The Bianchis

The Bianchis
Leia Bianchi : Menyendiri



Dua hari ini keluarga Bianchi dan Mancini mendapatkan kabar dari tim FBI yang tinggal di mansion Bianchi bahwa pabrik narkoba di Mexico, hancur luluh lantak akibat serangan roket dari pihak yang tidak diketahui.


Pabrik yang diatas kertas adalah pabrik tekstil, diketahui sahamnya 55% dimiliki oleh Harland Rochester. Pihak tentara mengklaim bahwa kejadian itu bukan dari pihak mereka. Dunia tahu jika Mexico dikuasai kartel bandar narkoba bahkan sampai kepolisian pun dibubarkan karena kasus korupsi yang menggila.


"Tidak ada pihak yang mau bertanggungjawab atas peluncuran roket yang tidak diketahui berasal dari mana karena serangan itu terjadi pada malam hari." Luca membaca berita tersebut dari iPad nya.


"Amerika tidak mengaku?" tanya Luke ke Omar.


"Bukan dari kami juga. Roket ini canggih, tidak ada suaranya dan daya ledaknya hampir sebesar Chernobyl. Pabrik itu langsung luluh lantak padahal luasnya tidak main-main!" jawab Omar.


Semua orang disana masih sibuk membicarakan siapa yang berani meluncurkan roket macam Tony Stark yang seenaknya saja.


Hanya satu orang yang tersenyum smirk saat membaca pesan di ponselnya.


Satu dulu ya. Karena berhasil, tunggu aksi berikutnya.


"Raveena! Ayo sarapan! Jangan main handphone melulu!" panggil Leia.


"Iya mbak!" jawab Raveena sambil menyimpan ponselnya.


***


"Aku rasa ada perang kartel disana yang tidak suka dengan Harland" gumam Antonio di meja makan sebelum dirinya berangkat ke kampus untuk mengajar.


"Bisa jadi. Karena persaingan disana kan ketat. Kami belum tahu Harland bekerja sama dengan kartel siapa di pabrik itu tapi yang jelas, itu pabrik yang paling besar milik keluarga Rochester" timpal Maggie.


"Aku penasaran siapa yang berani menembak roket kesana macam Iron Man dengan Stark Industries nya" celetuk Luke. "Apa sudah diketahui buatan mana?"


"Kamu tahu Luke, informasi yang aku dapat dari Intel aku di lokasi kejadian, serpihan roket itu tidak dapat diperoleh jadi semacam langsung Vanished setelah meledak."


"Maksudmu, seperti microbot, Omar?" tanya Luke.


"Aku tahu Dephan sedang melakukan percobaan dan penelitian akan teknologi ini. Microbot yang sebelumnya sudah dibuat, ini dibuat dengan ukuran yang lebih kecil hingga sulit dideteksi." Billy Boyd menatap semuanya.


"Jadi? Dari Amerika?" Luca menatap Billy.


"Tidak bisa dipastikan."


Leia dan Raveena hanya diam mengikuti pembicaraan pagi ini.


***


Leia memutuskan untuk berjalan-jalan guna melepaskan penat dan pusing di kepalanya apalagi mansion penuh dengan orang. Dirinya butuh healing yang bisa mengembalikan mood nya. Setelah diberikan ijin oleh Luca karean dikawal oleh Vernon dan Juan, gadis itu pun menuju cafe favoritnya untuk menikmati espresso dan chocolate cake.


Tadi dia mengajak Raveena tapi gadis itu menolak karena harus mempersiapkan segala sesuatu sebelum acara Harland yang akan berlangsung Minggu depan. Walhasil, dirinya datang hanya bersama dengan dua pengawalnya.


Café Al Bicerin, Turin


"Signora Bianchi, apa anda kami tinggal di meja seberang?" tanya Vernon. "Saya rasa anda ingin sendirian."


"Kalian tidak apa-apa?"


"Yang penting kan kami tidak jauh-jauh dari anda" senyum Juan.


"Oke. Enjoy your day, gentlemen." Leia tersenyum ke arah pengawalnya dan mulai membuka MacBook nya. Dirinya sangat penasaran dengan pihak yang dengan beraninya melepaskan roket untuk menghancurkan pabrik milik Harland.


Siapa yang punya nyali setelah sekian lama pihak FBI dan lainnya tidak berani menyentuh si Coro ( kecoa ) satu itu? Kenapa baru sekarang? Leia mulai membuka informasi dari para hacker yang dikenalnya.


