
Honeymoon Suite Hudson Valley New York
Pedro menatap wajah cantik Nadira yang sedang membersihkan make up yang menempel di wajahnya. Mereka tiba di honeymoon Suite menjelang jam dua pagi dan Pedro sendiri tidak yakin akan bisa melaksanakan acara malam pertama karena dirinya sangat lelah.
"Nad..."
"Maaf mas... Kayaknya malam pertamanya harus ditunda..." ucap Nadira sambil melihat wajah suami tampannya dari pantulan cermin.
"Hah?" Pedro mendelik. "Kamu dapat?"
Nadira mengangguk sambil tersenyum tanpa dosa.
"Hari ke berapa?"
"Baru ini dapat... Tadi pas aku mau ganti baju sebelum kemari, kok perutku rasanya nggak enak. Eh beneran keluar dikit... dan aku cek tanggalan digital aku, ternyata memang sudah jadwalnya." Nadira membalikkan tubuhnya. "Maaf ya mas..."
Pedro berlutut di depan istrinya yang sedang duduk. "Masih ada waktu... Bukankah jauh lebih enak di rumah kita nanti di Maryland." Tiba-tiba Pedro menatap horor ke Nadira. "Kamu... besok pagi saat kita bangun tidur, tidak amnesia sesaat kalau kita sudah menikah kan?"
Nadira terbahak. "Pasti Bayu yang cerita kalau Bee nonjok Sammy karena kaget tidur berdua kan?"
"Parah tuh sepupu kamu..." Pedro menggelengkan kepalanya dengan wajah heran.
"Ya tapi Sammy cinta mati sama Bee. Sekarang mereka sedang menunggu anak pertama."
"Bee hamil?"
Nadira mengeplak bahu Pedro. "Ya wajar dong kalau Bee hamil, kan mereka sudah dua bulan menikah. Leia juga lagi hamil..."
"Berarti Minggu depan kita harus bekerja keras, Dira, agar kita juga bisa punya anak yang sebaya dengan anak Bee dan Leia."
Nadira memegang wajah suaminya. "Nggak usah ngoyo. Kalau waktunya dikasih ya pasti dikasih, jadi bersabarlah..."
"Tapi sebelum kita menikah, kan kita sudah memeriksa kondisi kita masing-masing dan Alhamdulillah sehat semuanya jadi..."
"Sayang, kita jalani sambil menikmati hidup berdua..." Nadira mencium bibir Pedro lembut. "Ayo istirahat. Aku mulai mengantuk."
"Yuk tidur."
***
Pagi harinya Pedro terbangun ketika merasakan sebuah tangan feminin memeluk dirinya dan harum lembut parfum khas Nadira tercium di hidungnya.
Pedro melihat rambut coklatnya istrinya yang menutupi dadanya yang tanpa baju. Duh kenapa juniorku jadi senut-senut merasakan pelukan Dira... Bahaya! Bahaya!
Nadira mele*nguh sembari perlahan membuka matanya dan mendongakkan wajahnya ke arah Pedro yang menatapnya penuh cinta. "Selamat pagi, mas" sapa Nadira sambil tersenyum manis.
"Pagi, sayang. Ngomong-ngomong ini sudah jam sebelas siang, Nad jadi ini bukan pagi lagi" kekeh Pedro.
"Eh? Kok aku jadi meluk mas Pedro?" Nadira langsung menarik tangannya yang memeluk suaminya namun Pedro menahannya dan mengeratkan pelukannya.
"Enak kan berpelukan dengan pasangan halal?" goda Pedro yang kemudian mencium bibir Nadira yang semula lembut namun lama-lama berubah menjadi panas dan tidak hanya bibir istrinya yang menjadi obyek ciumannya tapi juga semua wajah Nadira hingga ke leher jenjangnya. Bibir Pedro pun menjalar menuju dada Nadira yang hanya tertutup lingerie satin bewarna biru navy dan jari Pedro menurunkan satu talinya hingga menunjukkan dada yang bulat sempurna.
"Mas..." bisik Nadira yang tercekat ketika miliknya mendapat ciuman dan isapan dari suaminya.
"Apa sayang?" suara Pedro sudah terdengar serak dan nafasnya memburu.
"Kan aku... lagi dapat..."
Pedro membeku. "Aaaaaahhhh, aku lupa! Gara-gara kamu sangat nikmat sayang!" Pedro menatap istrinya yang sudah berantakan. "Ngomong-ngomong punyamu bagus bentuknya... Addduuuhhh!"
"Jangan gitu!" pendelik Nadira yang mengeplak bahu Pedro.
"MAASSS!"
Pedro tertawa lalu mencium bibir Nadira. "Aku sangat mencintaimu, Nadira."
