The Bianchis

The Bianchis
Leia Bianchi : Pengganggu!



Mansion Keluarga Mancini


Dante sedang membaca laporan keuangan dari semua bisnisnya ketika Sergio datang dengan wajah serius.


"Signore" panggil Sergio.


"Hhhmmm" sahut Dante tanpa mengalihkan pandangannya dari layar iMac nya.


"Signora Bianchi datang ke tanah yang sedang kita incar."


Dante mendongakkan wajahnya. "Leia kesana?"


"Sì Signor."


"Sama siapa saja? Apakah dengan Antonio... eh tapi tidak mungkin. Antonio pasti sibuk mengajar" Dante menatap Sergio. "Dengan siapa?"


"Juan, Vernon dan Alexis Accardi."


Alexis Accardi? Tangan kanan Antonio yang sama menyebalkan dengan tuannya!


"Siapkan mobil! Kita kesana sekarang!" perintah Dante.


"Baik Signore."


Dante mengambil jasnya dan ponselnya. Malah bagus kan aku bisa sekalian memaksa gadis Asia itu menjual tanahnya! Dante tersenyum culas.


***


Panti Jompo Milik Keluarga Bianchi


Leia tampak bahagia berkumpul dengan para Opa dan Oma disana apalagi saat mereka tahu gadis berdarah Asia itu adalah cicit Emilia Bianchi.


Leia sendiri dengan senang hati membantu di dapur membuat tiga orang pria yang mengawalnya terbengong-bengong karena gadis itu seolah terbiasa.


"Apa kalian tahu Signora Bianchi di Tokyo seperti apa kehidupannya?" tanya Alexis ke Vernon dan Juan.


"Kami tidak tahu Signore Alexis. Mungkin mama Lusia tahu" jawab Vernon.


Acara siang itu dihabiskan oleh Leia untuk membuat masakan makan siang dan semua orang disana pun makan bersama di sebuah meja makan besar sambil mencicipi masakan buatan Leia.


***


Menjelang jam dua siang, Leia dan Alexis berpamitan untuk pulang dan berjanji akan datang kemari lagi.


"Apakah Signora Bianchi akan lama di Turin?" tanya Alexis.


"Tampaknya begitu. Karena Daddy mengirimkan aku kemari untuk membantu Antonio soal tanah ini, Al" ucap Leia sambil berjalan menuju BMW nya. "Mobilmu yang mana?"


Alexis menunjukkan sebuah Maserati hitam yang terparkir agak terpisah dari BMW nya.


"Lalu itu Bugatti Chiron siapa?" Leia menunjukkan sebuah mobil mewah yang parkir di dekat pohon sakura.


Alexis pun tertegun melihat mobil yang sangat dikenalnya.


"Leia!" sebuah suara terdengar bersamaan terbukanya pintu mobil Bugatti itu.


Leia tampak manyun. Datang juga si inferno.


Dante pun berjalan mendekati Leia membuat Alexis dan Vernon mendekati Dante menghalangi tubuh gadis itu.


"Apa yang kamu inginkan, Signore Mancini?" tanya Alexis dingin.


"Aku ingin bicara dengan Leia."


"Signora Bianchi, bukan Leia kalau memanggil nona kami!" hardik Vernon.


"Suka-suka aku lah!" Dante menyingkirkan dua pria itu dan segera menghampiri Leia yang tampak menatapnya tenang.


"Apa maumu Dante Inferno?" tanya Leia dengan gaya angkuh dan sedikit mendongak ke wajah keras Dante. Leia memang tidak setinggi Emi, gadis itu hanya memiliki tinggi 168 cm, dua Senti lebih pendek dari Okāsan nya. Ditambah sepatu boot nya yang tujuh Senti pun dirinya masih mendongakkan kepalanya. "Ngomong-ngomong tinggimu berapa sih? 187?"


"189!" Dante langsung menarik tangan Leia yang sedikit tertarik dan nyaris tersungkur.


"DAANNTTEEEE! Aku hampir jatuh you're JERK !" teriak Leia kesal. Dante menoleh dan tanpa basa basi pria itu langsung memanggul Leia bagaikan karung beras.


"Kalian bertiga, jangan ikut campur!" bentak Dante ke ketiga pengawal Leia. Alexis, Vernon dan Juan hanya bisa berdiri menatap nonanya dibawa pergi ke gudang anggur. Apalagi pengawal Dante datang membuat ketiganya tidak bisa apa-apa karena memikirkan keadaan panti jompo nantinya.


"Signora Bianchi bisa berkelahi kan?" bisik Alexis ke Juan dan Vernon.


