
Ruang Rawat Inap Leia Bianchi Mauriziano Umberto Hospital Turin, Italia
Malam ini lagi-lagi Dante ribut dengan Antonio untuk menemani Leia meskipun Luca sudah meminta keponakannya menjaga putrinya dan akhirnya Antonio mengalah karena Luke menelponnya menyuruh segera pulang. Dante memberikan senyum kemenangan ke ketua klan Bianchi Turin.
Leia hanya menatap sengit ke Dante yang dengan cueknya menggeser tempat tidur lipatnya bersebelahan dengan tempat tidur gadis itu.
"Kan tidak mungkin kita berbicara sambil berteriak-teriak karena jarak, Leia" ujar Dante sambil menata tempat tidurnya agar nyaman. "Oh kata dokter, besok siang kamu sudah boleh pulang."
Leia hanya diam tidak menanggapi dan perlahan mata gadis itu mulai terpejam.
"Kamu buang dimana Natalia?" tanya Dante yang membuat mata Leia terbuka kembali.
"Apa maksudmu buang dimana Natalia?"
Dante beranjak dari tempat tidurnya dan duduk di pinggir tempat tidur Leia.
"Aku, kamu, Luke dan Antonio sama saja Leia. Kita akan menghabisi siapa saja yang mengganggu anggota keluarga kita. Dan fitnah yang diberikan oleh Stefanus dan percobaan pembunuhan yang dilakukan Natalia serta ratu Michelle, cukup membuat alasan kalian membawa pergi Zinnia. Masalahnya sekarang Leia, kita tahu Stefanus sudah bebas dari rehab, ratu Michelle diceraikan dan diasingkan ke Argentina." Dante mendekati wajah cantik Leia. "Tapi, nama Natalia bahkan sosoknya tidak terlihat lagi sejak delapan bulan lalu."
Mata coklat Leia hanya menatap dingin Dante.
"Aku yakin, Luke dengan kekuatan Yakuzanya yang sudah diberikan penuh oleh Takeshi Takara, akan menghabisi Natalia. Caranya bagaimana, aku tidak tahu tapi aku yakin, Natalia sudah tidak ada di dunia ini."
Wajah Leia masih memasang ekspresi yang sama.
"Tenang Leia, kita punya kode etik sendiri bukan? Aku tidak akan mengatakan apapun tapi Dios Mío, kalian benar-benar membuat banyak badan intelijen ingin menangkap kalian semua!"
"Itu urusan kami, Dante!" desis Leia dingin.
"Urusanku juga, Leia!"
"Apa urusanmu?" tanya Leia sengit.
"Karena kamu adalah wanitaku, Leia dan aku tidak akan membiarkan kamu ditangkap dan dihukum." Dante menatap lembut ke Leia.
"Siapa yang bilang aku wanitamu, Inferno?" Leia menatap tajam.
"Aku, Leia. Dan aku sudah bilang pada Daddymu."
"Aku yakin Daddy tidak akan memberikan restunya padamu mengingat apa yang sudah kamu lakukan padaku!" Mata Leia menatap tajam.
"Aku minta maaf akan hal itu Leia, sebab kamu sangat menarik hatiku dan itu belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku tahu aku memang brengsek Leia, tidak menghormati putri Luca Bianchi dan aku sangat menyesal atas kejadian lalu. Tapi satu hal yang jelas Leia, aku benar-benar mencintaimu."
Leia mengerjapkan matanya dengan tatapan tidak percaya. "Setelah aku menolakmu mentah-mentah?"
Dante tersenyum lembut. "Kamu mau menolakku berapa kali, berapa lama, aku akan tetap mendekatimu, membujukmu dan merayumu agar kamu mau denganku. Sebab Leia, kamu tahu sendiri kan jika pria Italia sudah jatuh cinta yang teramat sangat, dia tidak akan melepaskan wanita itu."
Leia hanya melengos. "Minggir! Aku mau tidur!" Gadis itu menarik selimutnya dan memejamkan matanya.
Dante hanya tersenyum smirk dan mencium pucuk kepala Leia. "Buona notte. Dormi bene ( selamat malam. Mimpi indah )."
Pria itu menunggu sampai Leia terlelap lalu mengusap kepalanya. "Ti voglio bene ( aku mencintaimu )."
***
Mansion Bianchi Turin Italia
Pagi ini Keluarga Bianchi kedatangan tamu Bruce Diazo yang datang bersama dengan beberapa pengawalnya.
"Bruce!" sapa Luca hangat.
