The Bianchis

The Bianchis
Lamaran ala Luca



Kediaman Takara Tokyo Jepang


"Astaghfirullah! LUCAAAAA!" Marissa pun memukul punggung putra semata wayangnya dengan geram. "Bisa - bisanya kamu berbicara seperti itu!"


"Lho mom, aku ditanya mauku apa, ya aku jawab apa adanya aja lah!" jawab Luca santai. "Daripada aku muter-muter jawabnya."


"Oh Astagaaa!" Marco memijit pelipisnya.


Takeshi Takara terbahak melihat keluarga calon besannya ternyata juga darting dengan calon menantunya.


"Setidaknya anakmu jujur, Co" kekeh Takeshi.


"Bikin emosi iya!" sungut Marco.


"Gimana? Besok jadi panggil penghulu?" tanya Luca dengan wajah sumringah.


"NGGAK!" seru Takeshi dan Marco bersamaan membuat wajah Luca manyun.


"Kalian berdua tunangan dulu, soal menikah sama - sama cari tanggal yang baik. Okay?" ucap Joshua yang membuat Luca kicep.


"Sudah kita mulai acaranya" ucap Miki.


Luca dan Emi pun berdiri dan keduanya saling berhadapan. Luca mengambil sebuah kotak beludru bewarna biru tua dari balik saku kimono nya.


"Emi, aku tahu kita sudah bersama lama sejak acara tanding Kendo di kampus dan sejak saat itu kita menghadapi banyak hal dan cerita... Ayahmu yang over protective dan super darting denganku..."


"Heeeeiii!" protes Takeshi dan Marco bersamaan.


"Asisten ayahmu yang macam jelangkung, bikin kesehatan jantungku terancam..."


"Saya Shiki, Bianchi-san bukan Jelangkung" potong Shiki dengan wajah datar.


"Tapi dengan semuanya yang menghebohkan dari keluarga mu, masih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keluargaku" cengir Luca.


"Luca Alano..." desis Marissa geram.


"Oke mom. Jeez, pada susah diajak cool" sahut Luca.


"Siapa yang ngajak cool kalau kamu modelan nya begini?" pendelik Marco.


"Emi, maukah kamu menikah denganku, pria yang nantinya diwarisi piranha hitam di Empang? Pria yang nantinya akan menjadi ayah macam Darth Vader, pria yang berharap memiliki anak kembar laki dan perempuan dari mu. Mau ya? Sebab aku cuma ada satu di dunia ini. Dijamin, kamu bakalan awet muda dan tidak perlu perawatan berlebih karena aku akan selalu membuatmu bahagia dan darting setiap hari. Gimana? Mau kan?" Luca menatap serius ke gadis cantik yang tidak tahan tertawa mendengar ucapan lamaran yang benar-benar diluar ekspektasi.


"Ehem..." Emi berdehem sedikit. "Luca, tentu saja aku mau menikah denganmu. Siapa lagi pria yang tabah menghadapi Otousan yang sering curang main Shogi dan Go..."


"Ehem! Emi..." pendelik Takeshi.


"Dan siapa lagi yang tetap menanggapi santai kehebohan Otousan. Hanya kamu seorang..."


"Kalau ada wanita yang cocok untuk ayahmu, langsung saja kita jodohkan! Gimana?" cengir Luca.


"Kita dalam satu server, Luca. Biar Otousan ada temannya dan tidak recokin kita" senyum Emi.


"Chotto matte kudasai ( tunggu sebentar ). Kalian itu mau lamaran atau mau ghibah?" Takeshi menatap judes ke kedua orang itu.


"Eh belum selesai ya?" cengir Luca. "Cincinnya belum aku pasang!"


Keempat anggota keluarga Luca hanya mendengus sebal.


Luca mengambil cincin imut cantik itu dari dalam kotaknya dan menyematkan ke jari manis Emi. "I'm so glad that you want marry me."


"Thank you for loving me" balas Emi.


"I'm the one who's grateful to have a future wife like you." Luca mencium kening Emi lembut.



Setelahnya Emi dan Luca memeluk para anggota keluarga Bianchi dan Akandra. Takeshi sendiri akhirnya memeluk calon menantunya.


"Jangan bikin Emi sedih, bahagiakan putriku" ucap Takeshi sedikit tercekat.


"Tentu saja Mr Takara. Emi adalah separuh jiwa saya."


"Good!"


"Tapi Mr Takara, saya dan Emi serius. Jika ada wanita yang cocok dengan anda, kami langsung memberi restu."


Takeshi melotot ke arah Luca.


