The Bianchis

The Bianchis
Beda Situasi



Mansion Al Jordan Tokyo Jepang


Eiji masih manyun mengingat bagaimana judesnya cucu semata wayangnya bahkan lebih judes dari Levi. Dan sekarang dirinya memilih sok merenung di halaman belakang mansion dekat dengan kolam piranha.


Joshua lalu mendekati sepupu iparnya itu sambil membawakan satu kotak sushi yang dikirimkan oleh Takeshi Takara untuk opanya Luca yang berulang tahun.


"Kamu tuh sudah tahu cucumu itu pedasnya minta ampun, masih saja bikin darting Hoshi" kekeh Joshua duduk di sebelahnya.


"Habis aku kan hobi bikin orang lain manyun tapi kok sekarang jadi aku yang manyun..." Eiji mengambil sepotong sushi dari meja.


"Karmamu Ji" senyum Joshua.


"Tapi lebih nyesek cucu sendiri yang judes Josh..." keluh Eiji. "Apa Hoshi tidak sayang aku ya Ji?"


"Nggak mungkin Hoshi nggak sayang kamu, Ji. Hanya saja dengan gayanya sendiri."


"Tapi Hoshi tuh nggak pernah bilang 'Hoshi sayang Opa', tidak seperti cucu - cucu kita yang lain."


"Look Ji, Joey dan Luca pun sama, nyaris tidak pernah bilang seperti itu. Mungkin cucu laki berbeda dengan cucu perempuan."


"Tapi Joey dan Luca pernah bilang kan?" Eiji menatap iparnya dengan wajah memelas.


"Pernah sih..." jawab Joshua apa adanya.


Eiji mendengus dramatis. "Setidaknya kan pernah bilang..."


"Kalaupun Hoshi mau bilang begitu, tunggu saja sampai dia bilang sendiri jangan dipaksa. Tapi aku yakin Ji, dibalik mulutnya yang super pedas, anak itu care dengan keluarganya tapi caranya ya ala Hoshi" kekeh Joshua.


"Kamu tahu Josh, kalau sampai saat itu tiba, aku bakalan jadi Opa yang paling bahagia di dunia" ucap Eiji bersungguh sungguh dengan matanya sedikit berkaca - kaca.


"Aku percaya itu Ji tapi yakinlah Hoshi sayang sekali padamu."


***


Emi melihat bagaimana Millennium Falcon yang sedang disusun oleh Luca sudah hampir 80% jadi. Dan gadis itu semakin kagum dengan kesungguhan tunangannya yang bertekad menyelesaikan Lego besar itu sebelum menikah.


"Apa nanti setelah jadi akan dimasukkan ke kotak kaca?" tanya Emi.


Luca mendelik. "Emi, apakah harus dipertanyakan? Ya iyalah! Kamu kira aku akan membiarkan hasil jerih payahku, sampai mengorbankan tidak kencan denganmu, mukaku sudah macam Lego begini, tidak aku simpan di kotak kaca!"


Emi cekikikan. "Iya sih..."


"Nah!" dengus Luca dengan dagu terangkat.


Inilah yang Eni suka dari Luca, pria yang sangat apa adanya, bukan pria yang suka basa basi meskipun terkadang sering membuatnya gemas dengan keabsurdannya.


"Luca..." panggil Emi ke pria yang sedang menyusun bagian kecil Millennium Falcon sebelum ditempelkan ke bagian besar.


"Apa Em?" tanya Luca yang masih mode serius.


"Aishiteru.."


PRAAKKK. Susunan Lego yang susah payah dibuatnya jadi berantakan gara-gara pernyataan cinta Emi. Mata coklat Luca menatap horor ke gadisnya yang tersenyum manis.


"Kamu bisa nggak kalau nyatain cinta itu jangan saat aku menyusun Lego? Hancur kan?"


Emi menganga lalu terbahak.


"Senang ya Bu?" sungut Luca sebal meskipun tak urung wajahnya memerah karena baru kali ini Emi menyatakan duluan sebab biasanya Luca dulu yang bilang baru diikuti gadis itu.


"Segitu dahsyatnya ya Luca?" Emi pun mendekati tunangannya.


