The Bianchis

The Bianchis
Nadira McCloud dan Blaze Bianchi



Pagi ini Nadira bersiap - siap untuk ke kampus setelah kemarin ijin sehari karena perutnya sakit saat mendapatkan periodenya.


"Nadira, mobilmu sudah jadi tuh" panggil Rajendra.


"Iya Dad." Mobil BMW Nadira memang masuk bengkel untuk check up rutin sekalian ganti ban dan semuanya jadi harus menginap di bengkel. "Sudah diambil ya?"


"Sudah. Tadi Ryan yang Daddy suruh ambil." Ryan adalah salah satu pengawal keluarga McCloud.


"Kamu mau ke kampus, Dira?" tanya Aruna yang sedang membawa camilan yang hendak dibawa Rajendra untuk bekal ke RR's Meal dan ke PRC group. Aruna adalah salah satu arsitek PRC group yang tidak harus masuk setiap hari.


Meskipun Rajendra adalah seorang chef terkenal tapi dia tidak malu membawa bekal yang disiapkan oleh Aruna.


"Ke kampus sebentar mom. Mau lihat jadwal ujian mid semester. Biarpun sudah ada jadwal via online tapi tetap mau kesana."


"Ya sudah, hati-hati."


Nadira mencium pipi Aruna dan Rajendra sebelum pergi ke kampus.


***


New York University Manhattan New York


Nadira melihat jadwal di papan pengumuman digital dan tersenyum saat tahu jadwal ujiannya.


"Nadira!"


Nadira menoleh dan melihat Professor Demetrio. "Professor."


"Sudah mendingan?"


"Sudah Prof. Ini lihat jadwal ujian mid semester."


"Tahun depan sudah selesai program magister kamu ya. Jadi melamar dosen tetap?"


"Insyaallah Prof. Saya memang ingin menjadi dosen" senyum Nadira.


"Semangat Nadira."


"Thanks Prof."


Nadira lalu mengobrol banyak dengan Professor Demetrio tentang banyak bidang filsafat dan jadwal asisten dosen.


***


FBI Building Federal Plaza New York


Pedro menatap layar monitor dengan wajah mendung. Sudah dua hari ini Nadira menolak telepon dan pesannya, membuat pria itu kalang kabut. Hanya gara-gara telat menjemput, jadi ngambek begini.


Kasus kali ini memang membuat otak Pedro berpikir keras dengan satu timnya karena tidak main-main, perdagangan bahan kimia berbahaya.


"Haaaaahhh" keluhnya.


Beberapa rekan Pedro hanya menatap prihatin ke pria itu. Sekalinya jatuh cinta malah jadi bingung sendiri.


"Pascal!" teriak salah satu rekannya.


"Yooo."


"Ada yang mencari kamu."


Pedro menoleh. "Siapa?"


"Entah! Orangnya di lobby."


Pedro mengernyitkan keningnya. Siapa ya?


Pria itu pun langsung menuju lift dan memencet tombol ke lobby gedung. Dirinya sangat penasaran dengan orang yang mencari dirinya. Apa orang NYPD? Atau CIA? Atau DEA?


Pedro keluar dari lift dan melihat sesosok tubuh yang dirindukannya dua hari ini sedang berdiri di dekat meja satpam sambil memainkan ponselnya.


Pria itu langsung keluar setelah memencet kartu di scan pintu masuk.


"Nadira!" panggil Pedro senang bisa melihat gadisnya lagi.


"Hai." Nadira memberikan senyum manis.


Pedro langsung memeluk Nadira erat. "I'm so sorry kemarin terlambat menjemput mu."


"Tak apa."


"Kamu dalam rangka apa kemari?" tanya Pedro sambil memegang bahu Nadira.


"Ini." Nadira memberikan paper bag. "Pizza yang batal kita makan bareng kemarin."


Pedro melongo. "Jadi kemarin pas aku mau jemput kamu itu kamu mau ajak aku makan ini?"


"Iya" jawab Nadira. "Maaf aku sudah mengusirmu. Habis aku kesal waktu itu."


"Aku yang minta maaf Nadira. Kami ada kasus penting."


Nadira mengangguk. "Resiko jika berhubungan dengan aparat soalnya."


"Aku senang kamu datang. Nanti aku ke rumah mu." Pedro tersenyum ke Nadira.


"Oke." Nadira melirik jam tangannya. "Aku pulang dulu. Selamat bekerja."


Pedro memeluk Nadira dan mencium pipinya. "Thank you. Kamu membuat mood ku membaik."


"Aku pulang dulu."


"Beamer ku sudah beres kok."


"Hati-hati sayang."


