
Menjelang jam sebelas, Luke mengantarkan Rin pulang ke apartemennya setelah berpamitan dengan semua anggota keluarga Takara, Bianchi dan Park. Dan kini di dalam mobil Luke, Rin tampak termenung melihat pemandangan dari jendela.
"Kamu kenapa?" tanya Luke.
"Memikirkan pertandingan besok..."
"Kamu gugup?"
"Tentu saja Luke. Itu ibumu!" ucap Rin sambil menatap Luke yang hanya tersenyum tipis.
"Aku kasih tahu ya. Okāsan aku itu meniru jejak Opaku. Dulu Daddy mengejar - ngejar Okāsan hingga harus taruhan saat pertandingan Kendo di kampus Todai. Daddy menang taruhan..."
"Taruhan apa Luke?"
"Kalau Daddy menang, mereka bakalan kencan sebulan tapi kalau Daddy kalah, setahun harus menjauhi okāsan. Dan opa tidak terima Okāsan kalah, menantang Daddy tapi kalah... Jadinya ya Opa harus menerima Daddy kencan dengan Okāsan. Kini Okāsan ingin melihat kemampuan kamu dan itu hal yang wajar karena Dante, tunangan Leia tidak bisa Kendo."
"Tunangan Leia tinggi sekali, se otousan kamu ya Luke?"
"Short of."
"Luke... kalau besok aku kalah dari Okāsan mu, apa akan jadi masalah?" Rin mengalihkan pandangannya dari wajah Luke ke pemandangan di jalan raya.
"Masalah apa?"
"Kamu tidak boleh berteman denganku?"
Luke tertawa terbahak-bahak. "Astagaaa Yankee! Aku sudah dewasa! Usiaku mau 25 dan dengan siapa aku berhubungan, kedua orangtuaku tidak ikut campur asalkan bukan penjudi, pemadat, pemabok, penjahat. Dan kamu sudah lolos screening di keluarga kami. Look Rin, kalau pun besok kamu kalah dari Okāsan, itu wajar. Shin dan Sakura yang jago Kendo saja tidak bisa mengalahkan okāsan dan Daddy. Aku saja yang putranya dari sepuluh pertandingan, aku hanya menang empat dengan Okāsan! Jangan tanya Leia karena dia sering menangnya."
"Jadi besok itu?"
"Okāsan sedang menguji kamu apakah kamu cewek yang bisa membela diri kamu atau tidak. Sejujurnya, Okāsan sangat suka cewek tangguh macam dia."
Rin mengangguk. Luke mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kamu suka Kendo, dinikmati saja besok."
Rin menatap ke arah Luke yang tersenyum manis. Ternyata Yakuza Freezer itu kalau tersenyum manis juga.
***
Kediaman Takara
Setelah Keluarga Park pulang, kini di rumah khas Jepang itu tinggal keluarga inti Bianchi Takara minus Luke yang mengantarkan Rin pulang dan Opa Oma yang sudah pulang bersama dengan sopir.
"Si Ichigo manis juga Em" ucap Takeshi. "Tapi apa kamu tidak keterlaluan menantang Kendo ke anak manis itu?"
Luca melongo. "Seriously, otousan! Dulu aku apa kabar? Kepalaku sampai benjol, dipukul pakai pedang Kendo! Untung aku tidak sampai gegar otak!"
"Lho kalau kamu memang wajib, Luca. Kamu kan laki, jadi harus diseleksi dulu lah!" sahut Takeshi cuek.
"Ih beneran deh! Mana macam jelangkung saja otousan dan Shiki!"
"Heh! Enak saja bilang mertua kamu jelangkung! Kalau Shiki memang iya!" Takeshi melirik ke arah Shiki yang masih memasang wajah tanpa ekspresi.
Dante berbisik ke Leia. "Apaan itu jelangkung?"
"Nanti aku ceritakan" balas Leia.
"Emi, serius kamu menantang Rin?" tanya Fumiko sambil minum ochanya.
"Serius Mama Miko. Aku ingin tahu sejauh mana kemampuan Yankee itu" senyum Emi licik.
"Oh amore mio, jangan kamu sakiti ceweknya Luke. Apa kamu tidak sadar, ini kali pertama dia bawa cewek ke acara keluarga? Acara pribadi lho!" Luca menatap istri bar-barnya.
