The Bianchis

The Bianchis
Nadira McCloud : Mendengar Sesuatu



Cafe Eleventh Street Manhattan


Nadira menatap Pedro yang dengan santainya memakan lahap gnocchi nya sedangkan dirinya hanya mengaduk - aduk fettuccine nya.


"Nadira, makanan itu dimakan bukan diaduk-aduk macam itu?" senyum Pedro.


"Kamu tuh! Apa sih maksudmu main seret ajak makan kesini?" Nadira menatap tajam ke Pedro.


"Pertama, darling, aku lapar. Kedua, aku butuh teman untuk makan. Ketiga, aku lebih semangat makan jika ditemani teman yang cantik. Keempat, sayangnya teman makanku lagi jutek."


"Darling?" Nadira mendelik.


"Iya, darling. Kenapa? Kamu keberatan? Apa perlu aku ganti? Babe, baby, honey, hon, Cherie, amore Mio?"


Nadira menganga. "Apa maksudmu Pedro?"


"Look Nadira, do you believe love at first sight? Cause I do. And I think I fall in love with you at first sight." Pedro menatap serius ke Nadira.


"Astaghfirullah! Astaghfirullah! Benar-benar kamu ya! Khas pria Italia mix Perancis!" Nadira memegang dadanya terkejut dengan ucapan blak-blakan Pedro.


"Jangan bilang karena kita baru bertemu dua kali, aku main-main. No Nadira, aku serius!"


Nadira memberanikan diri memegang dahi Pedro dengan punggung tangannya. "Aku rasa kamu harus memeriksakan otakmu Pedro."


"Why Nadira? Aku benar-benar serius jatuh cinta padamu."


"Aku tidak tahu siapa kamu!" balas Nadira.


"Makanya kita pacaran ya, biar kamu tahu siapa aku."


"Try me."


"Perkenalkan Namaku Pedro Angel Pascal, usia 30 tahun, masih mahasiswa, pekerjaan serabutan. Orang tua meninggal saat aku berusia 25 tahun akibat serangan b*m di Udaipur India..."


"Kasus b*m mobil itu?" Nadira tahu kejadian menyedihkan membuat banyak orang meninggal dan luka berat. "Memang pekerjaan orang tuamu apa?"


"Agen FBI."


Nadira melongo. "Apa yang mereka lakukan di Udaipur?"


"Ayahku kepala biro FBI di India dan sudah mencurigai bahwa akan ada serangan di Udaipur. Ibuku adalah seorang negosiator FBI. Ternyata mereka memang ditarget dan terjadilah peristiwa itu."


"Apakah sudah tahu siapa yang bertanggungjawab?"


"Sekelompok orang yang otaknya miring. Mereka tidak suka ada Uncle Sam di negaranya. Jadi begitulah."


"Apa mereka sudah tertangkap?" Mata coklat Nadira menatap Pedro perhatian.


"Sudah. Dan sudah dihukum mati."


"Apa kamu juga seorang agen FBI, Pedro?"


Mata hijau Pedro menatap balik Nadira. "Do I look FBI agent?"


"Nope." Nadira menyenderkan punggungnya ke kursi. "Kamu seperti mahasiswa pemalas, tidak konsisten, pindah sana sini."


"Kamu menyelidiki aku?" Pedro tersenyum.


"Tentu saja. Begitu kamu main kedipan, aku langsung mencari tahu siapa dirimu."


Untung biro sudah menyiapkan segalanya.


"Tapi kamu memang cantik, Nadira. So, kita pacaran sekarang?"


Nadira berdiri. "Nope, Mr Pascal. Kita tidak pacaran!" Gadis itu mengeluarkan uang $50 yang diletakkan diatas meja. "Aku permisi."


Pedro menoleh ke arah Nadira yang berjalan keluar cafe dengan langkah anggun. Pria itu tersenyum. Sabar Pedro! Lagian kamu terlalu grasah grusuh, ya jelas kabur Nadira.


***


Nadira masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya dengan keras. Hatinya sungguh kesal luar biasa. Ya Ampun! Aku mengalami apa yang dialami sama Blaze dan Leia. Bertemu dengan pria-pria Membagongkan!


Dari empat wanita yang sebaya, Zinnia memang menikah duluan dengan Sean Léopold, pangeran asal kerajaan Belgia. Leia sendiri bercerita pada Nadira kalau dia dikejar - kejar Dante Mancini yang notabene adalah musuh dan saingannya. Kalau Blaze, semua orang tahu asisten Joey Bianchi yang bernama Samuel Prasetyo benar-benar bucin dengan gadis bar-bar itu.


