
Mansion Bianchi Turin Italia
Luke menatap layar ponselnya dengan tatapan tidak percaya, Rin merawat kebun strawberry nya seperti dulu. Ada apa Rin kesana?
Pria itu pun langsung menelpon Rin karena penasaran dan merasa dirinya tidak meminta gadis itu mengurus kebunnya lagi.
"Yakuza freezer! Kamu kemana? Ini strawberrymu sudah mau panen tapi tidak kamu rawat! Gimana sih?" omel Rin Ichigo begitu menerima panggilan telepon dari Luke.
"Kamu dimana Yankee?" tanya Luke seolah tidak tahu.
"Di kebun kamu! Nggak usah berlagak pilon deh! Aku tahu kamu menelpon aku karena tampak dari CCTV kan?" Rin menatap kamera CCTV dengan wajah judes. "Kamu dimana Yakuza?"
Yang marah-marah sambil lihat CCTV
"Aku di Turin."
"Turin? Italia? Apakah kamu di Italia?" Rin menatap layar ponselnya yang diubah Luke menjadi panggilan video.
"Kamu tidak pecaya?" Wajah Luke memenuhi layar ponsel Rin. Luke lalu memperlihatkan kebun willow yang berada di halaman belakang mansion.
"Wow, willownya" ucap Rin.
"Sekarang kamu percaya kan aku berada di Turin?" Luke mengembalikan layar nya menjadi wajahnya.
"Ada apa kamu ke Turin?" Rin meletakkan ponselnya dekat sandaran papan tanaman strawberry. Dirinya lebih memilih membersihkan daun-daun yang rontok.
"Leia kecelakaan."
Rin mengehentikan pekerjaannya dan menatap Luke. "Dia baik-baik saja kan?"
"She's fine. Hanya dislokasi bahu dan kaki terkilir."
"Syukurlah. Sekarang masih di rumah sakit?"
"Nope. Kami sudah pulang dan berada di rumah keluarga Bianchi di Turin. Leia sedang beristirahat."
"Sampaikan padanya, semoga segera pulih" ucap Rin tulus.
"Thanks Yankee. Ngomong-ngomong, apa yang kamu lakukan di kebun ku?! Kamu tidak hendak mengambilnya lagi kan kalau panen?"
Rin menatap sengit ke pria berwajah dingin itu. "Enak saja! Kamu tidak mengurus kebunmu dengan benar, Yakuza! Aku hanya tidak ingin panen besok tidak sebagus kemarin!" bentaknya kesal.
"Yankee..."
"Apa?" Rin mengalihkan pandangannya dari layae ponsel karena kesal.
"Lihat sini."
Dengan ogah-ogahan Rin menoleh ke ponselnya.
"Domo arigato." Luke tersenyum sembari mengedipkan sebelah matanya.
Sudah mulai berani godain anak orang ya bang Lukie?
Rin melongo. "Yakuza freezer..."
"Apa?"
"Otak kamu beres?"
Luke menatap Rin kesal.
***
Kamar Leia Bianchi
Leia tampak tidak nyaman dengan keadaan bahunya yang masih terbebat gips apalagi dia harus memakai arm sling. Meskipun dia ambidextrous, tapi tangan kanannya lebih dominan sedikit dibandingkan tangan kirinya.
Gadis itu masih menatap layar MacBook nya dan mencari tahu tentang kegiatan Harland Rochester. Kemampuannya untuk melakukan hack yang diajarkan oleh Oomnya Benji, membuat gadis itu bisa membuka dark web. Sengaja dia memakai MacBook yang khusus pencarian haram.
Leia masih serius membongkar semua percakapan bawah tanah para pengedar narkoba yang memakai dark tunnel untuk mencari tahu kemana Harland Rochester hendak mengedarkan narkobanya lagi, mengingat film terbarunya hendak promosi ke Eropa. Gadis itu tidak sendiri tapi juga dibantu oleh salah satu anggota keluarganya yang senior.
Ponselnya berbunyi dan Leia hanya menggeser tombol hijau tanpa melihat siapa yang menelponnya.
"Ya?" Leia menyapa tanpa menoleh.
"Leia... "
Leia menatap layar ponselnya dan tampak nama 'Inferno' disana. "Apa Inferno?"
"Bagaimana bahumu?"
"Really Inferno? Kamu kan baru saja tadi dari tempatku! Jadi kamu tahu kan keadaanku bagaimana?" omel Leia kesal.
