
Harvard Medical School
Samuel baru saja menyelesaikan operasi sulit bersama dengan Joey Bianchi dan kini dia berada di cafetaria untuk makan. Perutnya terasa lapar akibat energi yang harus dia keluarkan.
Mata elangnya melihat Blaze sedang ribut dengan seorang temannya dan entah apa yang diributkan. Samuel tidak bisa mendengar apa yang diributkan karena posisinya meskipun di teras cafetaria, Blaze berada di taman rumah sakit.
Samuel tetap mengawasi Blaze karena dirinya tahu jika gadis itu sangat-sangat panasan. Benar-benar keturunan Mafioso Italia dan mafia Irlandia yang panasan.
Samuel melongo ketika melihat Blaze ditampar oleh teman prianya itu dan tanpa ragu gadis itu membalas memukul dan membantingnya serta menghajarnya hingga pingsan. Samuel berlari menghampiri Blaze yang trance dan langsung membopongnya seperti kantong kentang.
"Lepaskan aku Sammy! Lepaskan! Dia itu b@jing@n! Beraninya memukul aku!" teriak Blaze kalap.
"Bee! Bee! Dengar! Kamu sudah membuatnya pingsan! Apa kamu tidak lihat dia babak belur!" Samuel menurunkan Blaze dan memegang wajahnya. "Bee! Please! Calm down!"
Blaze melongo. "Kamu panggil aku apa?"
"Kamu disini dulu! Aku periksa korban samsakmu." Samuel menyuruh Blaze menunggu di kursi dibawah pohon willow. "Kamu duduk disini. Anteng!"
Blaze hanya menatap Samuel seperti terhipnotis.
Samuel dan beberapa mahasiswa disana langsung menghampiri pria yang terkapar itu dan mengenali bahwa korban Blaze adalah mahasiswa fakultas hukum yang dikenal playboy dan ringan tangan.
Samuel menghela nafas panjang. Kamu salah cari lawan bung!
"Ada apa ini?" Joey Bianchi dan beberapa dokter senior menghampiri kerumunan. "Kok nggak diobati? Harry? Luna? Sarah? Ayo bawa orang ini ke UGD ! Kalian kan calon dokter!"
"Biarin saja dokter Bianchi. Dia tadi menampar Blaze" ucap Luna salah satu teman Blaze.
"Apaa? Menampar Blaze?" Joey melihat putrinya duduk dibawah pohon willow. "Sam, kamu tadi..."
"Saya tadi menarik Miss Blaze, dokter Bianchi karena saya takut dia akan membunuhnya" jawab Samuel takut-takut.
"Sam, kamu urus Blaze, bawa ke ruangan aku! Harry, Luna, ambil brankar, obati orang ini! Aku minta rekaman CCTV taman ini dua puluh menit yang lalu! NOW!" perintah Joey.
***
Ruang Kerja Joey Bianchi
Samuel dengan telaten membersihkan wajah Blaze dengan kain lembut yang diberikan air hangat. Beraninya dia menampar Blaze ku!
"Ssshhhh... pelan-pelan Sammy!" ringis Blaze.
"Ini pelan-pelan Bee" ucap Samuel tanpa sadar.
"Kemana panggilanku Miss Blaze, Sammy?" tanya Blaze dengan tatapan tajam ke Samuel.
Tangan Samuel terhenti. "Maaf Miss Blaze. Saya tidak akan mengulangi..."
"Panggil 'Bee' saja Sammy! Bosan aku dipanggil Miss Blaze!" potong Blaze.
"Tapi..."
"Panggil Bee atau kamu aku hajar!" Blaze mencengkeram kerah baju Samuel. Tanpa sadar wajah mereka saling berdekatan. Nafas Samuel sedikit berantakan melihat wajah cantik yang hanya berjarak beberapa Senti.
"I...iya Bee" bisik Samuel dengan gugup dan pipinya memerah.
"Bagus!" ucap Blaze sedikit tercekik. Hah? Aku kenapa? Kok suaraku jadi begini?
Samuel membenarkan bajunya dan sedikit berdehem. "Aku berikan salep dulu di wajahmu biar tidak makin biru."
Pria itu membuka tas dokternya dan mengambil salep untuk mengurangi memar. Samuel lalu mendekati wajah Blaze guna memberikan salep. Sekali lagi wajah mereka saling berdekatan.
