
Mansion Bianchi Turin Italia
Leia dan Raveena berjalan menuju dapur setelah selesai berbelanja di pasar tradisional dan toko bahan makanan asia. Kedua gadis itu bersama dengan bibi Lusia berencana membuat gyoza, sushi rol dan beberapa camilan lainnya apalagi Luca dan Luke yang terbiasa makanan jepang, sudah agak bosan dengan pasta dan western food.
“Daddy butuh nasi!” sungut Luca yang hanya melengos melihat sup cream spinach with salmon untuk menu makan siangnya.
“Aku juga. Kangen gyoza dan donburi” sambung Luke.
“Nasi kan ada risotto, Oom Luca” timpal Antonio.
“Beda, Tomat!” cebik Luke.
“Ya sudah, nanti aku buatkan. Nggak usah ribut!” hardik Leia sebaln mendengar rusuh di meja makan yang bermula dari daddynya.
Dan kini bersama Raveena, Leia mulai membuat gyoza dan sushi roll.
***
“Leia bisa memasak Luke?” tanya Dante ke calon iparnya.
“Leia? Jago!” jawab Luke.
“Kakakmu bisa semuanya ya?”
“Makanya kamu jangan macam-macam sama kakakku karena aku dan daddy tidak akan tinggal diam kalau kamu sampai menyakiti kakakku!” Luke menatap Dante tajam.
“Tidak bakalan. Mendapatkan kakakmu saja aku harus mendapatkan banyak bogem dari kalian…”
Luke terbahak.
“Kira-kira siapa ya yang berani mengirimkan roket ke pabrik terbesar milik keluarga Rochester?” gumam Dante.
“Paling pemerintahnya sendiri. Tapi bekerja sama dengan mana, aku tidak tahu” jawab Luke jujur. Keduanya sedang berada di halaman belakang mansion Bianchi. Mata Dante dan Luke terasa pedas setelah sedari tadi menatap layar monitor dan membutuhkan istirahat.
“Kamu serius mau buang Harland ke empang piranha? Sebenarnya sejak kapan kalian memelihara ikan itu di Tokyo?” Dante menyesap rokoknya sambil menoleh ke Luke yang juga sama sedang merokok.
“Serius lah! Natalia saja aku buang kesana!” jawab Luke dingin. “Bukan aku sih sebenarnya, pegawaiku yang membuang mayatnya kesana.”
Dante menghembuskan asap rokoknya. “Aku sudah bisa meraba bahwa Natalia tidak ada di dunia ini, tapi tidak menyangka akan dibuang ke empang piranha.”
“Opa aku, Mario dan Marco yang pertama membuat empang itu untuk menghilangkan jejak dan mayat. Dan ternyata berguna sampai generasi aku.”
“Memang efektif sih Luke. Berbeda dengan aku yang masih old fashion.”
“Sometimes kamu coba. Opa ku yang yakuza itu sekarang malah ikutan pakai empangku” cengir Luke.
Dante hanya terkekeh mendengar cerita keluarga Luke. “Terima kasih Luke, mau menerima aku menjadi bagian keluargamu.”
“Masih setengah hati tapi akunya, Inferno. Ngomong-ngomong itu cincin, siapa yang desain? Gila saja nggak bisa dilepas. Gimana cara?”
“Apanya?”
“Melepaskan cincinnya?”
“Jika kakakmu sudah tidak mencintaiku dan ingin berpisah, baru cincin itu bisa dilepaskan.”
Luke melongo. “Segitunya?”
“Iya Luke. Jika kakakmu sudah tidak cinta sama aku, meskipun aku masih mencintainya dan ingin lepas dariku, aku tidak bisa memaksanya. Aku hanya ingin melihat kakakmu bahagia Luke.”
Luke menatap pria berwajah dingin itu. Kamu segitunya mencintai kakakku?
***
Leia dan Raveena membawa makanan yang selesai dibuatnya ke ruang tengah dimana para agen FBI dan Luca masih mengawasi hasil sadap di kamar yang hendak dipakai Harland Rochester besok.
“Buat apa itu princess?” tanya Luca ke putrinya.
“Gyoza dan sushi roll, Dad.” Leia meletakkan dua piring begitu juga dengan Raveena. Leia lalu mengambil piring lain lagi dan membawanya.
