The Bianchis

The Bianchis
Luke Bianchi : Menemani Rin Ichigo



Alessandro Moretti menatap tajam ke arah Luke Bianchi apalagi setelah mendengar adiknya juga memiliki perasaan tertarik dengan Sakura Park.


"Apa maksudmu jika ada pertumpahan darah?" ucap Alessandro dingin.


"Kita semua tahu darah Italia sangatlah panasan dan aku tidak menjamin kalian berdua akan mengalah. Lagipula, Sakura masih bau kencur dan di otaknya hanya bagaimana dia bisa kuliah di Tokyo University atau masuk Oxford atau Cambridge karena sepupu kami disana."


"Adikmu hendak ke Inggris?" Alessandro menaikkan sebelah alisnya.


"Ohya, dia memang ingin kuliah disana dan tinggal menunggu ijin kedua orangtuanya."


Alessandro tersenyum smirk. "Kita lihat saja Bianchi, aku yang akan mendapatkan Sakura Park."


Luke terbahak. "Tidak semudah itu férguso! Tapi aku ingin tahu bagaimana usaha kamu!"


"Tenang saja Bianchi, aku tahu Mancini di Turin mengejar kakakmu kan? Sekarang giliran Moretti yang akan mengejar Park!"


Luke menggelengkan kepalanya. "Oh boy! Kenapa di generasi aku banyak berhubungan dengan Mafioso."


***


Luke meninggalkan sekolah Sakura karena adiknya pasti dijemput oleh pengawal Hideo jadi dia aman. Apalagi adiknya juga sama kacaunya dengan kakaknya, Shinichi, yang hobi berkelahi.


Sepanjang perjalanan kembali ke markas Takara, Luke memikirkan kehidupan para saudara perempuannya. Leia dikejar - kejar Dante Mancini, Blaze sudah berpacaran dengan Samuel Prasetyo, Nadira masih penjajakan dengan Pedro Pascal, Zinnia harus pergi meninggalkan Sean Léopold.


Juliet, adik Valentino, dikejar Romeo Akihiro. Dan sekarang Sakura disukai dua kakak beradik Moretti meskipun Luke tahu Sakura sebodo amat soal asmara. Ya ampun, Sakura masih bayi! Eh tapi Juliet juga seumuran dengan Sakura. Benar - benar memusingkan!


"Kamu baik-baik saja Luke?" tanya Hidetoshi yang tahu bossnya tampak pusing.


"Memikirkan Sakura."


"Ada apa dengan adikmu? Bukankah dia baik-baik saja?"


"Aku hanya berharap ke depannya tidak ada drama perang saudara antara dua Moretti."


Hidetoshi menoleh ke arah Luke yang memegang pelipisnya. "Perang saudara Moretti? Maksudnya... Noooo, jangan bilang mereka berdua sama-sama suka Sakura!"


"Memang itu yang terjadi, Hide. Dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan! For God's sake, Sakura masih 15 tahun, seumuran Juliet dan Garvita!"


"Dengar Luke, namanya orang suka, tidak melihat umur. Apalagi adikmu kan memang cantik! Siapa yang tidak tertarik padanya. Warna matanya itu yang membuat orang terhipnotis" ucap Hidetoshi.


"Memang kenapa warna mata Sakura?"


"Apa kamu pernah perhatikan, tidak memiliki warna yang pasti. Kadang tampak biru, kadang hijau dan kadang hazel."


Luke melongo. "Aku kira warna mata Sakura hijau."


"No, Luke. Kamu tidak memperhatikan karena kamu kakaknya tapi bagi orang lain, warna mata Sakura sangat menghipnotis."


Luke menatap asistennya yang juga sahabatnya sejak SMA. "Jangan-jangan kamu juga tertarik dengan Sakura?"


Hidetoshi mendelik. "Enak saja! Aku mendapatkan Yuri saja pakai acara jatuh bangun, kok ya main Meleng. Nggak Luke, aku hanya bilang orang lain akan terhipnotis dengan warna mata Sakura. Bukan aku! Coba deh kamu iseng kalau ketemu Sakura, perhatikan warna matanya."


Luke hanya mengangguk karena selama ini dia memang tidak memperhatikan warna mata Sakura. "Akan aku coba perhatikan."


"Eh, si Yankee sudah pulang dari rumah sakit." Hidetoshi mendapatkan laporan dari anak buahnya yang mengawasi Rin Ichigo.


"Biarkan saja. Aku mau ke markas dulu."


Hidetoshi hanya mengedikkan bahunya. "Oke boss."


***


Toko Pastry milik Marissa Bianchi, Shibuya Tokyo


Rin tersenyum melihat banyaknya buah strawberry yang siap panen. Dengan cekatan dirinya mengambil keranjang yang tersedia disana untuk memanen buah-buah bewarna merah yang menggiurkan.


