
Mansion Al Jordan
Luca membawa Emi menuju halaman belakang mansion sambil cemberut karena daddynya membongkar rahasia tidak ada orang yang dikorbankan di kolam piranha nya.
"Aku rasa, Daddy mu tidak sesadis Otousan ku deh" senyum Emi.
"Kamu belum tahu saja" balas Luca sambil manyun.
"Aku lihat sebentar lalu aku ke dapur ya bantu Oma Miki" ucap Emi.
"Oke." Keduanya berjalan ke sebuah kolam di pojok dengan pagar di sekelilingnya. "Ini dia kolamnya."
"Dipagari listrik ya?" tanya Emi.
"Iyalah, jaga-jaga."
"Tapi lumayan lho buat buang mayat tuh" kekeh Emi yang melihat kolamnya cukup luas.
"Astaga! Aku lupa kamu putri Yakuza." Luca menepuk jidatnya.
"Sudah, sekarang aku mau ke dapur. Penasaran cara masak nasi liwet." Emi pun berjalan menuju mansion kembali.
***
Rumah Sakit Tokyo University
Semua anggota kepolisian mencari jejak pasien bernama Ayumi Yamada bahkan suaminya Genta Yamada sudah datang setelah sebelumnya dirinya harus kembali ke kantor mengambil berkas.
"Ini kan hari Sabtu, kenapa anda harus kembali ke kantor? Kenapa tidak besok Senin?" tanya detektif Sanada, anak buah Kapten Hideaki Yamamoto.
"Tadi saya mendapatkan telepon dari manager saya dan meminta saya untuk ke kantor ambil berkas. Karena saya menggunakan scooter, jarak dari rumah sakit ke kantor hanya membutuhkan waktu lima belas menit dan pulang pergi sekitar 30 menit. Perkiraan saya seperti itu."
"Lalu?" Detektif Sanada mencatat di notesnya sedangkan Joey menyimak wawancara keduanya.
"Ternyata sampai sana, berkas yang saya cari tidak ada. Hampir sekitar 10-15 menit saya mencari-cari tapi tidak ada, akhirnya saya kembali menelpon manager saya dan ternyata berkasnya ada di dia."
Detektif Sanada dan Joey terkejut mendengar penuturan Genta Yamada.
Ada yang tidak beres.
"Detektif Sanada, apa MO si Waka-waka seperti itu? Membuat suaminya pergi?" tanya Joey.
"Maksudmu Kawaguchi, Bianchi?"
"Ish! Jangan di depan suami korban dong! Aku kan ganti biar tidak buat panik!" omel Joey kesal. Payah nih detektif! Begok gak ketulungan!
"Eh maksudnya apa ya pak detektif?" tanya Genta yang tampaknya masih Lola alias loading lama.
"Tidak apa-apa. Kalau begitu pak Yamada disini dulu, saya cek ulang CCTV." Detektif Sanada memberikan kode kepada seorang petugas polisi untuk menemani Genta Yamada lalu dia berjalan diikuti oleh Joey.
"Ngapain kamu ikutin aku, Bianchi?"
"Penasaran. Detektif, tadi anda belum menjawab pertanyaan saya. Apakah MO ( modus operandi ) si Waka-waka seperti itu?" Joey menoleh ke arah detektif yang usianya di atas dirinya tapi tingginya hanya sebatas leher Joey.
"Tidak. Kawaguchi itu selalu datang ke rumah korban dan tidak pernah ke rumah sakit."
"Termasuk korban terakhir?"
"Korban terakhir diculik di apartemennya."
Joey tampak berpikir. Biasanya pembunuhan berantai itu sistematis, terstruktur dan jarang berubah cara melaksanakan aksinya. Jangan heran kalau Joey suka cerita detektif karena dia paling suka kalau lebaran kumpul dengan opa Ghani dan Opa Raymond. Banyak cerita kriminal dan kasus-kasus yang berhasil dipecahkan oleh kedua opanya yang dulu bertugas di NYPD.
"Aku rasa ini bukan ulah si Waka-waka deh!" gumam Joey.
"Bianchi, yang detektif itu aku atau kamu?" nada suara detektif Sanada terdengar tidak suka.
"Sekarang kita nalar ya Detektif Sanada, korban hanya di ruang periksa 5-10 menit dan ini rumah sakit yang di setiap sudut ada flyer si Kawaguchi. Satpam pun pasti waspada dong!"
Detektif Sanada menatap judes ke pria tampan itu. "Kita lihat di CCTV!"