“Akhirnyaaaa…” Luca langsung mengambil sepotong sushi. “Sudah lama nggak makan ini.”
“Masih banyak kah ini Raveena?” tanya Omar.
“Ini enak Veena” puji Billy.
“Terima kasih.”
Leia berjalan ke halaman belakang dan melihat kembarannya sedang asyik mengobrol dengan Dante. “Sushi dan Gyoza, boys.”
Luke dan Dante menoleh ke arah gadis yang berdiri di hadapan mereka. “Buat apa tadi Leia?” tanya Dante.
“Sushi dan Gyoza.”
“Akhirnya aku nemu masakan Jepang lagi! Besok kalau aku pulang giliran si Yankee yang aku todong untuk memasakkan untukku>”
Leia meletakkan piring berisikan meja lalu duduk di sebelah Luke.
“Leia, duduk sebelah aku dong, kok sebelahan sama Luke?” Dante menggoda Leia.
“Haruskah?” balas Leia dengan wajah datar.
Dante tersenyum smirk. “Really Leia?”
Leia tersenyum lalu pindah tempat duduknya bersebelahan dengan Dante yang langsung melingkarkan tangannya di pinggang ramping gadis itu.
“Apa kamu masak sendiri?” tanya Dante sambil mengambil sepotong gyoza.
“Iyalah. Kenapa? Kamu meragukan kemampuan aku?” Leia mendelik ke arah Dante dengan wajah judes.
“Well, aku tahu kamu bisa segalanya tapi soal memasak aku kan belum tahu, Leia.” Dante memasukkan potongan gyoza itu ke dalam mulutnya. “Hmmm enak ini Leia.
“Kan aku sudah bilang, Leia jago memasak karena sejak kecil sudah diajari masak oleh oma kami. Dua Oma kami jago memasak dan Omaku, Marissa Bianchi, memiliki sebuah cafe dan toko pastry di daerah Shibuya” sahut Luke.
“Oh Luke, siapa itu Yankee?” tanya Dante sambil mengambil sushi.
“Cewek berandalan yang aku suruh merawat kebun strawberry aku” jawab Luke cuek.
“Kebun Strawberry? Oke, you lost me. Kamu punya kolam dan empang piranha tapi kamu juga punya kebun strawberry? Benar-benar bertolak belakang, Luke” komentar Dante.
“Hidup itu harus balance, Inferno. Kadang kamu harus ke dark side tapi kamu membutuhkan jedi side agar pikiranmu waras” sahut Luke.
“Aku tahu daddymu adalah penggemar Star Wars tapi apakah kamu itu di area dark side?’
“Kami lebih memilih area abu-abu. Bagi kami, blended itu wajib agar bisa fleksibel” senyum Luke.
“Ngomong-ngomong, aku penasaran apakah akan ada serangan lanjutan ke aset milik keluarga Rochester mengingat ada dua pabrik lagi di Florida dan California. Aku salut sama orang yang berani mengirimkan senjata yang canggih itu.” Dante menatap ke Luke dan Leia. “Siapa ya kira-kira?”
Leia dan Luke saling berpandangan seolah berbicara melalui telepati.
Do you think what am i thinking Leia? Luke menatap kembarannya.
Tante Moon maksudmu? Tapi dia pakai hulun ledak dari mana? Leia tampak berpikir.
“Kalian berdua saling berbicara melalui telepati anak kembar? Ah aku benci melihat kalian seperti itu karena aku merasa diabaikan tidak mengetahui isi kepala kalian!” Dante menatap Leia sebal.
“Maaf, Dante karena memang ini hanya hak kami sebagai anak kembar” senyum Leia licik.
“Ish, kamu nyebelin sayang!”
“Oh come on Dante. Nggak usah lebay manggil kakakku sayang begitu!” cebik Luke sebal.
“Sana segera pulang ke Tokyo! Bikin penuh Turin saja!” balas Dante judes. “Cari cewek Yankee mu sana!”
“Tunggu aku habisi si kecoa!” Luke membalas dengan jutek.
“Ya ampun…” Leia memegang pelipisnya.
***
Yuhuuu Up Sore Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️