
Mansion Bianchi Turin Italia
Raveena menatap pria di layar MacBook nya dengan memberikan jempol dua. Gadis itu tampak bahagia rencana pria tampan bermata biru itu berhasil berkat bantuan wanita cantik yang berada layar satunya.
"Awesome! Jadi gimana ceritanya bisa kirim roket kesana tanpa tahu dari hulu ledak mana?" Raveena tampak heboh.
"Jangan remehkan alumni MIT ya Veena. Salah siapa nyenggol!" gelak pria tampan bermata biru itu dengan wajah durjana.
"Lumayan lah Veena, tidak perlu menghancurkan bangunan kosong, cukup bangunan unfaedah!" senyum wanita cantik berambut hitam itu. "Oh, berterima kasih lah pada Oom Ezra Hamilton dan Oom Abiyasa O'Grady yang berhasil melobi banyak pemimpin negara untuk membantu perang narkoba ini."
"Apalagi presiden Amerika Serikat yang baru dilantik juga gemas ingin membersihkan semua jajaran instansinya yang disusupi oleh jaringan narkoba milik Harland" sambung pria tampan itu.
"So, roket itu dari hulu ledak mana?"
"Kamu tidak akan percaya kalau kami bilang" senyum wanita cantik itu.
"Mana?" Raveena sangat penasaran.
"Pemerintah Mexico sendiri tapi karena menggunakan teknologi microbot ciptaan Tante, hilang tak tersisa jika diperiksa forensik."
"You're so awesome Tante Moon. Bayu juga!"
"They messed up with the wrong family" seringai Bayu O'Grady.
Dasar cicitnya Abi dan Edward, cucunya Duncan dan Kaia, anaknya Abiyasa
***
Kamar Luke Bianchi
"Kamu baru mau pulang Yankee?" tanya Luke melalui panggilan video ke Rin Ichigo yang sedang membereskan mejanya.
"Kenapa memang Yakuza freezer?"
"Ini sudah jam enam sore di Tokyo!"
"Terus kenapa? Apa kamu lupa kalau aku mantan Yankee. Aku bisa Kendo, Yakuza! Lagipula, baton mu selalu aku bawa di dalam tasku" balas Rin judes. Entah kenapa Yakuza satu ini sekarang jadi aneh!
Wajah Luke tersenyum puas mendengar baton darinya tetap dibawa Rin kemanapun.
"Kamu kebanyakan makan pasta ya Luke? Otakmu jadi kebanyakan keju!"
"Apa maksudmu, Yankee?"
"Kamu jadi aneh!" Rin duduk di kursinya sambil menatap Luke. "Kemana omongan judes kamu? Kenapa sekarang kamu jadi sok perhatian sama aku? Kembali lah menjadi Luke Bianchi si Yakuza Freezer menyebalkan yang tukang marah-marah dan membuat strawberry beracun!"
"Kenapa memangnya?"
"Seperti bukan kamu!"
"Apa kamu tidak nyaman?"
Rin menggelengkan kepalanya. "Kamu...jadi jelek kalau nggak marah-marah."
"Haaaaahhh! Yankee kurang ajar!!! Awas kalau besok aku pulang ke Tokyo!" protes Luke kesal.
Rin cekikikan.
"Eh Yankee..." panggil Luke.
"Apa?"
"Kamu bisa masak?"
"Bukannya aku seorang ahli gizi jadi mau tidak mau harus bisa masak dong!"
"Kapan-kapan aku mencoba masakanmu dong! Aku rindu masakan Jepang."
"Bukannya di Turin ada restoran Jepang? Dan saudara kembarmu bisa memasak.?" Rin memandang layar itu dengan ekspresi polos.
"Kamu tuh nggak peka ya Yankee!" gerutu Luke sebal.
"Hah?" Rin menutup mulutnya. "Jadi kamu serius minta dimasakin?"
"Beneran deh! Awas kalau besok aku pulang ke Tokyo! Hati-hati di jalan! Assalamualaikum!" Luke mematikan panggilannya.
Sementara itu Rin masih tertegun mendengar nada judes dari Luke yang terdengar menggemaskan.
"Assalamualaikum? Jadi Luke..." Rin melongo tidak percaya.
***
Café Al Bicerin Turin Italia
"Are you okay? Leia? Apa kamu merasa pusing? Tell me!"
"Nggak Dante... Aku nggak papa."
