The Bianchis

The Bianchis
Aftermath



Kamar Harland di Royal Palace Hotel Turin


Alexis menemani Raveena yang sibuk dengan cuci muka dan gosok gigi berulang dengan sikta gigi dan pasta yang tersedia di hotel.


"Howwweeekkk! Iiiihhh! Nyebelin!" Raveena menggosok giginya lagi.


"Masih tidak enak, Signora Raveena?" Alexis yang duduk di pinggir tempat tidur menatap gadis itu yang berada di kamar mandi dimana terlihat dari tempatnya berada.



Alexis Accardi


"Hiiishhhh! Rasanya mau mandi kembang! Ruqyah sekalian!" omel gadis cantik itu.


"Hah?" Alexis tidak paham ucapan Raveena.


"Nevermind." Raveena keluar dari kamar mandi dan mematikan lampunya.


Alexis berdiri dan melepaskan jasnya lalu memakaikan ke tubuh langsing Raveena membuat gadis itu melongo.


"Kan aku ada jaket, Alexis. Ada di mobil" ucap Raveena yang tersentuh dengan sikap pria itu.



Raveena Dewanata


"Tapi kan di mobil Signora."


"Ah, benar juga. Bagaimana dengan keluarga aku? Apakah ada baku hantam?" Raveena menarik gaunnya dan mata biru Alexis melotot tidak percaya jika di paha mulus itu ada holster dan sebuah PPK disana.



"Signora!" seru Alexis yang benar-benar harus menepuk dadanya berulang karena gadis di hadapannya bukan gadis cengeng.


"Apa? Aku hanya berjaga-jaga" jawab Raveena cuek. "Yuk keluar. Aku ingin pulang!"


Alexis hanya menggelengkan kepalanya dan mengikuti gadis cantik yang bar-bar itu.


***


Raveena dan Alexis keluar dari lift yang tampak ramai dengan penangkapan para artis dan kru film yang diduga membawa narkoba termasuk aktor Olaf Edberg yang membawa banyak botol parfum berisikan liquid cocaine.


"Lho kok udahan? Gak jadi baku tembak?" gumam Raveena.


"Nggak jadi!" jawab Luke. "Harland sudah dibawa oleh kartel yang dikawal tentara Italia untuk langsung keluar dari Turin malam ini."


"Tapi kalau dibawa kartel kan ada dua kemungkinan, dibunuh atau dia memakai pabrik lainnya."


"Biarin saja. Selama tidak menyenggol keluarga kita, bodo amat!" sahut Luca. "Setidaknya untuk kali ini kita tidak perlu gegeran sampai pertumpahan darah."


Raveena dan Alexis tiba di luar hotel yang masih banyak orang. Tampak Omar dan Billy bahagia bersama dengan Maggie dan Tiffany karena setelah sekian lama mereka menyelediki Harland Rochester, akhirnya mereka bisa bernafas lega.



Omar dan Billy


"Omar! Billy!" Raveena menghampiri keduanya setelah sebelumnya menyimpan PPK nya. "Maggie! Tiff!"


Kelimanya saling berpelukan.


"Terimakasih Veena. Akting kamu sangat meyakinkan membuat kami berpikir kamu seperti tidak berakting" puji Maggie.


"Tapi aku ingin spa mulut. Bleh!" ucap Raveena.


Keempat anggota FBI itu tertawa.


"Thanks Veena!" Omar memeluk Raveena sambil mencium pucuk kepala gadis itu.


"Heeeiiii ! Zidane ! Kenapa kamu main cium kepala adikku!" protes Luke.


"Kalian apa belum tahu? Veena adalah sahabat adik sepupuku saat SMA" ucap Omar.


"Kami satu grup teater SMA dan karena aku kenal OZ, makanya aku jadi tertarik masuk FBI." Raveena menatap Omar. "Kamu hutang pizza padaku!"


"Kapan kamu ke New York, aku traktir."


"Jadi?" Leia menatap bodoh ke keduanya.


"Pada saat Oom Luca minta tolong sama aku untuk membantu, aku sempat bertanya siapa agen FBI yang di Turin. Pas dibilang OZ, tanpa pikir panjang, berangkat deh!"


"Astagaaa! Ternyata sudah saling kenal kalian berdua" gumam Antonio.


"Sengaja kami tidak memberitahukan kalian sebelum semuanya selesai."


"Yuk kita semua pulang. Urusan dengan para penegak hukum di Turin, besok kita ke kantor polisi sambil menunggu Travis datang." Luca mengajak semua keluarganya pulang.


"Kami masih disini Signor Bianchi karena pihak kepolisian Turin ingin mempertanyakan kenapa ada FBI disini" tolak Omar.


"Oke. Tapi kalau kamu butuh sesuatu, kabari saja."


