The Bianchis

The Bianchis
Luke Bianchi : Raveena Tiba di Turin



Di dalam pesawat


Lagi-lagi Alexis melongo melihat dirinya bersebelahan dengan Raveena meskipun keduanya kini berada di first class Lufthansa Airlines.



"Ternyata bersebelahan ya?" senyum Raveena. "Lumayan tidak bosan di perjalanan yang lama."


"I..iya. Ngomong-ngomong, apakah anda bisa bahasa Italia, Miss Dewanata?"


"Aku paling payah bahasa Italia dan Perancis jadi jangan ajak ngomong aku dengan dua bahasa itu karena bakalan pusing kamu dengarnya" tawa Raveena.


"Nanti anda sesampainya di Turin, dijemput atau..."


"Aku belum tahu, Mr Accardi, tapi sepertinya menyenangkan jika ke mansion Bianchi sendiri karena siapa sih yang mau macam-macam dengan keluarga mafia itu" kerling Raveena yang membuat pipi Alexis sedikit merona.


Ya ampun, cantiknya. Alexis sebelumnya sama halnya dengan pria Italia lainnya yang hidup bebas berpacaran sana sini tapi semenjak dirinya menjadi asisten Antonio enam tahun lalu, pria berusia 28 tahun itu lebih menenggelamkan diri dengan pekerjaannya.


"Bagaimana kalau nanti kita bersama-sama saja ke rumah keluarga sepupu anda. Kebetulan mobil saya berada di parkiran bandara" tawar Alexis.


"Apakah anda tahu kediaman keluarga Bianchi?" tanya Raveena dengan wajah polos.


Sangat tahu nona Raveena, karena saya juga tinggal disana. "Semua orang di Turin tahu mansion Bianchi."


"Apakah bang Antonio masih menjadi dosen?"


"Masih nona Dewanata..."


"Oh panggil saja Raveena. Geli aku dipanggil nama belakang papaku..." gelak Raveena.


"Anda dari keluarga mana nona Raveena?" tanya Alexis. Dia pernah membaca nama Raveena di aplikasi yang dulu pernah diberikan oleh Leia saat dirinya melacak gadis itu dibawa pergi oleh Dante Mancini. Tapi waktu itu aku hanya mengingat nama saja.


"Apakah kamu pernah mendengar Blair dan O'Grady?"


Alexis mengangguk. "Pemilik MB Enterprise yang bermerger dengan AJ Corp, PRC group dan Giandra Otomotif Co. Memiliki saham RR's Meal di seluruh dunia, masih berkerabat dengan FH Custom, perusahaan keamanan Ramadhan Securitas dan beberapa perusahaan IT. O'Grady pemilik pabrik baja di Boston dan pabrik bir serta whiskey di Irlandia. Apakah benar?"


Raveena melongo. "Who are you? Wikipedia berjalan?"


Alexis tertawa. "No, nona Raveena. Saya berkecimpung di dunia bisnis juga jadi saya tahu banyak."


"Oh, aku kira kamu itu Wikipedia berjalan. Aku putri Reana O'Grady dan Pandu Dewanata. Dan yah, Opa buyutku adalah Edward Blair dan Abimanyu Giandra" senyum Raveena.


"Apa yang nona lakukan di Los Angeles?"


"Aku kan kuliah di UCLA jadi aku stay di LA lah."


Alexis menatap gadis itu bingung. Bukannya rata-rata keluarga Signora Leia Bianchi kuliah di Harvard, MIT, NYU atau Cambridge.


"Kenapa Alexis? Bingung aku tidak seperti saudara ku yang tidak ambil kuliah di area east coast? Jawabannya, aku sebal dibandingkan dengan keluarga ku. Jadi aku memilih terbang ke west coast lah."


"Ambil jurusan apa?"


"Psikologi Klinis dan aku berencana untuk masuk ke Quantico lalu melamar ke BAU ( Behavioral Analysis Unit )."


"FBI? Are you sure?"


Raveena menatap Alexis serius. "Serius. Tapi itu baru rencana sih. Tergantung aku berubah lagi atau tidak."


"Kenapa anda memilih psikologi klinis?"


"It's fascinating! Aku selalu ingin tahu kenapa seseorang bisa menjadi pembunuh berantai, pedofil dan macam-macam perilaku klinis dan abnormal lainnya."


