The Bianchis

The Bianchis
Leia Bianchi : Leia Pulang Ke Mansion Bianchi



Ruang Rawat Inap Leia Bianchi Mauriziano Umberto Hospital Turin


Dante terbangun saat mendengar suara gemericik air di kamar mandi. Seketika pria itu bangun dari tempat tidur lipatnya dan melihat tempat tidur Leia kosong. Bergegas pria itu menuju kamar mandi dan mengetuk pintunya.


"Leia? Apa kamu butuh bantuan? Kenapa tidak membangunkan aku?" Dante memanggil gadis itu.


Tak lama Leia pun keluar dari kamar mandi dengan sedikit tertatih karena kakinya masih terasa ngilu.


"Apa Dante? Pagi-pagi sudah teriak?" hardik Leia.


"Sini aku ban..."


"Stop! Jangan sentuh aku!" Leia menjauhkan diri dari Dante.


"Tapi..."


"Aku sudah berwudhu! Kamu bukan suami atau keluarga aku jadi kamu tidak boleh menyentuh aku!"


Dante melongo. "Maksudnya apa?" Apa-apaan tidak boleh menyentuh?


"Kamu cari sendiri lah di google! Wudhu perempuan! Sana!" bentak Leia kesal dan segera duduk di tempat tidurnya lalu mengambil mukena yang dibawakan oleh Luke.


Dante hanya menatap Leia mengenakan mukena warna pink itu dan bersiap menjalankan ibadah subuh. Untuk pertama kalinya, pria itu tidak mampu berkata-kata melihat betapa cantiknya Leia melaksanakan ibadah membuat hati Dante bergetar.


Ya ampun ! Perasaan apa ini?


Hingga Leia menyelesaikan ibadahnya, Dante masih saja terpaku melihatnya.


"Kamu kenapa Inferno?" tanya Leia sembari melepaskan mukenanya.


"Kamu cantik sekali."


Leia hanya melengos. "Mulai deh!"


"No Leia. Kamu cantik saat mengenakan itu. Aku... semakin jatuh cinta padamu."


"Kamu..."


Suara ketukan di pintu membuat keduanya menoleh. Tampak seorang suster disana.


"Buongiorno signorina Bianchi ( selamat pagi nona Bianchi ). Saya cek dulu ya kondisi anda pagi ini sebab saya mendapat memo dari dokter anda, anda diperbolehkan pulang pagi ini."


"Jam berapa saya boleh pulang suster?" tanya Leia dengan wajah bahagia.


"Jam sembilan atau sepuluh pagi, bisa."


"Alhamdulillah. Aku akan telpon Luke dulu ..."


"Tidak usah Leia. Aku yang akan mengantarkan kamu!" ucap Dante tegas.


Leia hanya menatap tajam ke Dante.


***


Pukul sembilan pagi, Leia sudah siap untuk kembali ke mansion Bianchi bersama dengan kedua pengawalnya, Vernon dan Juan. Luke yang tahu kabar kembarannya boleh pulang, langsung menuju rumah sakit dan membereskan administrasi tapi sesampainya disana, semuanya sudah dibereskan Dante.


"Apa maksudmu Inferno? Leia adalah saudara kembar aku! Jadi tanggung jawab aku sebagai keluarga!" bentak Luke ke Dante yang dengan santainya melenggang menuju kamar Leia.


"Tidak ada masalah kan Luke? Mau aku atau kamu sama saja yang membayar" jawab Dante kalem.


"Tidak sama Inferno! Kamu bukan siapa-siapa nya Leia!"


Dante menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Luke. "Leia adalah gadisku, Luke!"


"Dia kakakku Dante!" balas Luke garang.


"Dan kita akan jadi ipar" seringai Dante.


"In your dream, Inferno!"


"Kalian berdua kenapa?" tanya Leia yang sudah duduk di kursi roda bersama dengan Juan yang mendorong sedangkan Vernon membawa dua duffle bag yang satu milik Leia sedangkan satunya milik Dante.


"Signore Mancini, ini tas anda." Vernon menyerahkan duffle bag merk Prada itu.


"Grazie Vernon." Dante menerima tas itu. "Leia aku antar."


"Sudah cukup Dante! Kamu sudah bersama dengan Leia beberapa hari ini dan sekarang waktunya kakakku berkumpul dengan keluarganya!" Luke menatap tajam ke Dante. Meskipun Luke kalah tinggi dari Dante, pria berdarah Jepang Italia itu tetap berani menantang pria Italia itu.


Dante menoleh ke arah Leia yang hanya memasang wajah dingin.


"Pulanglah Dante. Kamu butuh istirahat." Akhirnya Leia berkata pada Dante. "Wajahmu tampak berantakan!"


