The Bianchis

The Bianchis
Restu Takeshi Takara



Kediaman Takara Tokyo Jepang


Emi menatap tidak berkedip ketika Luca membuka jaket dan sweater nya meninggalkan kaus tanpa lengan yang menunjukkan otot - ototnya. Berapa kali Emi dirangkul dan dipeluk Luca tapi itu pun masih terhalang dengan jas atau jaket.



Bang, itu otot...


Luca brengseeekkk! Benar-benar liciknya mendarah daging! Emi mengumpat habis-habisan.


"Sudah siap semua?" tanya Shiki. "Jadi aturannya masing-masing menembak lima kali dan siapa mendapatkan poin tertinggi, berarti menang ronde pertama."


"Memangnya mau berapa ronde, Shiki?" tanya Luca sambil memasukkan peluru ke dalam magazine Glock nya dan mengkokangnya.



"Tiga ronde."


Luca mengangguk. "I'm ready."


Emi pun sudah siap dengan Glock miliknya. Keduanya pun memakai ear muff khusus untuk menembak.


"Nona Emi yang akan mulai lebih dulu" ucap Shiki.


Luca bersandar di meja tempat senjatanya diletakkan untuk menatap Emi. Gadis itu pun berusaha mengacuhkan keberadaan Luca tapi tetap saja, aura pria itu terkesan mendominasi.


Emi menembakkan lima peluru dari Glock nya ke kertas target dan empat dari peluru itu menembak di tengah sedangkan satu agak meleset.


"Poin nona Emi 48" ucap Shiki. "Sekarang giliran tuan Bianchi."


Luca pun bersiap-siap dan tangannya mengarahkan glocknya ke kertas target. Tanpa berkedip, pria itu menembakkan langsung lima peluru. Shiki mengambil lembar kertas itu dan melihat lubang besar di tengah yang menunjukkan semua peluru berada di tengah.


"Mr Bianchi bulls eye. Poin 50 perfect."


Takeshi yang melihat pria Italia itu sedang membuka magazine Glock nya hanya bisa menatap tajam meskipun dalam hati dia mengakui kehebatan Luca.


Emi menatap tajam ke Luca yang hanya memandang dirinya santuy.


"Apa Em?" tanya Luca.


"Betsuni ( tidak apa-apa )."


Luca tersenyum tipis. Kalau sudah bilang betsuni, berarti lagi galau dia.


"Ronde kedua. Kali ini tuan Bianchi duluan yang menembak dan masih menggunakan Glock. Aturannya sama, lima peluru yang digunakan. Dan penghitungan poin juga masih sama." Shiki sudah mengganti papan target dengan kertas baru.


Luca pun mempersiapkan diri dan setelah siap, pria itu langsung menembak tanpa jeda. Emi dan Takeshi hanya melongo melihat pria itu menembak tepat sasaran semua.


"Nona Emi, giliran anda" ucap Shiki.


Emi pun mempersiapkan diri dan dirinya menembakkan Glock nya. Dan lagi-lagi Emi tidak sempurna tembakannya. Shiki pun mengambil kertas target dan melihat milik Luca bolong besar di area jantung dan satu di kepala tepat di tengah sedangkan milik Emi, empat di tengah dan satu di bahu.



"Mr. Bianchi, ini kenapa kepala ikut ditembak?" tanya Shiki.


"Yang penting 10 poin kan?" cengir Luca. "Look, aku sudah menang dua ronde jadi tidak perlu ronde ketiga kan?" Luca pun membuka magazinenya dan mengeluarkan semua pelurunya lalu mengkokangnya untuk membuang selongsong peluru.


"Kamu benar-benar menembak di tengah kepala?" Takeshi melihat bagaimana persisinya Luca dalam menarget tembakannya di kertas target miliknya.


"Jangan panggil saya Luca Bianchi kalau bukan cucu Joshua Akandra, salah satu pria yang jago tembak di generasinya. Saya belajar dari Opa dari umur lima tahun jadi sudah biasa untuk menembak target seperti ini" papar Luca.


"Siapa di generasi ayahmu yang jago tembak?" tanya Takeshi.


"Tante Kaia Blair dan Tante Sabine Al Jordan karena dia salah satu sniper terbaik di militer UAE."


Takeshi terkejut. "Malah yang perempuan yang lebih jago?"


"Mr Takara, perempuan di keluarga kami sangat bar-bar termasuk dalam urusan memberi hukuman pada anak dan suaminya" gelak Luca.