"Kalau kamu merasa tidak nyaman, kita ke rumah sakit sekarang!"
Leia menggelengkan kepalanya. "I'm fine Dante. Really."
Dante menggeser kursinya dan duduk di sebelah Leia. Mata birunya dengan intens menatap gadis yang sangat dicintainya dan membuatnya gila karena tidak mau jauh-jauh darinya.
"Leia? Benar kamu tidak apa-apa?"
Leia menghela nafas panjang lalu menoleh ke Dante. "I'm fine Dante. Sto bene ( aku baik-baik saja ). Really!"
"You're not okay. Ti immagini ancora il nostro bacio di ieri ( apakah kamu masih terbayang ciuman kita kemarin )?"
Leia menatap judes ke Dante. "Apa kamu ada masalah soal itu?"
"Tidak, tidak ada masalah Leia. Bahkan aku sangat bahagia kamu menciumku terlebih dulu meskipun habis itu wajahku membiru dan bibirku pecah" senyum Dante yang memperlihatkan bekas pukulan Leia.
"Biar kamu diam, Inferno!"
"Diam soal apa? Soal nama anak-anak kita? Apa kamu tidak suka dengan pilihan aku? Aku open kok kalau kamu mau nama lainnya."
Leia melongo. "Astagaaa! Dengar Inferno, anak-anak itu ada karena pernikahan..."
"Benar."
"Siapa yang akan menikah?"
"Kamu dan aku, Leia."
"Kamu bercanda!"
"Memang wajahku wajah bercanda Leia? Aku serius, super serius!" Dante lalu berlutut di hadapan Leia. "Leia..."
"Dante... please?"
"No, darling. Aku sudah bertekad untuk mengatakan ini padamu." Dante merogoh kotak kecil yang tersimpan di saku jasnya dan mengambil cincin berlian dari dalam kotak itu. "Aku tidak menerima penolakan, Leia. So, with this ring, kita resmi bertunangan."
Dante memasangkan cincin cantik itu di jari manis Leia yang hanya bisa melongo melihat bagaimana nekadnya kepala keluarga Mancini.
Juan dan Vernon hanya bisa terpaku melihat signoranya dipasangkan cincin pertunangan oleh pria yang menjadi musuh keluarga Bianchi.
"Kamu hubungi Signor Bianchi senior. Bakalan ramai ini!" bisik Vernon ke Juan.
"Aku tidak tahu kita akan dijadikan apa oleh Signora Luke karena membiarkan kembarannya dilamar oleh Signor Mancini."
"Dante! Apa-apaan sih ini?" Leia berusaha melepaskan cincin cantik itu tapi ternyata tidak bisa. "Lepasin nggak?"
"Nope. Sekali terpasang, akan selalu terpasang disana Leia dan lihat, aku juga memakai cincin yang sama tapi lebih maskulin." Dante menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya dan Leia tahu selama ini jari Dante kosong tanpa ada cincin disana tapi ternyata hari ini berbeda.
"Dante... kamu kan tahu aturan keluarga aku?" Leia menatap Dante serius.
"Tahu."
"Dan kamu bisa paham kan kenapa aku menolak..."
"Don't worry." Dante berbisik di sisi telinga Leia. "Aku sudah pindah."
Gadis itu melotot tidak percaya. "Sejak kapan?" tanya Leia dengan suara bergetar tidak percaya dengan ucapan pria berwajah dingin itu.
"Sejak melihat kamu berdoa dan aku mulai mempelajarinya. Memang baru tapi jika aku ingin bersamamu, apapun akan aku lakukan Leia. Dan yah, aku sudah pindah tepatnya seminggu lalu. Aku harap kamu bisa membimbing aku yang masih baru ini apalagi jika kita sudah halal, sayang."
Mata coklat Leia tampak mengerjap-ngerjap sedikit memerah. "Kamu...yakin? Kamu kepala keluarga Mancini... Apa kata Vatican nanti?"
"Oh, mereka marah... Hahahaha. Tapi biarkan saja! Mereka tidak tahu bagaimana perasaan aku padamu Leia. Bahkan jika melindungi mu dengan mempertaruhkan nyawaku, aku rela melakukannya" ucap Dante tegas membuat Leia menatap tidak percaya.
"Apakah... kamu sudah sunat?" bisik Leia ke Dante yang langsung terdiam.
"Harus kah?" cicit Dante bergidik membuat Leia menepuk jidatnya.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️