The Bianchis

The Bianchis
Leia Bianchi dan Dante Mancini Official



Tokyo Jepang, Sabtu 18 Februari


Hari ini adalah hari yang ditunggu oleh Dante Mancini, hari yang selalu dibayangkan semenjak Leia masuk ke dalam hatinya, hari yang selalu dihitung setelah Leia bersedia mau menerima cincin dari dirinya... Dan cincin itu pun tidak akan dilepas pada hari pernikahan karena sudah dipasang.


Pria Italia itu pun sudah siap dengan tuxedo lengkap bersama Sergio, asistennya dan beberapa pengawalnya yang sudah datang dari Turin seminggu sebelumnya.


"Signor. Jangan tegang lah..." goda Sergio.


"Gimana aku tidak tegang, Sergio. Ini moment ku, hari dimana aku mendapatkan gadis idamanku. Dan aku tidak tahu dia memakai baju apa!"



Jangan nyureng bang


Sergio menggelengkan kepalanya. "Apa maksudmu Signor?"


"Apakah dia memakai gaun pengantin atau kimono. Leia sama sekali tidak mengatakan padaku!"


Sergio hanya bisa menghela nafas panjang. Kenapa anda semakin aneh!


***


Kediaman keluarga Takara sudah disulap sedemikian rupa untuk menampung semua keluarga besar dua mafia Turin itu. Hampir semua sepupu Leia dan Luke datang kecuali Zinnia dan Gasendra karena mereka tidak mau terlihat di publik. Dan semua orang pun memaklumi karena mereka sedang disembunyikan oleh Ayrton Al Jordan Schumacher.


Trio kampret tampak kompak dengan suit sudah siap di deretan kursi sepupu keluarga besar klan Pratomo.



Trio Kampret


Ketiganya tidak bisa berkutik karena Luke sudah mengancam ketiganya untuk tidak macam-macam begitu juga dengan ketiga ayah mereka, Bima - Hoshi - Hideo, yang sudah bersiap mencabut semua fasilitas.


Bagi ketiganya, pencabutan semua fasilitas merupakan musibah bahkan melebihi kehilangan karakter di game.


Kini semua keluarga sudah bersiap untuk mengikuti acara ijab qobul. Dante berjalan menuju meja akad dengan didampingi oleh Sergio dan seorang pamannya.


Luca sendiri akan bertindak sebagai wali nikah Leia sedangkan saksi dari pihak pengantin wanita adalah Joey dan Marco Bianchi.


Dante pun duduk di hadapan calon ayah mertuanya yang sudah bersama dengan imam mesjid Tokyo yang ditunjuk sebagai penghulu.


Wajah Dante tampak tegang dan baginya masih mending harus berhadapan dengan para keluarga besarnya daripada situasi seperti ini. Salah sedikit, penantian panjangnya bisa berantakan. Menunggunya sekian lama, tapi dalam waktu kurang dari tiga puluh detik bisa gagal kalau baca ijab qobul saja tidak benar.


"Biasa saja Dante... Gagal ijab berarti batal jadi menantu keluarga Bianchi" kekeh Luca durjana.


"Seriously? Signor? Tampaknya anda bahagia jika saya gagal menikah dengan Leia." Dante menatap tajam ke arah Luca. Beneran deh, calon mertua aku satu ini! Sabar Dante... sabaaarrr!


Dante masih beradu pandang dengan Luca ketika dirinya merasa seseorang duduk di sebelahnya dan pria itu menoleh.


Kimono?


"Le... Leia?" Dante melongo melihat siapa yang duduk di sebelahnya.



Akhirnya pakai kimono.


"Halo, Inferno..." sapa Leia manis.


"Akhirnya memakai... kimono?"


"Ehem. Bisa dimulai sekarang?" ucap imam mesjid.


"Ah, iya kita mulai sekarang." Luca tersenyum smirk ke arah Dante yang entah mengapa merasa harus menyediakan stok sabar untuk mertuanya.


***


Dante menghembuskan nafas lega setelah semua orang menyetujui pernikahan mereka sudah resmi. Kini keduanya menemui ke masing-masing tetua keluarga untuk meminta restu.


Leia meminta ijin kepada Dante untuk berbicara berdua dengan Takeshi Takara karena bagaimanapun sejak kecil Leia dan Takeshi sangatlah dekat. Dan Dante mengijinkan istrinya untuk berduaan dengan Opa kesayangannya.


Takeshi Takara tidak bisa menghentikan air matanya ketika melihat cucunya datang meminta restu.


