
Mansion Bianchi Turin Italia
Raveena keluar dari tempat persembunyiannya sambil mengomel panjang lebar, gemas melihat kakak sepupunya tidak jelas perasaannya.
“Katanya nggak suka si inferno, kok main cium duluan biarpun habis itu ditonjok sih! Apa sih yang ada di benak cewek yakuza itu? Hih, harus aku cari tahu!”
“Signora Raveena…”
“Apa?” Raveena menoleh ke arah Alexis dengan wajah galak.
“Ini mau sampai kapan saya ditarik begini?”
“Eh?” Raveena menatap tangannya yang main tarik jaket Alexis. “Ya Allah, kenapa aku ketularan membagongkan juga?!”
Alexis melongo karena tidak paham ucapan Raveena.
***
Dante akhirnya pulang setelah diusir oleh Leia yang kesal dengan rusuhnya pria tinggi itu. Melihat kakaknya sudah masuk kamar, Raveena pun menyusul ke dalam. Leia hanya melengos melihat adiknya datang dengan wajah kepo.
“Apa Veena?”
“Nggak, heran saja sama mbak Leia.” Raveena duduk di sofa dekat jendela melirik ke luar dan tampak Dante masih berdiri di sisi mobil Bugatti Chironnya melihat ke arah kamar kakaknya. “Ya ampun si Inferno belum pulang juga?”
“Aku matikan lampunya Veena, biar bocah itu pulang!” Leia lalu mengganti lampu kamarnya menjadi lampu tidur dan Raveena melihat Dante masuk ke dalam mobilnya lalu pergi meninggalkan mansion milik keluarga Bianchi.
“Ya ampun segitunya! Sumpah deh mbak, si Inferno bucin berat sama elu. Dikasih pelet apa sih? Pelet Lele ya?” goda Raveena ambigu. “Aduuuhhh!” Wajah cantik Raveena terkena lemparan bantal Leia.
“Pelet lele… Kenapa sih kamu mukanya kepo begitu?” tanya Leia sambil membersihkan wajahnya ritual rutin setiap malam.
“Tadi aku lihat mbak Leia cium si Inferno tapi habis itu ditonjok. Apa sih motivasimu mbak?”
Leia melongo. “Kamu ngintip ya?”
“Nggak sengaja woi! Lagian ya mbak, seorang cewek tidak mungkin berani cium bibir cowok kalau nggak ada dua unsur di dalamnya. Satu, unsur penasaran apakah bibirnya seenak itu dan segood kisser sesuai bayangan atau nggak. Kedua, karena ada perasaan bermain disana apalagi ciumannya begitun hot dan ala french kiss. Kamu yang mana? Kalau menurut analisaku, kamu itu unsur kedua mengingat kalian sudah berapa kali ciuman. Beda kalau akting, nggak ada rasa kalau memang kamu nggak memiliki perasaan ke lawan mainmu” papar Raveena panjang lebar.
“Aku lupa kamu kuliah di psikoanalisa jadi semuanya kamu analisis.”
“Jangan lupa, aku bisa membaca bahasa tubuh seseorang berkat terjun di dunia teater dan aku lihat mbak Leia diam-diam punya perasaan lebih sama si Inferno meskipun berusaha denial. Aku tahu Dante dulu kurang ajar tapi itu dulu. Aku lihat sekarang dia berubah banyak lho.”
“Nggak usah urusin jodoh aku.”
“Ish mbak nih! Coba dibandingkan sama Omar, ada rasa deg-degan nggak? Aku yakin nggak karena apa, Omar terlalu gentleman dan halus sedangkan Dante sama dengan dirimu, panasan!”
“Apa kamu lupa, dua kutub panasan. akan cepat padam apinya.”
“Iya kah? Lihat Oom Abi dan Tante Gandari, sama-sama panasan tapi apa? Tetap hot! Malah kata Bayu, dia seperti anak kost karena sering tidak tampak kalau orangtuanya asyik berduaan…”
Leia terbahak. Bayu O’Grady memang sering mendramatisir segala sesuatu.
“Ortumu apa kabar mbak? Toh masih saja tetap awet rusuh! Coba deh iseng cium Omar, dirasakan lebih maraton mana jantungmu dibandingkan dengan Inferno.”
“Ih kok aku disuruh cium sana sini sih?”
“Nah kan, dibilang gitu saja, mbak Leia sudah auto reject dan itu tandanya elu nggak pengen ciuman sama Omar. Kalau ciuman sama Dante, gimana?”
“Hiiihhh…kenapa sih semua cewek keturunan Pratomo pada membagongkan soal asmara?” gerutu Raveena.
