
Staten Island New York
Pagi ini semua keluarga besar klan Pratomo berkumpul di mansion yang dulunya dibangun oleh Edward dan Duncan Blair. Kini mansion mewah dan megah itu ditempati oleh Kaia Blair dan Rhett O'Grady. Pasangan suami istri yang sudah pensiun itu memilih menikmati hari tua di kediaman keluarga Blair yang jauh dari hiruk pikuk Manhattan, tempat selama ini mereka tinggal.
Kaia dan Rhett lah yang meminta agar ijab qobul dan resepsi Blaze dan Samuel dilaksanakan di Staten Island sebab keduanya memang hanya mengundang kerabat dan sahabat dekat saja.
Pagi ini Blaze tampak cantik dengan dandanan simpel dan gaun pengantin yang dipadukan dengan brokat bertabur Swarovski sedangkan Samuel mengenakan tuxedo.
Simple and beautiful gown
Yang sudah ready
Joey dan Georgina melihat putrinya berbalut gaun pengantin dengan perasaan haru. Memiliki putri satu-satunya dan sekarang diminta oleh seorang pria, ada rasa kehilangan.
Joey bagaikan melihat flashback bagaimana dirinya merasa sebagai calon ayah paling bahagia di dunia saat mengetahui Georgina hamil. Perjalanan saat Georgina mengidam, hingga melahirkan masih teringat jelas di dokter bedah itu. Bagaimana dirinya harus berdebat dengan putrinya begitu mulai dewasa yang diakui Blaze memang cerdas tapi nakalnya juga tidak main-main!
Dan kini, melihat putri kecilnya sudah bersiap menempuh perjalanan hidupnya untuk menikah, menjadi istri dan mungkin menjadi ibu dalam waktu dekat ini, membuat Joey melow.
"Kamu kenapa Joey?" tanya Georgina melihat Joey menangis saat melihat Blaze selesai di make up.
"Aku... aku terharu Gina. Putriku yang selalu berbuat ulah, selalu ribut, akan dibawa si Bebek!" isak Joey membuat Georgina tersenyum geli melihat suaminya yang biasanya berwajah garang, sekarang berubah menjadi pria Italia cengeng.
"Ya ampun Joey... Itu namanya siklus. Kamu juga merasakan bukan saat Daddyku harus melepaskan aku untukmu?" ucap Georgina sambil mengelus bahu kekar suaminya.
"Al Fatihah buat papa Kieran" senyum Joey sambil mengambil tissue untuk mengeluarkan ingusnya.
"Astaghfirullah!! Daddy jorok!" seru Blaze sebal melihat daddnya berubah menjadi pria cengeng.
"Kamu tidak tahu rasanya menjadi seorang ayah yang harus memberikan putrinya ke seorang bebek!"
"Daddy! Mana ada seorang bebek! Yang ada seekor bebek!" ralat Blaze gemas. "Lagian aku kan masih sering bertemu Daddy di rumah sakit. Lagipula, pusingnya Daddy kan bakalan pindah ke Sammy kalau aku kabur clubbing."
Joey mendelik. "Awas kalau kamu masih ke tempat-tempat seperti itu!"
Blaze tertawa lalu memeluk sang ayah. "Love you pak Joey..."
"Love you too sayang" balas Joey sambil mencium pelipis putrinya.
Blaze lalu memeluk Georgina. "Love you mommy."
Georgina mencium pipi Blaze. "Always love you, sayang."
***
Acara ijab qobul berlangsung penuh drama gara-gara Joey harus bersin-bersin akibat tercekat saat mengucapkan ijab membuat Luca dan Abiyasa yang menjadi saksi pihak Blaze menggelengkan kepalanya.
"Mafia berkedok dokter itu pun bisa mewek?" bisik Abi ke Luca.
"Buktinya bisa" seringai Luca.
"Apa waktu Leia menikah kamu merasakan hal yang sama?"
Luca tersenyum. "Sayang, anakmu Bayu ya. Berbeda rasanya, Bi kalau punya anak perempuan."
Samuel pun usai ijab qobul dinyatakan sah, langsung mengambil tangan Blaze dan menciumnya. Gadis itu tersenyum manis melihat sikap romantis Samuel yang jarang ditunjukkan.
"Ayo kalian tukar cincin" ucap Joey dengan masih nada melow membuat generasi kelima terbahak melihat sulung mereka melebay tralala. "Kalian tuh tidak merasakan bagaimana my Bee diambil sama Bebek!"