"Seriously? Aku harus seperti cewek-cewek mu yang merayu 'Oh Dante, aku sangat berterima kasih atas perhatian mu'... Begitu? Bukan gayaku Inferno!" decih Leia yang membuat Dante semakin terbahak.
"Leia..."
"Apa Inferno?"
"Ti Amo..."
Leia tidak menjawab.
***
Usai ribut tidak jelas dengan Dante, Leia berhasil mendapatkan jadwal promo film terbaru yang diproduseri oleh MGM pimpinan Harland Rochester.
"Kamu nemu apa Lele?" tanya Luke yang masuk ke dalam kamar kembarannya.
"Jadwal promo film dan jadwal peredaran narkoba di Eropa." Leia menatap Luke serius.
"Jangan bilang kamu mencari tahu memakai dark web." Luke menatap horror ke kakaknya.
"Mau cari darimana lagi, Luke?"
"Perasaan yang paling dekat dengan Oom Benji itu Zee tapi yang tukang bongkar malah kamu sama trio kampret" kekeh Luke.
"Zee terlalu halus bocahnya. Bukan tipe yang suka nyari macam begini" balas Leia.
"Jadwalnya mana saja?"
Leia memberikan print jadwal promo film.
"Paris, Toulouse, Barcelona, Ibiza, Roma... Turin?" Luke melotot. "Bukannya Turin kota yang jarang didatangi untuk promosi film?"
"Itu dia. Sepertinya sekalian dia mencoba cari tahu pelabuhan milik Inferno karena proses jual beli itu tidak dipublikasikan dan dirahasiakan, tidak ada yang menyangka bahwa sudah menjadi milik pemerintah Turin."
"Kamu sudah hubungi Omar?" Luke menatap kakaknya.
"Belum. Aku mau memastikan dulu apakah jadwal ini valid sebab aku dapatkan dari orang dalam MGM yang bermaksud mengedarkan narkobanya melalui dark web."
"Kita bicarakan saat makan malam bersama Daddy, Antonio dan Bruce."
***
Usai makan malam di mansion Bianchi
Para pria disana hanya melongo mendengar penjelasan Leia yang harus masuk ke saluran haram agar mendapatkan banyak informasi tentang peredaran narkoba dari bandar Kelas kakap milik Harland Rochester.
"Setahuku Lele, selama aku tinggal di Turin, bisa dihitung pakai jari promosi film Hollywood disini. Mereka lebih sering di Roma, bukan Turin" ucap Antonio.
"Justru karena jarang makanya mereka ingin merubah kebiasaan itu tapi aku yakin, mereka ingin melihat sejauh mana pelabuhan milik keluarga Mancini bisa disusupi" jawab Leia.
"Inferno sudah tahu?" Luca menatap putrinya.
"Soal promo film di Turin? Belum. Karena aku masih harus memeriksa semuanya apakah sesuai dengan kecurigaan aku atau tidak."
"Pelabuhan milik keluarga Mancini itu aku memang baru tahu dari Dante kalau sudah bukan milik keluarganya dan aku yakin tidak ada yang tahu soal perjanjian itu." Antonio membaca hasil percakapan Leia dengan orang-orang dari dark web.
"Leia, apakah percakapan ini bisa dipercaya?" Bruce Diazo ikut menimbrung dengan Antonio membaca hasil penyelidikan Leia.
"Dark web itu seperti halnya white hat, ada kode etik tersendiri dan biasanya ini real. Jika kode etik ini dilanggar, semua data pribadi akan disebarkan kemanapun. Horor pokoknya!"
"Tapi kamu berhati-hati kan sayang?" Luca merangkul bahu putrinya.
"Oom Benji sudah mengajari aku Dad, bagaimana di bawah radar dan aku menggunakan banyak VPN yang bakalan membuat pusing mencarinya karena aku melemparnya ke 300 negara di dunia." Leia tersenyum smirk.
"Yang penting kamu sudah membersihkan jejakmu Leia" ucap Bruce.
"Tentu saja Brucey. Aku selalu berhati-hati jika berhubungan dengan dark web. Oom Benji juga sudah mewanti-wanti dan tadi aku juga tidak bekerja sendirian karena dibantu Opa Bryan" seringai Leia.
"Haaaaahhh? Opa Bryan batal pensiun?" Luke mendelik ke arah kembarannya.
"Katanya bosan, Lukie. Jadi tadi aku ajak saja lah main detektif..."
Luca terbahak membayangkan Oom Bryan yang masih semangat 45 untuk mencari aib.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa gaeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️