"Justru karena itu, aku ingin tahu apakah dia pantas buat Luke. Kan kamu tahu sendiri Luke ketua Yakuza dan membutuhkan pasangan yang bisa bela diri, bukan cewek lembek macam agar-agar!"
"Ya ampun Emi, tidak semua cewek seperti kamu! Kecuali Leia. Tapi kan kalau Luke sudah suka, kamu mau apa?" Luca mencoba membujuk istrinya.
"Luca, darling, honey, Anata, kamu kan tahu keluarga kita rata-rata bar-bar dan aku hanya ingin tahu apakah gadis itu cocok di keluarga kita atau tidak."
Leia memijit pangkal hidungnya merasa jengah dengan sang ibu yang tidak hilang jiwa rusuhnya. Dante yang melihat gadisnya tampak gemas hanya bisa memeluknya erat dan mencium pelipisnya.
***
Apartemen Rin Ichigo.
Luke menatap geli Rin yang masih tampak gugup dan itu tampak dari cara gadis itu memilin-milin jarinya.
"Rin..." Luke melatakkan sikunya ke stir mobil sambil melihat Rin.
"Ah, terimakasih sudah mengantarkan aku pulang." Rin bergegas membuka pintu mobil Luke dan langsung keluar tanpa menoleh ke belakang meninggalkan pria itu terbengong bengong.
"What the... Woooiii Rin!" Namun gadis itu sudah masuk ke dalam gedung apartemen nya. Luke tertawa dan memencet tombol hingga pintu itu tertutup sendiri. Ditunggunya sampai lampu apartemen Rin menyala baru Luke meninggalkan komplek apartemen itu.
***
Rin melihat dari CCTV apartemen yang memang disediakan oleh pihak pengelola agar bisa mengetahui tamu yang datang ke masing-masing penghuni untuk mempermudah mau menerima tamu atau tidak.
Mobil merah itu pun pergi meninggalkan apartemennya, membuat Rin bisa bernafas dengan lega. Entah kenapa sejak Luke mencium keningnya, hati Rin merasa berantakan bahkan dia kehilangan jiwa bar-bar dan judesnya.
Rin menutup wajahnya. Apa aku sudah menyukai Yakuza Freezer itu? Mana keluarganya tampak begitu powerfull. Rin membuka iMac nya dan mulai melihat keluarga Luke.
Ya ampun. Keluarga Bianchi sangat terkenal di Italia dan Eropa, apalagi Takara. Siapa orang Jepang yang tidak tahu Takeshi Takara, keluarga Takara salah satu keluarga lama Jepang. Rin mencari tahu tentang keluarga Park dan lagi-lagi gadis itu merasa pening karena Hideo Kojima Park adalah mantan ketua Silver Shinning Korea yang sekarang pengusaha perhiasan di Jepang meneruskan usaha keluarga Kojima.
Luke, apa sih yang kamu lihat dari aku? Rin benar-benar tidak menyangka kalau malam ini diperkenalkan kepada keluarga besarnya. Tiba-tiba Rin merasa insecure padahal sebelumnya dia selalu merasa percaya diri.
Keluarga mu membuat aku minder!
***
Kediaman Al Jordan Bianchi
Luke terkejut ketika masuk ke dalam rumahnya, melihat Emi masih duduk disana mengenakan kimono hitam dan tampak menunggu dirinya. Sudah lama Okāsan nya tidak melakukan ini dan terakhir usai berkelahi dengan klan Yakuza lainnya dua tahun lalu.
"Duduk, Luke."
Luke pun menurut. "Ada apa Okāsan."
"Apa kamu yakin dengan Rin?"
"Mom, aku dan Rin baru pacaran..."
"Jadi kamu sudah pacaran?"
"Aku yang mengajak nya pacaran tapi Rin belum mengiyakan."
"Apa kamu jatuh cinta pada Rin?"
"Aku tidak tahu apakah ini jatuh cinta, tapi aku selalu ingin dekat dengannya entah membuatnya marah, salah tingkah dah sebal padaku. Aku suka melihat dia seperti itu, seperti mood booster tersendiri."
Emi hanya tersenyum smirk. "Kamu memang mirip Daddymu."
"Apa Okāsan tidak keberatan jika aku berhubungan dengan Rin?"
"Kita lihat besok." Emi pun berdiri. "Kamu tahu kan aturannya?"
"Tenang Okāsan, aku yang akan membimbing nya jika memang dia jodohku."
Emi mengangguk dan menghampiri putranya. "Good. That's my son." Emi mencium kening Luke.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️