The Bianchis

The Bianchis
The Bianchis : Isobel De Garza



Mansion Bianchi Turin Italia


Raveena sudah mempersiapkan diri dengan make up-nya, dia merubah wajahnya menjadi seorang wanita yang jauh lebih tua dari usianya. Seragam pegawai hotel sudah ditangannya, Alexis yang memberikan. Selain mengubah penampilannya, Raveena juga merubah penampilan Maggie hingga tidak dikenali.


Semua orang disana tampak kagum dengan keahlian Raveena yang bisa membuat seseorang menjadi berubah dan tidak dikenali. Antonio sudah menyuap dua orang cleaning lady yang bekerja disana untuk libur sehari dan akan digantikan oleh Raveena dan Maggie.


Raveena berhasil merubah wajah dirinya dan Maggie menjadi sama persis dengan dua wanita yang bekerja disana jadi orang tidak tahu bahwa mereka bukan orang yang sama.


"Kan aku sudah bilang kalau aku penyihir" senyum Raveena yang sudah merubah aksennya menjadi wanita Inggris. Alexis tampak terkesima melihat kemampuan Raveena.


"Berapa aksen yang kamu kuasai, Miss Dewanata?" tanya Omar yang kagum dengan kecerdasan putri Reana O'Grady dan Pandu Dewanata itu.


"Tergantung orang bicara apa. Aku termasuk orang yang bisa berbicara dengan dialek bahasa dengan mendengar nya meskipun aku tidak paham bahasanya. Bang Antonio, coba bicara bahasa Italia dialek Turin."


Antonio pun berbicara dengan dialek Turin yang ditirukan sama persis oleh Raveena.


"Jadi buat aku itu kekurangan aku karena aku bisa terbawa ngobrol dengan dialek yang dipakai lawan bicaraku."


Alexis menatap gadis itu dengan tatapan kagum. Signora Leia ambidextrous, Signora Raveena Copycat dialek. Keluarga jenius!


"Bagaimana kamu mengatasinya?" tanya Omar.


"Aku terjun ke dunia teater. Disana kamu bisa mengontrol emosi, menghilangkan rasa tidak percaya diri kamu dan mengontrol pikiran kamu."


"Veena, apa kamu lupa? Oma buyut mu kan dulu di Broadway" kekeh Luke. "Kalau cicitnya terjun di dunia teater, aku tidak heran."


Rhea Giandra Blair sebelum kecelakaan mobil, memang terjun di Broadway namun pasca kecelakaan dan menikah dengan Duncan Blair, Rhea meninggalkan dunia seni disana.


***


Turin Palace Hotel


Maggie dan Raveena pun tiba di hotel yang akan menjadi tempat menginap dan pesta promo film action terbaru yang diproduseri Harland Rochester dan dibintangi oleh Olaf Edberg.


Kedua wanita yang menyamar menjadi bagian cleaning lady pun masuk ke dalam kamar suite yang sudah dibooking oleh Harland dan Olaf.


"Raveena, apa benar ini penyadap nya bisa berubah warna seperti bunglon?" tanya Maggie yang sekarang berada di kamar untuk Olaf.


"Kata Tante Moon sih begitu. Kan kalian para FBI sudah tahu kan perlengkapan ciptaan Tante ku itu" jawab Raveena sembari memindai kamar mewah itu.



"Jangan di tempat lampu, karena itu akan menjadi tempat yang dicari" sahut Maggie.


"Aku tahu tempat yang tidak bakalan dicari orang."


"Dimana?"


"Belakang nakas, kaki-kaki tempat tidur, di dalam laci, dan dibalik lukisan" jawab Raveena yang mencoba menempelkan alat penyadap buatan Geun-moon. Dan voila! Benar-benar alat kecil sebesar kancing baju itu tampak tidak terlihat di lukisan dinding.


"Mrs Smith ternyata sangat jenius, Raveena! Hebat! Tidak terlihat!" puji Maggie yang terdengar di earpiece Raveena.


"Ohya. Dia benar-benar jenius!"


***


Mansion Bianchi Turin Italia


Luke dan Billy Boyd melihat bagaimana alat penyadap dan CCTV kecil itu dipasang oleh kedua gadis tangguh dengan tanpa hambatan.


"Bagaimana disana? Apakah berjalan dengan baik transmisi nya?" tanya Raveena.


"Loud and clear, Veena" jawab Luke di depan ruang monitor milik keluarganya didampingi oleh Alexis Accardi.


"Maggie, kita sudah mendapatkan semuanya" ucap Omar Zidane dari layar monitor milik FBI.


"Kalian berhati-hati lah!" pesan Luca.


