
Tokyo Jepang Empat bulan kemudian...
Luca adalah ayah paling berbahagia di muka bumi ini karena doanya terkabul, memiliki dua anak kembar sepasang dan tanpa pikir panjang anak sulungnya yang perempuan diberi nama Leia Skywalker Takara Bianchi dan yang laki-laki diberi nama Luke Skywalker Takara Bianchi.
Tentu saja pemberian nama seenaknya hot Daddy yang maniak dengan Star Wars membuat kedua orangtuanya dan mertuanya meradang.
"Itu anaknya siapa? Anak-anakku kan? Bibit kecebongnya juga dari aku jadi hak aku lah sebagai daddynya yang memberikan adzan dan Iqamah di telinga anak-anakku. Setidaknya namanya nggak aneh-aneh macam Elon Musk kasih nama anaknya X AE A-XII. Kasihan kan?" eyel Luca ketika Marco dan Takeshi protes namanya si kembar mirip tokoh Star Wars.
"Iya juga sih! Bener Luca" timpal Joey yang sekarang berada di Tokyo acara konsorsium para dokter bedah seluruh dunia. Georgina tidak ikut karena harus bekerja di Chicago meskipun sedang hamil tiga bulan.
"Kamu nggak usah sok komporin Luca dong Joey!" pendelik Marissa manyun.
"Lha kan sesuai dengan cita-cita dan doa Luca kok" balas Joey.
"Georgina tidak papa kamu tinggal sendirian di Chicago?" tanya Mario yang bahagia karena dirinya pun akan menjadi Opa.
"Siapa bilang sendirian? Kan ada pengawal bayangan disana."
***
Kehidupan Luca dan Emi menjadi bewarna apalagi mereka berdua tahu bahwa sifat si kembar itu meskipun baru orok, sudah tampak dominasi nya. Leia lebih dominan dan tanpa ragu memukul adiknya Luke saat tidur. Entah sengaja atau tidak tapi selalu Leia seperti itu yang membuat Luke menangis.
Akibatnya keduanya dipisah box bayinya meskipun masih tetap bisa melihat satu sama lain.
"Gaswat nih anak cewek gue bakalan bar-bar gedhenya. Adiknya saja dihajar." Luca menoleh ke Emi yang sedang menyusui Luke. "Em, kira-kira waktu di dalam perut itu, mereka berdua jotos jotosan nggak ya?"
Emi yang sedang memandangi Luke langsung menatap wajah suaminya yang tampak polos.
"Kamu kasih pertanyaan kok aneh-aneh sih Luca?"
"Lho kan kamu yang bawa anak dua ini di dalam perut kamu. Yang ngerasain kan kamu. Pas dak duk dak duk aku dengar itu kayaknya lagi latihan Kendo atau karate ya di dalam? Kalau iya, ya nggak heran kalau Leia bar-bar wong kamunya juga bar-bar."
Emi hanya bisa melengos malas mendengarkan argumen suaminya yang makin lama makin absurd setelah punya anak. Sebenarnya Emi bersyukur memiliki suami siaga macam Luca yang tidak ragu membantu dirinya menggantikan popok atau pun menggendong salah satu jika rewel padahal Emi tahu pekerjaan Luca makin padat apalagi bisnis keluarga Bianchi yang merger dengan AJ Corp Tokyo makin menggurita.
Mereka pun ekspansi pembangunan apartemen dan mall di kawasan Asia Tenggara termasuk Malaysia, Indonesia dan Thailand.
"Luca sayang, kenapa kamu semenjak jadi Daddy kok makin kacau otaknya?" goda Emi.
"Aku hanya ingin melihat anakku tumbuh besar menjadi pribadi yang kuat dan mendapatkan pasangan yang benar-benar mencintai mereka secara tulus."
Emi melongo. "Luca, anak-anak mu baru sebulan! Kenapa kamu sudah berpikir jauh sekali sayang."
"Apakah aku menderita post trauma syndrome kaget punya anak? Semacam baby blues gitu?" Luca berlutut di hadapan Emi yang duduk di sofa sambil menggendong Luke.
"Bukan sayang, kamu tidak terkena baby blues tapi lebih cenderung lebay" cengir Emi.
"Lebay khas kekhwatiran seorang Daddy." Luca menatap putranya yang sudah terlelap dan Emi menutup dasternya. Miki memang meminta tolong pada Savitri dan Danisha untuk mengirimkan daster yang nyaman serta cocok untuk menyusui buat Emi.
