
Harvard Medical School
Samuel menatap kepala Blaze yang tampak nyaman di bahunya membuat dirinya tidak berani bergerak takut gadis itu terbangun. Perlahan pria itu membenarkan posisi Blaze agar nyaman dan dirinya terkejut ketika tangan Blaze menggenggam tangan kanannya.
Duh jantung! Bahaya ini kalau aku kena serangan jantung! Bisa - bisa aku harus minta tolong diperiksa oleh dokter Fuji Al Jordan atau dokter Nathan Pratomo.
Jujur hari ini adalah hari paling membahagiakan Samuel setelah setengah tahun mengawal putri dokter Bianchi, baru kali ini Blaze bersikap manis, meskipun tadi sempat bar-bar memukul dirinya.
Samuel menatap pemandangan taman dari jendela kaca depan pintu kamar koas. Cuaca yang cerah meskipun mau masuk musim gugur, sangat menenangkan hati. Tak lama, Samuel pun ketularan terkena aji sirep dan ikut tertidur bersama dengan Blaze dengan kedua tangan mereka saling menggenggam.
***
Blaze mengerjapkan matanya saat merasa sebuah kepala menimpa kepalanya. Sedikit mendongak, gadis itu melihat asisten Daddynya tertidur diatas kepalanya.
Tunggu! Aku tertidur berapa lama? Blaze melirik jam Bulovanya dan mata birunya melotot tidak percaya. Sejam aku tidur? Bersandar sama bebek?
Perlahan tangan Blaze membenarkan posisi kepala Samuel untuk tidak menimpa kepalanya tapi malah membuatnya terbangun.
"Hah... Bee? Sudah...bangun?" gumam Samuel masih belum menyatu jiwa dan raga namun matanya langsung bersirobok ke mata biru Blaze.
"Sudah tukang ngiler!" cebik Blaze.
Reflek Samuel mengusap bibirnya. "Aku tidak ngiler, Bee" ucap Samuel sambil manyun yang membuat Blaze cekikikan.
"Tapi reflek ngelap kan?" kerling gadis itu.
"Sudah enak, boboknya?" tanya Samuel lembut.
"Alhamdulillah. Aku benar-benar butuh tidur!" Blaze melihat kedua tangan mereka saling bertautan. "Ini apaan Sam?" tanyanya sambil menaikkan tangan mereka.
"Lho, bukannya kamu yang memegang tanganku duluan?"
"Siapa? Kamu kali yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, Bebek!"
"Bee, kamu tadi itu reflek memegang tanganku saat kamu mau tidur." Samuel menatap Blaze geli.
"Masa sih? Aaahhh Bebek ngadi-ngadi!"
"Ya Allah, Bee! Buat apa aku ngadi-ngadi sih!"
Blaze melepaskan genggamannya dan memegang wajah Samuel yang memerah dengan perilaku nonanya.
"Sekarang, Sammy. Bilang padaku. Selama aku cuti, apakah kamu sudah menembak cewek yang kamu taksir? Lihat, jerawat kamu mulai nongol tuh!" Blaze memindai wajah Samuel tanpa mengindahkan wajah pria itu yang seperti tomat.
"Be...belum..." bisik Samuel.
"Kenapa? Apa cewek itu sudah punya pacar? Kamu tuh gimana sih Sam? Aku kira aku tinggal kamu sudah langsung action jadi harusnya aku mendapatkan kabar bahagia dari kamu!" omel Blaze.
"Aku...aku takut ditolak... sama dia..." cicit Samuel.
"Siapa yang menolak kamu? Tunggu... kok muka kamu merah? Kamu sakit ya? Sebentar..." Blaze meletakkan punggung tangannya di kening Samuel. "Astagaaa! Kamu panas! Ayo ke ruang Daddy!" Blaze berdiri dan langsung menarik tangan Samuel.
"Tapi Bee, aku nggak sakit!" protes Samuel. Aku panas dingin dengan kelakuan kamu, tahu nggak!
"Jangan ngeyel! Dimana-mana dokter tuh memang tukang ngeyel! Bilang nggak sakit tapi sebenarnya sakit karena bosan mengurus orang sakit jadi malas mengobati diri sendiri!" Blaze ngedumel sendiri membuat Samuel tersenyum tipis.
Keduanya tidak mengindahkan pandangan orang-orang yang melihat putri Joey Bianchi itu menarik asisten Daddynya. Mereka tahu kalau Samuel memang menjadi pengawal terselubung putri bar-bar itu.
Sesampainya di ruangan Joey, Blaze langsung menyuruh Samuel duduk di tempat tidur untuk memeriksa pasien.
"Bee... Aku tuh nggak sakit" protes Samuel yang gemas melihat Blaze sibuk membongkar lemari daddynya untuk mencari stetoskop. Miliknya masih tertinggal di loker miliknya dan Blaze merasa malas mengambilnya.
"Diam Sammy!" Blaze menemukan stetoskop milik Daddynya dan memasangnya di telinga. "Buka bajumu!"
"Hah?" Samuel melongo dan wajahnya memerah lagi.
