
NYU Manhattan
Nadira datang pagi untuk kuliah pagi dan bertemu dengan Pedro Pascal di parkiran. Gadis itu hanya mengangguk sopan dan bergegas menuju kelasnya karena dia tidak mau terlambat.
Pedro yang melihat seperti seorang bidadari memberikan anggukan dan senyuman, merasakan seperti kupu-kupu bertebaran dalam perutnya. Kata orang kalau begini berarti kamu jatuh cinta. Pedro tertegun. Masa iya aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis jutek dan putri Sultan?
Pedro menepuk - nepuk jidatnya agar tetap berpikir waras. Ingat tugasmu Pedro! Kamu mencari tukang te**ror bukan cari kekasih! Kelamaan jomblo sih! Pedro pun berjalan menuju kelasnya sambil mengawasi sekitarnya dengan mata elangnya.
***
Nadira tampak serius mendengarkan dosennya dan dirinya adalah tipe yang selalu fokus akan segala sesuatu. Sebenarnya Rajendra ingin putrinya mengikuti jejaknya sebagai chef apalagi Nadira memiliki bakat untuk menghias dan membuat pastry.
Namun putri nya lebih memilih menjadi anak angkat Aristoteles ( istilah yang diberikan Hoshi saat mendengar keponakannya memilih kuliah di filsafat ), dan Rajendra sendiri tidak bisa memaksa Nadira harus ikut jejaknya.
Apalagi putrinya selalu mendapatkan nilai sempurna setiap tugas dan ujian hingga menjadi asisten dosen meskipun sudah lulus S1 dan sekarang mengambil program magister. Nadira memang ingin menjadi dosen filsafat.
Rajendra dan Aruna sendiri tidak mau memaksa putrinya tapi Eagle ternyata menurun bakatnya dari Oma Buyutnya, Rain. Remaja tampan itu memang tertarik dunia kuliner meskipun sekarang kuliah di Oxford mengambil jurusan IT sambil menemani Opa dan Omanya, Arjuna dan Sekar yang di London.
Usai kuliah, Nadira bergegas menuju perpustakaan. Meskipun di iPad ataupun MacBook semua bisa dicari online, tapi Nadira pecinta buku kertas. Dia hendak mencari bahan tugas disana karena baginya membaca buku kertas itu lebih mengasyikkan.
Pedro yang baru saja keluar kelas, melihat Nadira berjalan cepat dan diam-diam pria itu mengikutinya.
Rupanya ke perpustakaan.
Pedro pun ikut masuk ke dalam perpustakaan dan melihat Nadira mengambil beberapa buku tebal disana. Pria itu langsung berdiri di sebelah Nadira membuat gadis itu terkejut ketika berbalik dan nyaris menjatuhkan buku-bukunya.
Pria jangkung itu bergegas memegangi tangan Nadira agar buku -buku itu tidak jatuh.
"Astaghfirullah Al Adzim..." bisik Nadira.
"Sorry mengagetkan dirimu..." balas Pedro juga dengan berbisik.
Nadira menatap tajam ke arah Pedro yang hanya tersenyum manis. Mata coklat Nadira melirik ke arah tangan pria itu yang masih setia menempel di tangannya.
"Ops Sorry..." bisik Pedro lagi sambil melepaskan tangannya. Nadira melangkah meninggalkan Pedro dengan dagu terangkat.
Gadis itu pun langsung duduk di depan laptop nya dan Pedro bisa melihat betapa seriusnya Nadira.
Yang dipegang tangannya
Yang megang tanpa dosa
Pedro menatap tanpa jemu ke arah wajah cantik itu. Fix! Kamu jatuh cinta beneran, Pedro! Gawat! Kamu kan masih ada misi disini!
Pria itu pun membuka laptopnya untuk memeriksa perpustakaan ini dengan aplikasi yang dibuat tim teknisi FBI di Quantico. Menggunakan airpods, Pedro bisa mendengar semua ucapan meskipun itu berupa bisikan.
Entah kenapa dirinya merasa akan ada percakapan yang membahas tentang rencana pengeboman berbagai kampus di New York.
"Kabarnya ada yang melaporkan ke FBI ya?"
"Harus hati-hati. Karena mereka pasti memeriksa semua kampus."
Pedro menoleh ke kiri dan ke kanan sembari celingukan mencari sesuatu. Di perpustakaan itu ada beberapa mahasiswa dan tidak terlalu padat tapi Pedro bisa mendengar percakapan dua orang pria.
