The Bianchis

The Bianchis
Nadira McCloud : Seriously?



New York University Manhattan New York


Nadira berusaha melepaskan diri dari dekapan dan bekapan mulutnya tapi sosok yang mendekapnya sangat kuat. Dirinya dibawa ke sebuah toilet dekat sana.


"Ssshhhh Nadira..." bisik Pedro yang membuat Nadira melotot tidak percaya. "Jangan berteriak, dua orang yang mencarimu masih disini."


Nadira menolehkan wajahnya dan melihat wajah tegang Pedro. Perlahan tangan Pedro melepaskan bekapan di mulutnya.


"Ssshhhh... jangan berisik!" bisik Pedro sambil mendekap Nadira dari belakang.


"Sepertinya ada suara disini. Apa dia bersembunyi di toilet?"


Nadira mendelik karena mengenali suara yang tadi didengarnya. Tanpa sadar dirinya beringsut semakin menempel ke tubuh kekar Pedro membuat pria itu seperti mendapatkan durian runtuh dan kutukan menjadi satu.


Sial! Dia harum sekali! Jangan bangun junior ... jangan bangun! Oh come on Pedro, sekali ini saja kamu jadi agen FBI yang baik, benar dan profesional! Pedro merutuk otak setannya lebih dominan dibandingkan otak malaikat nya.


"Kita cek satu persatu toiletnya!"


Nadira semakin panik dan Pedro sudah bersiap dengan pistol yang diambil dari balik punggungnya dan menodongkan ke arah pintu.


"Wasting time, H. Kita pulang saja untuk menyelesaikan perakitan!"


Suara langkah orang yang dipanggil 'H' pun terhenti di depan pintu toilet tempat keduanya bersembunyi.


"Besok kita cek CCTV! Tidak mungkin malam ini!"


Pria itu pun berjalan meninggalkan toilet dengan tergesa. Kedua orang yang berada di dalam menunggu sampai dirasa mereka sudah jauh.


Nadira melihat bagaimana tangan kiri Pedro masih betah di pinggangnya lalu mendongak ke arah Pedro dan bersamaan dengan Pedro menunduk ke arah Nadira. Pria itu langsung mencium bibir gadis cantik itu membuat tubuh Nadira membeku.


"Kamu tidak apa-apa?" bisik Pedro setelah mencium bibir Nadira.


Gadis itu melepaskan pelukan Pedro dan langsung menampar pria itu.


"Ouch Nadira! Begini cara mu berterima kasih sudah ditolong?" keluh Pedro sambil memegang pipinya yang panas kena gampar Nadira.


"Tidak pakai acara cium-cium segala Pedro!" desis Nadira kesal.


"Habis bibir kamu menggoda untuk dicium... Ok oke... aku akan berhenti berbicara" ucap Pedro saat melihat Nadira sudah menaikkan tangannya untuk menampar Pedro lagi.


"Who are you Pedro?" Nadira menatap tajam pria itu.


"Kami akan tahu nanti. Come on! Ikut aku!" Pedro lalu menggandeng tangan Nadira keluar dari toilet itu.


Nadira ingin melepaskan genggaman tangannya tapi Pedro semakin erat menggenggamnya.


"Kita akan kemana Pedro?" tanya Nadira melihat sosok pria di hadapannya yang memiliki aura berbeda sekarang. Tapi yang ditanya mengacuhkan pertanyaan gadis itu.


Keduanya tiba di sebuah ruang monitor CCTV di seluruh kampus NYU. Dua orang petugas tampak terkejut melihat Pedro dan Nadira disana.


"Hei, kalian tidak boleh berada disini!"


"Pedro Pascal. FBI." Pedro mengeluarkan tanda pengenalnya. "Apa anda berdua dari tadi disini?"


Nadira melongo. Brengsek kamu Pedro! Ternyata kamu beneran agen FBI!


"No Sir. Kami tadi harus ke gedung teknik karena ada keributan disana."


"Kapan itu?"


"Dua puluh menit yang lalu."


Pedro mendekati sistem monitoring. "Boleh aku cek?"


"Silahkan Sir tapi isinya hanya mahasiswa ribut tidak jelas."


Pedro mulai mengutak-atik peralatan disana sedangkan Nadira hanya menatap tidak percaya ke arah pria yang sepertinya tidak jelas masa depannya, rupanya seorang agen FBI.