"Kamu mirip omamu Rin..." isaknya. "Little Leia sekarang sudah menikah. Oh, waktu berjalan begitu cepat. Dulu Ojisan memukul kepala ayahmu, sekarang Ojisan memukul kepala cucu menantu..."


"Ojisan! Seriously?" Leia mendelik melihat Takeshi membawa Shinai ( pedang Kendo ) berada di sisi kursi rodanya.


"Hei, Ojisan rindu masa-masa itu" elak Takeshi Takara dengan wajah durjana.


"Ojisan, ingat jantung" senyum Leia.


Wajah Leia memerah mendengar permintaan Takeshi. "Ojisan..."


"Ojisan ingin punya cicit, Leia. Kalau mengharapkan Luke, bakalan percuma. Kamu tahu sendiri kan anak itu kakunya minta ampun. Meskipun Ojisan senang dia sudah mau dengan anak cantik itu" Takeshi mengedikkan dagunya ke arah Luke yang memperkenalkan Rin Ichigo ke semua keluarga besarnya.


"Daddy dan Okāsan sudah setuju, Ojisan."


"Ojisan juga suka anak itu. Entah mengapa, kembaranmu itu memilih gadis yang sedikit banyak mengingatkan Oma Rin mu dan namanya juga Rin."


"Ojisan, apakah ojisan tidak apa-apa aku tinggal ke Turin?" Leia menatap lembut ke kakeknya.


"Leia sayang, kamu sudah menikah, kamu memiliki bisnis disana dan sudah sewajarnya kamu bersama suamimu." Takeshi memegang tangan Leia. "Meskipun Ojisan rindu bubur buatanmu."


Leia meneteskan air matanya. Meskipun dia juga sayang dengan dua opa lainnya, tapi dirinya memang paling dekat dengan Takeshi.


"Ojisan, Leia masih disini seminggu jadi masih bisa Leia buatkan bubur yang ojisan suka itu" senyum Leia.


"Kamu memang cucu Ojisan meskipun Sakura juga tapi anak itu... Soooo..."


"So apa Ojisan?"


"Sakura itu memiliki semangat seperti Fumiko dan ojisan tidak heran jika banyak pria yang tertarik pada anak itu, sama seperti Fumiko dulu."


"Maksud ojisan?"


"Please Leia, ojisan memang sudah tidak aktif di Yakuza tapi ojisan tahu kalau gadis itu ditaksir oleh Moretti, saingan Bianchi dan Mancini."


"Tapi tidak di Turin. Moretti memiliki nama di Roma dan beberapa kota di Amerika Serikat. Turin milik Bianchi dan Mancini."


"Hah! Kalian sama saja dengan Yakuza!" gelak Takeshi.


"Ojisan, dasarnya sama antara mafia dan Yakuza."


"You're right Leia."


"Sudah ngobrol nya?" Dante menghampiri istrinya yang tampak emosional dengan opanya. Pria itu membungkuk hendak mencium Leia. "Adduuuhhh!"


"No kissing!" bentak Takeshi durjana.


"Seriously Opa! Apa harus kepalaku dipukul dengan pedang kayu itu?" Dante mengelus-elus kepalanya yang terkena pukulan pedang Kendo. Leia pun ikut mengusap kepala suaminya.


"Itu tradisi di keluarga Takara! Siapa yang berani mengambil anak gadis keluarga Takara, harus mendapatkan pukulan di kepala. Lihat Leia, ojisan masih kuat memukul!" Takeshi Takara tersenyum lebar.


Dante hanya menatap Leia dengan judes sedangkan yang ditatap hanya melengos.


***


"Akhirnyaaaa si kulkas mau juga punya cewek!" sindir Blaze ke Luke saat sepupunya itu memperkenalkan ke dirinya dan Samuel Prasetyo.


"Memang kamu kira aku belok?" Luke menatap judes ke Blaze.


"Aku tidak bilang kalau kamu belok, Lukie. Hanya saja kamu butuh lama untuk mendapatkan cewek..."


"Karena aku baru menemukan yang tepat sekarang! Sama saja dengan kamu dan Nadira!"


"Apa bawa-bawa aku?" tanya Nadira yang datang bersama Pedro Pascal. Rin tersenyum ke para sepupu Luke dan dirinya sedikit insecure karena rata-rata mereka memiliki fisik yang cantik.


"Ini si kulkas!" ledek Blaze.


"Nadira, kata Luke, kalian akan menikah Juni besok?" tanya Rin mengacuhkan keributan Luke dengan Blaze.


"Iya, aku dan mas Pedro akan menikah besok Juni" jawab Nadira bahagia sambil menatap Pedro Pascal.


Luke dan Blaze menoleh ke arah Nadira.


"Mas?"


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️