***
Ruang Kontrol CCTV rumah sakit Tokyo University
"Dokter Mako, ini anda dan nyonya Yamada?" tanya Detektif Sanada.
"Iya betul. Itu saya dan nyonya Yamada" jawab Mako tegas.
"Oke ini anda berdua masuk ke dalam ruang periksa... Dan lima menit kemudian anda keluar... Tunggu dulu! Itu siapa?" seru detektif Sanada yang melihat seorang pria berpakaian santai dengan menggunakan topi yang menutupi sebagian wajahnya.
"Itu bukan Waka-waka!" ucap Joey.
"Bagaimana kamu tahu?" detektif Sanada menoleh ke arah Joey.
"Rahangnya berbeda dan tinggi juga. Kawaguchi memiliki tinggi 172cm cukup pendek untuk ukuran pria sedangkan pria ini tingginya 180cm. Hei, aku dokter yang tukang pengamat detail jadi aku bisa bilang demikian."
"Mereka keluar!" seru Mako.
Semua orang di dalam ruang kontrol CCTV melihat bagaimana Ayumi dan pria asing itu saling bergandengan tangan. Wajah Ayumi tampak bahagia dan tersenyum kepada pria asing yang juga tersenyum padanya.
"Pause!" perintah Joey. "Bisa minta tolong diprint yang ini?" Joey menunjukkan gambar yang terlihat wajah pria itu dengan sedikit jelas.
Pegawai operator itu pun mengangguk dan segera memprintnya.
"Apa maksudmu Bianchi?" tanya Detektif Sanada.
"Cinta segitiga. Lihat? Bagaimana cara Ayumi memandang pria itu? Penuh cinta!"
"Bagaimana kamu tahu, Joey? Kan kamu belum pernah pacaran?" tanya Mako skeptis yang tahu Joey memang berteman dengan siapa saja, yang naksir banyak tapi pria itu tetap santai dan sesumbar pacarnya masih disimpan Tuhan di belahan dunia lain.
"Mako, aku keturunan Italia, dan pria Italia itu paham soal Amore. Mata Ayumi itu seperti mata Omaku saat memandang Opaku, begitu juga dengan mommyku dan Daddyku" senyum Joey. "Coba anda tunjukkan gambar ini ke Genta Yamada, taruhan dua kotak bento kalau ini adalah manajer yang menelpon Genta untuk pergi ke kantor di hari Sabtu ini supaya dia bisa membawa kabur Ayumi."
Detektif Sanada dan Mako hanya melongo.
Kenapa si pembuat ulah ini tetiba menjadi Hajime Kindaichi dadakan sih? batin Mako.
***
Mansion Al Jordan
Emi sangat menikmati acara memasak bersama dengan tiga wanita kesayangan Luca. Miki tampak telaten mengajari dirinya membuat nasi liwet sedangkan Josephine dan Marissa tampak antusias bertanya tentang kehidupan Yakuza dan apa saja yang dilakukan Luca selama berkencan dengan Emi sembari membuat lauk dan atribut lainnya.
Sejak sang okāsan meninggal hampir empat tahun lalu, Emi merasa rindu dengan hadirnya seorang ibu dan disini di dapur yang luas dan mewah, gadis itu merasakan bagaimana para wanita Al Jordan itu memberlakukan dirinya seperti putrinya sendiri.
Menjelang makan siang, nasi liwet buatan para wanita di mansion sudah siap dan Emi beserta Marissa membawakan ke meja makan. Jika Sabtu Minggu, semua pelayan memang diliburkan oleh mereka.
"Emi, kamu panggil Luca deh! Kayaknya tuh anak lagi nyiram tanaman soalnya giliran dia yang urus kebun."
"Baik Tante. Tak apa Emi tinggal?" Emi menatap Marissa meyakinkan bahwa tak apa ditinggal.
"Santai saja, toh cuma tinggal lauk saja."
"Baik, Tante. Emi panggil Luca." Emi pun berjalan menuju halaman belakang yang terdengar suara air disemprot.
"Luca ... Ayo kita ma..." suara Emi menghilang ketika melihat Luca yang tidak ada akhlak hanya mengenakan celana jeans asyik menyiram tanaman.
"Kita apa Em?" tanya Luca sambil berbalik.
Ya ampun Tuhan ku! Benar - benar bikin ngiler! Seketika lidah Emi terasa Kelu.
Bang, pakai baju nape?
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️