
New York University Manhattan New York
Situasi di kampus bergengsi itu pun menjadi kacau ketika banyak yang mendengar akan ada b*m disana. NYPD, agen FBI, Sherif, pemadam kebakaran hingga ambulans pun dikerahkan ke kampus itu.
Penjinak b*m baik dari NYPD dan FBI bahu membahu menyisir seluruh kampus sedangkan lainnya mengatur evakuasi para mahasiswa, staff, dosen hingga dekan. James Stewart dengan bantuan Benji dan Geun-moon, berhasil meringkus Harry Burt yang hendak memasang b*m di janitor gedung teknik berkat face recognition yang disetting pasangan suami istri itu.
Isobel dan para agen FBI lainnya menemani Pedro yang sedang melihat susunan kabel C4 di ruang janitor itu.
"Mereka memang sinting, Pascal!" umpat Isobel yang harus menahan Rajendra dan Aruna ke kampus karena tidak mau membuat panik Nadira.
"Bagaimana keponakanku?"
Isobel dan Pedro menoleh ke belakang dimana tampak kapten Chris Bradford disana dengan atribut lengkap.
"Saya sedang mempelajari hasil web cam Nadira, Kapten Bradford" jawab Pedro yang kembali fokus ke layar monitor.
Chris lalu menelpon Nadira.
"Assalamualaikum Oom..." jawab Nadira dengan suara gemetar.
"Wa'alaikum salam. Nadira, Oom ada diluar. Tim penjinak b*m sedang mempelajari susunannya."
"Oom... Dira takut..." ucap gadis itu terisak.
Hati Pedro langsung mencelos mendengar suara Nadira. Aku akan membebaskan kamu, sayang.
"Jangan takut. Oom Chris di depan. Tante Isobel disini." Chris menepuk bahu Pedro. "Siapa namamu Agent?"
"Pedro Pascal."
"Pedro disini sedang berusaha menolong mu." Chris berusaha membuat Nadira tenang.
"Sayang, kamu bawa gunting?" Pedro berbicara ke alat penyadap Nadira membuat Chris mendelik tidak percaya.
Kamu memanggil keponakan aku 'sayang'?
"Iya aku bawa gunting ..." jawab Nadira.
"Kamu ambil kabel bewarna merah, kamu gunting..." ucap Pedro lembut tapi semua orang tahu pria itu tegang luar biasa.
"Kabel merah? Sebelah mana Pedro?"
"Kabelnya tersembunyi dibawah kabel warna hitam dan putih."
Nadira menyusuri kabel hitam dan putih yang berada di engselnya lalu menemukan kabel bewarna merah. "Ini Pedro?" tanyanya melalui body camnya.
"Benar, sayang. Sekarang kamu gunting."
Bismillahirrahmanirrahim. Nadira menggunting kabel itu. "Lalu apa?"
"Berapa lama lagi waktunya?" tanya Pedro.
"Lima belas menit."
Pedro dan Isobel saling berpandangan. Lagi-lagi mereka berencana meledakkan jam makan siang.
"Nadira, aku akan masuk..." Pedro memberitahukan kepada Nadira.
"Tapi Pedro..."
"Kabel tadi untuk mematikan booby trap saat aku membuka pintu. Kamu mundur, aku akan masuk!" Pedro memakai baju Anti peluru nya dan membawa satu untuk Nadira. "Kevin! Scott! Kita masuk!" perintah Pedro ke rekannya yang sudah memakai baju penjinak b*m.
Ketiga orang itu menuju pintu janitor dan Pedro membuka pelan hingga terbuka cukup untuk dua rekannya masuk. Pedro tidak berani membuka lebar pintu itu karena takut membuat gesekan yang memicu ledakan.
Di dalam Nadira tampak berantakan dan tubuhnya bergetar hebat karena melihat banyaknya C4 terpasang disana.
Jika gadisku terkena ledakan b*m ini, dijamin tubuhnya tidak berbentuk sama sekali. Baji*Ngan!
Pedro langsung memeluk erat tubuh gadis itu lalu memindai ruangan janitor. Tak heran jika gadis itu takut setengah mati.
Kevin dan Scott langsung memeriksa situasi b*m disana dengan teliti. Mereka mulai mengecek alur kabel b*m tersebut.
"Pakai ini Nadira" pinta Pedro sambil menyerahkan rompi anti peluru namun gadis itu terlalu shock hingga akhirnya Pedro yang memakaikannya.
"Kalian keluarlah!" perintah Kevin.
"Ayo Nadira..." Pedro memapah gadis itu menuju pintu. "Pelan-pelan sayang..."
