masa depan dan juga mengetahui apapun?” tanya sang raja memastikan bahwa dewi yang disebutkan Kharon adalah orang yang sama dengan orang yang ia kenal.
“Iya, paduka. Bagaimana paduka bisa tahu?” tanya Kharon heran.
“Apa ayah mengenal dewi yang disebutkan Kharon?” tanya Philemon tak kalah heran.
“Iya, aku mengenalnya. Sangat mengenalnya. Ada di mana dia sekarang?” pandangan Raja Ramadhana terlihat menerawang sesuatu di masa lalunya.
“Dia ada di Anastasia, paman. Tepatnya di Lembah Namea. Tapi aku tidak tahu apakah lembah tersebut bagian dari Anastasia atau bukan. Sebab dulu ketika aku mencari keberadaan roh ibuku di sana, dari hasil penelusuran yang dilakukan Dante untuk membantuku, tidak ditemukan lembah itu dalam peta Anastasia.” kata Pram menjelaskan.
“Dia adalah orang yang sangat baik, lembut, penyayang, dan sangat tak suka dengan kekerasan. Itu sebabnya ia pergi untuk melarikan diri daripada menjadi rebutan dua golongan yang sedang bertentangan. Aku tidak tahu jika dia lari hingga ke sana.” Raja Ramadhana tersenyum kecut.
“Dahulu ketika hamba merasa ada yang tidak beres dari diri Dante tapi hamba tidak mengerti akan hal itu, hamba mencoba menanyakannya kepada Dewi Thallasa. Dan isyarat yang diberikannya memang benar terbukti. Yang lebih penting adalah petunjuk yang diberikan Dewi Thallasa membuat hamba menjadi lebih waspada dan berhati-hati.”
“Baiklah, kalau begitu kita harus menemui Dewi itu sebelum pergi ke Shaman.” kata Philemon menarik kesimpulan.
“Rencana berikutnya? Bagaimana saat kita ada di Shaman? Apa yang harus kita lakukan agar setidaknya bisa mengimbangi pasukan Bemius?” tanya Pram tanpa jeda.
Pram memang merasa sangat gelisah saat mengingat bahwa ia harus berperang melawan Bemius. Ia sebenarnya tidak memiliki cukup keberanian untuk itu sebab ia merasa ilmunya belum mumpuni.
“Yang pasti kita tidak bisa melakukan perang secara terbuka sebab jumlah kita sangat tidak berimbang. Kita harus melakukan penyerangan secara sembunyi sembunyi.” kata Philemon mantap.
“Tuan benar. Kita harus melakukan penyerangan secara sembunyi sembunyi. Dan lagi, kita tidak boleh terpisah atau berjauhan. Tidak masalah jika akan memakan waktu lama." kata Kharon menambahkan.
"Lalu, bagian mana dulu yang harus kita serang?" tanya Philemon.
"Hindari penjara yang dibuat Bemius. Di sana pasti ada banyak pasukan yang berjaga. Bisa dikatakan bagian itu adalah bagian sentral bagi para pengikut Bemius. Kita bisa memulai dari rumah ke rumah sembari melihat keadaan dan situasi. Dengan begitu penyusupan menjadi lebih mudah dan aman." kata Raja Ramadhana menjelaskan. Dari penjelasan sang raja, Pram mengerti bahwa lelaki yang telah ia anggap sebagai ayahnya sendiri itu adalah seorang yang waspada. Dan semua orang mengangguk setuju.
"Sekarang, kita siapkan hal hal yang harus disiapkan sebelum melakukan misi penyelamatan." kata Philemon.
"Untuk bisa sampai di kediaman Dewi Thallasa, kita harus melewati Danau Orakel yang berisi ikan ikan ganas pemangsa daging. Sialnya kita tidak bisa terbang atau langsung berteleportasi ke rumah Dewi Thallasa. Danau itu seolah menjadi gerbang masuk yang wajib dilewati. Kita bisa membawa banyak daging dari pohon logistik untuk mengalihkan ikan ikan itu sehingga kita bisa berenang dengan selamat." kata Pram tak mau kalah memberi usulan.
"Bagus, Pram. Selain itu, sebelum menyerang kita harus membawa pusaka sebagai senjata yang akan membantu kita mengalahkan musuh. Pram sudah ada Panah Naga Api yang bisa mematikan beberapa lawan sekaligus. Philemon dan Kharon bagaimana?" tanya sang raja memastikan seluruh pasukannya bersenjata.
"Aku ada Pusaka Tombak Mata Sakti yang bisa mengeluarkan banyak mata tombak dalam satu pusaka, sehingga dapat membunuh lebih banyak musuh." ucap Philemon dengan mata tajam. Ia telah membayangkan bagaimana tombak saktinya itu akan melenyapkan para jin jahat.
"Kalau kau Ron?" ucap sang raja memandang Kharon.
"Sudah ada paduka."
"Apa itu Ron?"
"Cakar baja. Pusaka hamba menyatu dengan tubuh hamba."
"Lalu paman sendiri bagaimana?" tanya Pram sebab ia tak pernah melihat Raja Ramadhana menggunakan senjata.
"Bibit Racun Pencabut Nyawa. Bibit itu aku simpan di pulau ini karena sangat mematikan. Jika bibit itu sampai diketahui oleh Bemius, aku yakin para peneliti di Kerajaan Anathemus akan mampu membuat duplikatnya.
Bibit racun pencabut nyawa akan membaur dengan udara. Jin, siluman, manusia, atau apapun itu akan mati seketika saat udara yang mengandung racun tersebut terhirup." kata Raja Ramadhana menjelaskan dengan raut wajah keras seolah sudah tidak sabar untuk melenyapkan para anthek anthek Bemius yang membuat rakyatnya sengsara.
"Termasuk kita?" tanya Pram polos.
"Ha.. Ha.. Ha... Tentu saja jika kita tidak meminum penawarnya. Jadi, sebelum menebarkan bibit itu ke berbagai tempat, kita harus telah meminum penawarnya minimal satu jam sebelumnya. Sehingga tubuh kita akan kebal sebab jika ada racun yang turut masuk, secara otomatis akan dinetralkan."
Penjelasan Raja Ramadhana soal bibit racun itu membuat Kharon, Pram dan juga Philemon melongo dan menggeleng tak percaya.