Dengan cekatan Pedro mengambil detik - detik Nadira dikejar oleh dua unsub dan rahang pria itu mengeras melihat gadis itu berlari menuju ke ruang kuliah dengan wajah ketakutan.


Pria itu lalu mengambil rekaman itu dan menyimpannya di flashdisk miliknya lalu mengedit hingga tidak ada rekaman saat Nadira dikejar.


"Ingat ini ada kejahatan federal soal ujian dan aku meminta kalian tidak memberitahukan apapun! Sebab jika terjadi sesuatu, itu adalah kesalahan kalian berdua!" ancam Pedro.


"Tapi Sir, bagaimana dengan Rektor?"


"Tenang saja, aku yang bertanggung jawab!"


Pedro lalu menggandeng tangan Nadira untuk meninggalkan ruang CCTV.


***


"Benar Nadira. Look. Maaf jika aku tidak jujur tapi aku sedang mencari bukti pelaku pengeb*man yang menargetkan kampus-kampus yang mix race dan NYU adalah kampus dengan banyak mahasiswa beda ras. Mereka itu adalah simpatisan Aryan padahal sudah berapa abad Hit***** mati! Tapi ajaran sesatnya masih berjalan. Padahal dia sendiri ada keturunan Yahudi!" Pedro menatap Nadira serius.


"Tapi dua orang itu pasti punya banyak jaringan di New York" gumam Nadira.


"Apa yang kamu dengar ?"


"Mereka akan mengkaboom pada tanggal 22 Februari tepat pada hari George Washington."


"Damn it! Itu dua Minggu lagi Nadira !" Pedro memukul setirnya dan meminggirkan mobilnya ke pinggir jalan. "Apakah kamu mengenal keduanya?" Pedro menunjukkan dua orang unsub di ponselnya.


"Oh my God. Harry Burt dan Fred Wilcox. Tapi... Apa kamu yakin Pedro?" Nadira menatap pria itu.


"Yakin Nadira. Dan aku akan menangkap mereka semua."


"Tapi, bagaimana dengan b*mnya? Kita belum tahu mereka akan menaruh dimana karena aku kan baru mendengar mereka hendak merakitnya."


"Nadira... Are you brave?"


"Maksudnya?"


"Kamu bisa membantu aku? Bukankah kamu sekelas dengan dua pria ini?"


"Iya tapi aku tidak sering berinteraksi dengan mereka karena menurut ku mereka penyendiri dan selalu berdua. Aku tidak menduga mereka simpatisan sekte itu..."


"Aku tidak sekelas dengan mereka. Dan aku minta kamu menjadi mata-mata ku. Kita akan bekerjasama Nadira, karena aku tidak mau membawa banyak pasukan ke NYU karena bisa membuat curiga banyak orang. Hal yang terakhir aku inginkan adalah kepanikan massal."


Nadira menatap ragu ke Pedro.


"Aku akan melindungi mu Nadira. Percayalah!" Pedro menatap dalam ke mata coklat gadis itu. "You're the woman that I love and I don't want anything happened to you."


Nadira memanyunkan bibirnya. " Dasar pria Italia mix Perancis!"


Pedro tersenyum. "Aku serius Nadira."


"I don't love you..."


"Yet. Kamu bisa minta bantuan Oom Benji mu untuk menscreening aku. Nanti kamu akan tahu bahwa aku tidak ada yang disembunyikan... kecuali soal aku kuliah dimana-mana yang memang sengaja disiapkan Biro sebagai penyamaran aku."


"Pedro ... "


"Ya?"


"Pulang! Aku lelah!" Nadira menatap lesu ke pria itu.


"Of course."


***


Kediaman keluarga Rajendra McCloud


"Kenapa kamu malam sekali? Kemana saja Nadira?" tanya Rajendra ketika membuka pintu rumah.


"Aku ada tugas Dad... "


Rajendra melihat seorang pria mengantarkan putrinya jam satu malam.


"Who are you?" Rajendra menatap tajam ke arah pria itu.


"Perkenalkan, saya Pedro Pascal, Mr McCloud. Saya teman kuliah Nadira."


Rajendra meneliti Pedro. "Bukankah kamu terlalu tua menjadi mahasiswa?"


Pedro hanya tersenyum kecut.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote gift and comment


Tararengkyu ❤️🙂❤️