
Turin Italia
Dante Mancini benar-benar manyun karena pagi ini dirinya merasa lemas luar biasa hingga tidak bisa bangun. Perut dan kepalanya tampaknya saling berseteru hingga terjadi kekacauan yang haqiqi.
"Sayang, ini minum teh mint dulu" senyum Leia sambil membawakan secangkir teh panas dan biskuit asin.
"Ya ampun Leia. Apa ini hukuman bagiku?" tanya Dante dengan wajah memelas.
"Hukuman apa?" balas Leia sambil membantu suaminya duduk. Perasaan yang hamil aku tapi kenapa Dante yang lemas begini.
"Hukuman dulu bikin ngamuk kamu, sekarang dibalas anakku" keluh Dante.
"Well, aku tidak bilang kalau itu balasan..."
"Apa dong?" Dante menatap istrinya lembut.
Yang kena cauvade syndrom
"Tandanya kamu tidak mau aku mengalami morning sick" senyum Leia sambil mencium bibir suaminya.
"Love you so much Mrs Mancini..." goda Dante.
"Miss Bianchi..."
"Signora Mancini, Leia" bisik Dante sambil memasukkan tangannya ke dalam blus Leia. "I want you."
"I want you too..." Leia lalu duduk di pangkuan Dante dan keduanya saling berciuman dengan panas.
***
Maryland empat bulan kemudian...
Nadira memuntahkan semua sarapannya di kloset sedangkan Pedro dengan sabar mengelus leher dan punggung istrinya.
"Huwaaaaa, chicken Donburi aku keluar semuaaaa" isak dosen cantik itu.
"Lha kok malah nangis" kekeh Pedro sambil membawakan tissue basah untuk mengelap bibir istrinya.
"Kan eman-eman" Raung Nadira yang membuat Pedro pusing. Semenjak Nadira dinyatakan hamil dua bulan lalu, sikap dan sifatnya berubah drastis. Menjadi lebih manja dan cengeng membuat Pedro harus menambah stok sabar menghadapi mood swing istrinya.
"Ya ampun Nad, kan masih ada di meja." Pedro membantu istrinya untuk berdiri dan berjalan ke ruang makan. "Duduk manis disini. Kamu ingin apa?"
"Ingin teh panas."
"Aku buatkan." Pedro langsung membuatkan teh mint yang membantu mengatasi rasa mual istrinya.
Dibandingkan dengan iparnya yang mengalami cauvade syndrom, Pedro tidak mengalami gejala apapun. Hanya saja dirinya harus super sabar menghadapi istrinya. Beruntung hari ini hari Sabtu, mereka berdua libur jadi bisa menikmati istirahat di rumah.
"Ini tehnya Nad..." Pedro menyerahkan teh mint itu ke Nadira. "Hati-hati masih panas."
Nadira meniup pelan namun hanya sekali karena tahu Ketika meniupnya, akan terjadi pembentukan senyawa asam karena uap air bergabung dengan karbondioksida dari napas. Senyawa tersebut akan mengakibatkan keasaman pada makanan naik, dan akan mengganggu kesehatan.
"Enak teh nya." Nadira tersenyum ke arah Pedro yang melongo melihat perubahan drastis istrinya yang tadi menangis drama sekarang sudah berubah menjadi Nadira yang ceria.
"Ya ampun ternyata cewek hamil tuh begini ya mood swingnya" gumam Pedro.
Suara panggilan di iPad Nadira membuat bumil itu menoleh dan wajahnya tersenyum melihat siapa yang menelpon.
Tak lama empat wanita cantik itu sudah ada dalam satu frame.
"Wah Leia, sebentar lagi lahiran kan?" ucap Nadira setelah mengucapkan salam. "Hai Dante, Hai Sammy."
"Hai Dira, hai Pedro. Gimana kehamilan kamu?" tanya Samuel yang mendampingi Blaze.
"Aku sih nggak kena cauvade macam kalian tapi Nadira benar-benar kacau moodnya" senyum Pedro sambil merangkul istrinya.
"Namanya juga hamil" ucap Nadira sambil manyun.
"Kamu mau lahiran dimana Leia?" tanya Zinnia sambil memangku Arsyanendra yang sekarang berusia satu setengah tahun.
"Turin lah! Kan dia anak Turin" jawab Dante tegas.
"Iya deh" kekeh Zinnia.