Blaze dan Samuel hanya melirik sebal ke Joey sibuk mengusap matanya dengan tissue.
"Sudah, kita lanjutkan saja Sammy!" pinta Blaze.
"Blaze, my Bee... Cintaku..." senyum Sammy sambil memasukkan cincin kawin yang cantik itu ke jari manis Blaze.
"Sammy, my Bebek... my the one and only..." balas Blaze yang melakukan hal yang sama dengan Samuel.
Samuel kemudian mencium kening Blaze dan gadis itu lalu mencium bibir suaminya yang membuat sepupu gadis itu heboh..
"Dasar Bee!" sungut Luke yang datang sendirian karena Rin tidak bisa meninggalkan pekerjaannya di rumah sakit.
"Tapi mereka memang antik sih" sambung Nadira yang datang bersama calon suaminya, Pedro Pascal.
"Namanya juga jodoh" timpal Dante sambil mencium pipi Leia.
"Ya ampun kalian tuh! Bisa nggak sih, nggak sok mesra begitu?" omel Raveena sebal karena Dante seperti Velcro ke Leia.
"Kamu sama Alexis saja" balas Dante cuek membuat mahasiswi psikoanalisa itu mendelik judes. Dirinya memang agak manyun sebab Alexis masih perjalanan bersama Antonio. Raveena merasa gabut karena tidak ada Alexis yang bisa dijahili.
***
Kehadiran banyak sahabat generasi keempat dan kelima yang masih ada, membuat mansion Blair menjadi semarak. Ashley bertemu dengan para sahabat dari keluarga Diazo, Chen, Jang bahkan Silver Shinning yang sudah menjadi perusahaan legal.
Hideo pun bertemu dengan para mantan anak buahnya langsung bernostalgia dan mereka membicarakan banyak hal. Begitu juga dengan keluarga yang lain termasuk kehadiran Emir Qatar Ahmed Khalid yang merupakan sahabat Sabine Al Jordan Schumacher.
Line kedua pewaris Qatar itu tampak senang bisa bertemu dengan sahabatnya waktu di militer. Emir Qatar itu hadir karena undangan Joey Bianchi yang merupakan dokter bedah pilihannya.
Blaze dan Samuel pun berkeliling menyapa para tamu undangan yang datang di awal musim semi ini. Banyaknya bunga yang mulai bermekaran membuat halaman belakang mansion Blair tampak cantik.
"Akhirnya sahabat aku menikah juga meskipun dengan penuh drama dan kanebo kering" ejek Luna sahabat Blaze yang sudah menjadi dokter bedah di sebuah rumah sakit area Queens.
"Akhirnya setelah penuh kekacauan antara aku dan Bebek" senyum Blaze sumringah sambil memeluk lengan Samuel.
"Kalian bulan madu kemana? Bukankah Dokter Bianchi sudah menyiapkan?"
"Belum tahu. Kata Daddy surprise."
"Semoga ke Mexico."
Blaze dan Samuel menatap Luna bingung. "Memang kenapa kalau ke Mexico?"
"Aku kan bisa nebeng. Kalian bulan madu, ai ke rumah Nana ( grandma / Nenek )" jawab Luna santai.
Blaze menatap sebal ke sahabatnya sejak kuliah sedangkan Samuel tertawa geli.
"Eh Bee, itu siapa?" tanya Luna ke arah pria berambut gelap.
"Yang mana?"
"Yang rambut hitam."
Blaze melihat Bayu dan Nelson sedang asyik mengobrol lalu tersenyum. "Yang badannya besar atau badannya fit?"
"Badannya besar."
"Bayu O'Grady" jawab Blaze.
"Lajang?"
"Pol!"
"Boleh tuh!"
Blaze dan Samuel hanya menggelengkan kepalanya. "Lebih baik tidak."
"Kenapa?" tanya Luna bingung.
"Kamu bakalan ditikung sama pekerjaannya. Bayu itu workaholic dan tidak pernah memikirkan soal ngelirik cewek, apalagi pacaran! Kamu kalau mau dekati, siap-siap makan hati deh!" ucap Blaze ke sahabatnya.
Luna hanya terdiam. "Saingan sama cewek lain masih bisa aku atasi, tapi kalau sudah pekerjaan... Ya bye bye bye!"
"Makanya aku bilang duluan daripada kamu patah hati" ujar Blaze.
"Padahal kan sayang cowok macam gitu dianggurin" ucap Luna manyun.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️