The Bianchis

The Bianchis
Hari Yang Berbeda



Apartemen Rin Ichigo


"Jadi? Kita pacaran kan, Rin?" tanya Luke yang membuat gadis itu gemas luar biasa ke kulkas 12 pintunya. Apa aku harus meminta bantuan trio kampret buat menyadarkan Abang mereka supaya jangan kaku sekali?


"Dengar, Luke. Kita jalani bersama dan setidaknya kita memiliki visi sama bahwa kita memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman."


"Apa kamu keberatan jika kamu mengikuti aturan keluargaku?" Luke menatap khawatir ke wajah Rin.


"Setidaknya aku mau belajar suatu pegangan hidup yang menurut aku baik. Kamu tahu kan kalau aku tidak memiliki keluarga dan keluarga kamu bisa menerima aku itu adalah sesuatu. Dan tentu saja aku akan mengikuti aturan keluarga mu karena aku melihat bagaimana hasil didikan kedua orang tua mu."


"Domo arigato, Rin Ichigo." Luke mencium kening Rin lembut. "Aishiteru."


"Aishiteru."


"Mungkin kita adalah pasangan yang tidak romantis sama sekali dibandingkan dengan Zee dan Sean atau Pedro dan Nadira..."


"Siapa itu?" tanya Rin bingung. Luke melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Rin untuk duduk di sofa milik gadis itu.


"Aku akan ceritakan ketiga saudara perempuan aku yang sebaya." Luke mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto-foto Nadira, Zinnia dan Blaze.


"Saudaramu cantik-cantik" komentar Rin. "Kalau kamu tidak bilang mereka saudaramu, aku mengira bahwa mereka adalah pacar-pacarmu."


Luke terbahak. "Aku memang dekat dengan saudara perempuan aku termasuk yang masih imut-imut. Mungkin karena sindrom anak sulung laki-laki yang tanpa sadar memiliki perasaan harus melindungi saudara perempuannya jadi aku sering cemas apakah mereka akan mendapatkan pasangan yang baik atau tidak."


Rin menatap lembut ke Luke. "Ternyata dibalik pintu kulkas, ada rasa yang hangat seorang Luke Bianchi ke saudara perempuannya."


"Kamu bisa lihat mengapa aku sedikit protektif ke para saudara Perempuanku kan? Sebab ketiga opa dan daddyku selalu mendidik aku untuk menghormati kaum wanita. Jika kamu berani melecehkan seorang wanita, itu sama saja kamu menyakiti hati Okāsan, Oma dan saudara kembar ku sendiri."


"Didikan Bianchi-san sangat bagus dan aku sangat menghormatinya."


"Kamu tahu alasannya mengapa aku tidak bergonta ganti perempuan, karena prinsip itu. Jika aku sudah diberikan jodoh di depan mata, aku akan setia dengan pasanganku itu."


"Bukannya pria Italia dikenal dengan playboy dan rayuannya?"


"Not my Daddy and my Uncle. Daddy sangat bucin dengan Okāsan dan tetap ikhlas walau opa Takeshi sampai sekarang juga masih hobi julid. Kalau Oom Joey ku, apakah kamu tahu disaat dia jatuh cinta dengan Tante Georgina, sudah langsung mengajak menikah?"


Rin melongo. "Menikah?"


"Ya salah satu kelemahan pria Italia adalah impulsif tapi malah membuat itu menarik. Sayangnya aku terlalu banyak gen Jepangnya jadi sering tidak jelas" cengir Luke.


"Kamu punya cara tersendiri untuk membuat orang lain bingung dengan tidak kejelasan kamu."


Luke tersenyum. "Gomen ( maaf ). So, kamu tidak usah khawatir soal okāsan sekali lagi. Just be Rin yang selama ini selalu bisa stand up dan tegas."


Rin tersenyum. "Mau aku masakin? Aku berencana membuat chicken Donburi."


"Tentu saja aku mau!"


***


New York University Manhattan New York


Nadira tampak lelah usai mengajar kuliahnya sore ini dan berjalan gontai ke mobil BMW nya. Dirinya benar-benar merasa galau karena harus merubah semua rencananya dan tadi saat dirinya berdiskusi dengan Professor Demetrio tentang kepindahan Pedro ke Quantico Virginia, professor itu berjanji akan membantu proses kepindahan dirinya ke University of Virginia atau University of Maryland yang sama-sama dekat dengan Quantico.