***


Takeshi sendiri tidak ada alasan untuk tidak merestui keduanya apalagi Luca jauh lebih jago dari Emi dari segi pertahanan diri.


"Jadi kapan orangtua kamu kemari, Bianchi?" tanya Takeshi.


"Besok pun kami akan kemari" jawab Luca tegas.


"Aku tunggu Bianchi." Takeshi menatap tajam Luca.


***


Mansion Al Jordan


"Menang lah Opa. Bikin malu kalau aku tidak menang, bisa dicoret dari daftar cucu opa" gelak Luca.


"Kesana perlu bawa seserahan nggak ya? Kan baru nembung" gumam Marissa.


"Bawa saja satu ember piranha sebagai pengikat" ucap Marco asal yang membuat Miki dan Joshua menatap judes.


"Herman aku, bisa punya menantu macam kamu ya Co" sahut Miki judes. "Oom Duncan saja sampai bingung kamu tuh nurun siapa kacaunya begini? Sebab di keluarga Bianchi New York, semuanya cool !"


"Lha hidup itu jangan dibuat rumit, mom. Dibikin enak saja" cengir Marco.


"Awas besok kalau kalian bawa piranha! Daddy kembalikan ke Amerika Selatan!"


Marco menatap horor. "Jangan dong Dad. Piranha hitam itu sulit dapatnya."


"Iya, piranha hitam itu paling beringas sama manusia yang bau darah sama sekarat, makanya Daddy taruh di Empang markas kan?" sindir Luca.


"Ah, anakku memang paham pola pikir daddynya" cengir Marco.


"Hadddeeehhh kalian itu!" Marissa memegang pelipisnya. "Sayang Jo dan Mario sedang ke New York jadi tidak bisa ikut."


"Sebenarnya yang kembar itu kalian berempat, kenapa anak-anaknya pada ikutan rusuh sih?" sungut Miki.


"Memang kenapa Oma?" tanya Luca bingung.


"Joey main lamar anaknya Oom Kieran O'Grady" jawab Joshua.


"Anaknya Oom Kieran? Georgina?" Luca menatap Opanya dan setelahnya dia tertawa terbahak-bahak. "Gak heran kalau Joey nekad!"


"Lho kenapa?" tanya Miki.


"Tahu nggak Oma, Abi cerita kalau Georgina hobinya main bius orang seenaknya karena dia kan dokter gigi. Jadi biar gak kebanyakan polah, pasiennya dibius sama dia lah!"


Keempat orang disana melongo.


"Memang boleh begitu?" tanya Marissa bingung.


"Daripada lidahnya bolong kena bor?" balas Luca.


"Astagaaa!"


***


Mansion Blair Staten Island New York


Duncan dan Rhea menyambut kedatangan keponakannya Josephine Akandra dan Mario Bianchi dengan senang hati.


"Oom Duncan, Tante Rhea" sapa Josephine sambil memeluk kedua orang paruh baya itu.


"Jo, Mario. Selamat datang ke New York. Gimana perjalanan?" tanya Duncan.


"Alhamdulillah lancar hanya saja aku tidak sabar menjewer anakku" jawab Mario kesal.


"Kalian pasti dilapori Kaia" kekeh Rhea.


"Bukan, oleh Rhett yang dilapori Kieran. Benar-benar aku nggak enak sama Kieran dan Georgina gara-gara si Benyamin biang kerok!" sungut Mario.


"Err... Mario, anakmu namanya Jeoffree..." bisik Rhea.


"Untuk kali ini aku bilang dia Benyamin biang kerok!" ucap Mario.


"Kok bisa kepikir bilang seperti itu?" tanya Duncan bingung.


"Masalahnya Oom, tadi tidak sengaja nyetel film klasik itu. Nakalnya Benyamin Sueb itu mirip dengan Joey" kekeh Josephine.


"Tapi apa yang dilakukan Joey berbeda jauh dengan apa yang dilakukan Benyamin Sueb di film. Joey tetap sebagai Joey dan dia berusaha jujur apa adanya dengan perasannya" ucap Duncan.


"Tapi kan sama-sama biang kerok, Oom. Hobinya bikin pusing kami, orangtuanya" keluh Mario.


"Well kalau itu sih bisa dibilang turunan karena Opa Akira Al Jordan juga slengean orangnya" gelak Duncan. "Josephine tidak begitu ingat soalnya waktu Opa Akira meninggal, dia masih kecil."


"Pantas!" sahut Mario.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️