Mata biru Blaze menatap mata coklat Samuel yang tampak serius memberikan salep di pipinya. Dilihat dari dekat, si bebek ini cakep juga meskipun wajahnya ada bekas jerawat. Eh, ada jerawat di dekat hidung. Kata orang, tandanya lagi jatuh cinta. Tunggu! Bebek jatuh cinta sama siapa? Kepo aaaaaahhhh!
"Sammy..." panggil Blaze.
"Kamu sedang jatuh cinta ya?"
Samuel jatuh terduduk. Posisinya tadi memang dia berlutut disaat Blaze duduk di kursi tempat pasien Joey biasa berkonsultasi.
"Ke...kenapa...kamu bilang begitu?" Samuel tampak gugup dan memerah wajahnya.
"Tuh ada jerawat dekat hidung" tunjuk Blaze ke arah hidung Samuel yang membuat pria itu melihat arah jari gadis itu.
"Me... memangnya kenapa?" tanya Samuel.
Blaze lalu berjongkok di hadapan Samuel. "Kata Omaku, kalau ada jerawat di hidung, tandanya kamu sedang jatuh cinta." Blaze mendekati wajah Samuel. "Siapa gadis itu Sammy? Apakah aku mengenalnya? Perlu aku bantu jadi Mak comblang?"
Samuel tergagap. Gadis itu adalah kamu Blaze. Apa kamu tidak merasakannya?
"Blaze!" seru Joey saat membuka pintu ruang kerjanya. "Ya ampun! Kamu tuh! Apa kurang tadi sudah menghajar orang dan sekarang Samuel kamu hajar juga?"
"Haaaaahhh? No Daddy! Aku tidak menghajar bebek!" protes Blaze.
***
"Jadi si Billy menembak kamu tapi kamu tolak?" tanya Joey. "Dan dia menampar kamu?"
"Iya Daddy." Joey melihat wajah putrinya yang sudah diobati oleh Samuel.
"Bagaimana keadaannya Dokter Bianchi?" tanya Samuel.
"Parah! Putriku kalau sudah marah, memang mengerikan. Giginya tanggal dua, retak di rahang, dan memar dimana-mana" kekeh Joey.
"Tapi apakah Miss Blaze nanti akan dituntut? Mengingat dia anak senator?" Samuel menatap cemas ke Blaze.
"Just relaks, Samuel. Ayah Billy itu anak buah Patrick Rogers dan sudah pasti dia tidak berani macam-macam karena bisa ditendang oleh Patrick" kekeh Joey.
Patrick Rogers adalah suami Faranisa Al Jordan yang merupakan sepupu Joey. Mengikuti jejak ayahnya, Patrick menjadi senator di New York meskipun perusahaan gamenya masih berjalan bahkan semakin besar setelah Benjiro Smith dan Geun-moon istrinya menanamkan saham di perusahaannya.
"Tapi dia berani menampar Miss Blaze..." Samuel masih menatap wajah gadis cantik itu.
"Samuel, dengar. Dia lebih parah dari Blaze. Untung kamu tadi langsung menarik Blaze, kalau tidak, koma dia" sahut Joey santai.
***
Billy akhirnya diproses kepolisian karena melakukan penganiyaan kepada Blaze Bianchi dan gadis itu tidak dihukum karena melakukan pembelaan diri berdasarkan dari hasil rekaman CCTV.
Steven Hamilton yang menjadi pengacara keponakannya hanya tersenyum smirk melihat Blaze langsung beserk menghajar Billy tanpa ampun.
Pengacara Billy pun meminta jalan damai namun Steven menolaknya atas nama Blaze dan Joey Bianchi.
"Ini sebagai pelajaran bagimu Billy. Tidak semua wanita bisa kamu jadikan samsak dan sekarang kamu merasakannya. Lagipula, apa kamu lupa siapa yang kamu gampar, hah? Kamu merasa bahwa ayahmu salah satu senator di New York tapi apa kamu lupa siapa boss ayahmu? Patrick Rogers adalah paman Blaze Bianchi dan Blaze adalah putri Dokter Joey Bianchi yang mengoperasi kakekmu! So, saya harap sejak saat ini, kamu menjadi pribadi yang lebih baik." Steven menatap dingin pria yang masih saja bersikap songong.
Pria perlente itu pun berdiri. "Ohya, yang menuntut kamu tidak hanya keponakan aku saja, tapi juga para mantan pacarmu yang kamu hajar selama menjalani hubungan bersamamu." Steven tersenyum sinis dan meninggalkan ruang pertemuan di tahanan.
Wajah Billy pun memucat karena terbayang hukuman yang akan dihadapinya.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
Maaf, Blaze dulu baru Zee