Dante berjalan bersama dengan Leia menuju Bugatti Chiron nya sedangkan Luca dan Luke menuju Range Rover bersama Antonio, Raveena dan Alexis.


***


Seminggu ini pemberitaan di seluruh dunia heboh dengan pembersihan besar-besaran seluruh law enforcement di Amerika Serikat bahkan presiden Amerika yang terpilih, tanpa basa basi, mengijinkan dijatuhi hukuman seumur hidup dan hukuman mati bagi para lawa enforcement yang terbukti sebagai bandar narkoba atas suruhan Harland Rochester. Keempat agen FBI di Turin sudah kembali ke New York setelah menyelesaikan semua administrasi dan laporan dengan polizia Turin.


Keluarga Rochester mendapatkan pengawasan ketat dari law enforcement yang bersih termasuk pabrik-pabrik yang masih tersisa. Semua narkoba disana, dimusnahkan hingga ke akar akarnya. Soal Harland Rochester, keluarga besar klan Pratomo tidak mau tahu selama tidak menyenggol keluarga mereka.


Dan para kartel pun cukup paham jika mereka berurusan dengan keluarga Pratomo, mereka kalah segalanya. Apalagi dengan peristiwa di Turin yang memperlihatkan bagaimana power yang dimiliki keluarga Bianchi dan Mancini ditambah drone bersenjata yang diketahui adalah milik Jang Weapons Manufacture dengan CEO Jang Geun-moon, istri Benjiro Smith.


Raveena sendiri sekarang bersiap - siap untuk kembali ke Los Angeles. Leia yang berada di kamar sepupunya itu, tersenyum melihat putri Reana O'Grady itu.


"Pulang Veena? Yakin nggak mau lama disini?" goda Raveena.


"Kuliahku gimana mbaaakk!" omel Raveena. "Lagian aku dua Minggu disini aku sudah naik tiga kilo gara-gara lasagna. Bahaya mbak, bahaya!"


Leia terbahak. "Makanya olah raga!"


"Nanti aku balik LA pasti kurus lagi. Ngomong - ngomong, kamu nikah dimana nanti? Sini atau Tokyo?"


"Jelas Tokyo. Inferno sudah bilang kalau kami lebih baik menikah disana sebab Opa Takeshi kan tidak bisa pergi jauh-jauh. Kamu tahu sendiri kan bagaimana rusuhnya opaku satu lagi itu?"


"Kabar-kabar kalau mau lamaran dan menikah." Raveena mengunci kopernya.


"Sepertinya langsung menikah kami nanti Veena."


"Kebun anggur Bianchi dan Mancini gimana? Di merger?"


"No. Inferno dan aku sudah sepakat itu milik keluarga kami masing-masing jadi tidak masuk harta bersama, akan seperti sebelumnya lah."


"Baiklah. Jangan sampai kalian ribut soal harta, mbak. Saru ( tidak elok / baik )!"


Leia terbahak. "Kamu tuh macam Oma Kaia kalau sudah keluar bahasa Jawanya. Ketularan Tante Gandari ya?"


"Iya lho. Oma sama Tante Gandari kalau sudah keluar bahasa Jawa nya, ampun."


"Kamu yakin nggak diantar sama mbak?"


"Alexis bilang mau antar aku."


Leia hanya tersenyum. "Kayaknya Alexis ada rasa sama kamu deh!"


Raveena menatap kakaknya. "Perasaan mbak aja deh."


"Kita lihat saja."


***


Turin Airport


Alexis mengantarkan Raveena hingga masuk ke ruang tunggu dengan menggunakan kekuasaannya sebagai asisten Antonio Bianchi. Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya melihat pria tinggi dan tampan itu begitu gelisah.


"Kamu kenapa? Aku yang pulang kamu yang heboh!"


"Berjaga-jaga Signora Raveena. Anda kan pulang sendirian."


Raveena terbahak. "Biasanya aku juga begitu. Santai saja Alexis. Aku hanya tidak fasih bahasa Italia dan Spanyol tapi aku fasih bahasa lainnya. Tenang saja."


Alexis menatap gadis cantik yang memang mirip penyihir itu. "Anda yakin akan masuk Quantico?"


"Maybe."


Alexis menghela nafas panjang. Sejujurnya dia merasa tidak nyaman jika gadis cantik itu harus menyamar seperti kemarin. Aku tidak rela jika melihat Signora Raveena disentuh seperti itu.


Suara pengumuman penumpang pesawat menuju Los Angeles untuk segera masuk pesawat.


"Aku pulang dulu, Alexis." Raveena mengambil tas selempang Pradanya. "Terimakasih atas..." suara Raveena menghilang ketika Alexis merengkuh tubuhnya dan mencium bibirnya lembut.


***


Cerita Antonio Bianchi dan Asistennya Alexis Accardi akan muncul di novel mereka sendiri.



insyallah bulan depan Yaaa.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️