Nadira yang melihat Pedro tampak gelisah semakin kesal dibuatnya karena mengganggu konsentrasinya. Gadis itu lalu menuliskan sesuatu di selembar kertas dan diberikan ke Pedro.
Kalau kamu tidak bisa tenang, mending kamu keluar saja deh!!
Mata hijau Pedro melotot membaca kertas itu karena dirinya tidak mau meninggalkan Nadira. Tidak jika ada dua pelaku disini. Nadira dalam bahaya.
Pedro membalas dengan menulis. Tunggu disini.
Nadira menatap bingung ke arah pria itu yang segera berdiri dan berjalan menuju lemari-lemari buku seperti mencari sesuatu. Gadis itu hanya mengedikkan bahunya dan mulai bekerja membuat tugasnya lagi.
Pedro berjalan seperti mencari-cari buku tapi ponselnya yang terpasang aplikasi dengan airpods nya itu sembari mencari sumber suara. Dilihatnya dua orang mahasiswa berwajah seperti pecandu sedang berbicara menggunakan kertas membuat Pedro tidak bisa membaca tulisan di kertas itu.
"Aku harus masuk kelas. Biar orang tidak curiga."
Bukan mereka... lalu siapa?
"Aku juga mau masuk. Kelasnya Professor Gabriela soalnya."
Pedro berjalan cepat dan dirinya hanya bisa melihat dua sosok yang berbeda dengan dua orang dicurigainya berjalan keluar perpustakaan. Dirinya ingin mengejar tapi tidak mau mereka curiga.
Aku harus mendapatkan CCTV perpustakaan.
Pedro mencatat di ponselnya waktu kejadian dan perpustakaan mana karena di NYU ada dua perpustakaan, Science and Literature.
Brengsek! Apa sih motif mereka?
***
Pedro kembali ke meja tempat Nadira masih berkutat dengan tugasnya. Wajah gadis itu menunjukkan tanya namun dijawab Pedro dengan gelengan.
Sebaiknya kamu jangan tahu dulu, Nadira. Karena ini sangat berbahaya.
Pedro pun membereskan barang-barangnya dan memberikan kode ke gadis itu bahwa dia keluar duluan dan Nadira hanya mengangguk.
***
"Jadi benar mereka ada di NYU?" tanya Isobel saat ditelpon oleh Pedro.
"Makanya aku minta kalian menghack CCTV yang ada di depan pintu masuk Literature Library pukul 10.45 hingga 10.55. Aku yakin dua unsub kita disana."
"Apa kamu bisa melihat warna kulit nya?" tanya Isobel lagi.
"Aku rasa dua-duanya kulit putih dan aksen mereka aksen Amerika seperti orang selatan."
"Apa sih motif mereka?"
"Itu tugasmu Isobel bersama dengan para tim BAU ( Behavioral Analysis Unit ). Tugasku hanya mencari tahu para unsub dan melindungi mahasiswa disini." Melindungi Nadira terutama.
***
Nadira keluar dari perpustakaan setengah jam kemudian dan melihat Pedro tampak asyik mengobrol dengan para teman-temannya. Gadis itu melanjutkan jalannya menuju kelas berikutnya sedangkan Pedro melihat Nadira hanya melirik sekilas ke dirinya.
Kamu itu kok judesnya nggak kira-kira sih Nadira.
Pedro pun menuju ruang kelasnya bersama dengan teman-temannya. Pria itu bertekad mencari tahu dua orang yang berencana membuat ulah!
***
Pukul empat sore, perkuliahan Nadira pun selesai dan gadis itu berjalan menuju tempat parkir mobilnya. Hari ini dirinya tidak ada tugas menjadi asisten dosen jadi tidak banyak tugas di luar perkuliahan nya sendiri.
Ketika sampai di dekat mobilnya, Nadira melihat Pedro tampak menunggu dirinya.
"Ada apa Pedro?" tanya Nadira melihat pria itu bersandar di mobil BMW nya.
"Aku mau ajak kamu makan. Memang belum waktunya makan malam tapi aku lapar dan aku tidak ada temannya."
"Kenapa tidak ajak saja teman-teman sekelas mu?" Nadira menatap dingin ke pria campuran Italia dan Perancis itu.
"Aku hanya ingin mengajakmu, Nadira." Pedro menatap dalam mata coklat Nadira. Entah kenapa tatapan itu membuat Nadira tidak bisa menolak.
Dasar combo ras perayu!
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote gift and comment
Tararengkyu ❤️🙂❤️