After Death

After Death
Bagian 41: Pohon Amarah II



Prameswari tahu itu adalah gambar yang dibuat Ghozie untuk hadiah ulang Candy yang ke-10. Namun, nama Pram yang tertera tepat di atas gambarnya telah dicoret dan digantikan dengan tulisan 'MONSTER'. Lantas keesokan harinya, Candy tak berbicara padanya selama hampir satu minggu.


 


Satu per satu wajah-wajah ia temui dalam pohon. Dan di pohon terakhir wajah Ghozie muncul. Ia masih sangat ingat di malam hari sebelum ulang tahunnya, ia merasa sangat nyaman bersama kakak pertamanya itu. Bahkan ia merasa bahwa Ghozie sangat menyayanginya. Dan ia tak menyangka bahwa Ghozie akan menukar nyawanya dengan uang asuransi.


Meski sangat berat, Pram bisa melewati pohon amarah tanpa menangis. Dan tiba di gerbang putih tinggi gagah yang terbuat dari besi.


"Bagus Pram. Sekarang kau telah sampai di bagian terakhir. Itu adalah Gerbang Impian. Impian yang berlebihan dapat memunculkan ilusi. Orang yang selalu berangan terkadang tak dapat membedakan antara kenyataan dengan ilusi. Bahkan membuat orang tersebut diselimuti ilusi-ilusi yang terkadang menyesatkan yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Kau tak perlu khawatir. Ini adalah bagian paling mudah. Kau hanya perlu membiarkan apa yang kau lihat selesai. Jika telah selesai kau seperti dalam keadaan listrik mati saat di Bumi. Tiba-tiba gelap."


Pram membuka gerbang yang ada di hadapannya. Beberapa saat sebelum gerbang terbuka, Pram mengira ia akan melihat pemandangan sebuah keluarga kecil yang bahagia dengan seorang anak. Itu adalah impiannya, menikah dengan Dante dan hidup bahagia dalam kesederhanaan dan ketentraman.


Namun, pemandangan yang ia lihat ternyata lain. Ia sama sekali tak menemukan wajah Dante. Jangankan wajahnya, bayangannya pun tak tampak. Ia tercenung karena menjumpai dirinya tengah tertidur pulas di atas kursi panjang yang terbuat dari kayu bercat putih dengan bantal paha Kharon. Khodamnya itu tersenyum seraya mengelusi rambutnya. Cukup lama ia menyaksikan, sebelum kemudian tiba-tiba gelap.


"Sekarang bukalah matamu, Pram."


Saat Pram menuruti kata Kharon, ia melihat Kharon sedang duduk di depannya sambil tersenyum, persis dengan senyum yang ia tangkap tadi. Dan menjumpai Dante tertidur di sebelahnya.


"Selamat, Pram. Selamat." Kharon tampak sumringah menjabat tangan Prameswari.


"Pram?" suara Kharon menyadarkan Prameswari.


"Apa kau baik-baik saja?" Wajah Pram yang tegang membuat Kharon sedikit cemas.


Kini tidak ada lagi yang mampu membaca pikiran Pram karena kekuatan Pram telah bertambah, termasuk Kharon. Benteng pertahanannya semakin kuat. Pikiran Pram dapat dibaca hanya jika ia menginginkannya.


"Aku baik-baik saja." jawab Pram lirih dengan sedikit mengangguk.


"Baguslah. Kau hebat Pram. Aku dulu harus mengulangi ujian ilmu ilusi ini bahkan hingga lebih dari 17 kali. Tapi kau, kau luar biasa. Sekali saja langsung lulus. Selamat, ya." Kharon tidak dapat menyembunyikan kekagumannya.


"Kharon."


"Iya."


"Apa yang kau lihat dalam Gerbang Impian?"


"Kau akan terkejut jika mengetahuinya. Aku melihat diriku bersama dengan seorang perempuan. Aku tak mengenal siapa perempuan itu. Aku bahkan merasa belum pernah bertemu dengannya. Lantas kutanyakan hal itu pada tuanku terdahulu. Setelah kuceritakan padanya ciri-ciri perempuan tersebut. Tuanku yang merupakan seorang indigo sakti menjawab bahwa itu adalah anak yang lahir di purnama ketujuh penanggalan Shaman. Ya, aku melihatmu Pram. Itu sebabnya saat aku melihatmu sedang dikerumuni jin-jin jahat, aku bergegas untuk menyelamatkanmu."