"Aku juga mencintaimu, mas.."
***
Pasangan itu menghabiskan banyak waktu berdua sambil jalan-jalan menikmati hari sambil sesekali berciuman. Nadira dan Pedro baru ke rumah keluarga McCloud sehari sebelum pindah ke Maryland.
"Jadi ini rumah kalian di Maryland?" tanya Rajendra saat Pedro memperlihatkan rumah yang akan mereka tempati.
"Iya Dad" jawab Pedro. "Lingkungannya bagus buat kami dan anak-anak kelak karena kebanyakan yang tinggal disana keluarga muda yang bekerja di kantor pemerintahan macam aku."
"Lokasinya juga cuma setengah jam dari kampus Nadira dan lima belas menit dari Quantico" ucap Pedro lagi.
"Kalian beneran ingin menjadi penduduk Maryland?" tanya Aruna.
"Iya mom. Aku kan sudah kesana beberapa kali untuk mengisi rumah dan urus ke University of Maryland. Jadi aku sama mas Pedro sudah menghitung jarak antara dari rumah ke tempat kerja kita masing-masing" papar Nadira.
"Alhamdulillah kalau jaraknya rumah ke tempat kerja kalian tidak terlalu jauh karena kalau kelamaan di jalan itu juga tidak enak. Makanya Daddymu cari rumah yang dekat dengan Hell's Kitchen dan Soho, paling tidak di tengahnya" senyum Aruna yang bersyukur suami putrinya sangat memikirkan segala sesuatunya untuk kenyamanan keduanya.
"Jadi ini kalian berdua sudah mau pergi ke Maryland?" tanya Rajendra yang sedikit kehilangan putri sulungnya yang terbiasa berada di rumahnya tapi kini sudah harus pergi mengikuti suaminya.
Rajendra dan Aruna bukan hanya tipe orang tua yang mewajibkan anak-anak keluar rumah untuk hidup mandiri di usia 18 tahun. Eagle memang sudah memutuskan untuk pindah sekolah di London di usia 15 tahun karena ingin menemani Arjuna dan Sekar meskipun endingnya anak itu tinggal di rumah keluarga McCloud di dekat pusat kota sedangkan opa dan Omanya memilih di kastil yang berada di pinggiran kota London dan merupakan mas kawin Elang McCloud untuk Rain Reeves dulu.
"Mom dan Daddy jangan nakal ya ditinggal Dira..." kekeh Nadira yang membuat Rajendra manyun.
"Beneran deh, anak cuma dua, eh besar main ninggalin kedua orangtuanya..." gerutu Rajendra.
"Itu namanya siklus, mas Jendra. Dulu papaku juga sama kok pas aku ikut kamu ke New York." Aruna mengusap bahu suaminya lembut.
"Iya sih tapi kan tetap saja..." keluh Rajendra. "Jaga dan sayangi Nadira, ya Pedro. Saya minta kamu jangan sampai menempatkan putri saya dalam bahaya macam kasus kemarin itu!"
"Insyaallah tidak, Dad. Tidak hanya Daddy yang trauma, saya sendiri juga trauma saat melihat Nadira disana. Sejak saat itu saya bertekad Nadira tidak usah ikut ralut dalam pekerjaan saya. Apalagi sekarang saya tidak mengurus kasus kejahatan domestik seperti Ter*ris dan b*m. Saya sekarang memegang kasus dingin yang tidak terpecahkan lama jadi lebih banyak di kantor dan resikonya lebih sedikit." Pedro menatap Rajendra dan Aruna bergantian.
"Apakah cold case yang di FBI banyak Pedro?" tanya Aruna.
"Banyak mom. Ini kasus yang sedang saya usut sudah berusia delapan tahun. Hanya saja saya terkendala dengan banyaknya data yang tersegel. Itu yang saya dapat sekarang. Sebelumya saya mengungkap kasus pembunuhan yang berusia dua puluh lima tahun."
"Siapa pelakunya Pedro?" tanya Rajendra. "Yang kasus dua puluh lima tahun."
"Istrinya sendiri. Perbuatannya sangat rapih hingga semua penyidik tidak menduga dia pelakunya. Jika ada pasangan suami-istri terbunuh salah satu, orang pertama yang dicurigai adalah pasangannya. Tapi selama penyidikan itu berlangsung, tidak ada indikasi ataupun petunjuk yang mengarah ke dia. Semua alibinya juga sempurna. Hanya saja tidak ada kejahatan yang tidak terungkap, tinggal menunggu waktu."
Nadira menatap respek ke suaminya yang tampak sangat mencintai pekerjaannya.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Selamat Tahun Baru 2023
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️