***


Kediaman Keluarga McCloud Manhattan New York


Rajendra menatap wajah Pedro yang tampak cerah macam sudah mendapatkan lotere, membuat chef terkenal itu menggelengkan kepalanya. Macam pria yang baru saja dapat hadiah!


Malam ini memang Pedro datang ke kediaman McCloud untuk makan malam bersama atas undangan Nadira. Meskipun Rajendra masih belum memberikan restu 100%, tapi dia melihat bagaimana Pedro tampak memuja putrinya.


"Ada kasus apa Pedro kali ini?" tanya Aruna.


"Masih sekitar orang - orang psycho" senyum Pedro.


"Aruna sayang, Pedro tidak mungkin akan memberikan informasi karena pasti sangat rahasia. Tahu sendiri kan agen intelijen gimana" sahut Rajendra.


"Nanti setelah unsub nya ketangkap, baru saya ceritakan." Pedro menatap Rajendra dan Aruna serius.


***


Harvard Medical School


Blaze membuka cap operasinya dan berjalan keluar kamar operasi setelah melakukan bedah usus buntu ke remaja berusia lima belas tahun.


Dokter cantik itu memutuskan banting setir dari spesialis gastroenterology ( spesialis pencernaan ) menjadi bedah seperti daddynya, Joey Bianchi. Alasannya simple. Kuliah di spesialis pencernaan lebih lama daripada bedah.


Blaze lebih menguasai bedah karena terbiasa melihat Joey jadi dia sangat mudah menghafal semua arteri, jaringan lunak dan sebagainya.


"Bee!" panggil Samuel.


Blaze menoleh ke arah kekasih kanebo kering nya. "Apa bebek?"


"Sudah selesai operasinya?" Samuel berjalan menjejeri gadis itu.


"Eh bebek! Apa kamu nggak lihat kalau aku sudah lepas cap berarti sudah selesai operasinya!" jawab Blaze judes.


"Kamu lagi dapat ya? Kok marah-marah?"


"Iya! Aku lagi dapat! Kenapa? Masalah buat kamu?"


Samuel hanya tersenyum dan langsung memeluk Blaze. "Kamu kalau marah-marah, tambah cantik deh!"


Blaze melongo. "Sammy? Kamu nggak lagi mabok kan?"


"Hah?"


Blaze mengendus wajah Samuel mencari-cari jejak alkohol.


"Kamu cari apa? Kok mengendus-endus wajahku?"


"Takutnya kamu habis minum tequila."


Samuel mencium bibir Blaze lembut. "Ada rasa alkohol?" tanyanya setelah mencium gadis itu.


"Kamu habis makan permen mint ya?"


Samuel tersenyum lebar. "No alcohol, Bee. Memang kenapa kalau aku merayu kamu?"


"Nggak cocok!" cebik Blaze sambil merapatkan pelukannya ke Samuel. "Kamu cocoknya tetap kaku, polos dan naif."


"Ya ampun Bee! Kamu itu maunya gimana sih? Aku merayu salah, aku melamar salah. Yang benar harus seperti apa?"


"Lamar tuh yang benar! Ngomong sama mommy dan Daddy! On bended knee itu pakai aturan! Tapi kamu sampai sekarang belum menghadap Mommy dan Daddy!"


"Aku... aku..." Samuel menunduk.


"Kenapa? Takut ditolak Daddy? Aku kasih tahu ya, Daddy itu sudah suka sama kamu! Jadi alasan apa lagi?"


"Bee, melamar itu mudah, menikah itu mudah. Tapi aku memikirkan tanggung jawab yang besar. Aku melamar anak orang, putri seorang pria yang aku hormati dan aku tidak mau melakukan itu tanpa persiapan! Aku tidak mau tergantung finansial sama kamu, aku maunya memberikan yang terbaik buat kamu."


"Apa maksudmu?"


"Aku akan melamar kamu jika aplikasi aku untuk membeli sebuah apartemen mewah disetujui karena aku tidak mau kamu turun derajat..."


"BEBEK BODOH!" bentak Blaze.


"Hah?"


"Aku tidak butuh apartemen mewah! Yang aku butuhkan keberanian kamu menemui mommy dan Daddy! Soal keuangan, please! Aku tidak keberatan join keuangan! Kamu sudah bekerja, ada uang tapi aku tidak perlu kemewahan karena aku sudah kenyang! Yang aku butuhkan dan inginkan, kamu menjadi pasangan hidup ku selamanya. Jangan kamu khianati aku, jangan kamu sakiti aku dan selalu percaya, cintai aku serta lindungi aku ! Lakukan tugasmu sebagai pria yang aku harapkan menjadi suamiku, pendamping hidupku!" Blaze menatap Samuel serius.


"Padahal itu buat mas kawin..." gumam Samuel.


Blaze melongo.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa gaeesss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️