
Harvard Medical School
"SAAMMMYYY!" jerit Blaze kesal karena asisten Daddynya tidak datang-datang padahal tadi janji akan menemani dirinya menuju rumah jompo untuk melakukan kunjungan. Blaze sendiri memilih mengambil spesialis penyakit dalam bukan bedah seperti Joey atau gigi seperti Georgina.
"Aaaaaahhhh si bebek kemana siiiihhhh!" sungut Blaze sembari menghentak - hentakan sepatu bootnya. Gadis bertinggi 175 cm itu tampak kesal karena sejak acara pesta Tamara, Joey semakin ketat mengawal dirinya. Bahkan untuk kunjungan ke panti jompo yang dibangun oleh Omanya Rhea pun harus dikawal.
Hari Sabtu pagi ini memang sudah rutin jika tidak ada acara di rumah sakit, Blaze selalu mengunjungi panti-panti jompo. Dan hari ini adalah giliran panti jompo yang dibangun Oma Rhea, Oma Agatha dan Oma Valora. Ketiga Oma yang sudah tiada itu memang membuat sebuah panti jompo yang ekslusif tapi biaya masuk disana tidak semahal yang dikira.
Dan kini Blaze harus menunggu Samuel yang sedang membantu Daddynya melakukan tindakan operasi mendadak, membuat gadis itu harus menunggu di parkiran.
Sabar Neng ...
"Iiissshhh lama banget!" sungut Blaze yang kemudian membuka bagasi Range Rover nya untuk memeriksa stok obat-obatan dan semua perlengkapan pemeriksaan.
"Miss Blaze!" panggil Samuel dengan nafas terengah. "Maaf, lama."
"Lama Bebek!" Blaze menutup bagasinya. "Yuk berangkat, sudah siang!"
"Saya yang nyetir, Miss."
"Iyalah! Masa aku!" jawab Blaze judes yang langsung melemparkan kunci mobilnya ke Samuel yang dengan sigap menangkapnya.
Keduanya menuju pinggiran kota New York dan tiba di sebuah bangunan dan halaman yang luas.
Samuel memarkirkan mobil milik Blaze dan kemudian membantu gadis itu membawa semua peralatan dan perlengkapan.
Blaze pun masuk ke dalam rumah jompo itu dan menyapa dengan ramai seperti biasa.
"Haloooo para Opa dan Omaaa" teriaknya heboh.
"Blaze! Cucu Oma! Mana Oma Josephine kamu?" sapa salah satu Oma disana.
Blaze memeluk para Oma dan Opa disana dengan hangat.
"Oma Jo kan di Tokyo, Oma Anna. Tidak mungkin aku bawa kemari" senyum Blaze. Josephine memang pernah ikut kemari bersama Blaze saat mengunjungi New York.
"Kamu sama siapa kemari?" tanya salah seorang Opa.
"Apa sama pria tampan itu?" goda Oma Anna.
"Iya sama..."
"Selamat siang semuanya" sapa Samuel ramah.
"Sammy! Oma kangen lho!" ucap salah satu Oma sambil memeluk Samuel. "Coba Oma lima puluh tahun lebih muda, sudah aku ajak ke catatan sipil."
Samuel hanya tersenyum kikuk dengan wajah memerah.
Nah lho digombali Oma-oma lu Sam
"Ya mungkin Oma malah cari yang lebih ganteng dan lebih kaya dari saya" jawab Samuel sambil meletakkan kotak-kotak berisikan alat medis.
Blaze menatap Samuel judes. Ini anak susah ya ngomong rada Alus sedikit!
Samuel menatap balik Blaze yang memberikan wajah judes seperti biasa dan merasa bingung. Salah apa lagi aku?
***
Menjelang sore Blaze dan Samuel menyelesaikan pekerjaannya memeriksa semua Oma dan Opa disana. Dan seperti biasa keduanya dibawakan banyak cookies dan brownies buatan para Oma.
"Kan rejeki Miss" sahut Samuel yang sedang menyetir.
"Tidak mungkin aku habiskan semuanya, Sammy! Bisa gendut badanku!"
Samuel melirik ke arah gadis cantik yang memiliki level jutek tingkat tinggi.
"Menurut saya malah anda terlalu kurus" celetuk Samuel. "Agak berisi dikit lebih bagus."
Mata biru Blaze menatap judes ke Samuel. "Jadi kamu kira aku tuh nggak bagus badannya? Ceking gitu?"
