The Bianchis

The Bianchis
Nadira McCloud : Pedro Terkejut



New York University New York


Nadira mendapatkan kabar dari Leia jika pembunuh bayaran yang dikirimkan oleh Ratu Michelle sudah sampai di Upper Hut New Zealand. Tentu saja kabar itu membuat Nadira tidak habis pikir kenapa semua benci pada Zinnia padahal sepupunya itu bukan tipe orang yang suka cari muka dan cari perhatian. Dia hanya melakukan tugasnya sebagai istri dari pangeran Sean of Léopold.


"Jadi sekarang pembunuh bayaran nya sudah dibekuk?" Tanya Nadira.


"Sudah lah, Nad. Apalagi pengawal ku mendapatkan bukti-bukti dari ponsel si pembunuh itu!" Jawab Leia.


"Baguslah. Terus apa rencana mu? Kalian sudah hampir tiga bulan lho di Belgia."


"Tentu saja aku konfrontasi ke raja Andrew dan Sean. Bagaimana pun juga, ini sudah masalah nyawa, Nad. Dan aku tidak mau sepupuku terluka barang sedikit pun!" Ucap Leia tegas.


"Bagaimana dengan Natalia? Luke bawa kemana?"


Leia hanya tersenyum smirk. "You don't want to know apa yang dilakukan oleh saudara kembarku dan Opa Shiki."


"Oh please... Jangan bilang Empang!" Nadira memegang pelipisnya.


***


Gedung FBI Manhattan New York


Pedro sedang membuat laporan kasus terakhirnya ketika dirinya mendapatkan informasi bahwa keluarga Bianchi, Reeves dan Park mendatangi istana Brussels Belgia. Pedro tahu bahwa terjadi fitnah pada putri Zinnia of Léopold, istri pangeran Sean of Léopold tapi dia tidak menyangka nama tiga keluarga besar Zinnia akan berani mengkonfrontasi raja Andrew dan yang datang bukanlah Luca atau Joey Bianchi atau Quinn Reeves maupun Hideo Park, melainkan sepupu Zinnia yang notabene juga sepupu Nadira.


"Apakah info ini valid?" Tanya Pedro ke agen FBI kawasan Eropa.


"Valid Pascal apalagi kelima orang itu tidak ada yang memegang paspor Amerika Serikat. Leia Bianchi dan Blaze Bianchi memegang paspor Italia, Valentino Reeves dan Shinichi Park memegang paspor Jepang dan Korea Selatan sedangkan Arkananta Baskara memegang paspor Indonesia" ucap rekannya.


"Aku kira malah para ayah mereka yang datang tapi justru sepupu Zinnia sendiri yang datang. Gila!" Pedro mengusap wajahnya kasar. *Setidaknya Nadira lebih kalem dari para sepupunya yang keturunan Yakuza, Mafioso, mantan klan silver shinning Dan cucu jenius MIT. *


"Kabarnya kamu sedang pacaran dengan putri Rajendra McCloud. Apa benar?" Goda rekannya.


"Kami memang berpacaran. Memangnya kenapa?"


"Hati-hati Pascal, ingat dia keturunan siapa. Gadismu itu masih ada keturunan mafia Inggris dari garis McCloud meskipun sejak Jeremy McCloud menikah dengan Rain Reeves sudah meninggalkan semua bisnis haramnya, tapi darah mafia nya masih ada. Oh, ngomong-ngomong, adiknya Nadira, Eagle baru saja juara menembak di sekolahnya. Dan aku yakin, Nadira pun bisa menembak meskipun dia tidak memamerkannya."


"Bagaimana kamu tahu?" Pedro penasaran dengan ucapan rekannya.


"Karena itu sudah wajib. Semua keturunan keluarga Pratomo harus bisa menembak dan bela diri."


Pedro melongo. Soal aku lupa akan hal itu!


***


Malam ini Pedro mengajak Nadira untuk makan malam sekaligus dia ingin tahu apa yang terjadi di Brussels. Malam Minggu ini, Pedro mengajak makan di sebuah cafe bistro yang menyajikan hidangan masakan Perancis.


"Maaf aku tidak berani membawa kamu ke RR's Meal manapun di New York karena kamu tahu sendiri kan, papamu masih setengah hati memberikan ijin kita berhubungan" ucap Pedro saat mereka duduk di sebuah meja sudut cafe bistro tersebut. "Lagipula masuk ke sana kan harus antri..."


