
Kita agak flashback ya ke jaman Zee baru kabur ke Jakarta
Nadira mendapatkan kabar kalau sepupunya Zinnia Hadiyanto Al Jordan Schumacher sudah tiba di Indramayu dengan selamat. Gadis itu merasa bersyukur sepupunya selamat dan sudah berkumpul dengan para keluarga besar di Indonesia.
"Jadi Zee sudah aman ya Sendra?" tanya Nadira ke Gasendra, adik Zinnia.
"Sudah mbak. Alhamdulillah nggak ada kendala sampai disini cuma ya Sean hampir ketemu sama kita tapi langsung dicegat Putri Medeline."
Nadira melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 12 siang dan berarti Indramayu jam sebelas malam.
"Siapa saja yang ikut kalian ke Indramayu ?"
"Ada Jasmine dan Juliet yang ngeyel ingin ikut. Juga beberapa pengawal yang dikirimkan oleh Oom David."
"Ya sudah. Selamat istirahat ya Sendra."
"Makasih mbak."
Nadira mematikan ponselnya dan melanjutkan makan siangnya yang berupa Risotto seafood sedangkan minumnya lime squash.
Gadis itu sedang berada di sebuah cafe dekat kampusnya. Dirinya ada jadwal menjadi asisten dosen jam dua siang lalu kuliah jam empat sore.
Nadira menatap chat di grup Keluarga nya yang mengatakan bahwa kelima orang anggota keluarganya akan segera kembali dari Belgia.
Baguslah semua pulang. Nadira sangat khawatir dengan keselamatan kelima sepupunya yang berani menantang Raja Andrew.
Nadira tidak meragukan keberanian mereka tapi ini meskipun jatuhnya mertuanya Zee, tetap saja seorang raja.
Ponselnya berbunyi lagi dan wajah Nadira tersenyum melihat siapa yang menelpon dirinya.
"Hai" sapanya.
"Hola. Kamu dimana sayang?"
"Aku makan siang di cafe dekat kampus. Sebentar lagi selesai dan langsung mengajar jam dua, lalu masuk kelas jam empat."
"Kamu bawa mobil ke kampus?"
"Tidak, aku naik Uber sebab Beamer ku masuk bengkel. Tadinya mau diantar Daddy atau mommy sekalian kerja tapi kan kita berbeda arah."
"Nanti aku jemput. Aku pulang biasa, jam lima sore."
"Oke. Bertemu dimana nanti?"
"Parkiran seperti biasanya."
"Oke see you later."
"Bye. Je t'aime."
"Bye Pedro."
Nadira meletakkan ponselnya dan kemudian menghabiskan Risotto seafood nya lalu bersiap menuju kampus.
***
Gedung FBI, Federal Plaza New York
Pedro tersenyum memandangi ponselnya yang baru saja dipakainya menghubungi Nadira. Gadis yang sekarang sedang berhubungan asmara dengannya itu, memang membuat hidupnya tampak bewarna, tidak harus monochrome seperti biasanya.
Sang kakak, Pippa, sudah dia beritahu perihal hubungannya dengan Nadira dan sangat mendukung adiknya dengan putri Rajendra McCloud itu.
"Kakak sangat senang akhirnya adikku tidak hanya memikirkan unsub dan b*m saja" senyum Pippa saat Pedro menghubunginya semalam.
"Kamu tidak keberatan, Sis?" tanya Pedro.
"Dia dari keluarga baik-baik, Pedro dan kamu harus bersikap yang benar karena kita tahu bagaimana keluarga McCloud. Apakah kamu sudah siap seperti kakak dan menjadi imam yang baik untuk Nadira?"
"Aku sedang belajar Sis. Pelan-pelan."
Pippa tersenyum. "Jika tidak nyaman, jangan terlalu dipaksakan..."
"No, Sis. Justru aku malah lebih tahu banyak dan merasakan bahwa keyakinan kamu dan Nadira sangat menenangkan hati."
"Alhamdulillah. Jika memang kamu sudah merasakan begitu, insyaallah jalanmu akan semakin lancar."
"Amin, Sis."
Pedro menatap sayang foto kakaknya bersama dengan suami dan anak-anaknya yang dipasang disana. Mereka hanya tinggal dua bersaudara dan Pedro bersyukur hubungan mereka erat meskipun harus dipisahkan oleh jarak dan benua.
"Pascal!" panggil Isobel, sang boss.
"Yes Isobel?"
