
Staten Island New York USA
Joey menatap wajah omanya yang sedikit bergidik dengan tatapan geli. Rhea memang dikenal penakut jika ada orang yang bercerita soal horor dan kriminal.
"Tenang Oma, Joey akan bercerita detail" cengirnya yang membuat Rhea melotot kesal.
"Jeoffree!" tegur Duncan yang membuat Joey kicep.
"Ayo J, cerita" pinta Abi penasaran.
Joey pun menceritakan awal mula dirinya bersama dokter Daisuke Naruhito mendapatkan kiriman potongan tubuh wanita yang sedang dalam kondisi hamil delapan Minggu. Reana dan Rhea hanya bisa beristighfar mendengar cerita pria tampan itu.
Mereka pun mendengarkan bagaimana Joey berusaha ikut mencari tahu hingga kasus istri yang kabur dengan selingkuhannya sampai sempat dikira menjadi salah satu korban Kawaguchi.
"Itu salah satu kasus yang membuat aku..." Joey sedikit tersendat. "Miris tepatnya. Harusnya aku bisa melihat bagaimana kejiwaan si suami yang tidak stabil dan..." Joey menghembuskan nafas panjang.
"Bukan salahmu J, kita tidak tahu sama sekali" ucap Abi.
"Iya sih, Bi cuma aku menyesalkan kejadian itu. Mako, rekanku itu lebih nelangsa lagi. Dia yang bertemu korban saat masih hidup, eh beberapa jam kemudian harus ikut mengoperasi namun tidak selamat."
"Kamu jadinya mengoperasi si suami bersama senior kamu?" tanya Duncan.
"Iya Opa. Rasanya ngenes."
"Terus kok bisa ada kasus kedua, J?" tanya Reana.
Joey melanjutkan ceritanya dan disitulah dia merasa kesal luar biasa. "Kayaknya si baka Danchou itu merasa karena pembunuh aslinya dah mati jadi dia ogah-ogahan padahal penerusnya masih ada. Mau butuh berapa korban lagi? Rasanya pengen aku bejek-bejek deh si Hideaki tapi yakin aku nggak bakalan cuma dihukum di kamar mayat tapi juga penjara. Kebayang kan Daddy dan Oom James mukanya seperti apa kalau tahu anaknya berandalan dan bikin ulah lagi?"
Semua orang di sana tertawa mendengar argumen Joey.
"Makanya aku minta tolong Oom Bryan buat bantuin cari. Asal kalian tahu, Oom B itu kagak pakai lama langsung dapat info dan datanya. Gemeeesss nggak sih? Itu pun aku sudah sesuai prosedur, laporan ke baka Danchou... eh masih diragukan! Langsung sleding skak seter saja dia!" Joey memasang wajah gemas. "Hhiiihhhh... rasanya pengen aku lempar ke kolam piranha Daddy deh!"
"Duo Bianchi itu memang koplak deh! Piara kok ikan piranha?" kekeh Rhea.
"Kan buat menghilangkan mayat, Oma" sahut Abi cuek.
"Haaaaahhh?" Rhea mendelik. "Iya Joey? Serius?"
"Eh mana Joey tahu Oma" ucap Joey bingung.
"Terus akhirnya gimana?" tanya Duncan mengalihkan pembicaraan.
"Ya udah habis Joey maki-maki baru deh berangkat menangkap si Shengoku Kawaguchi."
Rhea menatap Duncan. "Bang, kolam piranha di mansion Al Jordan itu beneran buat buang mayat?" bisik Oma cantik itu.
Duncan hanya menatap Rhea dengan wajah tersenyum rahasia yang mengakibatkan wajah istrinya terkesiap.
***
Tokyo Jepang
Luca menatap tajam ke arah daddynya Marco yang hanya membalasnya tenang. Keduanya kini berada di ruang kerja Marco di mansion Al Jordan.
"Daddy. Ada yang hendak Daddy beritahu padaku?"
"Apa yang harus aku beritahukan, Luc?"
"Kolam piranha di mansion! Apa makanan mereka? Mayat orang?"
Marco terbahak. "Astaga! Nggak Luca. Kolam piranha yang disini hanya makan daging ayam dan kambing..."
"Tapiiii..." Luca memicingkan matanya.
"Tapi yang di markas Bianchi pinggiran kota, memang ada kolam piranha. Nah kalau disana baru buat buang mayat" jawab Marco kalem.
