The Bianchis

The Bianchis
Leia Bianchi : Ti Amo



Ruang rawat inap Leia Maurizio Umberto Hospital


"Apa maksudmu Dante?" tanya Leia dingin.


"What have you done, Leia? For God's sake! Kamu ngapain di Belgia?" Dante mendatangi gadis yang masih setengah duduk di brankar nya.


"It's none of your business, Dante!"


"Leia! Apa kamu sadar? Kamu membuat gegeran satu negara!" Dante duduk di pinggir tempat tidur Leia.


"Kami sudah terbiasa!"


"Bukan itu, Leia! Bagaimana kalau interpol tahu? Bagaimana kalau semua badan intelijen tahu? Ya ampun Leia, ada FBI disini!" desis Dante tertahan.


Leia menarik kerah baju Dante dengan tangan kirinya yang tidak sakit. "Semua orang tidak akan tahu kalau kamu tidak ribut Dante! Just shut your fu***** mouth!"


Dante menatap gadis cantik itu. "Just be careful..."


"I am careful!"


"Kamu bawa kemana sepupu mu? Zinnia, kamu bawa kemana?" Dante menikmati cara Leia mencengkeram bajunya karena keduanya semakin dekat.


"Bukan urusanmu Dante! Dan yang jelas ke daerah yang aman, tidak ada orang yang tahu keberadaannya kecuali kami!" Leia mendorong tubuh Dante dengan wajah kesal.


Dante yang sedikit terhuyung berhasil menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Pria itu lalu mendekati Leia dan memegang wajah gadis itu. "I'm so worry of you. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan mu, Leia."


"Tidak akan terjadi apa-apa, Dante! Sudalah! Aku mau tidur. Tolong settingkan tempat tidur ku agar aku bisa tiduran." Leia menatap mata biru itu dengan dingin.


"Tentu saja, Leia." Dante memberikan ciuman di kening Leia dan turun untuk mengatur setting posisi tempat tidurnya dan membenarkan posisi selimutnya. "Have a nice dream." Dante hendak mencium kening gadis itu tapi ditahan oleh tangan Leia.


"Nggak usah cari kesempatan dalam kesempitan Dante. Aku memang mengalami dislokasi bahu kanan tapi tangan kiriku sama berfungsinya dengan tangan kananku!"


"Kamu Ambidextrous?" tanya Dante.


"Yup! Aku, sepupuku Valentino dan Arka semuanya seperti aku meskipun kami dominan kanan tapi kiri pun sama bisanya. Dan tangan kiri aku bisa menulis sama bagusnya dengan yang kanan. Aku juga bisa menembak dengan tangan kiri sama persisinya dengan tangan kanan."


Note:


Ambidextrous adalah suatu kemampuan di mana seseorang bisa menggunakan kedua tangannya dengan baik, tangkas, dan imbang dalam melakukan berbagai pekerjaan. Orang yang memiliki kemampuan ini juga bisa menulis dengan lancar dengan tangan kanan maupun kiri.


Dante melongo. "You are full of surprise, Leia." Dante teringat tadi saat menggambar pelaku pendorong mobilnya, Leia menggunakan tangan kirinya.


"Maka dari itu, jangan macam-macam dengan ku! Aku bisa membunuh orang dengan tangan kiri maupun kanan." Leia menatap tajam ke Dante.


"Aku tidak macam-macam padamu. Hanya ingin mencium keningmu sebelum tidur." Dante langsung mencium sekilas dan cepat lalu berbalik ke tempat tidur lipat yang sudah dimintanya.


"DANTE!" bentak Leia kesal.


"Kamu memang bisa memakai dua tanganmu, tapi aku lebih cepat darimu Leia" kekeh Dante cuek.


***


Dante melirik ke arah Leia yang sudah terlelap dan mulai mencari informasi tentang Zinnia of Léopold, sepupu Leia. Dirinya sangat penasaran dengan apa yang dilakukan gadis itu selama berada di Belgia.