Wajah Pedro langsung mode siaga dan bersiap untuk menghadapi kejahatan yang baru.
***
New York University Manhattan
Nadira menunggu kedatangan Pedro dengan perasaan kesal karena dia sudah menunggu hampir setengah jam dan mulai merasakan lapar. Berulangkali dia mencoba menghubungi pria itu tapi tidak ada jawaban bahkan pesan yang dikirimkan juga tidak ada balasan satu pun.
"Kemana sih nih?" Nadira tampak manyun dan bolak balik mencari pria itu. "Ya sudah, aku pulang sendiri saja!"
Nadira memberikan pesan pada Pedro kalau dirinya pulang sendiri karena sudah terlalu lama menunggu pria itu.
Segera Nadira memesan Uber dan setelah datang, gadis itu pulang ke rumahnya.
***
Pedro tiba di kampus Nadira setengah jam kemudian dan dirinya baru menyalakan ponselnya karena tadi ada meeting penting dan dia harus mematikan.
Sudah banyak notifikasi banyaknya panggilan tidak terjawab dan pesan dari Nadira. Dan Pedro hanya termangu melihat gadisnya sudah pulang karena terlalu lama menunggu.
Bergegas Pedro melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga McCloud.
***
Kediaman Keluarga McCloud
Nadira menatap tajam ke arah Pedro yang hanya bisa membalas dengan wajah bersalah. Pedro tahu dia yang menjanjikan tapi dia juga yang melanggarnya.
"Maaf Nadira, aku tadi ada pertemuan penting dan aku harus mematikan ponsel agar kami tidak terganggu dengan..."
"Terganggu? Jadi aku dibilang pengganggu?" pendelik gadis cantik itu.
"Bukan begitu Nad... Tapi kami tadi..."
"Sudah deh! Kalau kamu nggak bisa jemput, jangan menjanjikan sesuatu yang tidak pasti! Mending kamu pulang saja deh! Aku lagi tidak mood!" usir Nadira karena keduanya sekarang berada di depan pintu rumah gadis itu.
"Tapi Nad..." Pedro melihat wajah gadisnya benar-benar kesal.
"Pulang! Aku mau makan! Lapar tahu nungguin kamu!" Nadira lalu berbalik dan masuk ke dalam rumah dengan sedikit membanting pintu.
Pedro hanya menghela nafas panjang. Tampaknya mood Nadira sedang berantakan. Pria itu pun akhirnya berjalan menuju mobilnya dan meninggalkan kompleks rumah mewah tempat keluarga McCloud tinggal.
***
"Kok Pedro nggak kamu ajak masuk, sayang?" tanya Aruna sang mommy.
"Dira lagi kesal saja mom! Dia yang bilang mau jemput tapi terlambat setengah jam lebih tidak ada kabar dan aku sama sekali tidak bisa menghubunginya! Apa nggak bikin jengkel? Aku tuh dah lapar mom! Sudah berencana tadi mau aku ajak makan pizza tapi nggak ada kabar..." Nadira memajukan bibirnya.
"Sayang, Pedro itu kan agen FBI. Siapa tahu tadi ada kasus penting yang dibahas."
"Tapi kan harusnya kirim pesan kalau terlambat atau apa! Hp kan bisa disilent! Ribet amat!" omel Nadira sambil memakan kentang kejunya.
"Bisa jadi lupa?" Aruna mengusap kepala putrinya. "Apa kamu mau dapat? Jadi mood kamu berantakan?"
Nadira tersentak. Memang ini mau jadwalnya. "Bisa jadi mom..."
"Besok kamu minta maaf sama Pedro. Namanya hormon memang nggak bisa diapa-apain dan ini baru periode saja. Coba kalau kamu hamil suatu saat nanti, mood swing beneran. Suami kamu harus benar-benar tabah menghadapi semua kekacauan mood kamu."
"Apa mommy waktu hamil aku atau Eagle juga mengalami hal yang sama?"
"Ohya, bahkan daddymu pernah mommy lempar pakai cupcake hanya karena salah buat" kekeh Aruna.
Nadira melongo. "Astaghfirullah! Mom!"
"Hei, itu karena kamu, sayang! Mommy juga tidak menyangka bisa berbuat seperti itu sama Daddymu" seringai Aruna.
"Mommyku bar-bar ih! Kualat lho sama Daddy" gelak Nadira yang tidak menyangka mommya bisa seperti itu.
"Udah kok. Mommy tersedak cupcake."
Nadira menepuk jidatnya.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️