"Duh, air liur ku terbit... Hei strawberry, aku ingin memakan mu tapi kamu yang ini sangatlah beracun! Tuanmu sangatlah judes dan dingin! Heran! Ibunya ngidam apa sih dulu?" omel Rin sambil memetik strawberry - strawberry itu.


"Okāsan ku ngidam lempar orang!"


Rin pun membeku lalu perlahan dia menoleh ke belakang dan tampak Luke berdiri disana dengan wajah dinginnya.


"Sejak kapan kamu disitu, Yakuza freezer?" tanya Rin cuek sambil melanjutkan pekerjaannya.


"Strawberry ku beracun."


Rin mengehentikan pekerjaannya. "Tapi memang benar kan? Strawberry ini beracun!"


"Strawberry ini beracun kalau dicuri tapi kalau meminta baik-baik, akan memberikan manfaat!" balas Luke cuek.


Rin hanya mencibirkan bibirnya. "Sindir saja terus!"


"Tidak menyindir, hanya mengingatkan!" Luke pun masuk ke dalam kebun strawberry itu dan duduk di sebuah bangku kayu disana.



"Makan saja strawberry nya. Aku lihat kamu kepingin sekali memakannya" ucap Luke dingin.


"Apa kamu yakin Yakuza freezer?" Rin menoleh ke arah Luke. Jujur, dia sangat ingin memakan buah itu.


"Makanlah! Kan aku sudah memberikan ijin."


Tanpa ragu, Rin mengambil beberapa buah strawberry dan mencucinya lalu memakannya.



Luke yang memperhatikan Rin memakan strawberry itu dan entah kenapa melihat gadis itu makan buah strawberry, membuat jantung Luke berdebar - debar.


Damn it! Kenapa dia tampak seksih?


"Bagaimana dengan bahumu?" tanya Luke berusaha mengalihkan debar jantungnya.


"Sudah mendingan, terimakasih."


Luke mengambil beberapa strawberry di keranjang yang terletak di dekatnya dan mencuci buah itu.


"Yakuza freezer..."


"Hhmmm" sahut Luke sambil menggigit buah strawberry.


"Boleh aku tanya sesuatu?"


"Soal apa?" Luke menatap gadis khas Jepang itu.


"Siapa gadis yang bersamamu saat pembukaan apartemen?"


Luke tampak bingung. "Gadis?"


"Yang hari aku dikeroyok."


"Oh, gadis itu..." Luke tersenyum smirk yang membuat Rin terpana.


Bisa tersenyum juga nih Yakuza!


"Dia saudara kembarku, Yankee. Namanya Leia."


"Really?"


"Memangnya kenapa?" Luke menatap Rin yang tampak tidak percaya. "Dia benar-benar Leia, saudara kembar ku."


"Dia tampak berbeda" gumam Rin. "Tidak seperti yang aku lihat di berita online."


"Dia berdandan, Yankee! Tentu saja jadi berbeda" kekeh Luke. "Apa kamu mengira dia kekasihku?"


Rin melotot. "Tidak... Aku hanya heran saja kamu bisa tersenyum seperti itu."


"Apa kamu kira aku tidak bisa tersenyum?"


"Siapa tahu! Kamu dan freezer kan saingan!" Rin mengedikkan bahunya.


"Heh, Yankee! Memangnya aku kulkas?"


"Menurutmu?" Rin kemudian berbalik untuk memanen buah strawberry sisa.


"Aku freezer hanya ke orang lain tapi tidak ke keluarga aku."


Rin tertawa kecil. "Aku merasa kasihan ke cewek mu. Pasti kamu akan sangat dingin ke dia."


"Kenapa kamu bisa bilang begitu?" Luke memperhatikan bagaimana Rin dengan cekatan mengambil strawberry yang sudah merah.


"Karena kamu dinginnya seperti itu, mana ada cewek yang betah! Pasti dia akan bertanya-tanya apakah kamu benar-benar mencintainya atau tidak." Rin menoleh ke arah Luke. "Apalagi dengan wajah seperti itu. Dingin dan tertawamu tidak lepas."


Luke hanya tersenyum tipis. Tidak rugi dirinya membatalkan keputusannya ke markas Takara dan menikmati percakapan dengan Rin.


"Aku rasa, jika sudah menemukan wanita yang tepat, akan berbeda karena bagiku dia yang utama dan ada hati yang harus dijaga serta aku akan membuat wanitaku bahagia."


Rin hanya tersenyum smirk. "Good luck! Dan semoga kamu bisa menemukan cewek yang tabah denganmu."


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️