"Ya Allah! Ngimpi apa aku semalam ditembak cowok tidak jelas!" Nadira lalu menjalankan mobilnya meninggalkan cafe itu.


***


Pedro masih termenung di cafe dan setelahnya dia menepuk jidatnya.


Bodoh, Pedro! Bodoh!


Pria tampan itu lalu meletakkan uang di meja dengan nominal yang sama dengan Nadira dan meninggalkan cafe itu lalu mencari gadis itu.


Tentu saja sudah pergi Pedro! Idiota!


***


New York University Manhattan New York


Nadira pagi ini harus mendampingi Professor Demetrio kembali dan mata coklatnya bertemu dengan mata hijau Pedro. Gadis itu hanya melengos mengacuhkan Pedro yang tidak berpaling tatapannya dari Nadira.


Fix! Aku jatuh cinta beneran dengan Nadira McCloud.


Pedro pun kembali serius mengikuti perkuliahan dengan Professor Demetrio dan dia tidak mau diusir keluar lagi karena pemandangan indah di hadapannya tidak boleh terlepas.


***


Pedro mengawasi Nadira yang ternyata memiliki jadwal perkuliahan hingga malam. Diam-diam pria itu mencatat jadwal perkuliahan Nadira dan entah kenapa dia ingin selalu dekat dengan gadis itu.


Pedro pun melanjutkan kuliahnya dan tiba-tiba ponselnya berbunyi. Wajah pria itu terkejut melihat dua orang yang dicurigai sebagai pelaku aksi pener*ran.


Dua mahasiswa ini kan teman sekelas Nadira di program magister?


Dua orang kulit putih itu disinyalir ikut sebuah sekte atau klub yang membenci sekolah campuran. Di NYU banyak mahasiswa dari berbagai bangsa dan negara kuliah disana. Kedua orang itu memiliki tattoo bangsa Aryan yang dikenal sebagai simpatisan N4zi.


Brengseeekkk! Kamu lahir di Amerika, makan di Amerika, hidup di Amerika tapi tetap rasis? Your brain is such a ****** man!


Pedro mengumpat dalam hati tapi untuk menangkap mereka tidak bisa dilakukan tanpa ada bukti - bukti yang menunjang.


Aku harus menjaga Nadira. Apalagi dia ada kuliah bersama cecunguk ini!


***


Nadira merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal setelah seharian sibuk dari pagi menjadi asisten hingga kuliah magisternya. Gadis itu pun bersiap-siap untuk pulang, begitu juga dengan teman-temannya yang lain.


"Nadira, mau ikut nongkrong di bar nggak?" ajak salah satu temannya.


"Nggak deh! Aku mau tidur saja. Lelah sekali aku hari ini" jawab Nadira.


"Kamu sih kebanyakan kegiatan" celetuk temannya yang lain yang hanya dijawab tawa oleh Nadira.


"Kami duluan ya Nadira." Teman-temannya pun berjalan meninggalkan ruang kelas. Nadira pun keluar tak lama kemudian. Dirinya baru sadar kampus sudah mulai sepi tapi di divisi teknik masih ramai karena banyak yang masih lembur tugas.


Gadis itu berjalan di lorong gedung filsafat yang mulai sepi. Ketika dirinya melewati ruang diskusi, Nadira melihat dua orang berbicara disana.


"Sudah siap?"


"Bahan-bahan sudah datang. Tinggal merakitnya dan tepat tanggal 22 Februari, di ulang tahunnya George Washington, kampus ini akan kabooommm!"


Dua orang itu tertawa terbahak-bahak.


Kabooommm? Maksudnya b*m gitu?


Nadira berusaha mendekati sumber suara itu tapi tanpa disadari kakinya menendang tong sampah.


"Siapa itu!"


Nadira panik dan bergegas berlari untuk bersembunyi. Kedua orang itu mengejarnya namun tidak menemukan dirinya yang bersembunyi di balik pintu ruang kuliah yang tidak terkunci dan gelap.


"Ketemu?"


"Tidak! Tapi aku sempat melihat dia seorang wanita berambut coklat!"


"Disini banyak yang seperti itu!"


"Besok kita cek CCTV!"


Nadira panik. Gawat!


"Ayo kita segera pergi! Nanti ada yang memergoki kita!"


Nadira mendengar langkah kedua orang itu menjauh dan menunggu hingga sepuluh menit lalu dirinya keluar dari ruang kuliah itu.


Wajahnya menatap ke lorong tempat kedua orang itu pergi dan gadis itu berjalan mundur untuk menuju tempat parkir.


Tiba-tiba sebuah tangan membekap mulutnya dari belakang.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote gift and comment


Tararengkyu ❤️🙂❤️