The Bianchis

The Bianchis
Ulang Tahun Joshua



Harvard Medical School


Akhirnya kasus dokter Richard Chamberlain naik ke meja hijau dan pihak kepolisian pun mendapatkan banyak bukti yang memberatkan salah seorang dokter senior terkenal itu. Pihak petinggi akademik Harvard Medical School juga tidak lepas dari kritikan dan desakan untuk mundur dari para alumni, senat dan para donatur.


Gara-gara Joey Bianchi, diadakan sidang senat luar biasa membuat semua jajaran di posisi akademik fakultas kedokteran itu dirombak total. Para petinggi yang tahu ulah dokter Chamberlain tapi berusaha untuk menutupi, mendapatkan sanksi akademik yang cukup membuat orang tercengang.


- *Melarang berpraktek hingga lima tahun.


- Penurunan jabatan di rumah sakit.


- Mendapatkan hukuman pidana karena menutupi kegiatan kriminal berat di kampus.


- Melakukan permintaan maaf secara terbuka di semua media massa*.


Joey sendiri hanya mengedikkan bahunya ketika mendengar hukuman yang baginya tidak seberapa dibandingkan kerugian dan trauma para korban kebejatan dokter Chamberlain.


"Terlalu ringan!" komentarnya ketika semua dokter bedah berkumpul di cafetaria untuk makan siang.


"Tapi ini berat lho J, soalnya sampai harus melakukan permintaan maaf secara terbuka kan sama saja mempermalukan diri" komentar Gary.


"Lalu? Para korban apa kabar? Trauma mereka seumur hidup tahu! Mereka paling cuma malu sejenak tapi korban? Mikir dong! Pasti para korban harus konseling dan terapi untuk menghilangkan rasa traumanya" ucap Joey pedas.


"Kamu tuh membuka kotak Pandora, Joey" ucap temannya yang lain.


"Barang busuk dan bobrok pasti bakalan kebuka pada akhirnya hanya saja waktu dan tempat dipersilahkan dan oleh siapa" sahut Joey.


"Lu tuh kagak takut ya?" tanya Gary.


"Ngapain takut? Aku nggak salah kok!" cebik Joey cuek.


"Apa karena kamu anak keluarga Bianchi, salah satu klan mafia terkenal di New York jadi kamu bisa santai begitu?" komentar teman lainnya.


"Memangnya aku bawa-bawa nama keluarga aku? Yang aku bawa hanya Oom James Blair dan keluarga Bianchi tidak ada yang ikutan karena ini murni urusan aku dengan dokter meshum itu!" sahut Joey judes. Bahkan para uncle dan aunty nya yang di New York mendukung ketika mendengar dirinya mengobrak-abrik Harvard.


"Tapi harusnya si dokter R.C tahu saat dia mulai menjadi konsulenmu, jangan sampai bikin perkara. Karena kamu itu orangnya hitam putih J, tidak ada di zona abu-abu" ujar Gary.


"Tololnya dia lah! Operasi kok mabok pas satu ruangan denganku ! Habis! Jangan mentang-mentang dia punya jabatan di Harvard jadi seenak pantatnya aja!" sungut Joey.


***


Mansion Al Jordan Tokyo Jepang


Emi datang ke rumah keluarga Al Jordan untuk membantu Miki, Marissa dan Josephine untuk membuat nasi kuning. Hari ini adalah hari ulang tahun Joshua Akandra, opa Luca. Pria yang menurunkan ilmu pencari aib ke beberapa keponakan dan cucunya itu merasa bersyukur diberikan usia panjang hingga masih bisa berkumpul dengan keluarganya.


Luca sendiri masih berjibaku dengan Legonya di hari Sabtu ini tanpa mengetahui tunangannya sudah berada di dapur membantu calon mertuanya.


"Luca dimana Tante?" tanya Emi sambil menggoreng telur untuk membuat dadar.


"Masih berjibaku dengan legomu Em" kekeh Marissa.


"Lagian kamu kasih Lego juga nggak kira-kira besarnya" senyum Miki.


"Sekalian lah Oma biar puas... puas pusingnya" cengir Emi.


"Tante salut sama Luca. Meskipun mukanya sekarang mirip Lego tapi dia serius menyelesaikan si Millennium Falcon demi memperlihatkan hasil akhirnya kepadamu" ucap Josephine.


"Iya Tante, sampai Otousan ribut kenapa Luca nggak pernah ke rumah lagi. Soalnya Otousan tidak ada teman gelut dan debat. Sama Shiki, yang ada Otousan manyun, habis Shiki kan seperti droid ngomong lempeng" kekeh Emi.