"Signora menyimpan baton di balik bootnya dan gosipnya dia bisa krav maga."


Alexis tersenyum tipis. "Bagus!"



***


Dante membawa Leia yang masih memukul punggungnya ke dalam gudang penyimpanan anggur, membuka pintunya yang tidak terkunci dan masuk ke dalamnya lalu menutupnya keras.



Tanpa perasaan, pria itu menurunkan Leia hingga terjatuh dan gadis itu mengaduh karena pantatnya langsung terkena lantai semen yang keras.



"Pria bar-bar! Brengsek! Nggak punya perasaan! Dasar mafia kampret!" Leia mengumpat semua bahasa yang dia ingat.


Dante hanya berdiri sambil bersedekap. Leia pun berdiri sambil mengibaskan kotoran di jeans nya.


"Kamu pikir dipukul punggung itu tidak sakit!" hardik Dante judes.


"Bukannya itu sama saja aku pijat punggung kamu? Anggap saja pijat gratis!" balas Leia tidak kalah galak.


Dante mendekati Leia. "Apa yang kamu lakukan disini, hhmmm nona Leia Bianchi?"


"Menengok tanah milik keluarga aku. Apa tidak boleh tuan Dante Inferno Mancini?" jawab Leia dengan wajah dingin.



"Tentu saja boleh. Tapi kenapa tidak mengajak aku? Kan aku bisa mengantarkan mu."


Leia melongo lalu setelahnya dia tertawa terbahak-bahak. "Oh Signor Dante Mancini. Apakah aku tidak bisa melihat ada udang di balik matahari dari kalimat ambigumu? Kamu ingin membuat aku menjual tanah ini kan?"


Dante semakin mendekati Leia membuat gadis itu mundur dan menempatkan dirinya diantara dua gentong besar berisikan anggur. Setidaknya ada penghalang diantara kami.


"Nah, kamu tahu kan?" seringai Dante.


"Dengar Dante Inferno, sampai kapanpun aku maupun sepupuku Antonio ataupun seluruh keluarga Bianchi, tidak akan menjual tanah ini kepadamu atau kepada keluarga yang lain !" ucap Leia tegas.


"Meskipun aku bisa mengabulkan harga lima kali lipat yang kamu minta?"


Leia mengangguk tegas. "Meskipun kamu mampu membayar sepuluh kali lipat pun!"


Dante memajukan tubuhnya yang terhalang tong anggur. "Apa kamu yakin Leia? Itu uang yang banyak lho."


"Kamu kira kekayaan keluargaku hanya dari keluarga Bianchi? Jika keluarga Bianchi kesulitan finansial, mereka bisa meminta bantuan keluarga aku, klan Pratomo. Ngapain harus menjual aset? Dan selama ini, keuangan keluarga Bianchi termasuk kuat jadi kami tidak ada kesulitan keuangan."


Dante merasa kesulitan mendekati Leia akibat gentong anggur lalu berjala memutar namun Leia memilih keluar dari sela-sela gentong tapi dirinya kalah cepat dari cengkeraman pria itu.


"Dengar Leia, jual tanah ini! Atau...


"Atau apa?" tantang Leia ke arah mata biru Dante. "Bukannya aku sudah bilang kalau kamu macam-macam, aku sendiri yang akan menghabisi kamu!"


"Yakin kamu mampu menghabisi aku?" seringai Dante ke Leia.


"Why not?" Leia menatap mata biru itu dengan berani. Ya ampun, matanya warnanya seperti gaunnya Elsa. Arti Frozen sesungguhnya!


"Apa kamu yakin Leia?" Dante semakin mendekatkan tubuhnya ke Leia dan pria itu memeluk tubuh gadis itu tanpa melepaskan cengkramannya di tangan kanan Leia.


"Tentu saja!"


Dante memegang dagu Leia dan membuat gadis itu semakin mendongakkan kepalanya.


"Kamu sangat - sangat menyebalkan!" desis Dante.


"Kedua orangtuaku mengatakan bahwa aku putrinya yang membanggakan" balas Leia.


"Really?" goda Dante yang sekarang jempol tangannya mengusap dagu Leia lembut. "Apa jadinya jika putrinya bersama dengan Dante Mancini berduaan di kebun anggur? Apa kata Luca Bianchi soal putrinya."


"Daddy tidak akan berkata apa-apa karena percaya putrinya bisa menjaga diri."


"Benarkah Leia? Bagaimana kalau begini?" Dante mencium bibir Leia dengan penuh nafsu.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa gaeesss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️