"Haaaaahhh! Memang sudah resiko kamu, Dira!" gumamnya.


Nadira merasa suntuk hingga akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah Bayu. Meskipun sepupunya itu sering slengean tapi dia termasuk dewasa kalau diminta soal nasehat.


***


"Jadi, kamu bingung gara-gara Pedro harus pindah ke Quantico dan kamu harus merubah semua rencana kamu?" Bayu menatap sepupu cantiknya.


"Iya. Kamu tahu sendiri kan, aku terbiasa di New York dan harus ke Washington atau Baltimore yang tidak seramai sini."


"Bukannya lebih enak, jadi kamu tidak selalu rush and rush macam disini? Aku saja lebih suka di Massachusetts dibandingkan New York tapi karena pekerjaan aku disini, ya balik kandang lah!" ucap alumnus MIT itu yang memilih bekerja di divisi teknologi seperti Daddy nya Abiyasa O'Grady tapi juga menjadi inventor di perusahaan spinoase milik Jang Geun-moon.


"Tapi aku jauh dari mom dan Daddy. Sudah Eagle memilih balik ke London, mereka bakalan aku tinggal ke Washington..."


"Nadira, sayang. Kamu akan menikah dengan seorang agen FBI dan sudah menjadi resikonya kamu berpindah tempat sesuai dengan tugasnya. Setidaknya kalian masih di Amerika, tidak keluar negeri."


"Jangan bilang gitu Bay. Horor tahu!"


"Tapi sepertinya yang dikirim keluar negeri itu yang single kok. Eniwai, intinya, kamu jangan takut mendapatkan tantangan baru. Dimana rasa percaya diri kamu, Nadira. Kamu itu cerdas, pintar dan dimana pun kamu bisa masuk entah University of Virginia atau pun Maryland, kamu pasti mampu mengajar disana. Dan aku yakin, Pedro akan selalu mendukung kamu" ucap Bayu.


Nadira mengangguk. "Aku hanya takut saja, tidak bisa menjadi dosen yang baik."


Bayu berpindah duduknya ke sebelah sepupunya. "Kamu bisa, Dira. Percaya padaku. Apa jadinya kalau Opa Arjuna tahu kamu jadi pengecut begini? Bisa kena tatar tujuh hari tujuh malam, tahu nggak!"


Nadira memukul bahu kekar Bayu dengan gemas. "Kamu tuh..."


"Lho iya kan? Sekarang, kalau kamu seperti orang kalah sebelum perang, nggak pantas kamu jadi cucunya Opa Arjuna dan cicitnya Oma Rain. Kata Daddy, Oma buyut Rain itu meskipun lembut macam Deya, tapi dia pemberani dan punya prinsip meskipun aku bilang rada nekad sih... Gimana tidak, jatuh cinta sama Opa Jeremy yang tidak disetujui oleh Opa Ryu tapi tetap nekad. Kamu harus niru bondo nekadnya Oma Rain, Dira. Setidaknya kalau kamu mendukung Pedro dengan ikut ke Washington, dia pun akan selalu mensupport kamu."


"Pedro juga sudah bilang sih, akan mendukung aku mengajar dimana asalkan masih dekat Quantico" gumam Nadira.


"Nah ntu! Berbahagialah kamu mendapatkan pasangan yang sangat mensupport dirimu."


Nadira mengangguk.


***


Apartemen Samuel dan Blaze di SoHo New York


Samuel menatap tidak percaya jika semua pesanan perabotan yang dibeli Blaze, datang semua. Samuel dan Blaze memang sengaja mengambil libur di hari yang sama guna menata furniture di Apartemen mereka.



"Bee. Tidak apa-apa kamu menghabiskan banyak uang untuk membeli ini semua?" tanya Samuel usai menata apartemen mereka.


Blaze menatap Samuel dengan wajah manyun. "Uangku mengendap lama, Bebek. Jadi bukan hal yang aneh kalau aku pakai. Toh yang aku beli bukan barang unfaedah. Justru aku senang bisa menata rumah berdua dengan calon suamiku yang sering membuat ku ingin menghajarnya karena suka lebay!"


Samuel lalu memeluk Blaze. "Thank you."


"Kiss me!" goda Blaze.


"Sure thing" senyum Samuel.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️