
Mansion Bianchi Turin Italia
Alexis melihat Raveena jalan sendirian di halaman belakang mansion yang banyak ditumbuhi pohon willow yang merupakan pohon favorit Nenek buyut Bianchi. Gadis itu memutuskan jalan-jalan usai makan malam bersama dengan orang banyak tadi.
"Signora Raveena!" panggil Alexis membuat para pengawal di mansion itu memilih meninggalkan boss kedua mereka bersama dengan sepupu jauh boss pertama.
"Ada apa Alexis?" tanya Raveena yang menghentikan langkahnya.
"Kenapa jalan sendirian? Anda tidak takut?"
Raveena menaikkan sebelah alisnya. "Takut? Ngapain takut? Ini kan masih wilayah keluarga Bianchi kan? Tuh, banyak pengawal berjaga-jaga, kenapa harus takut? Lagipula, kalau ada yang berani macam-macam, pasti sudah dihajar oleh pengawalnya bang Antonio." Gadis itu melanjutkan jalannya.
"Saya temani Signora."
"Silahkan saja. Tidak ada yang melarang. Aku sepertinya kebanyakan makan lasagna jadi perut ku terasa penuh, dan harus jalan-jalan agar lega."
"Lagian anda sendiri makan sampai tiga porsi" kekeh Alexis.
"Aku memang lemah jika menghadapi lasagna. Itu makanan favorit aku jadi kalau aku pulang ke New York, pasti aku ke rumah mbak Blaze karena lasagna buatan Oom Joey enak banget!"
"Apakah lasagna buatan bibi Lusia kalah dengan Signor Bianchi?"
"Masing-masing punya karakteristik tersendiri dalam teknik memasak. Lasagna buatan ku pasti banyak daging cincangnya, kalau Oom Joey, raja keju. Sedangkan buatan bibi Lusia itu balance antara daging cincang dan keju, macam lasagna buatan RR's Meal kalau sedang Italian Night."
"Anda bisa memasak?" Alexis menatap tidak percaya ke gadis yang makin terlihat California girl style nya.
"Bisa lah! Kamu tidak tahu mamaku. Baginya, anak perempuan itu harus bisa memasak dan tahu basicnya. Kalau weekend dulu sebelum aku pindah ke LA, selalu membuat roti, cake atau masakan lainnya bersama dengan omaku Kaia."
Keduanya pun berjalan dibawah pohon willow yang rimbun.
"Anda tidak takut hantu, Signora Raveena? Kita berjalan di bawah pohon rimbun."
Raveena menoleh. "Are you kidding me? Tanteku malah seorang ghost hunter! Serius!"
Alexis melongo. "Seriously?"
"So serious! Ironisnya suaminya sangaaaatt penakut! Oom Haris itu takut hantu dan tikus!" gelak Raveena mengingat Tante Freyanya yang sampai sekarang masih hobi cari penampakan disaat waktu luang.
"Ya ampun! Anda tidak takut hantu?"
"Nope. Aku hanya takut ular, tidak makan lasagna dan tidak bisa beli tas Balenciaga."
Alexis tertawa kecil mendengar ucapan nona Dewanata itu. Ketika keduanya berjalan menuju area kolam koi, mereka mendengar percakapan antara dua orang.
"Siapa itu Alexis?" bisik Raveena.
"Kalau dari suaranya sepertinya Signora Leia dan Signor Mancini." Balas Alexis dengan berbisik juga.
"Damn! Mereka menggunakan bahasa Italia! Aku kan paling begok bahasa Italia! aku penasaran!" bisik Raveena gemas.
"Nanti saya terjemahkan" balas Alexis yang berdiri di belakang Raveena. Keduanya kini berada di balik pohon willow.
***
"Apa-apaan sih Inferno!" bentak Leia yang kesal ditarik Dante saat dirinya sedang menikmati kopi di teras belakang.
"Kamu itu! Tangan kamu masih digips seperti ini dan kamu mau datang ke pesta itu?"
"Ya ampun Dante! Aku ingin melihat orang yang memerintahkan membunuh aku! Dan akan aku cincang dia!"
"Sayang, tangan kamu terlalu indah untuk mencincang orang! Biar aku saja!" ucap Dante dingin.