Nadira tertawa. "Kan ada aku. Lagipula, kita bisa langsung masuk ruangan VIP khusus keluarga kok."


"No, Nadira. Aku tidak mau papamu berpikiran macam-macam." Pedro menenggak air putih yang disediakan. "Lagipula tempat itu terlalu high end."


"So, ada apa kamu mengajak aku makan malam?" Nadira menatap Pedro serius. "Kamu penasaran soal Belgia?"


Pedro melongo. "Kok kamu tahu?"


"Wajahmu tampak tegang dan penasaran jadi aku bisa menebak bahwa kamu penasaran tentang Belgia. Bukankah sekarang sedang menjadi trending topik jika ratu Michelle resmi diceraikan oleh raja Andrew dan Sean menjadi pengganti Stefanus yang harus menjalani rehabilitasi ke Swiss." Nadira tersenyum manis. "Apa yang ingin kamu tanyakan. Tapi aku minta, jika kamu sudah tahu semuanya, apalagi kamu agen pemerintah yang bergerak di bidang intelijen, resikonya kita berpisah karena kamu akan merasakan galau antara dirimu sebagai agen atau sebagai orang yang memiliki hubungan personal dengan salah satu anggota keluarga klan Pratomo."


"Iya, resikonya itu Pedro. Karena apa yang kamu dengar adalah suatu hal yang sebenarnya bisa mengguncang dunia internasional dan aku yakin kamu akan memilih menangkap semua saudara sepupuku tapi kamu akan mengalami dilema."


"No, Nadira. Aku lebih memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut jika harus membuat hubungan kita berantakan dan aku tidak mau hal itu terjadi." Pedro menggenggam tangan gadis itu.


"Resiko berhubungan dengan aku, harus tabah dengan kekacauan di keluarga besar aku" senyum Nadira.


"Nad, aku mau tanya sesuatu yang serius."


"Apa itu?"


"Aku memang mendengar semua anggota keluarga klan Pratomo itu harus bisa menembak dan bela diri? Benarkah?"


Nadira menatap Pedro dengan tenang. "Kamu tahu dari siapa?"


"Ada seorang rekanku yang bilang. Dia yang bertugas di kantor FBI Eropa, di Stuttgart sebenarnya. Jadi dia tahu semua peristiwa di Belgia."


"Memangnya kalau aku bisa menembak dan bela diri, kamu akan mundur?" Nadira menyesap white wine nya. "Hhhmmm escargot ini enak. Tidak kalah buatan Daddy dan Opa Aidan."


"Mundur? Buat apa mundur? Aku bahkan ingin mengajak kamu menembak bersama di ruang latihan milik FBI."


"Terlalu mencolok! Lebih baik, kalau kamu mau latihan menembak bareng aku dan ingin tahu bagaimana kemampuan aku, besok pagi jemput aku di rumah jam sembilan. Akan aku ajak ke suatu tempat dimana kita bisa latihan tanpa bingung."


"Memangnya kita mau kemana besok?"


"Kamu akan tahu nanti."


Pedro memandang Nadira penasaran.


***


Keesokan paginya, di hari Minggu yang cerah, Nadira menyambut Pedro dengan senyuman manis dan mengajak pria itu masuk ke dalam rumah. Aruna dan Rajendra menyambut pria tampan itu dengan ramah lalu mereka melakukan sarapan santai di ruang makan.


"Mrs McCloud, sarapan pagi ini sangat berbeda karena baru kali ini saya mencicipi bubur ayam" puji Pedro.


"Makanan yang biasa kami santap di hari Minggu pagi, resep dari Oma buyut kami tapi malah semua anak cucunya masak dengan resepnya" senyum Aruna. "Meskipun di masing-masing keluarga dengan toping berbeda beda tapi inti buburnya sama."


"Memang resep turun temurun itu hanya keluarga yang tahu dan pasti itu yang paling enak. Kakak saya Pippa dibekali oleh almarhum Maman saya berbagai macam resep dan sekarang malah keluarga bang Hamid suka dengan masakan kakak" ucap Pedro.


"Ngomong-ngomong kalian mau kemana pagi ini?" Tanya Rajendra.


"Janjian sama Bayu ke Dojo" jawab Nadira tenang.


Pedro terkejut mendengar kata 'Dojo' sedangkan Rajendra hanya tersenyum smirk.


"Bagus sayang! Bawa saja anak FBI ini kesana!" Seringai Rajendra.


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️