The Bianchis

The Bianchis
Luke Bianchi : Marissa Bianchi



Rumah Sakit Saisekai Tokyo


Rin bersiap-siap untuk pulang tapi... pulang? Aku harus ke kebun pria menyebalkan itu! Rin pun manyun mengingat wajah dingin Luke Bianchi yang benar-benar menyeramkan. Kamu memang yankee, Rin tapi kamu kalah dengan Yakuza itu!


Rin menghela nafas berulang, tampak sekali dirinya murung luar biasa hanya karena buah strawberry membuatnya jadi berhubungan dengan ketua Yakuza klan Takara.


Mana aku tahu itu kebun punya neneknya dia! Harusnya ditulis! 'Kebun milik Yakuza Takara' jadi mau ambil pun harus mikir ulang! Rin ngedumel sepanjang jalan menuju halte bis membuat orang-orang melihatnya sedikit takut.


Rin baru menyadari ketika seorang nenek menegurnya.


"Nona muda, tidak baik menggumam sendiri. Kamu masih muda, cantik tapi sayang, agak miring otaknya" ucap nenek itu yang membuat Rin melongo.


"Eh? Apa? Oh, maaf nenek tapi saya memang lagi jengkel saja." Rin tersenyum manis.


"Kalau kamu ada ganjalan hati, ada baiknya kamu salurkan ke sumber masalahnya. Nenek seperti itu jika jengkel."


Rin pun manyun. Menyalurkan ke ketua Yakuza, Nek? Sama saja itu cari mati dengan cara dihajar pria tampan! Rin bergidik. Nggak gitu juga buat antar nyawa!


"Kamu mau ke arah mana nak?" tanya nenek itu.


"Shibuya."


"Sama kalau begitu. Ayo kita naik. Bisnya sudah datang."


Rin mempersilahkan nenek itu naik duluan baru dirinya menyusul. Gadis itu pun mendapatkan tempat duduk bersebelahan dengan nenek cantik itu. Baru dia perhatikan, nenek di sebelahnya tidak seperti orang Jepang, ada tampak garis blasteran nya.


"Nama kamu siapa nak?" tanya nenek itu.


"Ichigo. Ichigo Rin. Kalau nenek?"


"Marissa Kim."


***


Rin dan Marissa berjalan menuju area tempat cafe pastry keluarga Al Jordan berdiri. Cafe yang dibangun Miki Al Jordan Akandra setelah menikah dengan Joshua Akandra, sekarang dilanjutkan oleh Marissa, sang putri.


"Kamu dalam rangka apa datang ke Shibuya nak Ichigo?"


"Panggil Rin saja, nek. Ichigo terlalu formal" senyum Rin sambil menggandeng Marissa.


"Oke Rin. Apa kamu mau belanja di Shibuya?"


"Tidak, nek. Aku harus mengawasi kebun strawberry."


"Di Shibuya? Memangnya ada?" tanya Marissa terkejut. "Selama aku sering ke Shibuya, tidak pernah lihat."


"Ternyata ada nek dan aku baru lihat semalam."


"Lalu kenapa kamu harus mengawasi?" tanya Marissa.


"Aku... semalam mengambil tanpa ijin si pemilik kebun. Dan ternyata si pemilik tahu lalu mencari aku di tempat kerja dan meminta aku mengawasi selama musim panen... setiap pulang kerja" jawab Rin pelan.


"Oh kasihan..."


Rin tersenyum. "Jangan kasihan nek, salah aku juga mencuri. Setidaknya hukumannya masih bisa aku terima nek."


"Tapi kamu kan perempuan, kok tidak mikir sih si pemilik kebunnya?" omel Marissa.


"Tidak apa-apa nek, aku bisa menjaga diri aku sendiri kok."


Ta lama keduanya tiba di toko pastry yang terdapat kebun strawberry mungil.


"Memang kebunnya dimana?" tanya Marissa.


"Itu nek" tunjuk Rin ke arah sepetak tanah kecil yang terdapat diantara bangunan toko pastry dan bangunan lainnya. Tanah itu tertutup pagar kayu dan Rin baru lihat ternyata ada CCTV kecil - kecil yang menempel di dinding luar toko pastry itu.


Pantas aku langsung ketahuan, CCTV nya ada banyak. Rin tersenyum kecut.


"Iya nek, aku harus mengawasinya sampai musim panen berakhir" jawab Rin. "Oh, nenek mau kemana?"