"He messed up with the wrong family, Inferno!"
"And he messed up with the wrong man who in love with a woman who almost got killed by him ( dan dia berurusan dengan pria yang salah yang jatuh cinta dengan wanita yang hampir dibunuhnya )!" Dante menatap Leia lembut.
"Oh come on Dante. Kamu kira dengan begitu aku akan merasa tersanjung gitu? Berbunga-bunga hatiku? B saja Dante! Aku dibesarkan di dunia hitam yang berkedok putih dan aku bisa pindah ke dark side hanya sekali blink!"
Dante mendekat ke Leia. "Aku rindu padamu Leia."
"Oh God! Kamu hampir tiap hari kemari, tiap malam selalu menunggu aku sampai tidur. Really Dante? Kapan kamu istirahat?" Leia mendongak ke wajah Dante. Kenapa pria ini tinggi sekali sih!
"Aku baru bisa istirahat jika sudah tenang melihat kamu tidur di kamar mu."
"Oh dasar perayu! Sudah berapa wanita yang kamu gombali seperti ini?"
***
"Jangan bilang dia mencoba mencium mbak Lele! Apa dia tidak tahu kata 'kapok'?" desis Raveena gemas dan tanpa sadar mencengkeram bahu Alexis yang membuat pria itu melirik ke arah tangan gadis itu.
"Signora..."
"Iiissshhh aku gemas dengan mereka! Tidak jelas semuanya! Well, hanya Dante Inferno yang jelas! Kenapa sih semua sepupu perempuan ku sering tidak jelas soal asmara!" gerutu Raveena. "Mbak Leia, Juliet, Garvita, Gemintang..."
Anda sendiri Signora. Bagaimana dengan kisah asmara Anda?
***
"Why should I believe you, Dante Inferno?" Leia menatap dingin ke arah pria bermata biru itu.
"Karena sejak bertemu dengan mu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku akan bersamamu dan aku sendiri yang akan mengajakmu menikah!"
Leia melongo. "Dante, kamu sudah ditolak berulang kali oleh Daddyku!"
"Dan aku akan melakukan terus sampai Signor Bianchi mengabulkan permohonan aku untuk meminang putrinya."
"Kamu memang orang yang sangat keras kepala, Dante Mancini."
"Well, itu merupakan turunan. Darah Mancini terkenal dengan keras kepala. Bukankah darah Bianchi dan Takara pun sama, Leia? Aku membayangkan kita punya dua anak laki-laki dan perempuan yang memiliki darah panas dan sifat keras kepala dan kita akan sama - sama direpotkan oleh mereka."
"Apa? Dua anak? Seriously Dante, kamu kalau mau mengkhayal terlalu tinggi!"
"Leonardo dan Leonora."
"Hah?" Leia menatap Dante bingung.
"Massimo dan Marissa?"
"No! Marissa nama omaku!"
"Atau Serafino dan Serafina?"
"God! Dante!"
"Apa Leia? Apa kamu tidak suka pilihan nama buat anak kita?"
"Siapa yang mau menikah denganmu?" hardik Leia kesal karena pria di hadapannya jauuuhhh super ngeyel dari opa, Daddy dan kembarannya sendiri.
"Kamu, Leia."
"Kamu itu..." Leia menghela nafas panjang berulang kali seolah sedang mengatur emosinya.
"Aku apa?"
Leia menarik kerah kemeja Dante dan langsung mencium bibir pria itu dengan panas membuat kedua orang yang sedang mengintip melongo tidak percaya.
Setelah mencium panas Dante, Leia lalu meninju wajah pria itu dengan tangan kirinya yang sehat membuat Dante terhuyung ke belakang.
"Jangan menghitung sesuatu yang belum terjadi, Inferno!" desis Leia dan meninggalkan Dante yang mengusap bibirnya yang berdarah.
"Aku lupa kamu ambidextrous, Leia. Ternyata tangan kirimu sama kuatnya dengan tangan kananmu" kekeh Dante yang langsung mengejar gadis itu.
***
"What the hell is going on Alexis?" tanya Raveena ke arah pria yang sama bingungnya.
"I don't know Signora."
"Mbak Leia, kamu benar-benar Membagongkan!" gumam Raveena gemas.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️