Alexis melongo. Padahal anda adalah seorang nona keluarga O'Grady Blair tapi lebih memilih mencari pekerjaan biasa. "Nona Raveena, apa anda tidak takut jika bertemu dengan orang-orang yang termasuk abnormal pola pikirnya?"


"Resikonya Alexis. Aku sudah menyukai bidang ini dan tentu saja sudah ada resikonya yang harus aku hadapi."


Tiba-tiba Raveena mencondongkan tubuhnya dan menatap Alexis yang merasa gugup.


"A..ada apa nona Raveena?" Alexis menatap mata hijau Raveena.


"Ternyata warna mata kamu tidak selalu biru ya?" Raveena menatap serius ke mata Alexis.


"Hah?" Fix! Dia benar-benar sepupu Signora Leia Bianchi!


"Blue greyish. Biru kalau kena sinar, abu-abu jika di menjauhi sinar." Raveena memegang wajah Alexis tapi matanya tetap fokus ke mata pria itu. "Aku selalu suka melihat warna mata yang ambigu, tampak eksotis."


"Warna mata anda juga tidak jelas nona Raveena" ucap Alexis.


Raveena pun kembali ke posisi duduknya. "Warna apa?"


"Green brownies..."


Kok malah jadi kebayang makanan? Alexis tersenyum ke arah gadis di sebelahnya. Nona Raveena ternyata menarik juga.


***


Turin Italia


Setelah menempuh perjalanan hampir 20 jam, Alexis dan Raveena pun tiba di bandara Torino International Airport.


"Sebelah sini nona Raveena." Alexis menggandeng tangan Raveena agar tidak hilang karena banyaknya wisatawan yang datang.


"Ada acara apaan sih Alexis?" tanya Raveena sambil menyeret kopernya dan tidak memperhatikan tangannya digandeng oleh pria bertinggi 180 cm itu.


"Ada festival disini dan Minggu depan promosi film action terbaru." Alexis membawa Raveena ke tempat parkir mobil yang khusus menginap.


"Oh film yang dibintangi oleh Olaf Edberg itu?"


"Sì." Alexis mengambil kunci mobilnya dan membuka pintunya. "Silahkan masuk, nona Raveena."


"Alexis Accardi."


"Sì Signora?"


"Who are you? Ini Maserati seri tertinggi lho!"


Alexis hanya tersenyum. "Nanti nona akan tahu. Masuk, nona. Saya akan antar ke kediaman sepupu anda."


***


Mansion Bianchi Turin Italia


Raveena melongo ketika Alexis dengan santainya masuk ke mansion milik keluarga sepupunya, bahkan penjaga gerbang mengangguk hormat kepada pria bermata biru itu.


"Aku curiga padamu, Alexis." Raveena memicingkan matanya ke pria yang santai menyetir Maserati nya.


"Tidak perlu curiga, Signora." Alexis memarkirkan mobilnya di garasi luas samping beberapa mobil mewah disana. "Mari kita turun."


Raveena membuka pintu mobil mewah itu dan menerima koper yang diserahkan oleh Alexis.


"Mari masuk Signora."


Raveena pun mengekor pria bertubuh tegap itu menuju pintu utama mansion. Seorang butler menyapa Alexis dengan bahasa Italia dan pria itu memperkenalkan Raveena.


"questa è la signorina Raveena, la cugina della signorina Bianchi ( ini nona Raveena, saudara sepupu nona Bianchi )."


"Benvenuti a Torino. Benvenuti alla villa di Bianchi ( Selamat datang ke Turin. Selamat datang ke Mansion Bianchi )." Butler itu pun membungkuk hormat.


"Grazie" jawab Raveena.


"Raveena? Kamu sudah datang?" Suara Luke membuat gadis itu menoleh.


"Babang Lukie!" seru Raveen sambil memeluk sepupunya.


"Kamu kok ikutan trio kampret manggilnya begono!" cebik Luke sebal sambil mencium pipi sepupunya. "Lho kok kamu barengan sama Alexis?"


"Bang Lukie kenal sama Alexis?" Raveena menatap bergantian.


"Kamu tuh gimana. Alexis Accardi itu adalah asistennya Antonio Bianchi! Dia yang Abang dan bang Antonio utus ke Los Angeles."


Raveena melongo. "Haaaaahhh?"


"Kan saya sudah bilang, anda tidak perlu curiga" senyum Alexis.


"Kenapa nggak bilang bambaaannggg!" bentak Raveena kesal.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Trio Kampret udah hadir tapi masih belum lolos review dr semalam. Sabaaarrr



Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️