***


Menjelang sore hari, kedua wanita itu sudah kembali ke mansion dan segera menghapus semua make up disana. Antonio sendiri sudah mengijinkan FBI untuk mengintai di mansionnya tapi Omar dan Alexis nantinya akan berjaga-jaga di depan hotel pada saat perhelatan itu berlangsung.


"Belum ada kabar dari LA, Alexis?" tanya Antonio yang bermaksud menanyakan perkembangan penyelidikan Sergio disana.


"Kok bisa?" tanya Luca.


"Salah satu bodyguard Olaf kena flu perut dan Sergio menawarkan diri saat membantu Olaf dikejar - kejar paparazi."


"Smooth!" celetuk Omar.


"Sergio sudah mendapatkan beberapa barang bukti dan besok dirinya bisa mengetahui bagaimana barang haram bisa lolos di bea cukai dan imigrasi."


"Meskipun aku tidak suka dengan Mancini, tapi kali ini kita harus bekerja sama jika tidak mau kebun-kebun anggur kita disusupi orang-orang reseh itu!" sungut Luca.


"Mereka berani menantang Mancini dan Bianchi."


Leia melengos mendengar suara yang sudah dihapalnya.


"Luke, ini file hasil rekaman kamera tersembunyi Sergio. Daftar orang-orang yang akan terbang ke Paris, Roma dan Turin ada perubahan dari yang Leia dapat." Dante menyerahkan sebuah flashdisk ke Luke.


"Ternyata kamu juga sudah persiapan huh Inferno?" sindir Luke yang memasang flashdisk itu.


"Hei, aku menjaga aset dan peninggalan keluargaku yang hendak diambil paksa hanya demi narkoba. Really? Hadapi keluarga Mancini dulu!"


"He's right. Harland terlalu berani mengambil resiko, macam seorang penjudi. Jadi kita harus membuang kutu caplak itu!" sahut Luca.


"Rasanya ingin aku hancurkan perusahaannya" geram Luke sambil melihat hasil body camera Sergio. Tampak banyak selebriti disana dan semua orang memperhatikan dengan seksama siapa-siapa saja disana.


"Jangan sekarang Luke. Kamu akan kalah di pengadilan karena tidak ada bukti akurat dan nyata. Harland telalu licin macam slimer" timpal Dante.


Luke menoleh ke arah pria yang mengejar kakaknya itu. "Really, Dante? Slimer? Seriously? Ghostbusters?"


"Daripada aku bilang cacing?"


Luke menggelengkan kepalanya sebal.


"Tunggu bang!" seru Raveena. "Pause!"


"Ada apa Veena?" Luke menatap ke adiknya.


"Aku kenal gadis ini. Namanya Susan McAvey. Dia anak seorang rektor di UCLA jurusan Bahasa. Rumornya, dia adalah salah satu pengedar narkoba dan seorang wanita panggilan kelas atas."


"Kenapa tidak diselediki?" tanya Leia.


"Dengan Harland sebagai backingnya? Salah satu donatur untuk fakultas film dan cinematography? Tidak semudah itu férguso!" jawab Raveena sinis.


"Jadi UCLA pun sudah disusupi?" Billy Boyd menatap wajah gadis bernama Susan itu.


"Harland Rochester memiliki jaringan menggurita untuk penyebaran narkobanya dan dia melihat Turin sebagai lokasi yang strategis untuk penyebaran seluruh Eropa karena dengan mengambil alih tanah Bianchi dan Mancini, dia punya akses. Dan menurut aku, dia terlalu berani ambil resiko itu demi kelancaran bisnis haramnya" ucap Omar.


"Yang aku heran, kalian dan DEA sudah tahu bertahun-tahun, kenapa tidak menangkap nya? Apakah petinggi kalian disuap? Jika memang demikian, saat semuanya terbuka, berapa banyak lembaga instansi kalian yang terkena skandal? Kita melawan Goliath, guys! Ini tidak main-main, people!" Luke menatap serius. "Meskipun aku seorang Yakuza, aku paling anti bisnis narkoba. Lebih baik aku melempar orang ke Empang piranha daripada bisnis macam itu!"


"You're right Luke. Kami melawan Goliath karena hampir semua petinggi sudah kena cengkraman Harland Rochester." Omar menatap Luke. "Bisa kalian lihat, ini bukan masalah sepele."


"Kami berempat dikirim untuk membongkar semua itu tapi kami tidak tahu siapa kawan siapa lawan." Tiffany menatap semua orang disana.


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Luca


"Isobel De Garza."


Bossnya Pedro Pascal, pacar Nadira?


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Maaf ceritanya semakin pelik


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️