The Bianchis

The Bianchis
Blaze Bianchi : Like Father Like Daughter



RS Pelni Petamburan Jakarta Barat Indonesia


Samuel menatap Bu Mirna dengan tatapan tidak suka. Baginya, dia tidak mengenal Tiwi secara dalam berbeda seperti saat bersama Blaze. Hampir setahun mereka bersama membuat Samuel memahami karakter Blaze yang unik dan berbeda.


"Maaf Bu, tapi saya harus menolak permintaan ibu soal menentukan siapa jodoh saya. Saya sudah memiliki seorang kekasih di New York, dan kami sudah setahun bersama." Biarpun baru jadian dua hari ini sih.


"Tapi Sam, bukankah kamu mau bekerja disini nanti sesuai dengan keinginan kamu? Alangkah baiknya jika memiliki istri orang sini juga."


Samuel memicingkan matanya ke arah Bu Mirna. "Apa sih maunya ibu mengajukan Tiwi sebagai pasangan aku? Aku sudah punya calon istri Bu!"


Bu Mirna meneteskan air mata dan rasanya dirinya gagal mendidik anak-anak asuhnya. "Kasihan Tiwi, Sam."


Samuel berusaha meraba-raba. "Jangan bilang sesuatu terjadi pada Tiwi dan ibu meminta aku yang membereskan?"


Bu Mirna semakin terisak.


"Jadi gara-gara Tiwi, ibu masuk rumah sakit?" Samuel lalu menuju pintu ruang rawat inap dan membukanya. Dilihatnya Tiwi sedang bermain ponsel.


"Tiwi! Masuk!" perintah Samuel yang membuat Tiwi terkejut. Gadis itu pun masuk ke dalam ruang rawat inap Bu Mirna. "Duduk!"


Tiwi pun menurut lalu menatap ke Bu Mirna dengan tatapan bingung.


"Sekarang jelaskan sama mas Sam, apa yang kamu lakukan hingga ibu masuk rumah sakit? Mas sudah lihat papan pasien dan darah tinggi ibu dalam posisi tidak bagus. Apa yang sudah kamu lakukan?" Samuel menatap tajam ke arah gadis yang memucat itu.


"Aku... aku... hamil mas..."


Samuel terperangah dan menatap bergantian antara Bu Mirna dan Tiwi.


"Jadi, aku kalian suruh pulang untuk membereskan ini? Ya Allah Bu! Tega sekali membuat aku macam tukang beresin? Astaghfirullah! Kenapa kamu tidak mencari pria yang menghamili kamu!" bentak Samuel.


Tiwi terisak. "Tidak bisa mas..."


"Tidak bisa atau tidak mau?"


"Tidak bisa Sam karena kekasihnya Tiwi meninggal kecelakaan dua Minggu lalu" jawab Bu Mirna.


Samuel mengusap wajahnya kasar. "Salahmu sendiri Tiwi! Tidak bisa menjaga dirimu ! Namanya wanita itu yang paling berharga adalah kehormatan kamu!"


Tiwi semakin terisak begitu juga Bu Mirna.


"Maaf ibu, tapi aku tidak akan menjadi martir untuk apa yang tidak aku perbuat!" Samuel menatap ke Tiwi. "Bertanggungjawab atas semua perbuatan kamu dan mas Sam tidak mengijinkan kamu menggugurkan kandungan kamu karena itu adalah hasil perbuatan kamu dan pacarmu, janin itu tidak berdosa!"


Samuel merasa dada nya sesak. "Aku butuh udara segar!" Pria itu pun keluar dari ruang rawat inap dengan perasaan kesal.


***


Samuel duduk di taman rumah sakit Pelni Petamburan dengan perasaan sedih dan kesal luar biasa. Bisa-bisanya mereka bersekongkol untuk menjadikan aku martir. Rasa kecewa dengan ibu asuhnya yang seolah membenarkan agar dirinya menjadi suami Tiwi agar menutupi aibnya, sangatlah besar.


Pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi Blaze.


"Halo Bebek" sapa Blaze dengan suara mengantuk.


Samuel menatap arlojinya yang menunjukkan pukul dua belas siang yang berarti jam sebelas malam di New York.


"Maaf Bee menelpon mu malam-malam."


"Ada apa Sammy? Kamu terdengar sedih" tanya Blaze di seberang.


"Aku butuh kamu Bee. Entah kenapa aku merasa lemah disini dan aku butuh kamu."


Tidak ada jawaban dari Blaze membuat Samuel bingung. "Bee? Oh maaf kamu masih ada ujian setiap hari ya?"


"Ah screw up! Aku ambil cuti akademik lagi seminggu buat ke Jakarta!" ucap Blaze cuek.