"Tuh kan! Mukamu merah lagi! Cepat buka bajumu!" Blaze menatap judes ke Samuel tapi pria itu seperti terdiam membeku. "Issshh, kelamaaan!" Blaze lalu membuka kancing baju Samuel dan langsung meletakkan diaphragm and bell di dada pria itu. Gadis itu mendongak ke wajah Samuel yang menatapnya intens. "Jantung kamu kenapa detaknya berantakan begini? Kamu kebanyakan caffeine ya? Jangan banyak-banyak minum kopinya!"
Samuel hanya diam dan tangannya memegang wajah Blaze. Pria itu kemudian mencium bibir Blaze lembut. "Jantungku berantakan karena kamu Bee..." ucapnya lembut setelah mencium bibir tipis yang selalu diidamkannya.
Blaze melongo. "Hah?" Damn it! Bebek nakal! Main cium-cium saja! Tapi kok aku tidak bisa bergerak ya.
"Kalau kamu mau tahu siapa cewek yang aku taksir hingga aku jerawatan begini, kamu lah orangnya Bee..."
Blaze menatap Samuel bingung. "Apa?" bisiknua.
Samuel dan Blaze menoleh melihat Joey berdiri di depan pintu dengan wajah garang.
***
"Jadi kamu memeriksa Samuel karena badannya panas?" tanya Joey ke putrinya yang hanya mengangguk.
"Padahal saya tidak sakit, dokter Bianchi" bela Samuel.
"Sammy, shut up. Aku masih bertanya dengan Blaze!" Joey menoleh judes ke asistennya. "Lalu apa diagnosis kamu, Blaze?"
"Sakitnya aku tidak tahu Daddy. Karena aku tidak menemukan di semua jurnal kedokteran" jawab Blaze dengan nada bingung. Jadi bebek beneran suka sama aku? Serius? Tapi aku tidak ada perasaan sama bebek!
"Bagaimana bisa? Kita itu sudah canggih Blaze. Mana ada penyakit yang tidak terdeteksi?" Joey menatap putrinya.
"Gimana mau diagnosa? Wong si bebek sakitnya kena panah amor! Kan aku tidak punya obatnya, Dad!" cebik Blaze yang melirik judes ke Samuel.
Pria yang dilirik oleh Blaze hanya menunduk. Mati aku! Sammy ... Sammy... lagian kamu pakai acara main cium bibir Bee. Bisa-bisa aku dipecat menjadi asisten dokter Bianchi gara-gara main cium bibir putrinya. Bodoh Sammy!
"Siapa gadis itu Sam? Apakah teman kuliah kamu? Atau pasien mana?" tanya Joey dengan tatapan menusuk ke arah asistennya.
"Eeerr... itu..."
Suara ketukan di pintu ruangan Joey terdengar membuat ketiganya menatap pintu yang tertutup.
"Ya?" ucap Joey dari dalam.
"Maaf dokter Bianchi" ucap seorang resepsionis setelah membuka pintu ruang kerja Joey.
"Ada apa Mary?"
"Ah. syukurlah aku bertemu denganmu disini Sam. Ada telepon dari Jakarta. Kamu disuruh pulang karena ibu panti asuhan tempat kamu tinggal dulu dalam kondisi tidak baik dan ingin bertemu denganmu" ucap Mary yang membuat ketiga orang di dalam ruangan itu terkejut.
"Kok tidak..." Samuel mengambil ponselnya yang ternyata dia silent hingga tidak tahu ada banyak pesan dan misscall dari +62. "Ya Allah... Ibu."
"Kenapa Sam?" tanya Joey.
"Maaf dokter Bianchi. Saya minta ijin pulang ke Jakarta. Ibu sakit parah!" Samuel memperlihatkan pesan yang dikirimkan oleh adik-adiknya.
"Kalau begitu saya permisi dulu dokter Bianchi" pamit Mary.
"Iya Mary, terimakasih." Mary pun menutup kembali pintu ruang kerja Joey.
"Kamu pulang kapan Sam?" tanya Joey setelah membaca pesan di layar ponsel Samuel.
"Jika malam ini saya dapat tiket, saya pulang hari ini. Kalau besok ya terpaksa besok, dokter."
"Apa kamu mau pinjam pesawat pribadi keluarga kami?" tawar Joey.
"Tidak usah dokter. Saya tidak mau merepotkan. Saya... ijin dua Minggu dokter." Samuel menatap Joey dengan penuh permohonan.
"Oke, Sam. Aku berikan cuti kamu dua Minggu. Soal administrasi, kamu kirimkan via email. Paham?"
"Baik Dokter. Terimakasih. Saya permisi dulu. Maaf, Bee. Aku harus ke Jakarta." Samuel mengangguk hormat dan bergegas keluar dari ruang kerja Joey.
Blaze hanya menatap punggung Samuel yang menghilang dan tampak pria itu sangat panik.
"Bee, apa kamu tahu siapa gadis yang ditaksir Samuel?" tanya Joey polos.
Blaze menoleh ke arah Daddynya. "Tidak tahu."
"Daddy penasaran deh!"
Daddy penasaran tapi aku yang galau.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️