
Secara kasat mata, Perpustakaan Gyan Bhandar yang kini telah buka sangat sunyi. Yang terdengar hanya suara gesekan kertas dan langkah kaki. Para pengunjung sangat khusyuk tenggelam dalam buku-buku yang mereka baca. Juga petugas perpustakaan yang tertunduk melihat daftar pengunjung.
Demikian pula dengan pelataran perpuatakaan yang tampak bersih. Tak ada bercak apalagi genangan darah.
Anak buah Bemius yang menghajar Kharon tanpa ampun telah membayangkan hadiah yang akan mereka terima atas prestasi yang dicapai hari itu. Di tengah tangisan Pram, mereka merasa perlu untuk membicarakan hadiah itu tanpa sedikit pun muncul rasa kasihan.
"Aku rasa, aku akan diangkat menjadi panglima. Jika aku jadi panglima, kalian akan aku angkat menjadi pengawalku, bagaimana?" kata seorang jin yang merupakan ketua pasukan.
"Aku sangat puas bisa membuat harimau putih yang sombong dan sok gagah ini sekarat." kata siluman harimau I.
"Iya, akhirnya kematian saudaraku bisa terbayar. Harimau ini telah membunuh adikku yang sedang bermain-main di tubuh manusia." kata siluman harimau II.
"Kau tahu lagaknya sebagai seorang suci yang selalu menyuruh kita untuk berubah membela yang benar dan menjauhi Raja Bemius sungguh sangat memuakkan." kata siluman harimau III menambahkan.
"Dia tak tahu kalau perekonomian di kerajaan Anathemus sangat bagus dan stabil. Hingga pengangguran pun mendapat gaji pokok dan tunjangan kesejahteraan. Kita hidup mewah tanpa perlu bersusah payah. Sedangkan kalau kita menjadi pengikut Raja Ramadhana, tak kerja ya tak makan. Hahaha...." kata Ketua pasukan membuat semua pendukung Bemius lainnya tertawa.
"Makanya semua penduduk yang tunduk pada Raja Ramadhana tak ada yang berisi, semuanya kena gizi buruk, hahaha..." seorang jin menimpali
"Sudah, Tuan. Ayo kita pergi dari sini. Biar aku yang membawa bangkai harimau putih ini. Akan kubuang di Sungai Gangga agar dia larut dalam kedamaian, hahaha." ucap siluman harimau IV tak mau ketinggalan.
Jleeep!
Sebuah anak panah berwarna perak dengan ornamen daun mendarat tepat di jantung siluman harimau IV yang baru saja menutup mulutnya usai bicara.
Hal itu sontak membuat anak buah Bemius lainnya mencari sang pemilik anak panah dan celingukan ke sana ke mari. Tapi tak dijumpai. Mereka pun menyebar ke seluruh perpustakaan. Dan saat ketua pasukan kembali ke tempat berdarah itu, Pram dan Kharon sudah tak dijumpai lagi.
"Gila, kemana perginya keco*k ngesot itu? Harusnya tubuh mereka masih tergolek di sini! Kurang aj*r!" kata-kata yang keluar dari mulut ketua pasukan jelas-jelas terdengar sangat marah.
Karena setelah beberapa lama menyusuri sudut demi sudut, sdemi sisi, rak demi rak buku, Pram dan Kharon tak juga ditemukan, mereka pun mengira bahwa tawanan mereka telah kabur.
Pram, Kharon, dan seorang lelaki setengah baya menyembul keluar dari tubuh penjaga perpustakaan. Ya, penolong sakti itu membawa Pram dan Kharon bersembunyi di tubuh manusia. Ia juga meminta Pram menahan nafasnya sejenak, karena aroma khas udara yang dikeluarkan individu yang lahir di purnama ketujuh penanggalan Shaman, membuat seseorang tersebut mudah dikenali dan dideteksi keberadaannya oleh jin lain dalam radius kurang dari satu kilometer. Hal itu pulalah yang ia lakukan. Dirinya segera pergi ke Gyan Bhandar saat mencium aroma Pram dan hawa negatif dari para jin hitam.
"Bukalah semua kain yang membebat lukanya."
"Tapi nanti darahnya akan keluar lagi Tuan."
"Lakukan saja perintahku."
Pram mengambil semua kain yang meliliti luka Kharon. Lelaki yang menolong mereka itu tampak sangat tegang.
Lelaki misterius itu menggerak-gerakkan tangannya di atas luka Kharon. Lantas ia melakukan gerakan seperti menarik sesuatu dari luka itu. Dan segenggam air berwarna hitam keluar dari masing-masing luka itu. Lelaki itu memasukkan cairan hitam itu ke dalam cawan kecil.
"Ini adalah racun. Dia pingsan bukan karena banyaknya darah yang keluar, melainkan karena racun-racun yang telah menyebar ke hampir seluruh tubuhnya. Syukurlah jantungnya masih murni, kalau tidak." Lelaki itu tak menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya menggeleng. Tapi Pram sudah tahu arah pembicaraan itu.
"Bagaimana racun-racun itu bisa ada di tubuhnya?"
"Racun ini masuk bersama menancapnya panah yang kau cabuti itu."
Lelaki berwajah rupawan itu memejamkan mata dan mulutnya komat-kamit. Lantas menarik nafas panjang dan menghembuskannya melalui mulut tepat di atas luka Kharon. Dan entah bagaimana, luka itu tertutup sendiri dengan perlahan.
"Meski luka itu sudah tidak terlihat, rasa sakitnya masih sama. Aku menutupnya hanya agar tidak infeksi. Tapi kau tak perlu khawatir, racun di tubuhnya sudah tak ada. Kini tubuhnya telah netral dan berusaha untuk memulihkan diri sendiri. Saat nanti kau lihat dia berubah wujud menjadi manusia lagi, itu artinya keadaannya telah membaik.
Aku akan pergi sebentar untuk mencari obat agar khodammu lekas pulih. Mungkin membutuhkan waktu cukup lama. Tapi kau tak perlu risau, aku telah membentengi kalian dengan tembok tak kasat mata. Jangan pernah keluar dari garis lingkaran ini. Dan segeralah kau tahan nafas jika anak buah Bemius kembali. Jadi tetaplah terjaga hingga aku datang."
Pram mengangguk. Lelaki itu pergi entah kemana. Tubuh Kharon masih tampak begitu lemas. Membuat Pram lagi-lagi menangis. Ia tak tahu jika guyonan genit Kharon tadi adalah yang terakhir. Entah berapa lama lagi bagi Kharon untuk fit kembali.