
Honeymoon Suite
Emi berjalan mondar-mandir dengan wajah kesal dan tak jarang kakinya menghentak pertanda dia marah.
"Dasar Otousaaaannn! Aku hajar pakai pedang baru tahu rasaaaa!" teriak Emi kesal. Untung honeymoon suite itu sangat-sangat kedap suara jadi aman.
Luca yang baru keluar dari kamar mandi, terkejut melihat istrinya marah - marah. "Astaghfirullah Em! Kenapa marah - marah?" tanya Luca yang hanya mengenakan celana pendek tanpa baju lalu duduk untuk menggosok kakinya yang sedikit nyeri dengan minyak gosok dari dalam tasnya. Luca selalu membawa minyak gosok itu kemana - mana apalagi dia hobi berolahraga.
"Kakimu kenapa Luc?" tanya Emi yang ikut duduk di sebelah Luca.
"Kayaknya tadi agak terkilir saat acara turun dari pelaminan. Tahu sendiri aku tadi pakai Geta ( sandal kayu Jepang )."
Emi cekikikan. "Dasar bukan orang Jepang ya gitu."
Luca melotot. "Aku orang Jepang, Emi. Aku lahir dan besar di Tokyo meskipun pasport aku memakai pasport Italia."
"Tapi casing tetap bule, Luca" kekeh Emi sambil mengambil alih minyak gosok itu dan pelan menggosok pergelangan kaki suaminya.
"Kalau kakimu sakit begini... Kita batalkan saja acara..."
"NO Em! Ayo unboxing!" pendelik Luca. "Rugi sudah diberikan kamar hotel seperti ini tidak dipakai!"
"Tapi..."
"Yang sakit kan kakiku, bukan belutku!" Luca menatap manyun ke Emi yang membuat wanita itu cekikikan.
Keduanya naik ke atas tempat tidur yang posisinya menempel dengan jendela besar dan bisa melihat pemandangan kota Tokyo dengan leluasa.
"Em..."
"Hhhmmm..." Kini Emi dan Luca saling tengkurap memandang pemandangan.
"Kita nanti tinggal di apartemen Shibuya atau rumah Takara atau mansion Al Jordan?" tanya Luca.
Emi menatap Luca. "Tinggal dimana saja aku tidak masalah. Kalau di rumahku, pasti Otousan ngajak kamu Kendo, main Shogi atau Go. Kalau di rumah kamu, aku bisa belajar masak dengan Oma, mommy dan Tante. Kalau di Shibuya, kita bisa bebas."
"Atau gini saja. Kita nginap setiap weekend bergantian di rumahku atau rumahmu karena bagaimanapun orang tua kita pasti senang kalau kita disana."
Emi tersenyum lalu mencium bibir Luca sekilas. "Ini yang aku suka darimu, Luc."
"Apa?"
"Kamu sangat mencintai dan menghormati orang tua meskipun kamu dan Otousan sering tidak akur." Emi mengelus pipi Luca.
"Em, tanpa ayahmu yang super reseh itu dan almarhum mama Rin, tidak bakalan tidak lahir kamu, sayang. Aku rasa kalau mama Rin masih ada, pasti sekarang Otousan mu habis dijewer" gelak Luca.
Keduanya saling berpandangan.
"Love you!" ucap mereka bersamaan. "Sini Em..." Luca pun menarik tubuh langsing itu. "Jangan biarkan kita gagal unboxing malam ini."
Emi cekikikan.
***
...Hotel Lounge...
Javier, Duncan, Ghani, Elang, Eiji dan Joshua berkumpul di lounge hotel sembari menikmati kopi dan teh. Meskipun mereka bisa minum alkohol tapi mengingat usia, mereka semua memilih minuman kopi atau teh disamping mineral water yang banyak.
"Kalian semua itu kenapa sih tidak mengijinkan aku mengganggu cucuku?" tanya Eiji kesal.
"Kamu tahu, Levi sudah mencoba mengganggu bersama Takeshi dan akhirnya diamuk Emi" kekeh Joshua.
"Cucu menantu mu memang bar-bar" gelak Duncan.
"Maklum keturunan Yakuza" timpal Javier.
"Habis Luca berarti Joey sebentar lagi ya?" tanya Ghani.
"Kayaknya Joey tahun depan deh soalnya dia masih menyelesaikan studinya, begitu juga dengan Georgina" jawab Joshua.
