The Bianchis

The Bianchis
Leia Bianchi : Shine!



Mansion Bianchi Turin Italia


Pagi ini Leia hanya bisa menatap kesal ke sepupu dan asistennya yang masih memakai sarung atas saran Luke. Bagaimana tidak, mereka berdua berjalan macam putri solo yang memakai jarik ketat.


"Jalan cepat dikit kenapa sih Tomat?" sungut Leia sebal yang harus menunggu sepupunya sarapan lebih lama dari biasanya.


"Masih nggak enak Lele!" balas Antonio sebal.


"Terus kamu nggak ngajar?" tanya Leia setelah Antonio duduk di hadapannya.


"Ngajar lah tapi pakai kursi roda."


Leia menepuk jidatnya.


***


Berhubung Antonio dan Alexis sama-sama sedang mendrama setelah sunat, Leia lah yang maju untuk mengadakan pertemuan dengan para pegawai pabrik anggur Bianchi untuk membicarakan high demand di bulan Februari, saat Valentine's Day.


Para pekerja tampak bersyukur bahwa pengincar lahan pendapatan mereka sudah tidak ada lagi. Leia pun menjamin bahwa pengganggu macam Harland Rochester, tidak akan bisa selamat jika masih nekad.


Usai melakukan meeting rutin, Leia ditemani oleh dua pengawalnya, Juan dan Vernon, memeriksa seluruh kebun anggur milik keluarga Bianchi. Leia pun mendapatkan banyak masukan dari para pekerja di lapangan.


Menjelang sore, ketiganya pun memutuskan untuk kembali ke mansion tapi di tengah jalan, Dante menelponnya.


"Apa Dante?"


"Kamu dimana sayang?"


"Perjalanan pulang. Kenapa?"


"Bisa mampir ke rumahku? Aku ingin makan malam bersama mu."


"Dengar Inferno, aku bersama..."


"Juan dan Vernon. Aku tahu. Kamu diantar oleh mereka, biar nanti pulang, Sergio yang mengantarmu. Please?"


Leia mendengus pelan. Tambah lagi pria sok manja.


"Baiklah. Aku akan bilang pada Juan untuk mengantarkan aku ke rumahmu."


"Terima kasih Amore Mio. Ti Amo."


"Aishiteru. Sayonara" balas Leia yang kemudian mematikan panggilan Dante. "Juan, tolong aku diantarkan ke rumah keluarga Mancini."


"Sì Signora."


***


Mansion Mancini


"Hah? Apaan itu?" Dante mengerenyitkan dahinya. "Apakah itu bahasa Jepang?" Pria yang masih terdampar di tempat tidur kamarnya yang besar itu lalu membuka MacBook nya yang terletak di sebelahnya dan mulai mencari bahasa Jepang.


"Aishiteru... Oh, artinya Ti Amo ( I love you )... Sayonara... Byebye. Wah, sepertinya aku harus mempelajari bahasa Jepang karena Leia kalau marah-marah sering campur aduk bahasanya."


Dante mulai mengingat - ingat perkataan Leia saat mereka berciuman... tepatnya dia yang mencium paksa Leia.


"Shine ( baca : si né )? Mati kau? Astagaaa! Leiiiaaaa!"


***


"Haaaattssyyiinnggg!" Leia mengusap hidungnya yang tiba-tiba gatal. Siapa yang ngumpat aku? Leia menatap ke arah depan dimana Juan dan Vernon memperhatikan dirinya.


"Anda baik-baik saja Signora Bianchi?" tanya Juan yang sedang menyetir Range Rover milik Antonio.


"Iya, aku tidak flu yang jelas Juan. Tiba-tiba saja hidungku gatal."


"Ada obat flu di kotak obat kalau anda berkenan, Signora" tawar Vernon.


"No, thank you Vernon. I'm fine." Leia tersenyum manis. "Sudah, aku diantarkan saja."


***


Satu jam kemudian mobil bewarna biru tua itu tiba di mansion milik keluarga Mancini dan penjaga rumah yang mengenali keluarga Bianchi, mengijinkan masuk.


Leia turun dari mobil setelah berhenti di depan pintu utama dan Sergio sudah siap disana.


"Kalian pulang saja. Terimakasih" ucap Leia kepada kedua pengawalnya.


"Apa anda nanti kami jemput?" tanya Vernon.


"Tidak perlu Vernon. Aku yang akan mengantarkan Signora ke mansion Bianchi." Sergio menatap pengawal Leia itu serius.