Luca melongo lalu mengusap wajahnya kasar. "Astaghfirullah! Daaaddddd!"
"Lha kalau dibuang ke kolam mansion, apa nggak tambah horor, Luc?" kekeh Marco seolah tanpa beban.
"Please deh dad!"
"Sekarang gini Luc, cara membuang mayat paling efektif gimana? Kubur? Kremasi? Too many jejak. Dengan cairan kimia... Groosss! Lempar ke piranha, dimakan habis. Done."
"Bagaimana si Jelangkung Shiki tahu?"
"Hei, kamu tuh gimana? Kita akan menjadi besan, Luca. Salah siapa pacaran sama anak Yakuza. Ngomong-ngomong apa kamu tidak apa-apa melihat Emi dengan tenangnya menembak preman yang maju dan membuat dahinya bolong?"
"Dad, aku itu anak mafia. Aku tahu kalian semua satu generasi bar-bar jadi melihat Emi seperti itu bukan hal yang mengejutkan apalagi putri Yakuza. Hanya saja aku salut dia bisa menembak dengan tepat sasaran. Itu yang membuat aku ngeri..."
"Ngeri kenapa?"
"Aku kalah jago..." keluh Luca yang membuat Marco tertawa.
***
Harvard Medical School
Pagi ini Joey menemani konsulennya untuk mengikuti bedah jantung dan yang tidak diduga adalah dokter jantung nya kerabatnya sendiri Fuji Al Jordan.
"Pagi Oom ... eh dok" sapa Joey sambil mencium punggung tangan Fuji.
"Akhirnya kamu sama saya juga anak nakal" kekeh Fuji.
"Yaaaaaa, begitulah!" sahut Joey cuek.
"Dokter Al Jordan tahu anak ini?" tanya konsulen Joey.
"Tentu saja! Ini keponakan bandel aku" gelak Fuji.
"Kabar tante Seira Hayami dan Faranisa gimana Oom?"
"Alhamdulillah baik. Kamu nggak bikin ulah kan selama disini?" Keduanya kini sedang mencuci tangan mereka dengan sabun antiseptik dan anti bakteri.
"Nggak Oom. Bisa - bisa mommy datang kemari dan jewer aku" ucap Joey sambil bergidik.
Fuji terbahak.
***
Acara operasi jantung yang cukup rumit akhirnya bisa diselesaikan dengan baik dan Fuji memuji ketrampilan Joey berhasil mengambil tumor yang tumbuh di jantung pasiennya. Putra Mamoru Al Jordan itu mengakui keponakannya sangat delicate dalam melakukan sesuatu seperti halnya Daddy nya.
Mamoru Al Jordan adalah seorang dokter bedah yang diakui dunia sebagai dokter yang sangat halus dalam pembedahan bahkan bekas sayatan dan jahitannya dikenal sangat halus dan tipis hingga tidak membuat tampak mencolok.
Joey beruntung bisa mendapatkan ilmu lagi dari Oomnya dan menyimak semuanya sebagai bekal besok jika dirinya mulai bekerja sendiri.
Usai melakukan operasi, Joey pun keluar dari ruang operasi menuju kantin. Perutnya sudah heboh, cacing-cacing nya demo tanpa akhlak. Ketika dia berjalan menuju kantin, Joey melewati bagian gigi dan mendengar keributan antara dua dokter yang satunya dia kenali sebagai 'sepupu Nemu', Georgina O'Grady.
Diam-diam Joey bersembunyi dibalik tembok untuk mendengarkan keributan itu.
"Kamu itu gimana sih O'Grady? Main bius orang seenaknya!" omel konsulennya.
"Kalau saya tidak bius dia, nanti lidahnya terkena alat bor ! Baru kali ini ada pasien lidahnya kemana-mana. Anjing saja tidak seperti itu!" balas Georgina judes yang membuat Joey tersenyum smirk.
Memang pantas jadi keponakannya Oom Rhett dan Tante Kaia. Brutal!
"Iya...tapi itu bangun berapa lama lagi setelah kamu bius?"
Georgina menatap tak acuh ke pasien yang tidur di brankar. "Paling setengah jam lagi bangun."
"Astagaaa O'Grady!"
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Harusnya tadi cuma aku ada kerjaan dunia nyata
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️