"Paman Luca. Sudah lama tidak bertemu" senyum Bruce yang usianya sebaya dengan Antonio. Keduanya saling berpelukan.
"Antonio" sapa Bruce ramah. "Luca Junior."
"Tetap saja kamu juniornya Paman Luca" kekeh Bruce. "Apa kabar Paman Travis? Nelson jadi masuk Harvard Law School?"
"Oh come on kalian para pengacara..." gelak Luca. "Ayo, kita bicarakan di dalam." Para pria itu masuk ke ruang kerja Antonio sedangkan para pengawal berjaga-jaga di ruang tengah sambil menikmati makanan dan minuman yang sudah disiapkan pelayan Keluarga Bianchi.
***
"Kami merasa kecolongan, Paman Luca. Dua orang yang hampir membunuh Leia itu memang bekas anak buah kami tapi mereka mengkhianati klan Diazo dengan menjual berbagai informasi penting ke para rival kami termasuk merambah ke Italia. Mereka juga bekerja sebagai pemasuk OXY dan banyak narkoba melalui Rowan Jesper yang memiliki banyak koneksi di Hollywood." Bruce menatap tenang ke semua orang disana.
"Dua orang itu?" tanya Luke.
"Sudah pergi menuju neraka."
"Siapa boss mereka? Aku rasa mereka tidak bekerja sendirian karena pasti memerlukan sponsor biaya terutama" ucap Antonio.
"Itu yang sedang diselidiki oleh Opa Storm karena merembet hingga kerajaan Belgia, dimana Stefanus dan Natalia adalah salah satu pelanggan Rowan, ditambah Natalia sempat hamil anak pria itu."
"Soal Natalia, kamu tidak perlu khawatir, Brucey" seringai Luke.
"Oh astagaaa! Jadi benar kamu membawanya keluar dari Skandinavia setelah nama Natalia itu dicoret dari kerajaan sana?" Bruce Diazo menatap pria berdarah Italia, Jepang, Korea dan Indonesia itu.
"Mochiron ( tentu saja ). Dia sudah menyuruh pembunuh bayaran Saul Amos masuk ke Kensington. Apa bukan gegeran internasional? Beruntung Raja James tidak mengibarkan perang ke Belgia." Luke menyesap kopinya.
"Hanya karena rasa iri dengki dan nafsu membuat keluarga Sean Léopold berantakan. Kembali ke topik. Aku rasa boss mereka itu bukanlah orang Italia maupun Spanyol" ucap Bruce.
"Bagaimana kamu bisa mengatakan demikian?" tanya Luca.
"Karena setelah tim internal keluarga Diazo memeriksa pasport mereka, perjalanan keduanya kebanyakan ke Rio de Janeiro dan Miami. Kita semua tahu disana surga apa?"
"Siapa yang berada disana? Setahuku, keluarga Bianchi tidak ada urusan ke Rio dan Miami. Bahkan kami tidak memiliki bisnis disana, meski resort sekalipun" ucap Antonio. "Keluarga Bianchi di Amerika Serikat pun semuanya hanya berbisnis di New York, Boston, Chicago dan Philadelphia."
"Dan kami hanya berbisnis anggur dan restauran Italia" sambung Luca. "Hanya aku yang di Tokyo memegang bisnis properti karena Daddy dan Oom Mario bekerja sama dengan perusahaan keluarga milik mommy hingga merger dengan AJ Corp."
"Kita harus menggunakan koneksi dengan pihak FBI dan law enforcement lainnya karena ini bukan sesuatu yang bisa kita handle sendiri. Sebab jika sudah masuk ranah perdagangan obat terlarang, itu masuk ke DEA masing-masing negara" ucap Bruce.
"Aku rasa Bruce benar. Sudah waktunya kita memanggil teman FBI kita." Luca lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Omar Zidane.
"Luca junior, apa kabar saudara kembar kamu?" tanya Bruce ke Luke.
"Masih di rumah sakit tapi siang ini boleh pulang meskipun bahu kanannya masih digips dan harus memakai arm sling" jawab Luke.
"Lalu? Jika kalian keluarga Bianchi disini, Leia bersama siapa?" Bruce mengedarkan pandangannya karena Alexis Accardi, asisten Antonio ada di ruangan itu.
"Ada Vernon dan Juan disana ditambah makhluk brengseeekkk satu lagi" dengus Luke.
"Siapa?"
"Dante Mancini."
"Dante? Dante Mancini dari keluarga Mancini? Rival anggur kalian? That jerk?" Bruce menatap tidak percaya.
"Yup, dan yeah... He's a jerk Brucey" umpat Luke.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote comment and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️