"Aku mau beli pastry di toko pastry itu. Kamu tahu, creme brulee nya enak disana. Yuk kita makan dulu, nenek yang bayar" ajak Marissa.


"Terimakasih tapi nanti saja nek. Aku masih harus memeriksa kebun dulu. Nanti si pemilik mendapatkan laporan dari anak buahnya, bisa kena masalah lagi aku."


Marissa menepuk bahu Rin. "Sabar ya nak."


"Tenang nek, aku kuat kok!" Rin memamerkan otot lengannya membuat Marissa tertawa.


"Nenek masuk dulu ya." Marissa mengusap punggung Rin sebelum masuk ke dalam toko pastry.


Rin duduk di sebuah kursi taman yang berada di depan toko pastry itu. Dirinya mengambil ponselnya dan mulai memotret lokasinya yang menurutnya sangat klasik dari semua area di Shibuya.


Selama dirinya menjadi Yankee, Rin memang nyaris tidak pernah ke area sini karena menurutnya area yang jarang terjadi keributan.


Rin pun menghampiri kebun strawberry itu dan membuka pagarnya lalu memeriksa satu persatu tanaman itu. Beberapa memang sudah mulai berbuah lagi dan Rin harus menahan keinginannya untuk mengambilnya.


Sadar Rin! Ini strawberry rasa Yakuza. Kamu makan, nyawa melayang!


Gadis itu memotret kebun itu dan mulai mencatat di notesnya pohon mana yang sudah mulai berbuah sama yang belum. Dicarinya alat penyiram tanaman dan Rin tersenyum melihat catatan disana yang memberikan detail jam - jam penyiraman setiap hari dan setiap musim.


Rin pun mengisi air di gembor ( penyiram tanaman ) dan mulai menyiram sedikit karena ini sudah masuk musim gugur yang cuacanya lembab dan terkadang turun hujan. Rin menyiram sedikit karena tanahnya mulai kering. Dengan serius gadis itu memotong beberapa daun yang mulai layu menggunakan gunting tanaman yang berada disana.


***


"Kamu itu jahilnya minta ampun Luke!" omel Marissa ke Luke Bianchi yang mengawasi dari lantai dua toko pastry Omanya.


"Oma tuh benar-benar deh! Iseng banget!"


"Habis Oma penasaran. Kalau dia memang Yankee, pasti sisa - sisa berandalannya masih ada. Lihat Leia, dia bukan Yankee tapi bar-barnya minta ampun! Kalau Rin, selama sama Oma, dia baik bahkan membantu Oma lho!"


Luke menatap judes ke Marissa. "Pencitraan!"



Mukamu judes banget bang


Marissa langsung mengeplak kepala cucunya yang judesnya minta ampun.


"Aduuuhh! Omaaaa! Ih, nggak Opa Takeshi, nggak Oma Marissa, nggak okāsan, kenapa sih hobinya keplak kepala?" omel Luke kesal sambil mengusap belakang kepalanya.


"Biar otakmu bener!" hardik Marissa gemas.


"Otakku benar Oma! Kalau otakku nggak benar, mana mungkin aku bisa double major di Todai dengan lulus cumlaude semuanya!" Luke manyun ke arah omanya.


"Bukan akademis kamu, Lukie! Tapi empati kamu!"


"Apa? Aku harus empati sama maling itu? Omaaaaa! Dia itu maling!" eyel Luke.


"Kenapa sih nggak kamu ikhlaskan saja strawberry nya? Toh itu hanya strawberry, kamu sudah panen bolak balik!"


"No Oma! Kalau aku tidak memberikan pelajaran, nanti dia tuman! Enak saja ikhlasin! Itu kebun almarhum Oma Miki! Oma juga yang merawat kan? Sekarang aku yang bertanggung jawab dan buat maling macam dia, mana tahu bagaimana aku jatuh bangun agar kebun Oma Miki tetap berjalan di sela-sela kesibukan aku! Dia dengan seenaknya saja main nyolong dan makan! Kalau Oma lihat gimana wajahnya pas bilang strawberry nya oishii, rasanya pengen aku jewer kupingnya!" omel Luke panjang lebar.


Marissa hanya menghela nafas panjang. Ampun deh anak ini! Nurun siapa sih galaknya? Marissa menepuk jidatnya. Duh Oma Shanum, Mommy, Aku, Emi kan judes semua itu! Marissa menatap horor ke arah Luke yang masih mengawasi Rin. Gen judes kok ya nurun lebih parah ke Luke tho yaaa...


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️