"Tapi Bee? Kuliahmu jadi molor enam bulan!"


"So? Daddy dulu juga sama bahkan sampai harus jadi tukang bersih-bersih kamar mayat! Buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya kan Sam? Besok aku ke Jakarta!" putus Blaze.


Samuel tersenyum. "Aku jemput."


"Memang kamu ada mobil?"


"Ojek online dong!"


Blaze terbahak.


***


Penthouse Keluarga Bianchi Manhattan New York


Joey dan Georgina melongo melihat gadisnya membawa koper besar lagi dan sudah menelpon pilot keluarga untuk bersiap lepas landas dua jam lagi.


"Kamu mau kemana?" tanya Joey. "Ambil cuti lagi?"


"Iyalah! Ambil cuti seminggu Dad" jawab Blaze cuek.


"Astagaaa! Jangan mentang-mentang Opa Nathan mantan dekan fakultas kedokteran Harvard jadi kamu seenaknya Bee" tegur Georgina yang gemas dengan sikap seenaknya sendiri putrinya yang mirip dengan suaminya.


"Bebek? Sejak kapan kamu pelihara bebek?" tanya Georgina.


"Sejak Daddy kasih bebek tukang ngintil ke aku" sahut Blaze cuek sambil makan sandwich nya.


Joey terbahak. "Akhirnya kamu mau juga sama Samuel?"


Georgina tersenyum. "Akhirnya ya Joey. Sadar juga nih Bee."


Blaze menatap kedua orangtuanya. "Seriously? Kalian tahu Sammy naksir aku?"


"Well, bukan suatu kebetulan sih Daddy minta Samuel jadi pengawal kamu tapi kami itu mencari orang yang memang bisa ngemong kamu. Dan hasil screening memang Samuel yang pantas jadi kandidat buatmu. Soal nanti kalian gimana, itu urusan nanti tapi ternyata Samuel naksir kamu duluan tapi kamunya durjana sama dia!" cengir Joey.


"Ternyata lama-lama kamu suka dia kan Blaze?" Georgina memandang putri cantiknya.


"Well, dia bukan pria neko-neko sih..."


"Justru karena itu Daddy milih dia jadi pengawal kamu."


"Kapan kalian jadian?" tanya Georgina.


"Tiga hari lalu."


Joey dan Georgina saling berpandangan. "G, ambil champagne."


"Joey, apa tidak terlalu pagi untuk membuka champagne?" tegur Georgina.


"Ini kan hari Sabtu. Aku tidak ada jadwal jadi mabok pun tidak masalah karena aku bahagia putriku punya pacar yang kita semua menyukainya."


"Benar kan buka champagne" gerutu Blaze.


***


Bandara Cengkareng Jakarta


Samuel menunggu di bagian kedatangan VIP karena Blaze datang menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Al Jordan.


Dan tak lama pesawat Gulfstream itu pun mendarat dengan sempurna dan tampak gadisnya turun dari pesawat dengan dandanan yang santai.



"Hai bebek!" sapa Blaze sumringah.


"Hai Bee. Bagaimana perjalanan kamu?" Samuel langsung memeluk Blaze dan mencium keningnya.


"Biasa saja."


Samuel melihat celana jeans Blaze. "Kenapa itu celananya bolong-bolong?"


"Lemariku ada rayapnya dan celakanya jeans Gucci ku ini jadi korban rayap-rayap tidak bertanggung jawab" jawab Blaze dramatis yang membuat Samuel terbahak.


"Mana mungkin penthouse kamu ada rayapnya. Kamu nanti menginap dimana?" tanya Samuel.


"Aku akan menginap di rumah salah satu trio kampret."


Samuel melongo. "Siapa itu trio kampret?"


***


Mansion Keluarga Reeves


Blaze dan Samuel tiba di mansion milik keluarga Reeves dan oleh penjaga rumah diijinkan masuk karena gadis itu menunjukkan id card yang terdaftar di iPad penjaga rumah.


Sesampainya di teras mansion, Blaze dan Samuel disuguhkan pemandangan seorang gadis cantik dan seorang pria sedang bertengkar.


"Juliet? Ada apa?" tanya Blaze setelah turun dari mobil.


"Mbak Bee, bilang sama cowok ini! Aku sebal dengannya tapi dia ngeyel luar biasa!" Juliet langsung menghambur ke kakak perempuannya.


"Apa kamu yang namanya Romeo?" Blaze menatap pria tampan khas Asia campuran Jepang.


"Iya. Saya Romeo Akihiro."


"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu Romeo" seringai Blaze.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Romeo - Juliet nanti Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️