Dante hanya mendengus pelan.


"She's my sister! Kamu bukan apa-apanya kakakku" sahut Luke dingin. "Terimakasih sudah menolong kakakku. Dan aku akan mengganti biaya rumah sakit Leia."


"Aku tidak perlu digan..."


"I'm insist, Inferno!" ucap Luke.


"Sudah. Darth Vader, kita pulang." Leia menatap Dante. "Terimakasih."


"Don't kiss her! Non baciarla!" protes Luke.


"Dia gadisku Luke!"


"She's not..."


"Kalian berdua kalau mau berantem, pergi ke taman sana!" bentak Leia kesal mendengar keributan tanpa akhir dua pria disana. "Vernon! Kita pulang dengan mobil kalian! Biar Luke pulang sendiri!"


Juan lalu mendorong kursi roda Leia keluar lobby rumah sakit bersama dengan Vernon meninggalkan kedua pria bermarga Bianchi dan Mancini saling berseteru.


"Just stay away from my sister!" ucap Luke judes yang langsung menyusul Leia.


Dante hanya menatap kepergian gadis itu dengan perasaan campur aduk.



Gelut sama Luke itu ga bakalan kelar-kelar bang...


***


Mansion Keluarga Bianchi


Luca menyambut kedatangan putrinya dengan bahagia lalu memeluk tubuh langsing itu.


"Welcome home, sayang" ucap Luca sambil mencium pelipis Leia.


"So glad to be home" senyum Leia.


"Kamu kenapa Darth Vader?" tanya Luca ke putranya yang tampak manyun.


"Biasa Inferno! Ngadi-Ngadi!" sungut Luke kesal.


"Dia membayarkan biaya rumah sakit Leia?" tebak Luca.


"Mochiron ( tentu saja )!"


Luca terbahak. "Anggap saja tagihan kartu kredit mu tidak bertambah, Luke."


"Leiaaa!" sebuah suara membuat Leia menoleh.


"Brucey?" sapa Leia ke pria yang sebaya dengan Antonio.


"Apa kabar gorgeous?" Bruce memeluk Leia sambil mencium pipinya. "Masih sakit?" tanyanya saat melihat bahu kanan Leia masih digips dan memakai arm sling.


"Lumayan tapi paling bulan depan sudah copot gips. So, apa kalian mendapatkan sesuatu?" tanya Leia ke semua orang yang berada di ruang tengah mansion Bianchi.


"Ini semakin pelik, Leia" jawab Omar.


"What do you mean?" Leia menatap ke semua orang.


"Kita berhubungan dengan kartel Brazil dan Miami. Ini ranahnya sudah masuk obat terlarang dan jarigannya sangat terorganisir." Billy Boyd yang menjawab.


"Tapi apa hubungannya dengan tanah Bianchi dan tanah Mancini?" Leia tampak bingung.


"Karena tanah tempat tanaman anggur kalian saling berbatasan dengan Perancis, Monaco dan Swiss. Bahkan Mancini memiliki tanah di dekat laut yang menuju kepulauan Corsa. Itu yang diincar! Kebun anggur Bianchi dan Mancini bisa dijadikan kedok untuk perdagangan obat terlarang ke seluruh Eropa." Omar menjelaskan pada Leia.



"Astaghfirullah!" Leia menatap peta yang diberikan Omar.


"Mereka ingin Keluarga Bianchi dan Mancini saling bunuh dan bisa menyusup lalu diam-diam mengambil alih. Apalagi jika aku atau Dante tewas, mereka lebih bahagia!" Antonio tampak geram. "Mereka hendak menistakan tanah warisan keluarga kita Leia!"


"Apa Dante sudah tahu?"


"Aku sudah tahu Leia." Suara Dante terdengar membuat Leia menoleh. "Thank you Alexis, sudah memberikan informasi."


"Alexis?" Antonio dan Luca menatap tajam asisten tampan itu.


"Saya dan Sergio hanya ingin mencegah pertumpahan darah, Signore" jawab Alexis tenang.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Luke. "Jika sudah menginjak ranah obat terlarang, kami sekeluarga tidak memiliki kewenangan."


"Aku sudah menghubungi pihak DEA dan mereka akan melakukan joint task force dengan badan narkotika dari Perancis, Swiss dan Italia. Mereka sekarang sudah bergerak ke Miami dan Rio de Janeiro" ucap Omar.


"Tapi siapa pemimpinnya Omar? Pasti orang yang punya kuasa dimana-mana." Luca menatap pria jangkung itu.


"Anda pasti tidak akan percaya, Signore Bianchi" seringai Omar.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa gaeesss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote comment and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️