The Bianchis

The Bianchis
Leia, Blaze, Zinnia dan Nadira



Mansion Mancini Turin Italia


Leia menatap Dante sambil nyengir. "Ngapain kamu mencari tahu arti umpatanku?"


"Seriously Leia, kita dari berbeda negara dan bahasa meskipun kamu bisa bahasa Italia. Jadi wajar kan jika aku mencari tahu bahasamu."


Leia hanya mengangguk.


"Termasuk bahasa kasarmu."


Leia terbahak. "Apa?"


"Iyalah. Biar aku tahu kamu ngatain aku apa."


"Oh astaga" keluh Leia.


***


New York


Blaze melepaskan cap operasinya dan jujur sepanjang operasi tadi, dirinya sangat khawatir dengan pasiennya. Bagaimana tidak, pasiennya seorang nenek berusia 82 tahun, mengalami usus buntu yang harus dioperasi. Bukan masalah proses operasinya yang ditakutkan Blaze melainkan efek samping dari anestesi atau obat bius ke pasien.


Meskipun dirinya melakukan operasi bersama dengan sang Daddy, tetap saja rasa cemas itu ada. Joey sendiri berusaha menenangkan putrinya tadi sebelum masuk ke arena, sebutan keduanya tentang ruang bedah.


"Be brave, Blaze. Meskipun kita sudah melakukan semua tindakan pencegahan, semuanya tergantung si pemilik hidup." Joey menatap putrinya. "Kita harus optimis, Bee. Okay? Keep the faith!"


Dan kini usai melakukan operasi, Blaze memilih duduk di lantai luar ruang operasi untuk menenangkan diri. Gadis itu menyandarkan kepala dan punggungnya di tembok rumah sakit lalu memejamkan matanya.


Tak lama bau kopi tercium oleh hidungnya yang mancung ditambah dengan harum parfum maskulin yang sangat dihapalnya.


"Apa Bebek?" gumamnya dengan masih terpejam.


"Minum kopi dulu Bee." Samuel duduk di sebelah Blaze yang membuka sebelah matanya dan mengambil cup kopi dari tangan tunangannya.


"Ada kabar tentang pasien tadi? Aku sudah terlalu lelah jadi Daddy yang urus."


"Bagaimana kamu tidak lelah? Ini operasi kelima kamu dalam sehari!"


"Aku kan harus mengejar kredit aku, Bebek."


"Iya, tapi kalau kamu kelelahan, kamu bisa melakukan kesalahan fatal, Bee." Samuel menatap gadisnya yang tampak lelah. "Apa hari ini ada operasi lagi?"


"Nope. Ini yang terakhir." Blaze menyandarkan kepalanya di bahu Samuel.


"Kamu sanggup bangun nggak?" tanya Samuel namun tidak ada jawaban dari gadis itu. "Astagaaa! Kamu sudah tidur?"


Perlahan Samuel memegang kepala Blaze untuk direbahkan ke pahanya dan tak lama gadis itu meringkuk dengan nyaman. Joey yang baru saja menemui keluarga pasien, melongo melihat kelakuan putrinya.


"Beneran deh Bee ini!" kekeh Joey. "Aku akan menggendongnya, Sam." Joey langsung menggendong putrinya dan Samuel pun berdiri.


"Biar saya saja, Dok. Saya akan antar ke penthouse." Samuel meminta Blaze dari Joey karena tahu calon mertuanya masih ada jadwal operasi.


"Kuat kamu gendong Bee?"


"Kalau tidak kuat, kan tinggal saya taruh di brankar dan saya dorong ke parkiran mobil, Dok" cengir Samuel.


Joey terbahak.


***


FBI Building Manhattan


Pedro melongo melihat dirinya dipindahkan dari divisi kejahatan terorganisasi dan tero**ris ke Cold Case.


Pria itu lalu mendatangi bossnya yang sekarang setelah Isobel de Garza dipromosikan menjadi kepala FBI New York.


"Masuk!" sebuah suara mempersilahkan Pedro masuk setelah mengetuk pintu. "Ah, Pascal. Masuk."


"Selamat pagi, Mr Reid."


"Pagi. Apa ada yang saya bisa bantu?" tanya Agen Reid, boss Pedro sekarang.


"Apakah benar saya dipindahkan ke Cold Case? Quantico Virginia? Washington DC?" tanya Pedro.


"Benar. Dan efektif mulai besok Kamis, kamu pindah kesana"


Pedro melongo. Perjalanan dari Virginia ke New York memakan waktu 4-5 jam. Bagaimana dengan hubunganku bersama Nadira.


"Bagaimana Pascal? Apakah kamu keberatan?"


"No, Sir. Saya malah tersanjung mendapatkan promosi ini."