Wajah gadis itu cemberut karena informasi yang didapatnya malah semakin ngaco karena isinya konspirasi UFO yang memulai invasi karena tidak ditemukan barang bukti disana.


"Kenapa malah jadi cerita X-Files sih?" gerutu Leia kesal.


"Jangan marah-marah Amore Mio."


Wajah Leia melengos mendengar suara yang sangat dikenalnya di belakang tubuhnya.


"Apa Inferno? Kamu tidak bekerja? Sergio tidak ada kan?" sahut Leia tanpa mengalihkan pandangannya dari layar MacBook nya.


"Mau apa kamu kesini, Inferno?" Leia menatap dingin ke arah Dante yang duduk di hadapannya sambil mengambil rokok dari balik saku jasnya.



Duh neng, judes amat



Yang masih ngeyel


"Menemanimu."


"Aku ingin sendiri, Dante."


"Tapi kamu bawa Gin dan Vodka." Dante mengedikkan dagunya ke arah dua pengawal Leia yang mengawasi dirinya.


"Kan memang mereka pengawal aku tapi mereka tidak mengganggu aku macam kamu."


"Siapa bilang aku mengganggu? Aku hanya menemani dirimu." Dante tersenyum ke Leia. "Kamu masih belum bisa menerima aku?"


"Menerima kamu? Kalaupun aku menghindar terus darimu, kamu juga akan terus mengejar aku kan? Katakan padaku, Dante. Kalau...ini misalnya... kamu sudah berhasil mendapatkan aku, apakah kamu akan bosan setelah mengetahui aku sebenarnya?" Leia menatap tajam ke Dante.


"Bosan? Seriously Leia, kamu itu adalah keinginanku yang paling utama. Ini bukan obsesi Leia tapi aku benar-benar mencintaimu! Dan kehidupan rumah tangga kita, akan jauh dari kata bosan karena kita berdua sama-sama keras kepala, sama-sama berdarah panas dan aku yakin, kehidupan ranjang kita akan panas setiap... Aduuuhh!" Dante mengusap tulang keringnya yang ditendang oleh Leia.


"For God's sake! Itu saja yang ada di otak kamu?" hardik Leia kesal.


"Dengar sayang, tidak mungkin kan kalau kita menikah tidak akan ber*cinta! Mana mungkin tidak! Kecuali kalau kamu frigid yang aku rasa kamu bukan wanita frigid tapi kamu wanita yang panas, Leia. Darah Italia mu akan terlihat nanti jika kita sudah menikah."


"Yakinkan Daddy dan kembaran aku!"


"Bekali - kali Leia dan berkali-kali itu juga mereka masih belum mau menerimaku!" kekeh Dante santai.


Leia hanya tersenyum tipis.


"Atau jangan-jangan, kamu yang mengompori mereka?" Dante mematikan rokoknya diatas asbak dan memajukan tubuhnya.


Leia menatap Dante dingin tapi entah apa yang membuat otaknya sedikit mampet. Harum parfum maskulin dengan kombinasi bau nikotin, membuatnya sedikit pusing.


Sialan anak satu ini! Bikin kacau otak dan hidungku! Leia merutuki omongan Raveena. Kenapa jantung ku berdebar - debar. Leia mengumpati Raveena dalam hati karena ucapannya membuat dirinya tidak bisa berpikir jernih.


"Are you okay Leia?" tanya Dante.


"Mungkin pengaruh obat anti nyeri..." bisik Leia tidak yakin.


"Kalau kamu minum obat, kenapa minum espresso Leia!" seru Dante kesal. "Jantungmu tidak apa-apa?"


Leia mengangguk. Padahal aku belum minum obat sama sekali tapi kenapa jadi begini sekarang.


"Apa kamu yakin sayang?" Dante memegang tangan Leia.


"Yakin Inferno!" suara Leia sedikit membentak.


Dante tersenyum lembut. "Aku suka jika kamu salah tingkah seperti ini Leia. Membuat aku tahu, kalau kamu sedikit banyak punya perasaan lebih sama aku. Mungkin belum sebesar aku tapi aku yakin kamu akan bucin padaku seperti halnya aku sudah terlebih dahulu bucin padamu."


Leia hanya menatap datar berusaha menutupi debaran jantungnya.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️