"Saya kan tidak bilang ceking tapi kalau berisi dikit lebih bagus."
Blaze mendekati Samuel. "Memang cewek tipe kamu macam apa?"
Macam kamu, Miss Blaze.
"Yang tidak jutek, manut sama orang tua dan nggak tukang marah-marah."
Blaze melongo. "BEBEK NYEBELIIIN!"
"Lho kok nyebelin? Anda kan yang tanya, saya jawab. Jadi anda tidak masuk kriteria saya." Karena kalau aku bilang aku suka kamu, yang ada aku habis ditertawakan dan aku tidak mau itu.
"Kamu itu! Iiissshhh kok bisa sih orang menyebalkan macam kamu dipilih Daddy jadi asistennya sih!" Blaze pun bersedekap sambil manyun.
"Kan saya hanya mengikuti permintaan Dokter Bianchi."
Blaze memicingkan matanya ke Samuel. "Kamu dibayar berapa oleh Daddyku?"
"Memangnya kenapa, Miss Blaze?"
"Aku bosan! Dan ingin clubbing tapi kamu jangan bilang ke Daddy! Sekarang kamu jawab, kamu dibayar berapa?"
"Memangnya kalau saya bilang, Miss Blaze mau apa?"
"Aku akan bayar kamu dua kali lipat asal tidak laporan!" Mata biru Blaze menatap wajah tampan khas Indonesia di sebelahnya. "Mau ya Sammy."
Samuel menghela nafas panjang. "Maaf, miss Blaze. Saya masih sayang dengan studi saya yang sebentar lagi selesai, dan lagipula saya tidak mau dilempar ke kolam piranha."
Blaze melongo. "Kamu tahu soal kolam piranha?"
"Saya tahu Miss, sebab saya pernah mendengar Dokter Bianchi mengobrol bersama tuan Luke waktu mereka bertemu di rumah sakit dan saya tidak sengaja mendengarnya."
Blaze menepuk jidatnya. "Memangnya Daddy tega melempar kamu ke kolam piranha?"
"Bisa jadi Miss karena saya tidak berusaha melindungi anda."
Blaze menoleh ke arah Samuel. "Sammy, Bebek, dengar ya. Aku tuh sudah besar! Sudah dewasa! Bukan macam anak bayi yang harus kamu lindungi karena aku bisa melindungi diri aku sendiri!"
"Saya tahu itu Miss apalagi dari fisik sudah tampak anda itu sudah dewasa tapi perilaku anda yang menunjukkan masih labil macam ABG dan terkadang tidak berpikir panjang dalam melakukan tindakan. Saya tidak bilang kalau soal di dunia kedokteran, saya akui Miss profesional tapi tidak di kehidupan pribadi. Anda cenderung impulsif dan tidak memikirkan bagaimana perasaan kedua orangtua anda yang kebetulan adalah dua dokter terkenal. Anda itu apa tidak sadar ada banyak paparazi disana dan apa kata pasien kedua orang tua anda jika tahu anak dokter Bianchi membuat ulah? Saya hanya menjaga kredibilitas kedua orang tua anda Miss Blaze. Kecuali jika anda tidak mau memakai nama Bianchi di belakang, terserah anda saja, mau jungkir balik, koprol, kayang sekalipun, saya tidak perduli. Lagipula, apa sih manfaatnya clubbing atau kehidupan hingar bingar macam itu yang merupakan kesenangan semu. Bagi saya, itu malah banyak mudaratnya dan jika saya punya anak nanti baik perempuan atau laki-laki, tetap akan saya larang kesana. Dan jika mereka ingin tahu, harus pergi bersama saya. Kalau sudah tahu, pilihan di tangan mereka tapi mereka harus tahu konsekuensinya." Samuel berkata panjang lebar untuk membuka mata Blaze bahwa dirinya cukup lelah menghadapi sikap manja gadis itu meskipun dia sangat mencintainya.
"Tapi semua berpulang pada Miss Blaze. Entah penjelasan saya ini diterima atau tidak, terserah anda. Saya itu eman Miss Blaze, yang masih untung paling banter mabok karena minum bukan sa*kaw karena drugs." Samuel menoleh ke arah gadis cantik yang masih menatapnya.
"Saya takut ada orang jahat yang membuat Miss Blaze terjerumus ke obat-obatan karena sekali kamu jadi pecandu, akan sulit berhenti."
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️