"Sampaikan salam saya kepada bossmu, Gideon Sambora."


Pedro hanya bisa mengangguk.


***


New York University Manhattan New York


"Hai!" sapa Nadira dengan wajah ceria.


"Hai. Kamu sudah tidak ada kuliah kan?" Pedro mencium kening Nadira.


"Tidak ada. Kok kamu jam segini sudah pulang?" Nadira lalu membuka mobilnya.


"Aku sudah tidak bekerja di Federal Plaza."


Nadira menghentikan langkahnya. "Apa?"


"Bisakah kita minum kopi sambil kita berbicara serius."


Nadira hanya mengangguk lalu mengajak Pedro masuk ke dalam mobilnya.


***


Starbucks Manhattan


"Quantico? Quantico? Virginia? Dekat Washington DC, Maryland?! Yang benar saja Pedro!" desis Nadira tertahan. "Apakah kita akan pindah kesana nanti jika sudah menikah? Aku pindah kesana?"


"I'm sorry Nadira, tapi efektif besok Kamis, aku sudah harus berada disana."


Nadira mengusap wajahnya dengan perasaan kacau balau. "Kamu tahu kan bulan depan Leia menikah di Tokyo dan sudah pasti kamu tidak bisa ikut denganku dengan perpindahan seperti ini. Kamu masih baru di Cold Case. Lalu Blaze akan menikah bulan April, kita bulan Juni. For God's sake Pedro, aku sudah menyanggupi untuk mengajar di NYU besok Agustus!"


"I'm sorry Nadira tapi ini kan bukan kemauan aku."


"Kamu tahu kan bagaimana aku ingin mengajar di NYU..." Rasanya Nadira ingin menangis karena membayangkan semua rencana yang sudah disusun nya berantakan dalam sekejap mata.


"Kamu kan bisa mengajar di kampus di Washington atau di Virginia."


Nadira hanya menatap pemandangan dari jendela Starbucks. "Aku pikirkan nanti."


"Kamu kan tahu Nadira, ini merupakan promosi pekerjaan untukku. Dan setidaknya aku tidak harus berjibaku dengan nyawa untuk berhadapan dengan b*m." Pedro menggenggam tangan Nadira. "Lagipula, perjalanan dari Virginia ke New York sekitar 4-5 jam. Kita bisa kembali ke New York waktu weekend jika sudah menikah nanti."


Nadira hanya bisa mengangguk.


***


Kediaman Keluarga McCloud


Nadira kini berada di depan layar MacBook nya dan sudah bersama dengan Blaze yang masih mengantuk, Leia dan Zinnia yang berada di Turin dan Indramayu.


"Kamu kenapa Dira?" tanya Leia yang melihat sepupunya tampak mendung.


"Keponakan aku sedang ngapain, Zee?" Nadira tidak menjawab pertanyaan Leia melainkan melihat Zinnia sedang berada di kamar bayi.


"Tidur, habis dapat ASI. So, tadi Leia bertanya kamu kenapa belum dijawab."


"Pedro dipindahkan ke Quantico."


"Haaaaahhh?" seru ketiga wanita cantik itu bersamaan bahkan Blaze langsung melek.


"Bagian apa?" tanya Leia.


"Cold Case."


"Setidaknya dia tidak berurusan dengan b*m lagi, Dira" celetuk Blaze.


"Tapi bukan begitu, Bee. Aku harus merubah semua rencana aku! Aku sudah menyanggupi usai wisuda besok April setelah kamu menikah, aku sudah akan menjadi dosen di NYU. Kalau begini kan aku harus merubah semuanya. Tidak mungkin aku tidak ikut Pedro kalau sudah menikah nanti!" omel Nadira kesal.


"University of Virginia bagus kok Dira" ucap Blaze. "Kamu daftar saja disana menjadi pengajar."


"Tidak semudah itu, Bee..."


"Dengar Dira, kamu itu sudah berpengalaman menjadi dosen di NYU. Tidak ada masalah jika kamu tidak jadi mengajar disana tapi di tempat lain." Leia menatap sepupunya yang juga dikenal keras kepala.


"Tapi Leia..."


"Kamu kira Pedro tidak bingung? Aku yakin dia juga sama bingungnya karena dia tahu bagaimana kamu sudah kebayang menjadi dosen di NYU dan harus merubah semuanya, tapi itu resiko kamu berhubungan dengan pria yang memiliki pekerjaan Law enforcement seperti itu."


Ketiga gadis itu menatap Leia dengan tatapan kepo saat melihat seorang pria berada di belakang Leia hanya mengenakan celana panjang sedang tidur.


"Kamu tidur dengan Dante?" seru ketiganya.


Leia menoleh ke belakang. "Eh?"


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author.


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️