"Jangan sampai lecet, Sergio. Kamu tahu kan bagaimana Signor Luke dan Signor Luca?" kekeh Juan.


"Bukan hanya mereka saja, tapi tuanku bisa membuat aku kehilangan nyawa" balas Sergio sambil tersenyum.


Juan dan Vernon meninggalkan kediaman keluarga Mancini dan Leia pun masuk ke dalam mansion yang mewah itu dengan ciri khas Italia disana.


"Dimana Inferno?" tanya Leia tanpa basa basi yang membuat Sergio tersenyum tipis karena hanya Leia yang berani melawan Dante.


Leia menatap Sergio tajam. "Are you kidding me? Masuk ke dalam kamar Inferno?"


"Sepertinya Signor Mancini masih tidak nyaman Signora. Jadi seharian di kamar terus."


Leia mende*sah kasar. Nggak di mansion Bianchi, nggak disini sama saja. Sepertinya mereka lebih baik untuk saling adu tembak daripada kena sunat!


"Untung sunatnya cuma sekali, kalau tidak... Kasus deh!" sungut Leia kesal.


"Saya antar ke kamar Signor Mancini, Signora." Sergio berjalan di depan Leia menuju kamar utama yang merupakan kamar Dante.


Sergio mengetuk pintu kamar Dante lalu membukanya. Asisten Dante itu lalu mempersilahkan Leia masuk ke dalam kamar mewah itu. Tampak Dante bersandar di tempat tidurnya dan pria itu tersenyum melihat tunangannya.



"Kenapa kamu pakai celana sih?" tanya Leia.


"Ini celana longgar, Leia. Bagaimana dengan Antonio dan Alexis?"


"Masih memakai sarung. Apa kamu tidak punya sarung? Tapi tadi Antonio memilih memakai kursi roda ke kampus dengan alasan kakinya digips. Kamu tahu, si Tomat benar-benar memasang gips bohongan!" sungut Leia gemas.


Dante tersenyum karena ini kali pertama Leia bercerita panjang lebar sebab biasanya hanya beberapa kata atau kadang hanya satu kalimat.


"Duduk sini Leia. Makan malam akan diantar kemari." Dante meminta agar Leia naik ke tempat tidur nya dengan menepuk sisinya yang kosong.


"No Dante, aku memilih disini" jawab Leia sambil menarik sebuah kursi dan duduk disana, bersebelahan dengan tempat tidur Dante.


Tak lama para pelayan datang dengan Sergio membawakan troli berisikan banyak makanan dan Leia terkejut melihat ada makanan Jepang disana.


"Kamu rindu Jepang kan, Leia?" Dante menatap lembut ke arah gadisnya.


"Iya. Terimakasih Dante."


"Sama-sama sayang."


Setelah para pelayan menyiapkan semuanya, mereka dan Sergio mengundurkan diri meninggalkan keduanya.


Leia mengambilkan makanan untuk Dante dan hati pria itu terasa menghangat karena gadis itu dengan sukarela melayaninya mengambilkan makanan untuknya.


"Kenapa Dante?" tanya Leia saat memberikan piring berisikan makanan untuk pria itu.


"Apakah besok kalau kita sudah menikah, kamu akan seperti ini?" tanya Dante lembut.


"Seperti ini bagaimana maksudnya?" tanya gadis itu bingung.


"Mengambilkan makanan untukku..."


Leia tersenyum. "Tentu saja. Sudah menjadi kebiasaan di keluarga aku. Okāsan ku selalu mengambilkan untuk Daddyku begitu juga dengan ketiga omaku."


"Leia..."


"Apa Inferno?" Leia mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


"Terimakasih."


Leia menoleh dengan tatapan bertanya. "Terimakasih untuk apa?"


"Mau menerima aku. Kamu tahu sendiri kan aku bagaimana sebelumnya."


"Meskipun aku belum mencintai kamu sepenuh hati seperti dirimu padaku, aku merasa setelah kamu berubah, kamu menjadi lebih menarik."


Dante melongo. "Jadi menurut kamu aku tidak menarik?"


"Fisik? B saja karena sepupuku yang tampan banyak!"


Dante cemberut. "Ohya, apa kamu ingat saat pertama kali aku menciummu?"


"Di gudang anggur? Kenapa?"


"Kamu memakiku dengan bahasa Jepang kan? Shine?"


Leia tersenyum kikuk. "Kenapa memang?"


"Kamu mendoakan aku mati, Leia?" Dante menatap tajam ke gadisnya yang hanya nyengir.


"Kok tahu sih artinya?" sungut Leia manyun.


"Leiiiaaaa!"


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️