
Pram menjadi panik melihat mata Dante yang semakin melotot dan tampak sangat kesakitan. Tangan Dante yang sebenarnya berusaha menyingkirkan sesuatu yang mencekik lehernya, justru terlihat tengah mencekik lehernya sendiri. Raja Ramadhana dan Philemon berusaha keras melepaskan cekikan tangan Dante dari lehernya. Tapi tak bisa. Bahkan dengan segala jurus yang dimiliki.
“Tangannya terlalu kuat mencekik. Aku takut ia akan meninggal karena kehabisan nafas.” kata Philemon turut panik.
“Dante sedang dikuasai siluman. Siluman itu hanya akan pergi jika tuan yang menanam mencabutnya. Aku tidak bisa melihatnya, tapi siluman itu kini pasti sedang mencekik Dante dengan kuat.” Kharon mengerti apa yang terjadi. Apa yang menimpa Dante pernah terjadi pada beberapa manusia yang ditolong oleh tuannya terdahulu, kakek buyut Pram.
Dahulu cara yang digunakan tuan Sadawira untuk menolong adalah dengan menemukan orang yang meminta dukun untuk memasang siluman itu. Dan setelah melakukan perundingan dan negosiasi, orang yang meminta dukun mengirim teluh akhirnya bersedia mencabut siluman yang tertanam.
“Apa yang harus kita lakukan?” Pram kini menangis sesenggukan melihat Dante seperti orang sekarat. Ia beberapa kali mengelus kepala Dante seperti seorang ibu yang mengelus rambut anaknya yang masih kecil.
“Tidak ada.” kata Kharon menahan sesak.
Rasa-rasanya ia baru saja bisa rukun dengan lelaki yang sedang diserang siluman hitam itu. Baru saja ia bersikap baik setelah sekian lama bertingkah menyebalkan. Baru saja ia sepintas ingin menjadikan Dante sebagai adik angkatnya. Baru saja ia bertekad untuk membantu Dante terbebas dari pengaruh buruk Bemius. Tapi kini, Kharon tahu harapannya akan segera pupus. Dante sudah sekarat. Kharon tahu bahwa Dante hanya sedang menunggu ajal jika tuan yang menanam para siluman itu tak kunjung mencabutnya.
“Praaam, peeergilah ceepat. Be, heeek...,” keluar darah segar dari mulut Dante. Membuat Pram semakin keras terisak dan memeluk Dante erat. Hingga darah itu berceceran dibaju Pram.
“Be...mius ada di sini.” suara Dante melemah, matanya melotot hampir keluar, dan lidahnya menjulur panjang.
Pram menangis histeris melihat Dante tewas di pangkuannya. Ia sudah tidak peduli pada apa yang dikatakan Dante. Ia terus memeluk lelaki petugas kematian yang kini telah benar-benar mati itu.
“Pram, ayo kita pergi.” kata Kharon sedikit membentak karena beberapa kali mengajak gadis itu selalu menolak.
“Bagaimana dengan Dante?” pertanyaan yang sama diucapkan lagi oleh Pram. Ia tidak tega meninggalkan lelaki itu dalam keadaan yang sangat buruk. Seingat Pram, ia selalu meninggalkan Dante justru ketika lelaki itu sedang membutuhkannya.
Pertama, saat Dante terpaksa dirawat di rumah sakit setelah kembali dari hutan Bialowieza. Kedua, saat Dante tertimpa begitu banyak kesialan karena sering pergi keluar Cato mengikutinya. Dan ketiga adalah saat ini, saat Dante sudah tak bernyawa. Sedangkan lelaki itu, Dante selalu menjaganya dalam sakit. Menunggunya yang tak sadarkan diri selama berhari-hari di rumah sakit, bahkan Dante rela memotongi tubuhnya sendiri agar bisa melewati ikan-ikan mengerikan di Danau Orakel.
Pram masih ingat bagaimana lelaki itu menahan semua rasa sakit demi mendapat jawaban Dewi Thalassa tentang cara untuk membuatnya bangun dari koma. Dan lelaki itu juga meminta agar sisa tubuhnya yang bersimbah darah diceburkan ke Danau Orakel agar lekas habis disantap para ikan dan bisa segera kembali bertemu dengan Pram setelah terdaftar lagi di Loket Registrasi Pascakematian. Lalu, bagaimana bisa Pram dengan tega pergi begitu saja.
“Tinggalkan!” ucap Kharon kemudian, setelah beberapa kali pertanyaan Pram keluar menganggur tanpa jawab.
“Apa kau sudah gila? Ayo pergi! Dante tidak akan bisa hidup lagi.” Kharon membentak sambil mengeluarkan air mata.
“Pram, yang dikatakan Kharon benar. Ayo pergi, nak. Jangan biarkan Dante mati sia-sia.” ucap Raja Ramadhana sambil menarik lembut tangan Pram.
Pram mencium kening Dante. Kemudian, melepaskan pelukannya dan membiarkan tubuh Dante tergeletak di tanah. Dan sesaat kemudian rombongan jin dan siluman hitam datang. Kharon menggenggam erat tangan Pram dan Raja Ramadhana. Sedangkan sang raja menggenggam tangan Philemon. Mereka berteleportasi ke Hutan Krisan membawa duka yang tersangkut di hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Halo kakak-kakak readers, mohon izin untuk promosi novel author di sini ya… Skip aja kalau kurang berkenan hehe,
Well selain di akun Banin SN, author juga punya akun lain yaitu Hashirama Senju. Nah berikut novel-novel author yang barangkali kakak-kakak berminat juga untuk membacanya:
1. Pendekar Pedang Naga, novel ini ada di akun Hashirama Senju. Novel genre pendekar/wuxia yang pertama saya tulis.
2. After Death, novel yang sedang kalian baca ini hehe.
3. Kumpulan Cerpen Menang Lomba, tulisan ini ada di akun Hashirama Senju. Bukan jenis novel tetapi kumpulan cerpen. Di sana saya memposting kumpulan cerpen saya yang pernah memenangkan lomba baik skala lokal maupun Nasional, ada juga beberapa cerpen yang pernah dimuat di media. Silakan baca-baca untuk sekadar menambah referensi kakak-kakak sekalian.
4. Menikah karena Taruhan, novel ini ada di akun Banin SN. Ini adalah novel bergenre Adult Romance yang pertama saya buat, meskipun bergenre Adult Romance, saya berencana memberikan konflik-konflik rumit atau informasi-informasi yang bermanfaat yang saya rangkum di dalam sana.
5. Pacar Kecilku, novel ini ada di akun Banin SN. Sementara novel ini Hiatus dulu karena butuh banyak bacaan untuk melanjutkannya. Seperti sebagaimana yang saya tulis di Bulrb, novel ini mengangkat tema tentang Mental illness dan beberapa pengetahuan tentang ilmu psikologi lainnya, jadi saya butuh banyak bacaan lagi untuk melanjutkannya (dan sekarang belum ada waktu hehe)
Well, itu dia tulisan-tulisan saya yang ada di platform Noveltoon/Mangatoon. Mohon maaf sekali karena promosi panjang lebar di sini^^