Zinnia menghilang kemana? Apakah ke Indonesia? Seharusnya Sean tahu istrinya kesana. Dante melihat peta Indonesia. Damn! Luas begini, semua keluarga Leia yang di Indonesia bisa menyembunyikan dimana saja!


Tampak raja Andrew sendiri mendapatkan mosi tidak percaya dari rakyatnya sendiri dan ratu Michelle pun dituduh sebagai dalang menghilangnya putri Zinnia karena rasa iri akibat pamornya kalah.


Dante mencari tahu kegiatan Zinnia pada saat masih melakukan kegiatan kerajaannya. Pria itu tersenyum smirk. Jelas saja ratu dan putri tukang slengki itu iri, karena wanita ini sangat cantik dan sikapnya natural tanpa ada kepura-puraan. Dante pun membandingkan dengan putri Natalia yang juga melakukan tugas kerajaan.


"Pantas saja kamu dan ibu suri iri dengan Zinnia, karena sikap kamu yang arogan!" kekeh Dante. "Sean bodoh sampai kehilangan istrinya. Eh, tapi aku juga tidak mau sebodoh Sean. Aku tidak akan melepaskan kamu, Leia."


Pria itu pun bangun dan berjalan menuju tempat tidur gadis yang sedang terlelap. Tangan Dante mengurai rambut Leia dan mengusapnya pelan.


"Entah sejak kapan aku tertarik padamu Leia. Mungkin caraku salah, kurang ajar dan sangat-sangat brengsek tapi aku benar-benar mencintaimu, Leia. Terserah kamu bisa menerima aku atau tidak tapi aku tetap akan mengikat dirimu, meskipun keluarga kamu menentang aku." Dante duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur Leia.


"Aku tahu aku salah tapi aku tidak bisa lepas darimu. Kamu lah yang membuat duniaku berantakan. Saat kamu pergi, aku merasakan ada yang kosong di diriku. Aku mungkin brengsek tapi aku tidak akan seperti iparmu sampai harus kehilangan sepupu mu. Aku tahu, kalian tidak akan maju kalau tidak keterlaluan."


Dante menggenggam tangan Leia yang tidak kena infus. "Apa kamu tahu, saat aku melihat kepulan asap di jurang dan mobilmu masuk sana, duniaku rasanya berhenti. Aku tidak tahu bagaimana jika aku tidak dapat menyelamatkan mu. Mungkin aku akan mencari pelakunya lalu aku akan menyusul mu." Dante tertawa kecil. "Bahkan aku bisa memikirkan untuk bunuh diri jika kamu pergi meninggalkan diriku."


Sebuah air mata jatuh di punggung tangan Leia. "Maaf, tapi aku sangat mencintaimu Leia. Aku bersyukur aku masih bisa melihatmu, masih bisa mendapatkan nada judesmu..."


"Really Dante?"


Dante mendongakkan wajahnya dan melihat wajah Leia yang menatap dirinya.


"Kenapa...kamu bangun?"


Leia tersenyum tipis. "Siapa yang tidak terusik tidurnya mendengar seseorang dengan pedenya tidak mau melepaskan aku."


"Kau... mendengar nya?" bisik Dante.


"Ya ampun Dante! Aku mendengar semuanya!" cebik Leia kesal. "Dan sangat mengganggu tidurku!"


"Bagaimana dengan... perasaan mu padaku?"


"Aku tidak punya perasaan apa-apa padamu, Dante! Sudah, jangan bermain teater dan Opera. Hamlet baru main minggu depan! Sekarang, aku mau tidur dan kamu juga harus tidur! Wajahmu berantakan!" Leia lalu memejamkan matanya.


Dante beringsut hendak mencium pipi Leia...


"Jangan macam-macam Dante! Tidur!" hardik Leia galak yang membuat Dante tertawa.


"Aku suka kamu yang galak! Selamat tidur kembali!" Dante mencium punggung tangan Leia.


Tak lama nafas gadis itu pun terdengar teratur dan Dante mencium pipi Leia.


"Ti Amo Leia Skywalker Takara Bianchi."


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️