"Kamu akan sering keringatan Emi jadi pakai daster itu enak dan nyaman" ucap Miki saat itu dan Emi merasakan memang lebih nyaman memakai daster batik.
"Aku terlalu lebay ya Em?" tanya Luca.
"Itu wajar. Karena kamu akan menjadi ayah yang baik untuk kedua anak-anakmu, Luca sayang. Dan karena itulah aku semakin mencintaimu." Emi mencium kening suaminya.
"Terimakasih Emi, sudah memberikan dua anak kembar sesuai dengan doaku dan semuanya ikut kamu gen nya!" sungut Luca yang sebal kedua anaknya lebih mirip anak Jepang daripada Italia.
"Kamu sih, kebanyakan Julid sama Otousan" kekeh Emi. "Kata Oma Miki, jangan suka mbatin malah beneran kan mirip aku dan Otousan."
"Ish, kukira di jaman sudah canggih seperti ini, hal-hal irasional macam gitu sudah tidak berlaku tapi kok masih Yaaa?" Luca pun manyun.
Emi tersenyum lalu mencium bibir suaminya. "Tolong gendong Leia. Gantian dia yang harus mendapatkan ASI."
***
New York Enam Bulan Kemudian...
Sejak dua bulan lalu, Joey dan Georgina dipindah tugas kembali ke New York di rumah sakit Bellevue karena mereka kekurangan dokter bedah dan dokter gigi yang memutuskan pensiun karena usia.
Tampak Duncan dan Rhea beserta Abi dan Reana datang ke rumah sakit. Levi, Yanti dan Hoshi pun datang setelah pulang dari sekolah.
Kaia dan Rhett sedang berada di Dublin bersama dengan Kieran. Mereka bertiga akan datang ke New York secepatnya.
"Bagaimana Georgina, Joey?" tanya Rhea yang duduk di kamar rawat Georgina nanti di VIP Room.
"Sebentar lagi Oma. Aku ke ruang bersalin dulu ya!" ucap Joey yang mengantarkan semua anggota keluarganya untuk menunggu di kamar.
"Awas kalau bang Joey kasih nama aneh-aneh macam bang Luca!" sungut Hoshi.
"Namamu sendiri juga aneh lho Hosh" goda Duncan.
"Namaku itu keren lho Opa! Tidak ada yang menyamai" sahut Hoshi dengan wajah songong.
"Iiissshhh kamu benar-benar mirip kak Eiji kalau gitu" gelak Rhea gemas.
Satu jam kemudian, Georgina pun masuk ke dalam ruang rawat bersama dengan bayi perempuannya. Semua orang langsung jatuh cinta melihat bayi cantik itu.
"Setidaknya gen Irlandia tampak kuat disini daripada gen Italia, Korea dan Indonesia" kekeh Levi.
"Oom, aku tuh heran ya. Aku dan Luca kok jadi kalah gen ya sama istri kita masing-masing. Duo L saja makin kuat Jepangnya" gumam Joey.
"Mungkin karena elu dan Luca bucin berat sama istri masing-masing jadinya gen lu melemah?" ledek Abi sambil nyengir.
"Iisshh, lu kok benar sih Bi? Cocok!" gelak Joey.
"Joey, warna matanya kok tidak jelas ya? Antara abu-abu atau biru ini?" celetuk Rhea saat melihat bayi cantik itu melek.
"Kayaknya bakalan biru Oma" senyum Georgina.
"Namanya siapa?" tanya Yanti.
"Blaze Fianna O'Grady Bianchi."
Hoshi menepuk jidatnya. "Nama tengahnya Tante Davina diambil pulak! Apa kata dunia bang kalau anakmu bakalan jadi cewek panasan nanti?"
"Heeeeiii, sesuai kan dengan gue sama Gina. Hahahaha!" Joey tergelak.
"Alamat lu pusing bang!" cebik Hoshi.
"Kayaknya lebih pusing Opa Eiji ngadepin kamu deh!"
"Aku kan limited edition" balas Hoshi sarkasme.
Tak lama Mario dan Josephine Bianchi tiba dari Tokyo. Suasana di ruang rawat inap Georgina pun jadi ramai.
*** END Season 1 ***
Udah tamat ya Gaeesss
Kalau aku mood n fisik mendukung, season 2 aku lanjutkan tapi kalau nggak ya besok.
Leia dulu atau Blaze dulu?
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift cards
Tararengkyu ❤️🙂❤️
Bonus visual