Nadira berjalan keluar dengan menyamping di pintu janitor dan tampak Chris langsung menyambut keponakannya. Nadira menangis di pelukan Oomnya dan Chris membawanya menjauh dari janitor.
"Pedro!" panggil Scott.
"Ada apa?"
"We need your help! B*m ini harus dipotong bersamaan untuk menonaktifkan!" ucap Scott.
"Lima!"
"Isobel!" teriak Pedro.
"Ross! Lucas!" Isobel memanggil dua anggota tim penjinak b*m lainnya.
Keduanya pun masuk dan semua orang di luar merasa tegang.
"Mereka membuat posisi C4 ini berbentuk pointed star. Lihat! Mereka tidak suka Yahudi dan ras bewarna tapi mereka membuat model star of David. Ironis kan?" ucap Scott.
"Makanya harus lima orang untuk menjinakkan" gumam Pedro.
"Kabel biru, gentlemen." Kelima orang itu bersiap di setiap sudut tempat b*m itu terpasang dengan gunting kabel di tangan. Tidak dipungkiri kelima orang itu memegang gunting dengan tangan gemetar karena semua nyawa di gedung ini tergantung dengan mereka.
"On three... Ready gentlemen?" Scott memberikan aba-aba. "One...Two... Three!"
Kelima orang itu langsung memotong kabel biru itu serentak dan menunggu apa yang akan terjadi. Melihat penunjuk waktu itu mati, membuat kelimanya menghembuskan nafas lega.
"Thank you Jesus!" ucap Kevin.
Pedro merasa kemejanya basah dengan keringat dan dirinya pun terduduk. Dirasakan sebuah tangan memegang bahunya.
"Keluar Casanova! Kamu harus bertanggung jawab memanggil keponakan Kapten Bradford seenaknya! Apa kamu tidak tahu, tadi wajah kapten itu hampir melahapmu!" kekeh Scott.
Pedro menatap rekannya dengan wajah kecut.
Mati aku!
***
Kelima orang itu membawa semua b*m ke dalam tabung khusus yang diberikan oleh anggota tim yang diluar untuk melindungi semuanya. Meskipun sudah dijinakkan tapi tetap mereka masih membawa senjata berbahaya.
Kevin dan Scott memasukkan semua C4 itu ke dalam kendaraan khusus yang bisa menyimpan semua senjata berpotensi meledak.
Pedro mencari-cari Nadira dan tampak gadis itu minum hot choco di sebuah kursi ditemani oleh Chris Bradford. Tangan Nadira masih gemetaran dan Pedro tidak heran karena siapa yang menyangka akan dimasukkan ke dalam ruangan penuh dengan C4 dan akan meledak jika tidak segera dijinakkan.
"Nadira..." panggil Pedro dan wajah gadis itu mendongak.
Nadira meletakkan hot choco nya dan langsung menghambur ke arah pria itu yang langsung memeluknya erat.
Chris Bradford hanya tersenyum tipis melihat keponakannya seperti itu. Bagaimana pun, Pedro menyelamatkan nyawa Nadira dan Chris tidak tahu sejauh apa hubungan keduanya.
"Ssshhhh... Sudah. Kamu sudah selamat. Kan aku memenuhi janjiku. Akan melindungi kamu dengan nyawaku..." bisik Pedro sambil mengusap kepala dan punggung Nadira.
"Kamu ... hanya bilang... melindungi aku..." Isak Nadira membuat Pedro melongo.
"Kalau soal nyawaku, itu aku ucapkan dalam hati, sayang... " kekeh Pedro sambil mencium kening Nadira.
"Pedro!" panggil Isobel membuat keduanya melerai pelukannya.
"Ya Isobel."
"Kamu yang menembak Fred Wilcox?" tanya Isobel.
"Iya, karena dia membuat Nadira dalam bahaya." Pedro menjawab dengan tenang.
"Kamu temani Nadira. Kami menemukan pemimpinnya. Harry Burt sudah bicara."
Chris menghampiri Isobel. "Kita joint task force, Agent De Garza?"
"Yes captain Bradford." Isobel menatap ipar Aruna itu.
"Dimana pemimpinnya?" tanya Chris.
"Queens."
Semua berlangsung cepat ketika FBI dan NYPD berkerja sama untuk menangkap kelompok te**ris itu hingga ke seluruh kampus di area New York.
Pedro masih tetap menemani Nadira karena Isobel memberikan tugas khusus untuk melindungi putri sahabatnya.
Dan kini, keduanya sudah berada di depan pintu rumah keluarga McCloud. Pedro menggenggam erat tangan Nadira dan bersiap-siap menghadapi kemarahan Rajendra McCloud.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Maaf kalau kurang seru
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote gift and comment
Tararengkyu ❤️🙂❤️