“Eh, Veena. Kamu akan seperti itu kalau sudah ketemu pria yang mengejar-ngejar dirimu!”
“Memang siapa yang betah sama cewek bunglon, asal dan tukang analisa macam aku ini?” kekeh Raveena yang belum mau dipusingkan dengan urusan asmara karena dirinya lebih fokus menyelesaikan kuliahnya dan masuk Quantico.
“Kalau ada, kamu gimana?”
“Ya, bisa jadi aku ikut membagongkan karena memang sudah turunan…” gumam Raveena yang membuat Leia tertawa lalu memeluk adiknya.
“Aku senang kamu datang, jadi ada teman curhat meskipun topiknya nggak jelas.”
***
Keesokan paginya, Dante sudah datang ke mansion Bianchi dengan memberikan informasi hasil penemuan Sergio tentang bagaimana Harland Rochester mengedarkan narkobanya tanpa terdeteksi.
“Parfum?” Luca dan Omar menatap kepala keluarga Mancini itu.
“Ya, parfum. MGM selalu memberikan souvenir berupa parfum atau minuman berenergi yang dibawa setiap tournya. Parfum itu kemudian dipanaskan dan menjadi crystal meth. Itulah mengapa setiap penggrebekan tidak tercium oleh anjing pelacak.” Dante menatap semua orang disana.
Luke dan Tiffany lalu menyelidiki produsen parfum yang dipakai MGM untuk memproduksi souvenir itu.
“Pabriknya ada di Florida dengan nama Rochester Ltd yang memproduksi semua souvenir untuk MGM. Dibangun empat puluh tahun lalu” ucap Tiffany. “Rumah yang kemarin dihancurkan itu adalah tempat pendistribusian narkoba wilayah Miami saja. Horatio mengatakan hasil barang bukti kemarin diperkirakan sekitar $50jt.”
“Langsung rugi bandar si Harland!” celetuk Luke. “Selain di Florida, Rochester Ltd juga ada pabrik di California. Aku harap kalian sebagai orang FBI bisa menghancurkan dua pabrik ini karena itu tugas kalian bukan tugas kami. Tugasku hanyalah mencincang Harland dan membuangnya ke empang piranha apalagi ikanku sudah lama tidak makan orang.”
“Get in line Luke!” sahut Dante.
“Aku dulu Inferno!” balas Luke judes.
“Tunggu dulu, kalau pabrik itu milik keluarga Rochester dan dibangun empat puluh tahun lalu, apakah selama ini keluarga mereka memang sudah mengedarkan narkoba dari sana? Luke, pabriknya terdaftar membuat apa sebelumnya ?” tanya Leia.
“Kalau dari ijinnya membuat tekstil dan benang. Baru menambah anak perusahaan di tempat yang sama untuk memproduksi parfum dan minuman berenergi setelah Harland mengakusisi MGM. Apa yang ada di pikiranmu Leia?” Luke menatap kembarannya.
“Kita realistis saja. Dad, ingat tidak semua perusahaan kita mengalami penurunan pendapatan saat menghadapi resesi lima tahun lalu? Beruntung kita masih bisa bertahan karena cash flow kita selalu terarah dan tidak melakukan pemborosan. Tapi keluarga Rochester tetap untung padahal mereka hanya mengandalkan lima pabrik saja dengan dua di California dan Florida. Secara logika dan matematika, itu mustahil karena seluruh dunia terkena dampaknya dari resesi tapi bagaimana mereka bisa untung hampir 500% per tahun disaat orang tidak mau keluar uang untuk hal yang tidak penting?” Leia menatap semua orang. “Sedangkan perusahaan milik kami semua selama dua tahun resesi hanya mendapatkan keuntungan 150% dan itu sudah bagus dengan tidak mengalami kebrangkutan dibandingkan dengan banyak perusahaan yang lain.”
“Mereka berjualan narkoba karena demandnya pasti tinggi akibat banyaknya orang yang depresi dan larinya kesana” gumam Raveena yang mendapatkan anggukan dari Leia.
“Apa kalian tidak pernah menyelidiki hal ini?” tanya Dante dingin ke arah Omar dan timnya.
“Kami sudah mencurigainya, Mancini. Tapi semua laporan kecurigaan kami ditolak oleh boss kami dan hanya Isobel yang mempercayai kami. Makanya kami memilih bekerjasama dengan lawan keluarga Rochester yang dikenal keluarga lurus apalagi tanah Bianchi dan Mancini diincar. Karena kami sudah tidak mempercayai instansi tempat kami sendiri bekerja jika kingpinnya belum kami hancurkan!” ucap Omar.
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don’t forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️