"Tapi memang kedua Cucumu cari pasangan tidak jauh-jauh yang berkaitan dengan mafia dan Yakuza" kekeh Duncan.
"Mungkin karena wanita-wanita dari kalangan seperti itu jauh lebih tangguh?" Joshua menatap sepupunya.
"Kalau Alexandra mah parah, G! Mana ada yang bisa dengan tenangnya menebas leher pakai scalpel. Sorry Duncan, bukan Kaia tidak savage, tapi Alexandra parah!" gelak Elang. "Aku masih ingat bagaimana Duncan pucat pasi saat itu. Sudah menemani Alexandra autopsi mayat membusuk, masih lihat pemandangan horor lainnya." ( Baca The Detective and The Doctor chapter You Beat Him ).
Duncan menatap horor ke Elang. "Please J, jangan kamu ingatkan mayat itu. Sampai sekarang pun aku masih merasa mual membayangkan."
***
Honeymoon Suite
Luca membuka kemeja hitam yang dipakai Emi dan menunjukkan asetnya yang tertutup Victoria Secret warna hitam berenda. Dengan rakus, Luca menciumi dada Emi lalu mencari kaitan br@ di belakang dan melepaskannya.
Emi sendiri melepaskan kemejanya dan melemparnya sembarangan. Dan kini keduanya sama-sama polos di bagian atas hanya menyisakan penutup bagian bawah. Luca menciumi tubuh Emi hingga turun ke arah pusar dan mulai membuka celana panjang istrinya beserta dengan underwear hitam yang satu set dengan br@ nya.
Nafas Emi tersengal ketika jari Luca bermain di intinya sambil mencium bibir istrinya. Luca mencumbu istrinya pelan karena dia tidak mau terburu-buru. Unboxing itu dinikmati bukan grasah grusuh.
Dilihatnya Emi mulai terhanyut, Luca pun melepaskan celana pendeknya dan mulai memasuki inti Emi yang terasa sempit.
"Ih, pelan - pelan Luc!" desis Emi yang merasa tidak nyaman ada sesuatu yang asing ke dalam intinya yang masih perawan.
"Ini pelan-pelan Em!" ucap Luca. "Tapi apa memang masih sempit ya kalau baru pertama?"
"Mana aku tahu Luc! Aku kan juga baru pertama sama kamu ini!" pendelik Emi sengit. Ini unboxing paling absurd! Malah bahas tidak jelas!
"Kalau sakit, gak papa kalau kamu nangis" bisik Luca.
Haaaaahhh? Fix! Kacau ini!
Sebelum Emi protes, Luca berusaha menembus pertahanan hymennya. Emi menggigit bibir bawahnya ketika pria itu mencoba menjebol gawang dan setelah beberapa kali percobaan, akhirnya gol juga. Luca dan Emi saling berpandangan dengan posisi milik Luca masih posisi dijepit milik Emi. Perlahan Luca mulai menggerakkan pinggulnya dan meskipun awalnya sakit dan perih, Emi merasakan sensasi yang membuat hormon endorfin di otaknya merasakan kenikmatan.
"Luca..."
"Yes baby? Apa sakit?" tanya Luca yang baru kali ini merasakan nikmat dibandingkan dengan memakai sabun dan solo karir.
"Dikit tapi... enak" racau Emi di sela-sela hentakkan Luca.
Luca lalu menarik tubuh Emi dan keduanya kini posisi duduk dan saling berhadapan. Emi memekik pelan karena posisi ini membuat milik Luca terasa penuh. Keduanya pun saling berpa*gutan dengan tidak menghentikan proses pemersatu bangsa.
Hingga akhirnya keduanya sama-sama mencapai puncak dan Luca pun ambruk diatas tubuh istrinya.
"Em... Enak banget!" bisik Luca. "You're so amazing."
"Luc..."
"Ya?"
"Kita lupa tutup tirai jendela..." ucap Emi sambil melihat jendela yang terpampang jelas.
"Sayang, kita itu di lantai 25. Nggak bakalan kelihatan lagian lampunya juga remang-remang cuaca" ucap Luca. "Ngomong-ngomong, udah pulih belum?"
"Hah?"
"Belutku pengen dijepit lagi" cengir Luca.
Kamar Hotelnya
Bonus yang habis unboxing
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Maaf ini harusnya semalam cuma aku ketiduran 😅😅😅
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️