"Dasar Sono Gaki!" umpatnya sambil memukul bahu Luca.


***


Mario dan Josephine hanya bisa melongo ketika Joey dengan santainya minta kedua orangtuanya untuk nembung ke Kieran O'Grady.


"Joey, yang benar saja kamu minta kedua orang tua kamu untuk main nembung ke Kieran?" ucap Duncan serius.


"Lho Opa, dengan begitu aku bakalan dilihat sangat-sangat serius ke Georgina sebab pria macam apa kalau berani ngajak nikah tapi tidak berani membawa orang tuanya untuk nembung" alibi Joey.


"Iya kalau Kieran terima. Kalau tidak?" Rhea menatap wajah cucunya yang makin kental dari Italianya.


"Yaaa, usaha lagi! Ditolak sekali bukan suatu musibah meskipun bikin dongkol. Tapi kalau kita sungguh - sungguh, pasti luluh juga. Macam mommy dan Daddy lah" sindir Joey ke Mario dan Josephine.


"Astaghfirullah..." keluh Josephine yang teringat saat awal-awal Mario mengejarnya. "Tapi Daddy mu tidak senekad kamu Joey!"


"Intinya sama saja lah! Kita itu keturunan gen yang kalau punya karep, harus sampai dapat! Meskipun harus jatuh bangun mendapatkan Georgina, tetap bakalan aku jalani karena perasaan aku, dia adalah jodohku." Joey menatap serius ke semua orang disana.


"Gimana ini Oom Duncan? Aku sudah kena migrain ini gara - gara anak satu itu!" keluh Mario sambil menunjuk Joey yang duduk santai.


"Well, tidak ada salahnya dicoba. Besok pagi kamu rundingan dengan Rhett enaknya bagaimana sebab aku yakin, jika kemauan Joey tidak dituruti, kalian bakalan kena vertigo akibat darting dengan kelakuannya" kekeh Duncan. "Dan kamu Joey, misal Keiran dan Georgina menolak kamu, jangan pakai ilmu paksa dan cocoklogi soal tipe dan keinginan kamu."


"Kan tadi Joey sudah bilang Opa, ditolak ya berjuang lagi sampai dapat!" sahut Joey sambil menatap serius ke Duncan.


"Astaghfirullah... Kamu benar-benar mirip dengan Opa Hiroshi mu. Biarpun ditolak berkali-kali oleh Oma Shanum, tetap saja super ngeyel dan berjuang sampai Omamu luluh" ucap Duncan.


"Nah, kan ada suhunya plus ada gennya. Jadi jangan salahkan aku jika aku memiliki pola pikir seperti itu" gelak Joey.


"Tante Rhea..." rengek Josephine. "Piyeee Iki?"


"Rak piyeee piyeee Jo. Dinikmati wae" gelak Rhea. "Generasi kelima kok luwih parah dari generasi awake dhewe ya bang ( generasi kelima kok lebih parah dari generasi kita )?" Rhea menatap wajah tampan Duncan yang meskipun sudah berumur masih tampak sisa-sisa gagahnya.


Mata biru Duncan hanya menatap lembut ke istrinya. "Lha meh piye? Wis kecampur aduk gennya."


Rhea dan Joey terbahak tapi tidak dengan kedua orangtuanya.


"Parah...parah" keluh Mario.


***


Kediaman Takara Tokyo Jepang


Luca dan Emi sedang berjalan-jalan di halaman belakang kediaman Takara sedangkan keluarganya sedang mengobrol dengan tuan rumah.


"Em..."


"Ya?"


"Apakah kamu tahu kehidupan masa lalu ayahmu?" tanya Luca dengan tatapan serius.


"Maksudnya gimana?" Emi mendongakkan wajahnya ke arah pria tampan itu


"Apakah kamu tahu siapa cinta pertama ayahmu?"


Emi hanya tersenyum. "Tahu karena Okāsan pernah bercerita bahwa sebelum mereka menikah, Otousan suka dengan seorang gadis teman satu kampusnya."


"Tapi?"


"Tapi dia lebih memilih menikah dengan seorang pria Korea Selatan dan Otousan patah hati."


"Lalu dengan okāsan mu, Rin Takara?"


"Mereka dijodohkan oleh kakekku. Meskipun awalnya Otousan tidak mencintai Okāsan tapi lama-lama Otousan sayang dengan okāsan."


Luca tampak berpikir. "Siapa wanita itu?"


"Siapa?"


"Cinta pertama ayahmu."


Emi menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu namanya."


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa gaeesss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️