"Duh calon suamiku yang makin mirip Lego mukanya..." Emi menarik kursi Luca yang beroda menjauhi dari meja kerjanya lalu mendorongnya hingga menempel tembok. Gadis itu lalu duduk diatas pangkuan Luca yang tampak terkejut dengan keberanian calon istrinya. "Kalau pun belum selesai saat kita nikah bulan depan, tidak apa-apa. Daijōbu" ucap Emi sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Luca.


"No Emi, aku harus menyelesaikan Lego mu. Biar kamu tahu, Lego saja aku bertanggung jawab, bagaimana aku tidak bertanggung jawab padamu?" senyum Luca.


"Aih, keluar juga gombalan khas pria Italia" kekeh Emi.


"Hanya padamu aku menggombal, Em. Eh tapi sama Oma, mommy dan Tante Jo juga sih... Intinya, pria Italia itu menggombal hanya ke wanita di keluarganya tidak dengan wanita lain."


"Kalau pria Italia nya kamu, aku percaya Luc tapi pria Italia lain, sorry dorry morry... aku tidak percaya!" ucap Emi dingin.


Luca tertawa lalu menarik tengkuk Emi untuk mendekati dirinya.


"I love you, Emi Takara. Hanya padamu, kuserahkan hatiku dan tubuhku..."


Emi tertawa cekikikan. "Gombal!"


"Tapi suka kaaaann?" cengir Luca.


"Iyain saja lah!"


Luca lalu menempelkan bibirnya ke bibir Emi dan Melu*matnya.


***


Harvard Medical School


Joey terduduk di luar ruang operasi dengan perasaan kecewa dan sedih teramat sangat. Pasiennya akhirnya meninggal di meja operasi akibat mengalami shock saat Joey melakukan pembedahan. Tumor yang bersarang di tubuh pasien itu memang sudah menjadi kanker namun Joey optimis bisa memberikan hidup panjang beberapa bulan lagi namun takdir tidak bisa dielakkan.


Pria bertubuh kekar itu menutup wajahnya dan tubuhnya sedikit gemetar akibat menangis. Pasiennya sendiri seorang gadis berusia 27 tahun yang sangat ceria dan optimis meskipun tahu mengidap kanker payu*dara. Joey dan dia sering menghabiskan waktu visite dengan saling bercanda.


Georgina sendiri juga mengenal pasien itu karena Joey memperkenalkan agar tidak terjadi salah paham meskipun pria itu tahu kekasihnya bukan tipikal wanita yang cemburu buta tanpa menyelidiki lebih lanjut.


Dan kini, pasiennya itu sudah menghadap Ilahi, meninggalkan perasaan kecewa luar biasa di Joey karena tidak mampu menyelamatkan nyawanya.


Bahkan pertemuan terakhir tadi pagi sebelum operasi, pasiennya itu sempat berkata pada Joey, "Jika aku diijinkan lahir kembali dok, aku ingin menjadi wanita kuat dan mendapatkan pasangan seperti mu dokter Bianchi. Semoga Tuhan mendengarkan doaku."


Joey sendiri tadi pagi membalas "Kamu akan sehat dan carilah pria yang jangan seperti aku."


"Kenapa dok?"


"Karena aku hobinya membuat orang jengkel."


Pasiennya hanya tertawa. "Kalau pun nanti aku harus tiada di meja operasi, tidak ada penyesalan dokter Bianchi karena aku tahu anda pasti akan berusaha keras menyelamatkan aku. Hanya saja semua itu sudah diatur oleh Tuhan, apakah aku bisa bangun lagi atau tidak. Kalaupun aku tidak bangun lagi, janganlah sedih karena memang garis hidupku seperti ini."


Dan kini Joey menangis kehilangan pasiennya yang selalu melihat semua peristiwa yang menimpa dirinya dari sudut pandang positif. Tidak pernah pasiennya ini menyalahkan Tuhan yang memberikan sakit berbahaya itu.


Georgina yang mendengar operasi pasien favorit Joey sudah selesai, bergegas menemui pria itu. Dan betapa terkejutnya melihat Joey tampak terpuruk di luar ruang operasi. Tanpa harus bertanya, Georgina tahu apa yang terjadi.


Tanpa berkata apapun, Georgina memeluk Joey yang langsung memeluknya erat dan menangis di dada gadis itu.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️