Tak lama Luca masuk ke dalam dapur mengambil minum dan hanya melihat sekilas Emi.


"Eh Emi... " ucapnya sambil lalu berjalan keluar dapur membuat semua orang di dapur melongo. Setelahnya Luca berhenti seperti baru sadar ada kekasihnya disana.


"Hah? Emi?" Luca pun berbalik. "Kamu kok disini? Kapan datang? Kok nggak bilang-bilang?"


Emi hanya menepuk keningnya. "Benar Tante, muka Luca macam Lego."


***


Acara ulang tahun Joshua yang dirayakan sederhana itu menjadi ramai ketika para sepupunya melakukan panggilan zoom. Tampak Mamoru dan Ingrid, Masayuki, Duncan dan Rhea, Ghani dan Alexandra, Javier dan Agatha, Gozali dan Humaira, Elang dan Rain mengucapkan ulang tahun kepada pria yang sudah banyak membantu mereka dalam bidang IT.


"Selamat ulang tahun, Josh" ucap semua sepupunya. "Sehat-sehat ya, panjang umur."


"Terimakasih semuanya" ucap Joshua terharu melihat para saudara-saudaranya sehat - sehat semua.


"Kabarnya dia jadi pionir mengobrak Abrik Harvard ya?" kekeh Mamoru.


"Benar-benar deh Moru. Pusing aku kadang mikirin Joey" senyum Joshua.


"Luca, bulan depan jadi nikah kan?" tanya Javier.


"Jadi Opa. Sebenarnya saat lamaran aku sudah ready steady go penghulu tapi tidak diijinkan" adu Luca.


"Kamu tuh" kekeh Duncan.


"Assalamualaikum semua! Apakah ada nasi kuning disini?"


Semua orang menoleh. "Nasi kuning?"


"Kan kalau ulang tahun pasti ada nasi kuning. Kalian masak banyak kan?" cengir pria yang paling menyebalkan di generasi ketiga.


"Eiji, datang tuh kasih ucapan dulu baru tanya nasi kuning" tegur Miki.


"Lho sudah tadi assalamualaikum. Salahku dimana coba?" tanya Eiji dengan wajah tidak bersalah.


Ayame yang datang bersama suaminya hanya memijit pelipisnya.


"Biang kerok datang" gumam Ghani.


***


"Apa hal kalian ke Tokyo? Bukannya sudah nyaman di New York?" tanya Miki sambil makan nasi kuning.


"Aku kangen Tokyo, M. Lagian kan ada yang ulang tahun dan sudah pasti ada nasi kuning. Justru itu yang tidak ada di New York" cengir Eiji.


"Apa karena kamu ribut dengan Hoshi makanya kamu kemari?" ledek Joshua.


"Oh, Joshuaku sayang, janganlah membuat aku sedih dong. Cucuku yang cantik tapi mulutnya pedas macam dragon breath itu membuat aku kesal tapi juga kangen ... Bagaimana ini? Aku galau!" ucap Eiji dramatis. "Eh apa aku telpon saja ya?" Eiji mengambil ponselnya dan di loud speaker.


"Assalamualaikum" terdengar suara serak Hoshi disana setelah deringan kelima.


"Wa'alaikum salam. Toyib, kamu ke Tokyo dong! Sama opa disini" rayu Eiji.


"Opa... Seriously..." keluh Hoshi.


"Ayolah Hoshi, disini ada bang Luca dan mbak Emi calon istrinya. Ayo! Opa tunggu nanti malam ya."


"Opa... Dengar ya. Opa itu main telepon lihat jam kagak?" sahut Hoshi judes.


"Lho lihat jam! Ini jam satu siang di Tokyo."


"New York jam berapa coba? Jam berapa?" sarkasme Hoshi.


"Eh?"


"Jam satu malaaamm opaaaaa! Aku tuh baru tidur! Opa njelehiii! Dah! Assalamualaikum!" Hoshi langsung mematikan ponselnya.


"Lha? Aku salah lagi ya?" Eiji menatap semua orang disana.


"Baru ngeh kalau cucumu di New York?" ledek Joshua.


"Huwaaaa... Hoshi marah lagi padaku! Diajeng Aya-aya..." Eiji pun berdrama menangis di bahu istrinya yang hanya melengos.


"Kapokmu kapan tho Ji?" gumam Miki sebal.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️