"Arsya, kamu tuh matanya belok banget" goda Nadira. "Dan biru banget!"
"Makacih Tante..." jawab Arsyanendra masih malu-malu.
"Asya memang gemesin" jawab Bayi imut itu.
"Hah? Siapa yang bilang Sya?" tanya Nadira terkejut mendengar ucapan keponakannya.
"Oom Shin."
Ketiga wanita cantik itu menatap Zinnia dengan tatapan gemas. "Zee, jangan terima kalau trio kampret ke Indramayu! Bahaya!" ucap Blaze tegas.
Zinnia hanya tertawa. "Kalian yang baru begini saja sudah heboh, bagaimana kalian melihat aslinya."
"Dante, kalau tiga adikku itu mau ke Turin, tolak saja!" ucap Leia ke Dante.
"Lho memang kenapa? Mereka kan adikmu?" tanya Dante bingung.
"Kamu mau anak kita kena doktrin cara untuk mendrama?" jawab Leia. "Lihat tuh Arsya, berubah jika ada si Kungkang."
Samuel dan Pedro tertawa kecil mendengar argumen Leia Bianchi dengan suaminya.
"Eh iya. Leia, Luke kapan nikah?" tanya Samuel.
"Luke rencanannya bulan July karena kan perhitungannya aku lahiran bulan ini, Bee bulan depan dan anak-anak kami sudah berusia sekitar tiga empat bulan jadi sudah bisa diajak naik pesawat. Nadira perkiraan lahiran bulan Juni dan aku tidak yakin kamu bisa berangkat deh."
"Kayaknya begitu Leia. Bisa jadi malah aku memilih disini atau New York karena belum berani membawa babyku pergi naik pesawat." Nadira menoleh ke arah Pedro yang mengangguk.
"Mungkin aku dan Dira tidak bisa datang ke acaranya Luke" sambung Pedro.
"Kalian tidak bisa datang juga tak apa-apa, aku ada temannya" senyum Zinnia.
"Maaf ya Zee. Kamu jadi tidak bisa kumpul dengan kita-kita karena takut Sean tiba-tiba nongol" ucap Blaze sendu.
"Mau gimana. Situasinya memang tidak memungkinkan."
***
Tokyo Jepang
Luke Bianchi datang untuk menjemput tunangannya Rin Ichigo di apartemennya. Hari ini mereka akan menghadiri pernikahan Hidetoshi Shinoda dan Yuri Tanaka. Akhirnya pasangan yang sudah hidup bersama itu memutuskan menikah juga.
"Hai. Sudah lama?" tanya Rin yang keluar dari lift karena Luke menolak naik dan memilih menunggu di lobby.
"Belum. Baru saja" jawab Luke sambil mencium pipi Rin lalu menggandeng gadis itu ke mobil merah kesayangannya.
"Luke..."
"Ya?" jawab Luke setelah keduanya masuk ke dalam mobil.
"Kayaknya Nadira dan Zee tidak akan datang di pernikahan kita." Rin menatap Luke yang sedang menyetir dengan santai.
"Kenapa Dira tidak datang?"
"Kemungkinan kan Dira lahiran bulan Juni sedangkan kita menikah bulan Juli dan hemat aku, kasihan anaknya Dira baru sebulan sudah naik pesawat perjalanan jauh. Lama kan dari Washington ke Tokyo."
"Kan pakai pesawat pribadi McCloud."
"Iya tapi kan Luke, kebayang dong bayi sebulan sudah harus menempuh perjalanan hampir 15 jam kemari. Kalau aku sih mendukung keputusan Nadira karena tahu lah pasti nggak nyaman. Kalau Leia dan Blaze, anak-anak mereka sudah cukup besar dan kuat untuk bepergian." Rin tersenyum manis ke Luke.
"You're right Rin sayang." Luke mengambil tangan Rin dan mencium jari manisnya yang tersemat cincin tunangan darinya.
"Sama-sama Luke. Oh ngomong-ngomong apa yang membuat asistenmu akhirnya mau menikah dengan Dokter Yuri? Bukannya Hidetoshi tidak mau menikah? Sudah menikmati hidup bersama?" Rin menatap calon suaminya.
"Karena Yuri sudah hamil jadi Hidetoshi mau berjalan ke altar."
Rin hanya menganga mendengar jawaban Luke.
"Astagaaa."
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️