
Mansion Bianchi Turin Italia
Acara makan malam keluarga Bianchi sedikit terusik ketika Dante Mancini datang menemui mereka. Tentu saja Leia menatap sengit ke pria yang seolah tidak tahu malu itu. Sulung Luca Bianchi itu menemui Dante bersama dengan Raveena yang penasaran dengan pria yang mengejar kakak sepupunya.
Dante terkejut ketika melihat ada seorang wanita asing yang usianya dibawah Leia, membuatnya bertanya-tanya.
"Ciao. Posso sapere chi sei? ( Hi. Apakah aku boleh tahu kamu siapa )" tanya Dante.
"Scusate. Il mio italiano è un disastro ( Maaf, bahasa Italiaku berantakan ). English?" jawab gadis berambut pirang kecoklatan itu. "Aku Raveena Dewanata by the way, sepupunya duo L Bianchi."
Dante mengulurkan tangannya yang disambut Raveena. "Dante Mancini."
"Akhirnya aku melihat secara langsung pria yang dihajar sepupuku" kerling Raveena sambil menyeringai.
"Seriously? Itu yang kamu tahu?" Dante melirik ke arah Leia yang melengos.
"Well, itu yang paling berkesan? Ngomong-ngomong, bagaimana permata mu?" goda Raveena membuat Dante melongo.
"Apakah kamu sedang berusaha menggodaku, Signora Dewanata atau Signora Blair?" Dante menatap tajam ke Raveena. "Karena bagi aku, godaanmu tidak berhasil!"
"Bagaimana kamu tahu kalau aku masih ada keturunan Blair?"
"Nama belakang Dewanata adalah nama antik dan bagi kami para pebisnis, kami tahu kalau Pandu Dewanata adalah menantu Kaia Blair."
"Nice, Inferno. Ternyata ada yang mengenali nama belakang aku lainnya tapi asal kamu tahu, nama Blair sudah tidak disematkan di akta kelahiran aku. Hanya Bayu yang masih memiliki nama Blair."
"Tapi darah Blair mu masih tampak jelas!" ucap Dante. "Dan jangan mencoba menggodaku, Signora Raveena Blair."
Raveena bertepuk tangan. "Wow! Apakah kamu sudah tobat jadi player? Aku dengar hampir di setiap apartemen mewah di Turin atau pun Milan atau Roma, pasti ada kekasihmu. Apakah sudah kau tinggalkan mereka? Why, Dante? Sayang bukan?"
Leia hanya tersenyum tipis melihat akting sepupunya.
"Karena aku sudah memiliki wanita yang akan menjadi pendampingku kelak! Bukankah ada pepatah, jika kamu ingin mendapatkan wanita baik-baik, perbaiki perilaku dan akhlakmu. Benar bukan?" Dante menoleh ke arah Leia yang seolah-olah tidak peduli dengan pria tinggi itu.
"Bravo! Apakah kamu sudah menemukan wanita itu, Dante Inferno Mancini?" Raveena mendekati Dante tidak perduli dia kalah tinggi dengan pemimpin klan Mancini.
"What are you doing, Signora Blair?" Dante mundur dua langkah saat didekati Raveena dengan gaya menggoda.
"Menggoda imanmu dan ternyata kamu tidak bergeming, Signor Mancini. Kalau boleh tahu, siapa wanita itu?"
"Sepupumu, Leia Skywalker Takara Bianchi."
Raveena menoleh ke arah Leia. "Wow, dia hapal nama panjangmu, sis."
"Aku hapal nama lengkap Leia. Aku juga hapal ukuran sepatunya, nomor ponselnya, ukuran baju dan celananya..."
"Wah mantan Casanova itu begini ya? Ckckck. Pantas pacar..."
"Mantan" potong Dante.
"Mantan pacarnya banyak" tekan Raveena. "Seriously mbak, dia memang teguh perasaannya sama kamu. Buktinya dia tidak bergeming saat aku goda."
"Aku adalah penyihir Signor Mancini. So, apakah kita akan bekerja sama untuk membunuh Harland Rochester?" Wajah Raveena berubah menjadi serius dan dingin sangat berbeda dengan sebelumnya.
Dante terkesima bagaimana dengan cepat bagaimana Raveena bisa berubah raut wajah bagaikan seorang aktris? "Tunggu dulu. Apakah kamu seorang aktris?"
"Oh bukan. Aku hanya seorang penyihir."
"Inferno! Kita makan malam sekarang!" Luca mendatangi ketiga orang itu dengan wajah dan nada dingin.
***
"Wajah Luke dan Raveena tidak terlalu dikenal di Turin, berbeda dengan Antonio, Leia dan Alexis. Jadi kami akan menyusup mereka berdua." Luca menatap Dante.
"Oom, the power of make up itu bisa banget merubah mbak Leia jadi tua, bang Tomat jadi tomat..." Raveena langsung diam melihat tatapan judes dari Antonio dan Leia.
"Oom tahu kamu bisa merubah kita semua dengan kemampuan kamu memakai make up tapi mereka bukan tipe orang yang bisa berakting, Veena. Jadi saat kamu masuk besok, kamu akan diajarkan bahasa Italia melalui earpiece."
"Sebenarnya Signora Raveena mau kemana, Signor Bianchi?" tanya Dante.
"Masuk ke kamar yang akan menjadi kamar Harland Rochester."
Dante menatap Leia. "Bukankah itu berbahaya, Leia?"
"Kamu tidak tahu sepupuku" jawab Leia sambil tersenyum manis.
***
Keesokan paginya paket yang dikirimkan oleh Jang Geun-moon pun tiba dengan dikirim khusus. Omar Zidane bersama timnya pun datang ke mansion Bianchi karena hendak mengawal Raveena dan Maggie yang akan maju.
"Maggie, kamu dan Raveena nanti masuk ke kamar Harland yang ini. Aku dan Oom Benji sudah mensetting kartu hotel milik Harland nanti hanya di kamar itu." Leia menatap dua wanita dengan wajah pede itu.
"Penyadap buatan Tante Moon ini bisa diletakkan di berbagai tempat tanpa bisa terlihat karena kecanggihan teknologi yang dibuat bisa menyaru warna dimana alat itu ditempelkan, macam seekor bunglon" ucap Luke sambil mensetting banyak alat penyadap kecil-kecil.
"Alat ini belum masuk ke FBI" celetuk Billy.
"Karena memang baru kami yang mencobanya" seringai Luke.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Lanjut besok. Maaf hari ini tersendat karena banyak kerjaan di dunia nyata
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️